Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Maret 2016

Kekasihku Preman Pinggiran (6)

Bindu 6 - Novel: Leonardo TSS

Jenni susah tidur malam itu. Dia terbawa arus pikiran tak karuan. Dicobanya melupakan momen sekejap tadi, ketika Ronni tiba-tiba nyelonong ke rumahnya. Jenni tahu itu kerjaan Ida dan Bornok, sengaja membawa Ronni yang membuatnya kaget. Jenni kesal, tapi di balik itu hatinya juga resah. Merasa serba salah. Ia mengoreksi sikapnya tadi menghadapi pemuda berkulit hitam manis itu. Apakah aku tak cukup ramah terhadap pemuda itu? Jenni kuatir kalau ia dinilai gadis yang angkuh atau cuek.
 Jenni meninggalkan tempat tidurnya, membuka pintu dapur. Di situ di bawah pohon alpukat yang rindang ada kursi kayu yang biasa didudukinya saat senggang. Jenni menatap langit yang gelap tak berbintang. Saat-saat duduk sendirian di kursi kayu itu hatinya sedih, mengenang semua masa lampau yang penuh kenangan saat ibunya masih ada. Jenni teringat ibu yang begitu baik dan peduli padanya. Jenni teringat kala masih di SMA empat tahun lalu, ia nyaris seorang gadis yang dimanjakan ibunya. Jenni tak pernah mengalami keletihan seperti sekarang. Jenni sudah terbiasa dengan air mata, dan terbiasa pula untuk tidak terlena oleh kesedihan.
 Ida dan Bornok berusaha menghiburnya. Jangan larut terus oleh kesedihan. Air mata tak pernah menyelesaikan kesedihan, kecuali menyuburkan perasaan apatis makin menjadi. "Yakinlah, waktu selalu akan merobah semuanya dalam hidup kita. Biasakanlah melawan kesedihan dengan tersenyum, dan jangan mau didera perasaan menyesali apapun yang telah kau alami."
 Bahkan satu ketika Ida mengusulkan, " Jika kamu merasa hidupmu hanya akan menderaikan air mata di rumah ini, ya kenapa kamu tak mau mengambil tindakan berani. Kamu punya hak atas dirimu, dan punya hak penuh untuk menentukan hari esokmu."
 Jenni tertegun menatap Ida." Maksudmu?" ia cepat menyambut dengan tanya.
 Ida menjawab, serius." Yah pergi tinggalkan rumah ini, jangan biarkan dirimu selamanya bernafas dalam lumpur kesedihan tak bertepi."
 "Jadi aku kemana," kata Jenni seperti pada diri sendiri. Menatap langit tak berbintang. Menatap langit yang seakan mengasihani dirinya.
 Ida menghela nafas, mengelus tangan Jenni." Tapi jangan bilang aku menghasutmu ya Jen. Aku hanya tak tega melihat keadaanmu terus bersedih seperti terpasung di sini. Kalau saja rumahku bukan di komplek ini, aku akan membawamu ke rumahku saja. Orang tuaku pasti tidak keberatan."
 "Ya, tapi aku mau ke mana, kalau misalnya aku pergi dari rumah pamanku ini," Jenni mengulangi pertanyaannya.
 " Lho, coba saja. misalnya mencari kerja kek,kamu kan sudah punya ijazah SMA dan sudah punya sertifikat kursus komputer seperti aku. Itu kan sudah bisa modal cari pekerjaan."
 " Tapi kerja di mana hanya lulusan SMA."
 " Ya siapa tau ada lowongan tenaga honor misalnya, atau kerja perusahaan kek, entah kerja di percetakan atau wartel."
 "Wartel? Seperti si Riris?" Jenni mengeritkan dahi.
"Ya, kenapa. Apa salahnya sementara seperti Riris sebagai batu loncatan. Sekarang Riris kan sudah kerja meskipun honor di kantor pemerintah." Ida memberi penjelasan.
Jenni pun terdiam.
"Pikirkan sajalah itu Jen. Dan ingat, kamu itu tak terikat apa-apa dengan keluarga di rumah ini, kecuali karena ini rumah pamanmu. Aku tau kamu tertekan bathin karena isteri pamanmu tak sebaik nantulangmu mendiang."
