Tampilkan postingan dengan label Media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Media. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 April 2016

Jurnalisme Online Yang Makin Ngetren

Perkembangan teknologi saat ini sangat cepat, semenjak ditemukannya internet pada tahun 1969, Internet dapat berkembang pesat dan seolah menyingkirkan media massa lain disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain kemudahan seseorang untuk mengakses internet, hampir setiap orang dapat mengakses internet dimanapun dan kapanpun, yang dibutuhkan hanyalah jaringan internet dan perangkat yang bisa mengakses internet (PC, laptop, Handphone, dsb). perkembangan teknologi semakin baik. Dalam bidang jurnalisme pun para pebisnis di bidang media massa pun mengikuti perkembangan teknologi ini.

Jurnalisme daring atau biasa di sebut online journalism merupakan bentuk dari kemajuan teknologi sekarang, dimana dulu jurnalisme lebih lekat dengan media cetak atau penyiaran sekarang jurnalisme pun berkembang menjadi jurnalisme online. Dalam buku journalism online by Mike Ward menyebutkan bahwa jurnalisme online diumpamakan adalah sebuah gereja yang luas - konten merangkul penciptaan di berbagai jenis (misalnya berita dan informasi) dan pengaturan (misalnya komersial serta berbasis berita).  Menurut Bob Eggington ini adalah sebuah tantangan di dunia jurnalistik, tantangan yang didasarkan pada mendefinisikan apa jurnalisme online dan bagaimana hal itu dapat dipraktekkan sebaik baiknya dalam media baru ini.

Menurut apa yang di tulis oleh Mindy McAdams bahwa jurnalisme online sangatlah luas. Dimana website bukanlah hanya sebuah koran, video bukanlah hanya sebuah televisi dan audio bukanlah hanya sebuah radio. Dalam dunia online semua hal dapat digabung menjadi satu. Seperti contoh sebuah radio dapat menampilkan berita berisi foto, video dan juga tulisan tidak hanya rekaman suara saja. Begitu pula dengan website televisi dan koran. Dan juga media online ini dapat membuat kita berinteraksi sesama pembaca atau pendengar, atau bahkan memudahkan kita untuk berbagi pengalaman dengan penulis berita ataupun pembaca berita. Hal tersebut membuat nilai suatu berita semakin baik.

Tidak hanya itu dengan adanya teknologi online ini, kita dapat mengetahui berita berita dari negara lain dengan menggunakan bahasa yang kita mengerti atau bahasa yang paling umum di gunakan adalah bahasa Inggris. Dan yang lebih mudahnya kita dapat mencari berita dari portal berita yang sudah merangkum berita berita yang memiliki topik sama. Sehingga kita dapat mencari salah satu topic berita dari berbagai web berita dalam 1 website saja.

Jurnalisme online pun menjadi cara baru untuk bercerita, para wartawan di ajak untuk berfikir di luar kotak untuk menceritakan sesuatu. Hardnews biasanya bersifat singkat, padat dan memiliki jangka waktu. Namun dengan adanya jurnalisme online ini dapat memuat berita berita yang serius dan penting : tidak singkat, jelas, dan dapat terus di update dengan mudah perkembangan salah satu topic tersebut.

Sekarang ini media massa online banyak diminati oleh masyarakat, berita yang di tulis di sebuah media massa online pun tetap ditulis oleh seorang wartawan. Namun apakah tugas yang di pegang oleh wartawan media cetak dan wartawan media online sama?

Masyarakat awam pasti memiliki presepsi tersendiri terhadap profesi seseorang sebagai wartawan. Menurut mereka wartawan adalah seseorang yang melakukan liputan dan melaporkan hasilnya. Memang hal tersebut tidak salah.

Tugas pokok seorang wartawan memang mengumpulan data, menulis,dan menyampaikannya kepada publik. Ketika masuk ke masalah cara mengemas berita, masing masing media akan berbeda-beda. Seperti media cetak, laporannya dipublikasikan menggunakan kertas, radio melalui suara, dan televisi melalui visualisasi video. Di Amerika jauh sebelum indonesia mengenal dunia internet sudah mengembangkan new media. Diantaranya media massa online.

Sekarang di Indonesia media massa online sudah semakin berkembang, sudah banyak portal portal berita online seperti Kompas.com, dan Detik.com. Malah hampir setiap media massa cetak ataupun televisi sekarang memiliki media massa online pula untuk mengembangkan bisnisnya. Seiring dengan itu munculnya apa yang disebut blog atau website bersifat personal yang tak kalah ramainya dengan media online konvensional. Mereka para blogger juga bisa mempraktekkan kebebasan jurnalistik dengan style masing-masing. Suka tidaknya publik terhadap tayangan satu blog, tentu tergantung pada konten dan kepiawaian blogger meracik sebuah tulisan atau artikel. Tetapi yang pastim di negeri - negeri maju seperti Amerika dan Eropa, blogger merupakan bagian dari jurnalisme online yang pengaruhnya cukup besar dan luas.

Namun berbeda media massa tradisional dengan media massa online ini. Ada kekhususan yang dimiliki oleh media massa online ini. Contohnya ruang publikasi. Halaman media online tidak terbatas seperti media cetak, apalagi televisi atau radio. Karena media online memiliki space yang luas untuk pemberitaannya maka sekarang banyak rubik rubik yang di buat oleh media online untuk menyalurkan berita berita yang lebih spesifik. Tulisan dan ulasan yang dilakukan oleh wartawan dapat sangat dalam dan sangat panjang sesuai apa yang di kehendaki wartawan tersebut.

