Horeee...!
Semangat pertempuran 45 beda dengan semangat perjuangan yang ditunjukkan anak ini, semangat yang termotivasi oleh rasa bangga dan kepuasan menggapai sesuatu yang sekalipun ia tahu harganya tak seberapa. Tapi minimal ia merasakan suatu kebahagiaan meskipun hanya sesaat. Dan ia akan tersenyum manakala mendengar teriakan "horee" dari bawah, lalu dielu-elukan saat meluncur kembali ke bumi. Dan mereka pun membagi hasil perjuangan menggapai puncak...
Tampilkan postingan dengan label Hobi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hobi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 18 Agustus 2016
Rabu, 11 Maret 2015
Sedang Pusing? Main Caturlah, Maka Pusing Vs Pusing = Pening
| Main catur...asyiiiik, tak perlu lihat kiri kanan (SARINGAR.Net/Leonardo TSS- 28-02-2015)= |
ADA seorang rekan, hobi satu-satunya main catur. Jangankan di rumah atau warung kopi, asal diajak main catur bila perlu di dalam mobil atau pesawat (kalau dibolehkan). Tidak tanggung-tanggung rekan saya ini, kalau lagi mood main catur, sehari semalam atau bila perlu lebih lama lagi, tak jadi persoalan. Kalau permainan lagi seru, serangan ngantuk tak diopeni. Kecuali jika memang otak sudah lowbat, harus dicharger seperti ponsel, yah barulah menyerah. Tapi, satu jam saja ngorok ya cukuplah. Kalau ada yang ajak main, oke mainkan. Pernah juga menurut ceritanya pada saya, dalam satu hari sampai tengah malam bermain hingga 137 ronde (pelat).
Bah! Apa tidak pusing? Sambil tertawa lepas, rekan yang tinggal di Jalan Kepodang Mandala Medan itu, santai menjawab," Justru kalau saya sedang pusing maka saya obati dengan main catur, coba kamu pikir itu kalau pusing melawan pusing, yah pening dong...ha-ha-ha-ha...Kalau peningnya sudah kelewatan apalagi kalah terus, yah angkat kaki pulang ke rumah, tiduran agar peningnya ditidurkan...
Selasa, 24 Februari 2015
Fenomena Akik: Apa Istimewanya Batu Bacan Maluku Utara?
![]() |
| Salah satu jenis batu bacan = |
Sejumlah jenis batu akik seperti safir, amethyst, ruby hingga kalimaya memang sudah cukup populer sejak lama. Sedangkan yang tengah naik daun adalah batu akik sungai dareh dan bacan.
Batu akik Sungai Dareh populer berkat SBY dan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama. Harganya bervariasi dari mulai ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah, tergantung jenisnya.
Keunikan dan kelebihan atau keistimewaan batu sungai dareh terletak pada corak an warna batu yang sangat menawan. Batu ini juga memiliki kekerasan standar batu mulia kualitas internasional dengan keras 7 skala mohs atau sama dengan batu giok yang telah dikenal manusia ribuan tahun lalu.
Sedangkan batu bacan dokok dikenal memiliki keindahan. Batu bacan merupakan jenis batu mulia/akik asal Indonesia dan banyak ditemukan di daerah Halmahera Selatan Maluku Utara tepatnya di pulau bacan. Jenis batu bacan paling populer dan banyak dicari jenis batu bacan doko dan batu bacan palamea.
Batu bacan rata-rata berwarna hijau. Di situs jual beli dapat ditemu bacan dengan harga bervariasi dari ratusan ribu hingga puluhan juta. Salah satu bacan termahal bahkan berada di kisaran harga Rp150 Jutaan.
Batu bacan doko dan palamea termasuk 2 jenis batuan Halmahera yang saat ini tengah naik daun dan sering menjadi perbincangan antara pengobi batu permata.
Blogger akiks.com dan batu-bacans.com menyebut, keunikan batu bacan doko atau palamea adalah kemampuannya mengkristal secara alami meskipun sudah diangkat dari perut bumi. Bahkan setelah diolah menjadi perhiasan batu ini masih dapat hidup.