 "Tapi aku takut Ida, tak enak nanti pada paman kalau..."
" Jangan terlalu berpikir sentimentil Jen. Kamu di sini kan hanya sebagai persinggahan sementara ketika situasi kehidupan menggiringmu harus tinggal bersama pamanmu. Tapi bukan berarti kamu telah bergantung harus di sini selamanya. Kita sebagai orang Batak tetap menghormati paman kita, tapi bukan berarti menghormati membuat kita harus kehilangan kemerdekaan pribadi."
Semua ucapan Ida itu selalu terngiang di ruang telinga Jenni. Dibolak-balik baik buruknya, pantas tidaknya. Tapi lama kelamaan Jenni menggarisbawahi satu kata simpul dari Ida , tentang kemerdekaan pribadi yang tak harus terikat pada ikatan-ikatan apapun dengan yang lain."
 Jenni menutup pintu dapur, beringsut pelan kembali ke kamar. Direbahkannya diri seraya mencoba membuat hatinya setenang malam yang bergerak lambat menuju fajar.
 Ia ingin melupakan tentang kunjungan seorang pemuda bernama Ronni tadi. Jenni merasa tak tertarik seandainya pun perkenalan itu mau dirajut ke jenjang lebih jauh. Jenni takut menjalin hubungan dengan pria, karena rasa tidak merdeka mengingatkannya untuk menepis pergaulan lebih jauh kecuali dengan sebatas teman anak gadis. 
 Dan terutama, Jenni takut jika suatu hubungan cinta menambah beban tekanan terhadap dirinya. Isteri pamannya Marice, pasti akan membuat situasi bertambah buruk.
 "Ouuuuhhhhh nasiiiiib..." keluh Jenni seraya mengatupkan mata.

Jumat, 26 Februari 2016

Kekasihku Preman Pinggiran (4)

     BINDU (4) - Novel: Leonardo TSS - 
 LAPO Paragat tergolong kedai tuak paling laris di kawasan lembah itu. Disebut Paragat, karena Monang awalnya memang yang mengolah langsung pohon bagot (enau) dan kelapa di perbukitan pinggiran itu. Dulunya ia yang mensuplai tuak untuk beberapa kedai di perkotaan. Karena rasa tuak racikannya paten sehingga digemari banyak pecandu, banyak kedai berebutan melangganinya. Tapi lama-lama Monang berpikir untuk membuka usaha kedai sendiri. Dia mulai usaha sederhana di komplek Pinggiran. Lama kelamaan kedainya populer sekali, mengundang banyak orang tiap sore datang ke kedainya. Bahkan anak muda dari kota makin banyak menjadi langganannya. Apalagi Monang melengkapi makanan khas B1 dan sop kaki B2 dua kali seminggu. Makin ramailah pelanggannya berdatangan. Kalau dulunya Monang yang memanjat dan mengurus pohon enau meracik tuaknya, sekarang dia sudah mengggaji orang menggantikannya. Gelar Lapo Paragat pun makin merambat sampai ke luar kota, Siborongborong, Balige, Porsea, bahkan ke Siantar.
 Sudah tiga minggu terakhir ini lapo Paragat selalu ramai dengan rombongan anak muda dari kota. Tak semua memang suka tuak. Ada juga yang mau minum bir sambil mau makan tambul dangket-dangket atau B1 masakan Monang dan isterinya. Kadang mulai sore hingga malam anak muda itu baru pulang. Mereka main gitar dan menyanyi ramai-ramai, membuat suasana di komplek itu makin hidup. Untung juga kedainya Monang tak terlalu berdekatan dengan rumah-rumah sekitar, sehingga tak terlalu mengganggu ketertiban.
 Awalnya Monang dan isterinya mengira kedatangan anak muda yang makin kerap hanya karena suka dengan tuak dan tambul racikannya. Tetapi belakangan barulah Monang tahu kalau anak muda itu mengincar anak-anak gadis yang ada di komplek pinggiran.