Sangat menarik jika bekerja di media massa online. Definisi sebagai seorang wartawan atau Journalist tetap sama. Namun dalam cara berkerjanya yang berbeda dengan wartawan media tradisional. Media cetak memiliki rentang waktu deadline yang cukup lama. Misalnya jika kita melakukan liputan di pagi hari, kita bisa mengirimkan beritanya pada saat sore hari.

Sementara jika kita bekerja sebagai wartawan media online, kita dituntut untuk membuat laporan secepat yang kita bisa atau secepat kemauan redaksi. Sifat media jenis ini ialah mengejar kecepatan berita. Sehingga harapannya pembaca dapat mengetahui suatu kejadian secara uptodate saat itu juga. Dalam hitungan menit masyarakat sudah dapat mengetahui kejadian yang berlangsung di suatu tempat yang jauh.

Karena sifatnya demikian, wartawan online selalu dituntut untuk ekstra cepat dalam membuat sudut pandang dari sebuah peristiwa yang baru saja diliputnya . jauh lebih cepat dari wartawan media cetak. Di sinilah sulitnya menjadi wartawan media online. Jika kita tidak melakukannya dengan teliti sering kali terjadi kesalah pahaman dengan apa yang terjadi. Karena menuntut kecepatan seringkali berita yang dilaporkan belum diselidiki secara mendalam, sehingga sering terjadi kesalahpahaman.

Media online yang menganggap bahwa kecepatan memuat laporanlah sebagai kekuatan satu-satunya, memiliki strategi untuk mempersingkat waktu. Wartawan di lapangan memang tidak diharuskan untuk membuat berita. Tugas wartawan di lapangan adalah mengumpulkan data-data metah dan dilaporkan kepada redaksi. Contoh data mentah iyalah kutipan-kutipan narasumber, keadaan di lapangan. Setiap redaksi sudah memilikitim penulis sendiri yang bertugas menyusun data-data mentah yang diberikan oleh wartawan di lapangan. Dengan demikian waktu dalam pempublikasian dapat dipangkas.

Wartawan Media Online Harus Serbabisa. Jurnalis Online tidak hanya dituntut bisa menulis berita dengan baik, cepat, dan ringkas, tapi juga mesti mampu menguasai banyak hal terkait multimedia sehingga menjadi “adaptable journalist ” (wartawan yang mampu beradaptasi dengan aneka media).

Skill utama wartawan media online setelah bisa menulis adalah menguasai internet dan karakteristik media online. Serbabisa merupakan salah satu prinsip jurnalistik online yang terangkum dalam BASIC (Brevity, Adaptability, Scannable, Interactivity, Community) sebagaimana dikemukakan Paul Bradshaw (Senior Lecturer, Online Journalism, Magazines and  New Media, School of Media, Birmingham City University, UK (mediacourses.com) seperti yang dipublikasikan di Online Journalism Blog.

Ketika membahas prinsip “adaptability”, Bradshaw mengemukakan, adaptability (penyesuaian) adalah keterampilan kunci ( key skills ) wartawan di era new media. Era jurnalis hanya menulis naskah (teks) atau hanya merekam video dan audio, telah berlalu. Saat ini, suratkabar, majalah, TV, dan radio pun juga versi online (website). Karenanya, kontennya pun disesuaikan dengan karakter konten media online, yakni:

    (Hyper)Text

    Audio

    Video

    Still images

    Audio slideshows

    Animation

    Flash interactivity

    Database-driven elements

    Blogs (dalam hal ini: daftar artikel/berita/informasi tekstual).

    Microblogging/Text/email alerts (Twitter)

    Community elements  –  forums, wikis, social networking, polls, surveys

    Live chats

    Mapping

    Mashups (aplikasi web).

“Jurnalis online mesti cerdas memilih format yang paling pas untuk melaporkan  berita: teks, video, audio, map, atau gabungan,” kata Bradshaw.

Wartawan Media Online: All Journalist

Dikemukakan pula, jurnalis online dituntut mampu menjadi “All Journalist” (wartawan segala jenis media):

    Menulis dengan baik, ringkas, dan cepat untuk lebih dari satu jenis media.

    Menemukan informasi akurat dan sumber online dan offline terpercaya, secara cepat, dan harus memiliki koleksi RSS Feeds (juga Google Alert, pen.) agar“keeping them in touch with their area”.

    Memahami beberapa prinsip dasar video, audio, dan foto/gambar. Soal gambar, misalnya, selain prinsip jurnalistik foto, juga soal ukuran (size) yang tidak menggangu loading website.

    Menguasai “editing software” – photo, video, and audio software.

    Memahami komunitas online seperti Facebook, Flickr, Youtube  – lebih baik lagi“should already be a productive member of one”.

Dengan demikian, wartawan media online harus serbabisa, yakni menguasai teknologi informasi dan komunikasi terkini, terutama terkait dengan internet (online), selain piawai menulis berita dan reportase.