Hal inilah yang membuat bacan disebut-sebut sebagai batu hidup atau batu bernyawa.
3 Jenis
Batu bacan sebenarnya terbagi menjadi tiga jenis yakni Bacan Obi, Bacan Doko dan Bacan Palamea. Ketiga jenis batu tersebut ditemukan dari wilayah yang sama yaitu Maluku Utara.
Meki berasal dari wilayah yang sama, ketiganya memiliki karakteristik berbeda satu sama lain. Untuk membedakan tiga jenis batu itu cukup mudah dan bisa dilakukan dengan kasat mata. Terutama ketiganya memiliki warna yang berbeda.
Batu doko ditemukan di Desa Doko Pulau Kasiruta, Kecamatan Bacan Barat Halmahera Maluku Utara.
Bacan Doko memiliki warna hijau bening dan hijau tua agak gelap. Sebagian pedagang banyak menyebutnya dengan hijau cincau.
Jika disorot lampu muncul hijau cerah dari batu. Inilah yang paling disukai dan digemari banyak kolektor. Bacan doko cincau biasanya lebih cepat mengalami perubahan warna dibandingkan jenis palamea dan berkisar antara 3 hingga 4 bulan warna sudah mulai berubah hijau dari warna sebelumnya yang agak gelap. Semakin cerah warna yang dimiliki maka harganya pun akan semakin mahal.
Sedangkan, bacan palamea ditemukan di Desa Palamea Kecamatan Bacan Barat Halmahera. Ciri khususnya adalah berwarna hijau kebiruan.
Proses kristalisasi menjadi bening dipercaya lebih lambat dibandingkan dengan jenis doko. Namun, kedua jenis batu tersebut sama-sama mejadi buruan banyak kolektor dan pencinta permata.
Sedangkan, bacan obi yang paling mudah dibedakan.Batu bacan obi ditemukan di pulau Obi Maluku Utara Nah apakah Anda salah satu penggemar batu cincin? Coba lacak salah satu jenis batu bacan di atas, tapi hati2 harus original. (bis.com/LS)
Rabu, 11 Februari 2015
(Foto News) Hobi Mancing Berlomba pun Oke !
| Memancing,konsentrasi penuh = (SARINGAR.Net) |
Banyak yang hobi memancing ikan, walau lebih banyak yang tak suka. Dimana-mana gampang ditemukan orang yang gemar memancing. Tak di laut, di danau, sungai, kolam, empang, bahkan saluran tali air yang ada ikannya. Ada yang memancing memang untuk kebutuhan rumah tangga, tapi banyak juga yang cuma sekedar hobi doang. Asal ikannya sudah dapat, hati berjoget ria, senang. Terkadang tipe yang terakhir ini dapat ikannya bukannya dibawa ke rumah, tapi dikasi sama orang. Ada juga tipe pemancing yang sekedar iseng belaka. Makan ikan pun berpantang.
Di Danau Toba, setiap hari bisa dilihat orang yang gemar memancing. Bahkan pada malam hari kelihatan ada yang pergi memancing ke pinggir danau, seperti di kawasan Parapat dan Ajibata. Di banyak kios atau toko, alat pemacing dari yang harga murah sampai mahal bisa dibeli.
Di Tarutung, orang yang hobi memancing itu terbilang banyak. Tak hanya menangkap ikan dengan kail, ada juga yang langsung menebar jala, atau "manohan" (menangkap dengan tangan) bila perlu. Ke mana saja pengail mania ini pergi? Ya, macam-macam. Ada yang ke Aek Sigeaon yang mengalir membelah Rura Silindung, ada yang ke Aek Ristop sana, ke Aek Situmandi. Banyak yang pergi seharian ke arah desa Hutapea, Parbubu, Hutagalung, hingga ke Pahae. Tak di sungai, banyak juga yang mencoba rejeki cari ikan mujair atau lampan (jenis ikan pera-pera) ke kolam-kolam tak diusahai, empang, bondar (parit), pokoknya yang ada air dan ikannya.