 “Mereka itu pasti berebutan mendapatkan cewek-cewek yang ada di komplek kita ini. Bapak tahu kan ada gadis cantik seperti Jenni ponakan Berman, ada Bornok, ida, Jespi. Pantasanlah anak muda kota rame datang tiap hari ke sini,” kata isteri Monang.
 “Ah, biarkan sajalah Mami Ee, itu bukan urusan kita. Yang penting kan  kedai kita makin ramai... kenapa harus persoalkan mau apa mereka datang ke sini.” Kata Monang sambil mencincang daging B1 yang mau dimasak untuk lauk peminum tuak malam hari.
 “Aku juga tak bilang jadi urusan kita Pak Ee, maksudku baru kutahu kalau mereka rupanya melirik-lirik gadis cantik di komplek kita ini. Lihat saja si Jenni sudah mukanya cantik badannya pun bagus macam pramugari di pesawat Garuda yang kita tumpangi hari itu.”
 “He-he-he Mak Ee ini ada-ada saja. Pokoknya jangan ada ribut-ribut di sini lah, aku tak suka kalau kedai kita membuat ada onar.”
 Sore itu, kedai Paragat belum lagi kedatangan langganan. Tamu pertama yang datang adalah Jonggi dan Roni, anak muda dari kampung sebelah. Mereka duduk ngobrol sambil menghirup tuaknya pelan-pelan.
 “Belum masak tambulnya namboru?” tanya Jonggi.
“Belum lagi, baru saja amangborumu selesai mencincang.” Sahut isteri Monang dari dapur.
Jonggi berkata pada Roni.” Okelah Ron aku tahu kamu naksir sekali sama Jenni, aku rela mundur asal dia mau sama kau. Kalau aku dapat Ida atau Bornok pun sudah syukur.”
 Ronni terkekeh. Mengisap rokoknya seraya  meniup lingkaran asap  berbentuk huruf O ke langit-langit kedai.
 “Persoalannya sekarang, sudah banyak saingan yang muncul,” kata Ronni.
Jonggi menatap Ronni.”Maksudmu?”
“Yah kau lihat belakangan ini makin banyak anak kota yang datang kemari juga tujuannya sama dengan kita, mengincar Jenni Bornok atau Ida.” Ronni mengembuskan asap rokoknya lagi. Tapi lingkaran asap berbentuk O buyar ditiup angin berembus dari luar.
 Jonggi tertawa mendehem. “Ah, itu aja kamu pikirin. Memangnya kita harus kalah biarpun mereka dari kota.”
“Bukan soal kalah atau memang Jonggi, tapi taulah kita ini pengangguran, sedang yang datang ke sini itu anak orang-orang lumayan, dan ada yang sudah pegawai negeri. Biar bagaimana pun perasaanku tak enak juga.”
 Tertawa lagi Jonggi.
“ Itu namanya kau sudah patah sebelum bertanding. Kan ibarat pemancing ikan, semua berhak bikin pancingnya dimana suka, ya umpan siapa yang termakan ikan dialah yang bakal dapat.”
 Isteri Monang Monang muncul dari dapur, setelah membatuk beberapa kali. Di tangannya ada piring kecil berisi daging masak yang masih mengepul.
 “Benar katamu itu Jonggi, biar banyak partandang si Jenni datang kenapa takut kalah? Ya pasang aja pancing kalian siapa tau kalian yang disukai gadis itu...”
 Ronni tersenyum lebar menanggapi. “Ya nantulang, kami hanya cerita anak muda aja, rupanya nantulang dengar dari dapur.”
 Isteri Monang meletakkan piring berisi daging cincang di meja depan Ronni.” Ini cincangnya baru masak. Apa kalian mau pakai nasi?”
“ Aku sudah makan tadi, cincangnya aja nantulang cukuplah,” kata Ronni.
 “Aku juga sudah makan namboru, biar cincang aja kawan tuak ini,” Jonggi menimpali.