Jumat, 08 April 2016

Masyarakat Perkotaan Kini Mengkonsumsi Berita Dari Ponsel


Ketua Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, Direktur IDA Edi Taslim, Bao Jianlei, dalam acara peluncuran
riset Studi Konsumsi Media Online di Jakarta 16 Maret 2016 =


 BATAKINDONEWS.Com - Masyarakat perkotaan Indonesia sangat gemar mengkonsumsi berita melalui telepon seluler. Konsumsi melalui ponsel merupakan angka tertinggi, yaitu 96 persen, dibanding media lain, seperti televisi (91 persen), surat kabar (31 persen), dan radio (15 persen).

Temuan itu merupakan bagian dari riset Indonesia Digital Association (IDA), didukung Baidu Indonesia, dan dilaksanakan lembaga riset GfK. Riset dilakukan di lima kota besar di Indonesia selama 2015, yang mencakup 1.521 panelis dengan ditanam perangkat lunak GfK di perangkat mereka dan 775 responden dengan wawancara langsung.

Temuan lain adalah pembaca berita online cenderung didominasi kelompok usia 33-42 tahun dan lebih banyak pria dibanding wanita. Dari segi status sosial ekonomi (SES), ternyata pembaca berita online lebih banyak SES A dan B.

Selain itu, mayoritas dari mereka membaca berita secara rutin setiap minggu (60 persen), bahkan ada 24 persen yang membaca berita online setiap hari.

Adapun waktu yang menjadi pilihan favorit konsumsi juga bervariasi. Pada Senin-Jumat, puncak konsumsi terjadi pada pukul 12.00-15.00, yang ditengarai bertepatan dengan jam istirahat makan siang.

Pada Sabtu, puncaknya sedikit bertambah panjang dari pukul 12.00 hingga 18.00 dan pada Minggu menjadi kian panjang lagi atau cenderung merata dari pukul 12.00 hingga 21.00.

Ketua Indonesia Digital Association Edi Taslim mengatakan kemajuan teknologi telah mengubah cara masyarakat mengkonsumsi informasi. “Kami melihat ini sebagai peluang untuk menyuguhkan konten yang tepat di saat yang tepat dan dengan cara yang tepat,” ujarnya di Jakarta, Rabu, 16 Maret 2016.

Bao Jianlei, Country Director PT Baidu Digital Indonesia, mengatakan pengadaan riset digital menjadi penting karena industri digital perlu didukung data industri untuk bisa berkembang. “Kami berharap riset ini bisa menjadi salah satu acuan bagi pemain digital di Indonesia dalam mempelajari kebiasaan netizen di Indonesia,” tuturnya.

Adapun Triawan Munaf, Ketua Badan Ekonomi Kreatif, meminta para kreator terus berkreasi dan pintar dalam memanfaatkan teknologi. “Hal ini sejalan dengan rencana pemerintah menjadikan Indonesia sebagai kekuatan baru ekonomi digital di Asia,” ujarnya. (Tempo)

Rabu, 02 Maret 2016

Jatuh Bangunnya Koran Sinar Harapan

BATAKINDONEWS.COM - Bermodal tata letak sederhana dengan satu foto di halaman pertama, pada Kamis sore 27 April 1961, koran Sinar Harapan mulai dijual, bersanding dengan koran sore lain, Warta Bhakti. Koran yang memiliki moto “Memperdjoangkan kemerdekaan dan keadilan, kebenaran dan perdamaian berdasarkan kasih” ini, pada awal penerbitannya tidaklah menarik perhatian. Namun seiring berjalannya waktu, isi berita dan tampilannya mulai dilirik banyak orang.

Waktu itu, Presiden Soekarno kerap mendengungkan tiga unsur penting yang hidup dalam masyakarat Indonesia. Ketiga unsur itu adalah nasionalis, agama, dan komunis yang disingkat nasakom. Unsur ini juga merasuk ke dunia pers. Situasi negara medio 1959-1960 memungkinkan dunia pers memilih ketiga unsur tersebut. Golongan nasionalis memiliki surat kabar di Jakarta bernama Suluh Indonesia, sementara golongan komunis mempunyai Harian Rakyat dan Warta Bhakti. Golongan agama pun berpeluang mendirikan surat kabar, selain Duta Masyarakat yang didirikan Nahdlatul Ulama.

Dalam perjalanannya, pemerintah menutup banyak surat kabar beraliran “kanan” hingga kemudian koran beraliran “kiri” atau komunis menguasai dunia pers. Dunia pers saat itu memasuki masa suram. Akhirnya kalangan militer memberi angin kepada masyarakat untuk membuat surat kabar bernapaskan keagamaan, untuk mengimbangi harian yang berafiliasi komunis sekaligus untuk memperkuat barisan Pancasila. Seorang dokter berpangkat mayor Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI), Komang Makes, ingin menerbitkan surat kabar bernapaskan agama. Seperti dikutip dari buku Awal Perjuangan Sinar Harapan, 1981, dr Makes menghubungi beberapa rekannya yang memiliki dasar kekristenan kuat. Mereka adalah para pendeta, seperti Roesman Moeljodwiatmoko, Soesilo (pendeta ALRI), Prof Dr Soedarmo, Simon Marantika (Sekjen Dewan Gereja-gereja di Indonesia/DGI), dan Prof JL Ch Abineno (Ketua DGI).
Dokter Makes kemudian menghubungi orang-orang dari Partai Kristen Indonesia (Parkindo) dan tokoh masyarakat Kristen, antara lain Dr Johannes Leimena (Wakil Perdana Menteri Pertama), JCT Simorangkir SH (Parkindo) dan rekannya WJ Rumambi; serta Darius Marpaung, Sahelangi, dan Ny B Simorangkir. Kelompok ketiga yang diajak bergabung dari kalangan pengusaha dan pers seperti Indra D Pontoan, ARSD Ratulangi, HG Rorimpandey, JB Andries, Simon Toreh, Supardi, dan Lengkong. Terakhir yang dihubungi adalah Soehardhi yang pernah menggawangi mingguan Hidup dan Berita Minggu.