Hobi memancing terkait sekali dengan bakat dan kesabaran. Orang yang bukan penyabar tak mungkin mau jadi pengail. Seperti halnya orang hobi memburu atau tukang perangkap burung, seorang pemancing harus siap menghabiskan waktu seharian, tanpa beban. Biasanya orang yang hidup santai, tak terikat urusan penting sehari-hari. Ketika sudah menebar tali pancing, harus konsentrasi penuh. Tak banyak bicara. Mata dan pikiran fokus pada gerakan sekecil apapun yang menyentuh umpan pada kail.
Saking pentingnya urusan pancing memancing ini, sehingga di banyak daerah di Sumatera Utara - tak cuma di Tapanuli - banyak orang terinspirasi meraup untung dengan membuka tempat pemancingan. Di Tarutung ada beberapa yang membuka usaha semacam itu, dan peminatnya lumayan banyak.
Barangkali itulah faktornya, kenapa setiap perayaan HUT Kemerdekaan ada yang menyelenggarakan kegiatan "Lomba memancing ikana" seperti sering diadakan di Tarutung (lihat foto yang diambil beberapa waktu lalu). Saat lomba memancing itu diadakan, peminatnya membeludak yang mendaftar ke panitia. Pada ajang seperti ini, para pemacing kawakan boleh menguji kepiawaiannya mendapatkan ikan sebanyak-banyaknya...Wah, asyikkk! (Leonardo TSS/SARINGAR.Net)
Rabu, 03 Desember 2014
Dengar Musik Saat Berkendara, Dekat Dengan Maut! Ini Contohnya...
![]() |
| Maut tak kenal ampun (ill:google) = |
Seorang pengendara sepeda motor tewas terlindas truk kontainer saat melintas di Jalan Plumpang Semper No 4, Kecamatan Koja, Jakarta Utara dari arah simpang lima semper menuju Plumpang Jalan Yos Sudarso, Rabu (2/12) pukul 06.15 WIB. Pengendara tersebut diduga mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan tinggi sembari menggunakan headset untuk mendengarkan musik dari handphonenya.Dia kehilangan keseimbangan saat hendak menghindari pengguna sepeda ontel, yang hendak memutar arah sehingga jatuh ke kolong kontainer.
Dulmanan (59), saksi mata mengatakan, sepeda motor itu memang lari kencang. Pengendara menyalip kontainer ke kanan karena jalur kiri sedang padat motor, sedangkan jalur kanan sedang sepi. "Gak tahunya di kanan ada pengendara sepeda ontel yang akan memutar arah. Karena kaget dan tidak siap, pengendara motor tersebut jatuh ke kolong kontainer yang sedang berjalan pelan dan terlindas ban tengah kontainer,” ujar Dulmanan, Selasa (2/12) pagi.Menurut Dulmanan, pengendara sepeda motor tersebut tampak terburu-buru, seperti sedang mengejar sesuatu. Ia tampak mengenakan seragam security (keamanan).
“Sepertinya sedang buru-buru ke tempat bekerja, tadi pas diliat handphone-nya sama Pak Polisi ternyata hp nya sedang memutar musik,” tandas Dulmanan.
Supir truk kontainer dengan nomor polisi B-9066-UEL yang melindas pengendara sepeda motor, Pendi (31), mengaku tidak menyadari bahwa ia sudah melindas seseorang. “Saya baru diberitahu kernet saya bahwa ada warga yang menyuruh stop, baru saya tahu kalau ada pengendara motor yang tewas,” aku Pendi.
Pendi, yang sudah bekerja selama 10 tahun di PT Roda Mustika Jaya mengaku baru pertama kali ini terlibat kecelakaan dengan pengendara sepeda motor. “Memang di wilayah Jakarta Utara ini pengendara sepeda motornya suka seenaknya saja kalau mau mendahului kontainer, tidak pakai perhitungan dan risiko bagi dirinya,” lanjut Pendi.