Isteri Monang masih berdiri di samping meja, berkata dengan suara perlahan.” Tapi kalau tak salah ya, dengar-dengar anak muda dari kota yang namanya Hengki dan Bernad  itu bukannya mengincar Jenni, melainkan Bornok dan Ida. Kudengar-dengar mereka sudah kompak sekali sekarang.”
 Ronni menengadah menatap perempuan itu.
“Kalau si Jenni kira-kira siapa yang dekati dia nantulang.”
Perempuan itu mengernyitkan kening. Menggeleng kepala.” Setahuku Jenni belum ada dekat siapa-siapa. Lagi pula susah kalau si Jenni. Dia itu kan pingitan tak sembarang bisa keluar rumah, karena isteri pamannya yang baru itu dengar-dengar galaknya seperti herder Pak Nikon.”
 “Oooh gitu ya nantulang. Berarti masih singel dia ya.” Jonggi mengedip mata ke Ronni.
Isteri Monang mengangguk.” Ya aku yakin kalau Jenni masih single, tapi entahlah ya diluar sepengetahuanku ada yang diam-diam sudah dekat dengan dia.”
Percakapan itu terhenti karena dua pengendara sepeda motor Yamaha matic berhenti di halaman warung. Jonggi dan Ronni tahu itu dua di antara kelompok anak muda kota yang belakangan sering minum di kedai Paragat.
“Sudah ada tuak yang baru inang?” tanya salah satunya.
“Sudah,sudah dari tadi...” sahut isteri Monang yang muncul di pintu dapur.
“Tambul cincang B1 juga sudah ada,” kata Monang bersuara dari dapur.
“Oh cocok kali lah itu tulang, kebetulan aku juga mau makan,” kata anak muda yang satu lagi. Keduanya duduk di meja paling sudut.
“Jadi kalian dua-dua mau makan,” tanya isteri Monang.
“Ya nantulang, kami sudah lapar ini,” sahut anak muda bernama Santo mengelus perutnya. Dia seorang pemuda berambut pendek dengan badan kekar. Sehingga kaos oblong yang dikenakannya begitu pas membuat dadanya tampak menonjol dengan otot yang kuat.
“ Kalau tuaknya nantilah inang, menunggu kawan yang lain datang.” Kata pemuda temannya bernama Rudi.
Jonggi dan Ronni merasa tak enak juga. Keduanya belum pernah berkenalan dengan Santo dan Rudi. Tapi mereka tak ingin memperkenalkan diri duluan.
Justru Santo yang menegur duluan.” Mari kita sama makan lae,”
Ronni dan Jonggi menyambut dengan senyum dan anggukan kepala.” Terima ksih lae, kami sudah makan cincangnya aja.”
“Tambah untuk lae-lae ini nantulang,” kata Rudi dengan ramah.
Itu sikap pendekatan yang simpatik.
Jonggi langsung memintas,”Ya sudah cukup lae, sudah cukup buat kami.”
Mereka pun berkenaan saling menyebut marga.
“Bah benar-benar kita ini panggil lae, mamaku semarga dengan lae,” kata Santo yang berambut pendek.
Mereka berjabatan tangan. Bahkan akhirnya jadi gabung duduk berempat. Isteri Monang senang melihatnya dari pintu dapur.
 Tiba-tiba pandangan merekA berempat serempak tertuju ke luar, ke jalanan. Dua gadis cantik tampak melintas di sana. Terdengar tawa kikik manja dua gadis dengan lenggok berjalan yang menarik. Yang satunya menutup mulut seperti menahan tawa karena sesuatu yang lucu dicanda teman di sampingnya.
 Jonggi dan Ronni diam tak bereaksi. Hanya Santo yang memperdengarkan suara desisan seperti lazimnya anakmuda melihat anak gadis.”Piiiiiissssst...”
 Salah satunya gadis yang tak lain dari Ida sempat menoleh sekilas, tapi terus melangkah berdampingan dengan Jenni. Tawa terkikih itu kembali terdengar dari Jenni kembali menutupi mulut dengan sebelah tangannya. Anggun sekali.
Ronni menunggu reaksi kedua anak muda kota itu. Ternyata mereka juga tak banyak komen.
Paling Rudi yang nyeletuk,” Cantik juga anak gadis di pinggiran ini ya...”