Setelah itu, bergabung Subagyo Pr (RRI), Liek Soemantoro (eks mingguan Hidup), Poernawan Tjondronegoro, dan Subekti (eks Pedoman). Bergabung pula Surjanto Kodrat (eks Indonesia Observer), Max Karundeng (eks Merdeka dan Pedoman), Aristides Katoppo (eks AP/PIA), Daisy Nelwan, SWG Awuy, Bram AD Tuapatinaja, David Hutabarat, Rheinhardt Simanjuntak, Benny Ticoalu, Ahmad, dan Sutilah. Turut bergabung pula eks wartawan dan karyawan surat kabar Pos Indonesia, seperti Tukiran, Suprapto, Oey Yu Sin, Budiono, Victor Sihite, Robert Gouw, SM Madja, Wengki, J Budisatria, dan Setiadi Purnama.  

Nama dan “Warna”

Sebelum menentukan pelaksana redaksi, terjadi diskusi untuk menentukan “warna” harian yang akan diterbitkan. Mereka setuju mendirikan surat kabar bernapaskan kekristenan. Awalnya, Leimena menyangsikan keberhasilan mereka menerbitkan koran harian, mengingat minimnya pengalaman dan persoalan permodalan. Leimena kemudian menganjurkan penerbitan majalah atau surat kabar mingguan.

Namun kemudian, dr Makes mampu meyakinkan Leimena agar mendirikan koran harian. Setelah beberapa kali diskusi, muncullah nama Sinar Harapan yang merupakan usulan dr Makes. Moto “Memperdjoangkan kemerdekaan dan keadilan, kebenaran dan perdamaian berdasarkan kasih” merupakan usulan Rumambi yang kemudian dijadikan tagline.

Surat kabar ini tidak berpredikat Kristen, tapi bernapaskan kekristenan; terbit di bawah komando HG Rorimpandey sebagai pemimpin umum dan ketua dewan redaksi JCT Simorangkir SH, serta pelaksana redaksi dipimpin Soehardhi. Untuk badan penerbit, dibentuklah PT Sinar Harapan yang selanjutnya berganti menjadi PT Sinar Kasih.

Surat Izin Terbit (SIT) atas nama Rorimpandey sudah dikenal di Departemen Penerangan, Penguasa Perang Daerah (Peperda) Jakarta Raya, maupun Penguasa Perang Tertinggi (Peperti). Ia pernah menjadi Pemimpin Umum maupun Pemimpin Redaksi Buletin Ekonomi Keuangan, serta memimpin mingguan Dunia Ekonomi, mingguan Pewarta Djakarta, dan sempat menjadi wartawan mingguan Republik. Sebelum mengajukan SIT, diputuskanlah Sinar Harapan menjadi harian sore dengan pertimbangan harian sore Pos Indonesia yang diterbitkan PT Kinta diberangus pemerintah.

Dalam perjalanannya, Sinar Harapan menjadi harian umum dan koran sekuler, bukan berpredikat Kristen. Para pendiri dan pengelolanya sepakat menerbitkan koran tanpa dicampuri pihak mana pun. Sikap ini justru menarik lembaga kekristenan yang semula tidak melirik koran ini.

Awalnya, Sinar Harapan memang menjadi bagian Parkindo, menyusul niatan pemerintah mengontrol pers. Pemerintah dianggap sebagai penguasa dan mewajibkan semua media massa berafiliasi kepada partai politik. Apabila tidak, SIT-nya dicabut. Namun, pada masa Orde Baru, Sinar Harapan melepaskan diri dari partai.

Pada 1973, dalam SIT yang dikeluarkan Departemen Penerangan, Sinar Harapan adalah harian umum independen. Sinar Harapan menjadi media yang bebas dan berhasil menjadi besar dalam kancah pers di Tanah Air pada 1980-an. Kendati kerap menghadapi penghentian operasional hingga pencabutan SIT pada 1965, 1973, 1978, sampai penutupan Sinar Harapan yang kemudian diganti menjadi Suara Pembaruan pada 1986-1987, perjuangan para wartawan dan karyawannya tidak pernah padam.

Banyak nama besar di republik ini lahir dari koran yang bertiras awal hanya 2.500 eksemplar, tapi kemudian menjadi 200.000 eksemplar tiap hari itu. Tiras tersebut adalah yang tertinggi di antara semua media massa cetak di Indonesia kala itu. (Ray Soemantoro)