Anggota Satlantas Jakarta Utara, Brigadir Widi Santoso mengatakan, korban pengendara sepeda motor bernama Wahyu Sulistio (18), warga Jalan Kebantenan V, RT004/RW007, Kelurahan Semper Timur, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. “Tempat kejadian kecelakaan yakni di Jalan Plumpang Semper persis di depan distributor Aqua (PT Balina Agung Perkasa,” ujar Widi.
Widi mengungkapkan, Wahyu menggunakan sepeda motor Yamaha Force berwarna merah keluaran tahun 2014 dengan nomor polisi B-3420-UGS dan mengenakan helm bawaan pabrikan yang semi terbuka (half face). “Pengendara motor berkendara dengan kecepatan tinggi dan menggunakan headset, ia terlindas karena kehilangan kesimbangan saat hendak menghindari pengendara sepeda ontel,” ujar Widi mengkonfirmasi keterangan saksi mata.
Dari kejadian kecelakan tersebut, menurut Widi, supir truk kontainer, Pendi, diamankan ke kantor Satlantas Jakarta Utara bersama sepeda motor korban dan saksi mata. “Akan kita proses lebih lanjut apakah supir terbukti bersalah atau ini murni karena keteledoran pengendara motor,” lanjut Widi.
Widi mengimbau kepada masyarakat pengguna sepeda motor agar lebih berhati-hati dalam berkendara dan tidak terburu-buru dalam berkendara. “Usahakan berangkat lebih pagi apabila memang harus sampai di tempat kerja tepat waktu, dan gunakan helm berstandar SNI serta tidak mendengarkan apa pun dari headset yang dapat menganggu konstentrasi berkendara, ingat keluarga menunggu di rumah,” ucap Widi.
Menurut hasil pemantauan SP di lapangan, arus lalu lintas dari arah simpang lima Semper maupun Plumpang Yos Sudarso sempat mengalami kepadatan sepanjang 2 kilometer karena kecelakaan tersebut memakan dua dari empat lajur jalan. Warga sekitar dan pengendara motor tampak berkerumun untuk melihat korban kecelakaan. Proses evakuasi korban membutuhan waktu 30 menit karena menunggu mobil jenazah dari Yayasan Al Fudhola di Kampung Beting, Semper. Seusai evakuasi arus lalu lintas di jalan Plumpang Semper kembali lancar. [sp)
Sabtu, 06 September 2014
Trenggiling Diburu Mengambil Lidah dan Kukunya,Untuk Apa?
![]() |
| Seekor trenggiling asal Parsoburan, Tobasa,Sumut (Foto: Leonardo TS) |
Trenggiling binatang punya kelebihan? Ayo kita simak catatan ini. Kalau yang saya dengar ini benar, harga trenggiling pasti haruslah jauh lebih mahal dari harga yang berlaku sekarang. Tapi, saya tak tahu persis apakah yang saya dengar ini menjadi factor penyebab, mengapa binatang berlidah panjang dan pemangsa semut ini dikategorikan pemerintah (aparat berwajib) termasuk binatang yang dilindungi. Kalau sudah disebut dilindungi dalam konteks peraturan pemerintah, berarti trenggiling tak boleh sembarangan diburu dan diperdagangkan.
Ada apa
rupanya yang saya dengar terkait binatang berkulit berlapis ini. Sejak
masih remaja, saya sudah kerap mendengar kalau trenggiling itu memendam
elemen tertentu yang jika bisa dikelola dengan benar, maka yang berjodoh
mendapatkannya bakalan memiliki “kesaktian” (saya taruh tanda petik
karena saya juga belum pernah lihat buktinya). Rupanya, menurut yang
empunya cerita, bukan cuma kulitnya yang keras penyebab trenggiling
punya nilai jual tinggi karena bisa dijadikan bahan membuat tas
berkelas. Konon, pernah saya baca di surat kabar, mantan presiden
Filipina Corazon Aquino paling suka mengoleksi tas yang terbuat dari
kulit trenggiling. Begitu juga Imelda Marcos yang terkenal dengan
koleksi sepatu dan tas yang jumlahnya ratusan.Selain kulitnya, trenggiling paling dicari (most wanted), karena nilai lidah dan kukunya. Konon, kuku trenggiling juga dijadikan bahan penting untuk sejenis narkoba (?). Wah, ini juga memerlukan pembuktian.