Jonggi dan Ronni tersenyum. Isteri pemilik kedai mendehem dari dapur.  "Hayo berlomba lah kalian anak muda itu siapa duluan mendapat." 
Santo dan Rudi memperdengarkan tawa berderai, seraya mencicipi daging sangsang yang masih mengepul ke mulut.
"Tolong nantulanglah yang urus ah," komen Rudi tertawa.
Isteri Monang nyeletuk," Ussss, jaman sekarang mana ada lagi sistim diurus-urus, sudah kuno. Siapa berani dan terampil itu aja kuncinya."
"Betul juga ya namboru," tukas Santo sambil menyeruput tuak dari gelas. Tapi matanya diam-diam mencuri pandang kedua gadis yang melenggang makin jauh dan lenyap di tikungan sebuah rumah.
(NEXT)


Sabtu, 20 Februari 2016

Kekasihku Preman Pinggiran (3)




 BINDU – 3

Hatinya Marice berbunga-bunga berangkat dengan Berman ke Parapat esok harinya. Tiga anaknya yang masih kecil diikutkan karena kebetulan dua hari liburan sekolah. Karena itu hatinya Jenni ikut berbunga. Kalau isteri pamannya meninggalkan satu saja anak dari suami pertamanya itu, ia bakal repot. Pasti Marice menugasinya menjaga anak itu seperti sebelumnya kalau perempuan itu bepergian kemana.
 “Hati-hati jaga rumah baik-baik,jangan pergi kemana-mana.Ingat sekarang banyak orang jahat,” pesan Marice sesaat sebelum berangkat.
 “Ya nantulang,” kata Jenni. Lalu kemudian bertanya,” Tapi apa boleh saya panggil Ida nemani aku selama nantulang tak di sini?”
Marice berpikir sejurus, sebelum menyahuti “ Oke lah kalau si Ida bolehlah, tapi kalian jangan undang cowok ke rumah. Aku tak suka.”
 Jenni tahu kenapa Marice berkata begitu. Dulu pernah ada anak tetangga bernama Jonggi rajin main-main ke rumah pamannya ketika paman dan isterinya sedang tak di rumah. Sebenarnya tak berduaan dengan Jenni. Ada Bornok dan Ida juga. Mereka bernyanyi sampai malam di teras. Anak bawaan Marice paling besar bernama Riko memberitahu hal itu pada mamanya. Marice marah besar. “Oooh, kamu sudah berani bawa anak lelaki ke rumah kalau aku lagi pergi ya. Apa kamu tidak takut kalau kamu diapa-apain sama dia. Lihat tuh si Intan anak gadisnya Pak Riwan sana, suka main-main sama cowok di rumahnya, akhirnya ketahuan bunting... Jangan-jangan...” Marice uring-uringan setengah harian pada Jenni. Jenni merasa sakit hati dituding yang macam-macam.
 “Kami hanya main di teras aja nantulang, lagian ada Bornok dan Ida,” kata Jenni membela diri.
Mendengar nama Bornok, Marice malah berang.” Nah Bornok lagi, aku paling tak suka kamu berteman sama dia. Dia itu bukan gadis baik-baik, nanti kamu bisa dijualnya bulat-bulat.”
Jenni kaget mendengarnya. Setahunya Bornok itu salah satu anak gadis terbaik di kompleks bernama PINGGIRAN itu. Dia ikut kumpulan muda-mudi gereja, rajin latihan koor remaja. Bahkan pernah jadi guru sekolah minggu. Kenapa Marice bilang tak suka dan bilang Bornok bukan gadis baik-baik? Pasti ada udang di balik batu. Tapi Marice diam saja. Tak sudi berbantah dengan isteri baru pamannya.
Jenni menghela nafas. Ia duduk bersandar di kursi menghidupkan tv. Saat suasana lengang seperti ini perasaannya nyaman. Ia akan mereguk kebebasan meski sadar itu tak akan lama. Jenni mengutak-atik Black Berry nya, mengirim sms pada Ida.
“ Mereka semua pergi, kamu lagi di mana Ida, temani aku dong.”