Sumber : Sinar Harapan
Kantor Harian Sinar Harapan (SH) =

Senin, 29 Februari 2016

Sinar Harapan Koran Yang Tiarap Tanpa Hilang Harapan


















 SAMPAI JUMPA KEMBALI. Itulah judul singkat tulisan Aristides Katoppo, salah satu dedengkot Harian Sinar Harapan pada 31 Desember 2015 lalu. Tulisan sederhana tapi sarat makna keprihatinan yang mendalam, seolah mewakili sekian banyak simpatisan koran yang awalnya menyuarakan tema kekristenan itu. Seorang rekan melontar tanya pada saya, kenapa ikhwal matinya sebuah koran Sinar Harapan begitu penting dimuat pada blog Batakindonews? Dengan senyum hambar saya hanya menjawab singkat," semasa muda dulu, saya suka membaca Sinar Harapan, bahkan pernah menyumbang beberapa tulisan feature pada tahun 80an, dan saya pernah menerima beberapa kali honor untuk itu. Saya ikut menundukkan kepala jika koran yang saya nilai terbaik di Indonesia selain Kompas itu, benar-benar sudah tamat setelah beberapa kali jatuh bangun mewarnai romantika persuratkabaran di Indonesia. Tapi mungkin, sekadar menghibur hati siapa saja yang mengalami kesedihan itu saya hanya bisa mengulang satu kalimat stimulans " Kita boleh kehilangan apa saja dalam hidup ini, tetapi bukan harapan." Di bawah ini kami turunkan catatan Aristides Katoppo seutuhnya dicuplik dari Sinar Harapan.Co:

 *
Sinar Harapan mulai terbit lebih dari setengah abad lalu, yakni 27 April 1961, dengan moto “Memperdjoangkan kebenaran dan keadilan, kebebasan dan perdamaian berdasarkan kasih.” Niatnya waktu itu agar dalam suasana negara yang dilanda prahara, pelbagai benturan, dan pertikaian; ada suara sejuk yang tidak hanya menganut paham “politik adalah panglima”.

Sebagai surat kabar, Sinar Harapan merekam peristiwa dan kejadian dengan sudut pandang memberi suara kepada semua pihak yang berbeda-beda, termasuk yang tidak disukai pihak yang sedang berkuasa. Sinar Harapan berupaya bersikap inklusif, menghormati, dan menghargai keindonesiaan yang multikultural dan pluralistik. Sinar Harapan mengartikan persatuan bukan sebagai penyeragaman (unity bukan uniformity).

Upaya dan niat sebagai surat kabar agar berperan serta sebagai katalisator pembaruan kehidupan bangsa dan masyarakat tidak selalu mulus. Contohnya ketika memprakarsai pentingnya desentralisasi kekuasaan dari pusat agar perlu ditumbuhkannya otonomi daerah, perimbangan antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Ternyata ini dianggap prematur.

Akibatnya pada usia 25 tahun (1986), Sinar Harapan dianggap offside. Selanjutnya harian ini harus terbit dengan nama baru dan pucuk pemimpin baru. Barulah setelah tumbangnya Orde Baru, waktu Reformasi, koran ini bisa tampil kembali dengan nama yang tadinya hendak ditiadakan.

Beberapa bulan lalu, saya diminta hadir pada acara pemilihan direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) di Bali. Saya dijemput beberapa pengacara muda, salah satu di antaranya lulusan universitas terkemuka di Jawa. Ia mengatakan, waktu diminta pulang kampung oleh orang tuanya, orang tuanya kaget sewaktu mengetahui ia bergabung dengan LBH.

Ia menceritakan, selama di fakultas, selain dilatih ilmu hukum, ia juga diimbau selalu berdasi, mempersiapkan diri jadi pengacara yang akan jadi kaya raya, melayani yang berkuasa dan kaya-kaya. Kalau bisa, bukan cuma punya mobil Jaguar, tapi sampai Bentley. Betapa kagetnya setelah bergabung dengan LBH, ternyata ia harus melayani masyarakat kere, bahkan harus memberi sumbangan uang transportasi.

“Pakaian pun disesuaikan, tak patut berjas dan dasi. Tapi ternyata, saya bukan hanya tertarik. Saya asyik dan senang. Saya belum kasih tahu orang tua, tapi saya mau tetap lakukan ini,” ucapnya. 

Ternyata di antara yang muda, masih ada yang berkiblat pada panggilan idealisme, siap untuk tidak cepat kaya dan keren; tapi bangga dengan cita-cita, dedikasi, dan nurani. Memang ini pilihan. Mungkin ini makin langka. Di tengah arus materialisme yang memburu kekayaan dengan segala cara, pilihan itu membuat mereka cerah, bangga, dan bahagia. 

Sinar Harapan dari dulu terbuka terhadap sikap dan pilihan itu. Sinar Harapan akrab dan peduli kepada yang memilih dedikasi, integritas, dan nurani.

Kepuasan diperoleh bukan karena memiliki mobil Rolls Royce, melainkan karena pengabdian kepada kepentingan umum, yang kebetulan kebanyakan merupakan lapisan masyarakat jelata yang miskin. Ternyata tidak sedikit orang kaya mengagumi pilihan sikap itu dan diam-diam menjadi donatur tetap.

Jelang akhir 2015, sangat disayangkan, di tengah melajunya komersialisme, Sinar Harapan tidak dapat bertahan dan mulai tahun depan berhenti terbit sebagai surat kabar harian yang dicetak sore hari. Banyak pihak kecewa dan menyayangkan. Mereka bertanya: Apa masih ada harapan? Sebenarnya, dalam pertanyaan itu tersimpul peluangnya.