Kembali
ke laptop. Jadi, selain kulitnya dan kuku, apanya trenggiling lagi yang dianggap
bernilai tinggi? Bagi kebanyakan orang termasuk kalangan orang Batak, LIDAH trenggiling
adalah bagian vital yang membuatnya sering diburu sejak zaman
dahulu kala. Kakek nenek saya juga pernah bilang begitu. Katanya lidah
trenggiling itu berkhasiat dijadikan pelaris usaha khususnya dagang.
Tapi ada juga yang bilang lidah trenggiling juga berkhasiat dibuat
sebagai pemikat sukma, khusus membuat perempuan tergila-gila pada
seorang pria. Ah yang benar, kata hati saya waktu itu. Lantas, bagaimana
caranya? Ini yang bikin repot.
Hotman
Silitonga rekan satu kota dengan saya, yakin seratus persen tentang
khasiat itu. Caranya, saat seekor trenggiling tertangkap, lidahnya
dipotong mulai dari pangkal saat masih hidup. Tapi cara memotong tak
boleh separuh, harus mulai dari pangkal. Trenggilingnya jangan dimatikan
dulu kalau memang ada tujuan mau mengambil lidahnya. Setelah lidah
dipotong dari pangkal, lalu dijemur dengan panas matahari, untuk
mengeringkan bekas liurnya. Setelah itu, masih kata Hotman, lidah
trenggiling itu direndam dengan air keras untuk pengawetan. Tapi
hati-hati, lidah itu jangan sampai rusak, koyak, atau patah. Kalau lidah
itu sudah ada cacatnya, sama dengan tak ada gunanya lagi.
Dengan
mimik serius, Hotman yang pernah saya ceritakan seorang
pemburu burung terkukur/perkutut, menceritakan pengalamannya mendapatkan
seekor trenggiling besar yang kesasar di ladang sayurnya di Dusun
Panaharan, Desa Parbaju, Kecamatan Tarutung, Sumatera Utara. Setelah
ditangkap bersama warga dusun lainnya, Hotman mengambil pisau tajam
untuk memotong lidah binatang malang itu. Dua orang memegang mulut
trenggiling memaksanya ternganga,agar bisa mengambil lidahnya. Tapi
mungkin karena pisaunya terlalu tajam, lidah itu kena sayat pada bagian
tengah, gagal memotong sampai ke pangkal.” Sial, saya betul-betul sial
waktu itu,” kata Hotman mengenang. Menurut dia, lidah trenggiling
berkhasiat dijadikan pelaris usaha dagang. Tapi memanfaatkan lidah itu
tidaklah mudah. Harus dibawa ke “orang pintar” untuk dimanterai, atau
dibuatkan jampi-jampinya dulu, sebelum siap dipakai. Cara pakai tak
rumit, cukup dimasukkan ke dompet, laci, atau tempat uang lainnya di
tempat berjualan.
Hotman
mengajukan argumen yang dianggapnya logis. Trenggiling itu saat mencari
nafkah selalu menjulurkan lidahnya sepanjang mungkin, dan mungkin di
lidah trenggiling mengandung suatu zat pemanis yang mengundang semut
berebutan datang mencicipinya. Setelah semut berkumpul banyak, barulah
trenggiling menarik lidahnya dan menikmati ratusan atau ribuan semut
yang sudah terperangkap di sana. Kakek saya dulu bercerita, kata Hotman,
zaman dulu banyak orang pintar (dukun) tahu memberi resep khusus untuk
memberdayakan lidah trenggiling sesuai peruntukannya. Tapi entahlah
sekarang apa masih ada orang pintar seperti dulu yang bisa meramu lidah
trenggiling, imbuh Hotman sedikit berkelit.