Ida lagi nyetrika kain di rumahnya. Juga lagi sendiri. Pada hal baru satu jam sebelumnya Jonggi dari rumahnya curhat tentang isi hatinya pada Jenni. Jonggi minta agar Ida menyampaikan kepada Jenni kalau dia suka pada ponakan Berman itu.
 Ida membaca sms Jenni, langsung dibalasnya: “Ntar sore atau malam aja ya Jen, aku lagi banyak kerjaan. Atau kalau bisa, Jenni aja deh yang datang ke rumahku. Kebetulan aku lagi sendiri juga seperti kamu...dan kebetulan sekali Jonggi baru dari sini...”
 Jenni membalas sms Ida.” Kenapa dengan Jonggi? Kok kamu kaitkan ke aku?”
 Ida membalas,” Ah sudahlah Jen, tampaknya dia naksir kali sama kamu. Dia tadi bilang lagi sama aku, kirim salam sama Jen, cuma belum sempat karena aku banyak kerjaan di rumah. Oke Jen, kalau kamu sempat datang aja kemari yah.”
 Jarak rumah pamannya ke rumah Ida tak terlalu jauh. Paling sekitar 700 meter, tapi agak masuk ke dalam sebuah gang. Jenni mengunci rumah sebelum pergi ke rumah Ida. Tapi ia balik lagi baru beberapa langkah meningggalkan halaman. Teringat anjing hitam kesayangan pamannya harus diberi dulu makan.” Sini kau mofiiii, ini makananmu, aku pergi sebentar ya, kamu jagai rumah.”
 Anjing hitam yang dinamai si Mofi muncul dari samping rumah, mengibaskan ekornya, mengikuti Jenni ke arah dapur.
 Susanti, nyonya pemilik rumah di seberang, sedang membuka jendela melongok keluar. Dia itu teman kompaknya Marice satu arisan. Ia melihat Jenni berjalan menyusuri jalan berbatu ke arah timur.  Jenni sempat menoleh melihat perempuan itu, dan perasaannya tak enak. Itu perempuan paling usil di komplek ini. Suka meramu gosip, sama halnya dengan Marice.
“ Waduh, aku dilihatnya, aku tak boleh lama di rumah Ida, nanti macam-macam pula laporannya,” gumam Jenni resah.
Komplek Pinggiran itu lumayan ramai terutama tiga tahun terakhir. Awalnya daerah ini merupakan area persawahan. Tapi sawah itu dijual pemilik dan secara bertahap mulai ditimbun untuk keperluan rumah pemukiman. Komplek itu diapit tiga dusun, tapi berdiri sendiri menjadi sebuah kompleks yang tak terkait dengan area dusun. Kebanyakan penghuni di sana para pendatang dengan ragam profesi. Ada PNS, pedagang, karyawan, dan entah apa lagi. Sekitar empatpuluhan rumah sudah berdiri di  sana. Sesuai dengan pprofesi penghuni yang berbeda status, bentuk rumah juga berbeda satu sama lain. Dari rumah yang kategori cukup elit hingga rumah biasa terbuat dari papan. Tapi para penghuni kompak satu sama lain. Tak ada di sana yang namanya raja huta, karena mereka semua pendatang yang membeli tanah dan membangun rumah. Belakangan ada terbentuk semacam kumpulan STM (Serikat Tolong Menolong), untuk membina kerukunan di komplek tersebut. Kumpulan STM itu juga untuk dilengkapi seksi-seksi, di antaranya seksi remaja. Jenni termasuk salah satu anggotanya. Bahkan ia dipilih menjadi sekretarisnya, walau nantulangnya Marice awalnya tak setuju karena khawatir Jenni jadi banyak keluar rumah urusan seksi remaja. Tapi karena semua meminta, akhirnya Marice menerima juga.