Syukur dan Terima Kasih
Ada cerita tentang pemberian para dewa kepada manusia dalam mitologi Yunani. Manusia diberikan bermacam-macam kepintaran, seperti akal sehat, kemampuan teknologi, melukis yang bagus, menyanyi, dan menari. Hal yang tidak diberikan adalah segala sifat dan keadaan buruk, seperti iri hati, cemburu, serakah, ingin berkuasa, ingin kaya raya tanpa bagi-bagi, egosentris, segala macam penyakit, dan berbagai hal yang membuat manusia menderita. Para dewa menyimpan segala keburukan itu dalam sebuah kotak di kuil.

Para dewa berpesan kepada manusia untuk tidak membuka kotak tersebut. Namun, manusia ingin tahu, mereka nakal. Dibukalah kotak tersebut maka keluarlah segala macam penderitaan, penyakit, dan sifat buruk. Manusia tersiksa karena perbuatannya sendiri.

Akan tetapi, saking sayangnya para dewa kepada manusia, masih ada satu yang tersisa dan terakhir dikeluarkan, yaitu harapan. Harapan sengaja disediakan sebagai perisai ampuh. Pesannya, ketika semua kondisi buruk melanda, berpeganglah pada harapan. Dengan harapan, manusia bisa bangkit lagi dan bertahan.

Karena itu, ketika kita dilanda bermacam-macam krisis, kita selalu diingatkan supaya tidak boleh menghilangkan harapan. Mungkin suatu saat nanti, hanya itu yang kita miliki. Harapan itu harus dicari, ditemukan, ditebar, ditumbuhkan, dipupuk, dirawat, dan dikembangkan secara terus-menerus.

Marilah kita mengakhiri tahun 2015 dengan penuh syukur dan terima kasih. Mohon maaf atas segala kekurangan, kealpaan, kekhilafan, dan kesalahan. Marilah songsong 2016 dengan doa dan keyakinan bahwa harapan tetap melambai dan bersinar. Seperti halnya hukum kekekalan energi, energi tidak bisa dihilangkan, tetapi hanya berubah wujud. 

Jika orang Jepang menyebut sayonara, orang Jerman menyebut auf wiedersehen, orang Inggris mengatakan good bye atau see you again; Sinar Harapan mengucapkan, “sampai jumpa” 2016. Kita yakin: yang kita kasihi dan yang mengasihi kita akan selalu bersama kita. 
(Aristides Katoppo)

Sumber : Sinar Harapan

Minggu, 28 Februari 2016

Pasang Surut Harian Sinar Harapan, Terbit Mati Terbit...Mati...

Catatan: Ikhwal media cetak yang terancam tutup di Indonesia sudah hal yang biasa. Pasang surut media besar seperti Harian Indonesia Raya milik Mouchtar Lubis, atau Harian Sinar Harapan media kebanggaan umat Kristiani di Indonesia, sudah hal yang biasa. Terbit, mati, terbit...mati...dan ter... lagi, tak jarang kejadian. Setidaknya ikhwal pasang surut salah satu koran terkemuka di Indonesia (Sinar Harapan) mengundang keprihatinan terutama bagi mereka yang fanatik dengan idealisme jurnalistik. Tulisan singkat di bawah ini dimuat utuh kecuali perubahan judul. Perlu dan menarik disimak.
Disarikan: Sihar Ramses Simatupang *
Kalau soal media massa terancam, sudah sejak dulu begitu. Media massa nasional, harian dan majalah pun di Eropa, Asia, dan Amerika mati. Mereka semua beralih ke daring atau online.   Di Indonesia, media massa cetak rontok tak terhindarkan. Jalan keluarnya bagi pemiliki modal besar adalah diversifikasi usaha, membuka penerbitan lain, percetakan, nonmedia seperti usaha membuka hotel.   Itulah yang terjadi pada grup Tempo, Femina atau Kompas, misalnya. Meski itu pun tak terlampau menolong karena media cetaknya tetap saja kewalahan.

Sementara itu, Sinar Harapan dilihat dari kondisinya tak memiliki modal untuk diversifikasi usaha, melainkan bekerja dengan mengandalkan oplah dan iklan. Beratnya lagi, oplah dikalahkan oleh media massa online dan televisi. Dari segi iklan jatah media massa cetak tergerus televisi yang sekarang banyak jumlahnya dan berekspansi secara kuat.   Televisi baik televisi asing, internasional maupun di daerah, berebut kue iklan lokal. Kue yang besar, tapi semutnya pun semakin banyak. Semut raksasa yang berkongkalikong antarsesama pengusaha. Ada juga oligarki politik terlibat di dunia media massa.  

Pemerintah pun tak melakukan kebijakan signifikan melindungi dan memproteksi media cetak dan melakukan pembiaran. Padahal, ini bukan natural karena ada permainan konspirasi, oligarki, kongkalikong. Posisi moral media cetak yang mempertahankan idealisme jurnalistik sebagai wakil dari suara publik karena tak berdasarkan rating ini, seharusnya dipertahankan oleh pemerintah.   Di antara banyak media massa cetak, sedikit media cetak yang hidup bukan semata berdasarkan tiras, tapi berdasarkan idealisme, adalah Sinar Harapan. Media ini tak berdasarkan tiras, tapi berdasarkan idealisme. Di media lain, tiraslah yang menciptakan isi.  

Gugurnya media seperti Sinar Harapan, bukan di luar dugaan saya. Tapi tetap saja merasa pilu, sedih berkepanjangan karena peran dan posisi media ini yang telah ditetapkan selama ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, juga berkebudayaan, cukup penting.   Bersama media lain yang cukup panjang usianya seperti Kompas, sedikit media itulah yang mempertahankan idealisme yang orisinal, asli, sejak awal dipertahankan.  