Terlepas
dari kisah seputar lidah trenggiling yang boleh dipercaya boleh tidak
itu, petugas Polres di kampung saya (Tapanuli Bagian Utara) beberapa
waktu lalu pernah menangkap 9 ekor trenggiling dari seseorang yang akan
membawanya ke Riau. Pria itu tak berkutik saat di terminal sudah siap
memasukkan terenggiling itu ke dalam peti khusus, ketika petugas datang
dan menyita binatang itu. Petugas mengatakan trenggiling termasuk
binatang yang dilindungi. Ke 9 trenggiling itu pun dibawa ke kantor
polisi Tarutung, menunggu proses selanjutnya. Tapi sayang, trenggiling
yang tertangkap itu tak lama bisa hidup, walau sudah diusahakan dengan
berbagai cara.
Meski
trenggiling dinyatakan binatang yang dilindungi, banyak warga yang
melakukan perburuan trenggiling ke hutan-hutan pedalaman. Saya pernah
melihat dua ekor trenggiling ditemukan warga pemburu di kawasan
Parsoburan Kabupaten Tobasa berbatasan dengan kabupaten Labuhan Batu.
“Apa tak takut nanti ditangkap polisi,” tanya saya pada mereka. Salah
seorang menjawab,” Ya, kalau tak pintar-pintar bawanya, tertangkap
jugalah.” Tapi ketika saya singgung soal lidah trenggiling itu, mereka tak begitu tertarik.” Memang banyak orang kita bilang begitu,
lidah trenggiling berkhasiat untuk pelaris usaha atau mengundang rejeki
ke dompet. Tapi bagaimana caranya kami tak tahu. Ya pokoknya ada yang
cari trenggiling ke kami ya kami jual saja. Mau dibuat apapun itu mana
kita tahu,”imbuhnya. Ketika saya memotret trenggiling yang ditemukannya
itu, mulanya dia keberatan,tapi akhirnya bersedia juga, dengan syarat
jangan sampai foto itu membawa celaka pada mereka (lihat foto).
Itulah
sedikit cerita tentang trenggiling. Apa benar lidah trenggiling itu
mengandung elemen kesaktian tertentu, saya juga mana tahu. Tapi hampir
setiap orang di daerah kami, membenarkan hal itu.Sampai sekarang anggapan itu masih ada. (Leonardo Tolstoy Simanjuntak/Ekspresiana/Lihat juga: Kompasiana/Kompas.Com)
Jumat, 05 September 2014
HOBI: Pemburu Perkutut Siap Tiarap Dua Jam di Hutan
![]() |
| Pak Dewi Silitonga menunjukkan pikket (sangkar perangkap) berisi anduhur pemancing. Tahan tiarap berjam-jam menunggu korban masuk perangkap.(Foto:Eksklusif Leonardo TS) |
Rambut manusia boleh sama hitam, tapi hobi pasti beda-beda.
Ada yang hobinya ngopi sambil baca koran di kedai, ada pula yang hobinya main joker atau tebak toto gelap, biarpun itu dilarang pemerintah..
Membaca atau menulis misalnya, mungkin hobinya para penulis atau wartawan. Ada pula yang hobi mondar-mandir keliling desa dengan tas ransel di punggung, kayak pengeliling dunia. Ragam
etnik di Indonesia, ragam pula kebiasaan dan hobi. Orang Batak pun punya
beragam hobi. Ada yang hobi
memancing ikan di sungai dan kolam, tahan nongkrong di pinggiran
sungai, danau, laut, berjam-jam sabar menunggu pancingnya makan korban.
Ada yang hobi nongkrong di kedai tuak bisa sampai matahari terbenam baru
ingat pulang ke rumah. Lain lagi yang hobi main judi, olah raga,
sampaiberburu binatang buas. Tapi hobi yang saya tulis ini mungkin tak
lagi sekadar hobi, mungkin lebih dekat pada konotasi “mania”. Yakni,
berburu burung perkutut dengan cara marpikket (menjerat burung dengan menggunakan sangkar khusus). Biasanya, burung yang akan dijerat adalah jenis anduhur (tekukur/perkutut).