Selain tiras, media massa kuning berusaha bertahan dengan bergantung pada gosip dan sensasi. Sayangnya, keluhuran cita-cita berkebangsaan dan cita-cita berkebudayaan itu harus tumbang dikalahkan represivitas dan ekspansi media modern yang tak peduli lagi dengan idealisme karena yang penting bagi mereka adalah uang, dengan cara apa pun, termasuk mengkhianati ide jurnalistik, fitnah di publik dan masyarakat.  

Kematian Sinar Harapan sungguh adalah kematian sebuah gagasan dan kematian kebudayaan. Kendati pantas diresapi, kita tak harus seterusnya meratap tiada habis. Teman Sinar Harapan masih punya idealisme yang kuat, yang saya percaya tak akan berhenti untuk mencoba mencari kaki yang baru untuk gagasan mereka.   Bagaimana kita saling membantu untuk itu. Kita harus memelihara harapan dan mudah-mudahan tercipta harapan baru. 

Sumber : Sinar Harapan

Selasa, 08 September 2015

Ahok Lawan Pemberitaan Berbau Rasis Sampai Mati


Ahok: Pemberitaan yang Rasis Akan Saya Lawan Sampai Mati
Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok diwawancara wartawan saat memasuki Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, 29 Juli 2015. Ahok menjadi saksi dalam kasus dugaan korupsi pengadaan UPS. TEMPO/Iqbal Ichsan
 
SARINGAR.Net - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok angkat bicara soal rasisme yang santer menyerangnya. Ahok mengatakan akan memerangi pemberitaan yang mengandung rasisme.

"Kalau menulis sudah mengarah ke rasis, saya lawan sampai mati. Sebab, negara ini didirikan dari darah dan nyawa," ujar Ahok dalam acara Anugerah Jurnalistik M.H. Thamrin Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya ke-41, Kamis, 27 Agustus 2015, di Balai Kota.

Ahok menegaskan bahwa kehidupan pada era pers yang bebas dan merdeka tidak sepatutnya dicemari kebencian berdasarkan suku, agama, ras dan antar-golongan. Ia menyatakan bahwa pers yang rasis tidak pantas disebut pers.

"Pers yang rasis saya rasa tidak pantas disebut pers. Kalau ada primordialisme, itu bukan Indonesia," kata Ahok, mantan Bupati Belitung Timur.

Menurut dia, semua organisasi di Indonesia memiliki dasar, yaitu Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Ia mengatakan, jika tidak menyetujui dasar tersebut, silakan menggugat sesuai konstitusi dan koridor hukum. Kalau Anda tidak suka, ujar dia, silakan kampanye atau kudeta melalui konstitusi untuk mengubah dasar negara.

Ia pun menilai seluruh sikap rasisme yang mengancam sebaiknya dipidanakan. "Suruh polisi tangkap, harus ditangkap kalau terlalu mengancam," tutur Ahok.

NIBRAS NADA NAILUFAR (Tmp.co)

Selasa, 19 Mei 2015

Jurnalisme Online Makin Ngetren di Dunia


Jurnalisme online dari waktu ke waktu makin ngetren di seluruh dunia. Informasi tak lagi harus diakses dari media cetak (suratkabar/mejalah) atau media televisi. Informasi lebih aktual dan cepat bisa tayang melalui tayangan online (internet). Siapapun sekarang bisa menjadi seorang wartawan, dengan makin meluasnya media online (media cyber). Yang penting bisa membuat berita/tulisan, dan tahu mengutak-atik komputer atau melalui smartphone. Jurnalis online boleh saja dianggap jurnalis inkonvensional, tapi kenyataannya banyak informasi dari media online yang sangat membantu arus informasi lebih aktual dan bermanfaat bagi siapa saja. Pengaruh media online diakui kini makin terasa terhadap eksistensi media cetak.
Maka, jika semua orang bisa menjadi wartawan, kenapa harus menjadi pembaca atau pengakses berita belaka. Daftar saja ke satu blog atau buat blog pribadi, Anda pun sudah bisa menjadi pewarta. Tapi dengan catatan, tulis atau postinglah berita atau artikel yang menarik, eksklusif, bernilai plus, dan bermanfaat untuk semua orang.

Selasa, 24 Maret 2015

Kabag Humas Taput : Wartawan Harus Beretika !

Donna Nursiti Situmeang,S.IP = (Foto:Leonardo)


 Kabag Humas dan Keprotokolan Pemkab Tapanuli Utara, Donna Nursiti Situmeang, menegaskan tidak benar kalau ada tudingan atau anggapan, seolah-olah ada diskriminasi atau pilih kasih terhadap wartawan yang bertugas di daerah itu.
 Hal itu dinyatakan Donna Situmeang, dalam acara Coffe Morning yang diselenggarakan Pemkab Taput di Balai Data Kantor Bupati di Tarutung, Rabu ( 18/3). Acara tersebut merupakan salah satu bentuk silaturahmi atau ramah tamah antara jajaran pemkab Taput dengan jajaran pekerja media cetak/elektronik/online yang sudah diagendakan melalui Humas selama ini.
 Sebelumnya, Sekda Tapanuli Utara Edward Tampubolon mengatakan, pertemuan ini bukan konprensi pers, tapi hanya sekadar forum berbincang-bincang dengan rekan dari media. Namun terkesan, acara minum kopi ramah tamah itu, jadi meluas menjadi ajang tanya jawab yang serius.
 Kabag Humas Donna Situmeang yang merupakan wanita pertama dipercayakan menjabat Kabag Humas dalam sejarah pemerintahan Tapanuli Utara, cukup bijaksana melayani ragam uneg-uneg para wartawan yang jumlahnya seratusan orang lebih itu. Dia membantah adanya anggapan seolah-olah bupati memilih-milih wartawan saat ada kunjungan kerja atau kegiatan di lapangan.
 " Tidak benar itu." kata Donna yang mendampingi sekda dan asisten pada kesempatan temu ramah itu.
Menurut Donna, pihaknya tak bisa membawa sebegitu banyak wartawan yang terdaftar di humas karena kendala transport yang terbatas. Lagi pula, tambahnya lagi, anggaran yang dikelola humas sekarang ini tidak sama dengan dulu. Sekarang anggaran sudah diplot sesuai kegiatan terprogram.
 Donna juga pada kesempatan itu meminta supaya wartawan beretika. "Janganlah seperti ada wartawati yang ngomel tak karuan. Itu saya rasa tidak etis,"  ujarnya seraya menjelaskan bahwa ia bukan orang baru di bagian kehumasan. Karena sebelum dipercayakan menjabat Kabag Humas oleh Bupati Nikson Nababan, sebelumnya sudah sepuluh tahun bertugas di sana sebelum pindah ke Kantor Camat Sipoholon.
 Selain dihadiri sekda, acara ramah tamah yang dikemas dengan sebutan Coffe Morning ini, juga dihadiri ketiga asisten masing-masing Osmar Silalahi, Drs HP Marpaung, Parsaoran Hutagalung, serta sejumlah pimpinan SKPD, diantaranya Kadis PUK Anggiat Rajagukguk dan Kepala Kantor Pemdes Binhot Aritonang. Pada saat menyampaikan pandangan, Sekda Edward Tampubolon mengatakan bahwa kebebasan pers di Tapanuli Utara berjalan dengan baik. Pernyataan itu sebagai jawaban atas adanya anggapan seolah-olah kebebasan pers di Taput tidak ada.
SOAL LSM
 Terpisah, Donna Situmeang juga mengklarifikasi bahwa keberadaan atau aktivitas LSM bukanlah domain dari humas. Yang berkompeten menyangkut LSM itu adalah Kantor Kesbangsospol. Sedangkan Bagian Humas menangani bidang media dan kewartawanan.
 Hal itu ditegaskan Donna, untuk mengklarifikasi adanya salah persepsi seolah-olah untuk kegiatan semacam temu pers atau coffe morning, LSM diikutsertakan. "LSM dengan pers itu harus dibedakan, ada instansi khusus yang menangani kegiatan LSM," ujar Donna di Kantor Humas Keprotokolan pada hari yang sama.
 
 

Kamis, 12 Maret 2015

Koran Juga Sudah Ada Yang Online. Harian KabarIndonesia Contohnya.



Sertifikat internasional Harian Online KabarIndonesia dan International
Journalism Legitimation The Daily Online News KabarIndonesia =

 Penerbitan Harian Online KabarIndonesia

Didirikan pada tanggal 11 November 2006, oleh Yayasan Peduli Indonesia di Belanda. Koran Online KabarIndonesia merupakan media masa depan. Hal ini diungkapkan oleh koran Sinar Harapan edisi 21 November 2006. Telah menjalin kerjasama dengan ITB, UGM, Universitas Kristen Satya Wacana, Institut Ilmu Sosial dan Politik, Radio Jerman Deutsche Welle dan Radio Taiwan International. Visi: Menjadikan KabarIndonesia sebagai koran online yang terpercaya. Kabar Indonesia adalah koran gotong-royong. Oleh sebab itulah Kabar Indonesia harus menjadi corong kebenaran yang informatif dan demokratif. Pengunjung Kabar Indonesia adalah Penulis Kabar Indonesia. Sesuai dengan mottonya "Dari kita untuk kita". Misi: Menyajikan berita-berita yang menarik dan selalu up-to-date dengan prinsip: "from Any to Many". Tujuan: KabarIndonesia harus bisa menyampaikan suara rakyat, suara yang benar-benar murni tanpa ditunggangi oleh siapa pun. Ditulis oleh mereka yang benar-benar peduli akan rakyat, bangsa maupun negara Indonesia. KabarIndonesia ditulis oleh siapa saja, dimana saja dan mengenai apa saja! Jumlah Penulis maupun beritanya tidak terbatas, sehingga dengan mana menjadi “never-ending-story”.
Harian Online KabarIndonesia yang disingkat HOKI juga mengeluarkan International Press Card kepada reporter berdasarkan penilaian dengan mengeluarkan tanda resmi terakreditasi. Kartu pers berstandar internasional itu berlaku di semua negara sesuai dengan klasifikasinya  International Press Card, yang dikeluarkan Harian Online Kabar Indonesia, berpusat di Negeri Belanda. Salah satu yang lolos seleksi mendapatkan kartu pers internasional itu kebetulan adalah Leonardo TS Simanjuntak blogger SARINGAR.Net ini. Semoga berguna untuk meramaikan arus informasi dan bacaan yang bermanfaat untuk publik.