Kedua
jenis burung yang sering dikerangkeng manusia sebagai peliharaan,
memang masih banyak beterbangan dimana-mana, di Pulau Jawa,
Kalimantan,Papua, Sumatera. Meski mungkin populasinya sudah berkurang
sejak gencarnya penebangan hutan di sana-sini. Tapi, banyak juru pikket (pemburu anduhur) harus siap bergerilya jauh ke kawasan pedalaman. Karena, jenis anduhur yang sebutannya di orang Batak anduhur jingar
(unggul), biasanya tak mau dekat-dekat ke zona perkotaan. Para tekukur
dan perkutut bisa-bisa sudah mengalami fobia dekat perkotaan, takut
kena jerat.Sudah banyak burung yang trauma, berhubung makin banyak manusia hobi memelihara aneka burung di rumah. Meski ada burung yang dinyatakan satwa yang dilindungi seperti beo di Nias atau cenderawasih di Papua, toh selalu ada juga yang lolos dengan ragam trik.
“
Biasanya di kawasan hutan atau perladangan sunyi yang banyak burung tekukur dan perkutut,
atau di arah pegunungan, dan perkampungan pedalaman,” kata
Hotman Silitonga yang akrab dipanggil Pak Dewi), warga Desa Parbaju,
Tarutung, Sumatera Utara. Dia salah satu sosok yang gemar berburu anduhur.
Bahkan, bagi Hotman Silitonga (62), perkutut di kawasan Tanah Batak
punya keistimewaan, dengan suaranya yang spesifik. Irama suara perkutut
Batak, kata Hotman sangat bagus ,apa lagi kalau burung itu sudah
“jadi”. Kata “jadi” perihal tekukur/perkutut punya
artian, bahwa burung itu sudah piawai, tak perlu lagi dilatih. Timbre
suara perkutut atau tekukur yang sudah “jadi” didefinisikan sebagai
burung yang sudah memenuhi syarat digiring ke gelanggang kontes. Harga burung yang sudah jadi bisa mencapai jutaan. Pembelinya juga banyak.
Lalu, bagaimana caranya menjerat anduhur atau perkutut. Ada sangkar khusus yang disebut piket
dengan peralatan khusus untuk menjerat dipasang di sekitar sangkar.
Saat berburu, seekor tekukur yang sudah jago ditaruh di dalam sebagai
pemancing. Sangkar berisi jagoan kemudian diletakkan di satu tempat,
yang sudah dideteksi sebagai tempat berkeliaran anduhur-anduhur liar.
Burung tekukur/perkutut pemancing dalam sangkar akan bersuara menantang
burung sejenis yang ada di sekitarnya.Manakala tekukur liar
memperdengarkan suara di seputaran hutan, biasanya mereka segera
mendekat. Terjadilah tantang menantang lewat suara.Para juru pikket (pemburu) pun mengintip dari tempat agak jauh, berlindung di rerumputan atau pepohonan.
Sang
penjerat atau pemburu, harus siap tiarap sekian lama, menunggu sangkar
jebakan didatangi “burung tamu”. “ Sering kami bersama teman harus
tiarap berjam-jam lamanya menunggu sampai tantangan burung penjebak yang
kami bawa didengar burung sejenis di hutan, Terkadang atau tak jarang pula
kalau tak mujur, saya pulang hampa tangan tak membawa hasil,” katanya
terkekeh saat berbincang dengan penulis." Saya teringat pernah harus siap tiarap dua jam sampai tangan dan kaki kesemutan, ketika burung pemancing yang saya letakkan di atas tanah kedatangan tamu, tapi belum juga siap bertarung," Hotman mengenang pengalaman lucunya..
Menurut
pengalaman Pak Dewi, kawasan yang menjadi habitat tekukur jago, adalah
seputaran Kecamatan Parmonangan, Pagaran, Pangaribuan, Garoga,
Sipahutar, (kawasan Tapanuli Bagian Utara) di mana suasananya belum
ingar-bingar seperti di perkotaan. Di kawasan Kabupaten Simalungun
(Siantar) di mana begitu luas perkebunan dan perladangan sepi, para
pemburu burung perkutut juga banyak bertebaran di berbagai pelosok.Begitu juga di kawasan Tapanuli Bagian Selatan.
Salah satunya pernah bercerita pada saya, Rahidin Sikumbang orang Padang
yang sudah lama merantau ke Simalungun. Katanya, ia sudah dua puluh
tahun hobi berburu burung tekukur (anduhur). Terkadang bersama teman
pergi mandah ke wilayah Samosir pinggiran Danau Toba, sampai bermalam di
sana hanya untuk berburu.
Apa sih kepuasaan dari berburu sampai
meninggalkan rumah berhari-hari? Terkekeh, Rahidin mengaku adanya
kenikmatan tersendiri.” Kalau sangkar berhasil menjerat seekor saja,
rasanya seperti ketiban rejeki besar seperti dapat hadiah lotre.” Ironisnya pernah ada maniak perkutut sampai menangis terisak ketika perkutut unggulannya mati ditembak pemburu lain yang menggunakan senapan angin. Pemburu bersenapan itu tak sengaja memang. Dia melihat ada suara tekukur di pinggir sebuah ladang, lalu ia mengarahkan senapannya membidik.Eh, kena! Saat itulah si pemilik burung itu keluar dari persembunyiannya, marah-marah melihat burung pemancingnya sudah tergeletak berlumur darah."Tak sengaja lae, tak sengaja, yang aku pikir tadi burung bebas," kata pemburu bersenapan mohon-mohon maaf. Ia terpaksa memberi sejumlah uang ganti rugi, tak tega melihat pemilik burung itu mengelus-elus tekukur yang sudah tewas itu sambil menitikkan air mata. Bah...!
Pak Dewi dalam usia makin tua sulit meninggalkan hobinya berburu anduhur. Ia memang tak sendirian punya hobi marpikket.
Di Tapanuli banyak rekan “seangkatannya”. Sebut misalnya Irra
Sitanggang, Bejo Simanjuntak (alm), Kiwa (juga sudah almarhum), dan
banyak lainnya. Di Parmonangan ada orang bernama Purba yang justru sudah
kategori perkutut maniak. Satu ketika, ia bilang pada BATAKINDONEWS.Com,
Bayangkan , kalau sangkar sudah dapat mangsa, lebih dari makan kenyang,
katanya terbahak. Bah!
Berburu
tekukur dan perkutut, baginya mengandung filosofi pula. Melatih
kesabaran dan nyali. Kalau tak penyabar, janganlah ikut kami,karena
harus tahan berjam-jam tiarap mengintip dan menunggu kapan burung yang
ditantang jagoan dalam sangkar akan muncul. Tak selalu ada hasil memang,
tapi ini perjuangan.
Dan
nyali? Ya, ini so pasti. Zona perburuan yang dimasuki harus kawasan
hutan yang sunyi, perladangan di mana banyak pepohonan dan suasana
lengang. Tak jarang terdengar suara binatang buas. Atau tantangan lain
saat tiarap di semak-semak ada ulat berbisa, pacet, atau jangan-jangan
ular. “ Berarti bawa senjata juga untuk pertahanan/” tanya Ekspresiana
yang hobi pada hal-hal unik. Pak Dewi alias Hotman Silitonga
membenarkan.” Ya di antara perlengkapan kami juga bawa pisau atau
parang, selain bekal makanan. Terkadang juga obat anti nyamuk,
mengantisipasi badan jadi bulan-bulanan nyamuk sialan.” Wah, seru
bangat! (Leonardo TS/lihat juga Kompasiana.Com)
Langganan:
Postingan (Atom)



.jpg)