 Ida melihat Jenni dari jendela. Ida juga salah satu bunga mawar di kompleks Pinggiran, tak kalah cantik menarik dari Jenni. Bersama Bornok mereka jadi tiga sekawan yang populer. Cuma bedanya, Bornok dan Ida punya kebebasan, sedang Jenni terbatas ruang gerak. Kalau mereka sudah jalan bertiga, semua orang akan memandang kagum. Ida, Bornok, Jenni, sungguh memiliki daya tarik sebagai gadis yang sedang tumbuh oleh proses waktu. Banyak anak lelaki di kompleks dan seputaran dusun harus menekan perasaan terpendam pada ketiga gadis ini. Bahkan anak muda dari kawasan kota juga makin   muncul di kawasan itu naik sepeda motor, dan seperti umumnya gaya anak muda sekarang mereka suka pamer membunyikan mesin motornya meraung-raung sehingga terkadang suasana jadi bising.
Itu sebenarnya semua ulah Jonggi yang banyak bergaul dengan anak kota. Jonggi memberitahu teman-temannya bahwa di tempatnya sekarang banyak cewek cantik yang bisa diperli. Itu sebabnya anak-anak kota – beberapa di antaranya tergolong anak orang kaya – sering mondar-mandir ke komplek Pinggiran. Mereka memasang aksi masing-masing, berusaha menarik perhatian khusus dari gadis yang ada di sana. Terkadang mereka ramai-ramai memborong minuman di kedai Paragat, main gitar, nyanyi ramai-ramai hingga larut malam. Tapi sejauh itu belum ada memang yang dapat pacar. Baru sekedar aksi jual tampang, mengundang perhatian.
Bornok dan Ida sudah diincar dua pemuda kota bertampang lumayan ganteng. Belum ada hubungan khusus. Masih sebatas pendekatan. Tapi ketika ada anak kota yang bilang naksir bangat sama Jenni, Jonggi yang keberatan. “Dia itu berat, susah didekati, karena pingitan,” begitu dalih Jonggi menghalangi Ronni mendekati Jenni.
 Tapi Ronni tak percaya begitu saja. Dia mengendus aroma kecemburuan dari sinar mata Jonggi.
“Ahaaa...bilang aja kamu memang sudah terpendam sama dia,” Ronni tertawa ngakak. Jonggi tersipu merasa kena sodok.
“Yalaah, Jonggi memang cintrong bangat sama Jenni,” kata Ida menimpali.
“ Tapi kan belum ada apa-apa, Jenni masih belum punya siapa-siapa kok,” tukas Bornok nimbrung.
Jonggi kesal jadi bahan olokan. Tapi dalam hati ia sudah bersumpah pada diri sendiri,” Tak akan boleh siapapun mendekati Jenni, biar hantu balau sekalipun akan kuhalangi.”
Di antara rimbun pepohonan bambu yang menjadi batas komplek dengan dusun-dusun sekitarnya, ada seorang pemuda bernama Marco yang mengamati semua geliat yang terjadi di sana. Tak seorang pun memperhatikan siapa Marco. Dia pemuda berusia 28 tahunan yang baru tiga bulan pulang kampung dari Surabaya, karena sakit malaria. Orangnya tak banyak bicara, jarang keluar rumah. Dengan wajah tampan dan perawakan yang tegap, seharusnya Marco menjadi pujaan anak gadis. Tapi ia hanya tersenyum hambar ketika ada anak gadis bahkan ibu-ibu muda mengundang canda padanya. Kebanyakan orang yang tahu keberadaan Marco di sana berpendapat Marco seorang pemuda yang ramah, santun, tapi tak banyak bicara. Tapi bagi orang yang kenal dekat dengan Marco, akan berpikir tujuh kali untuk bicara main-main dengannya, karena tahu siapa Marco di Surabaya.
“Marco itu katanya tukang pukul dan tahan ditikam ya,” ada mulut usil mengungkapkan kemisteriusan Marco.
 “Ah yang benar kamu, dari mana pula kamu tau, hati-hati mulutmu,” tukas seorang ibu pada anaknya.
“Aku tau dari keluarga dekatnya Bu, Marco itu kelihatannya diam-diam begitu, rupanya dia itu bekas preman di Surabaya. Apa benar ya, ih ngeri Bu liatin tatto di punggung dan dadanya...”
“ Dari mana pula kamu tahu ada tato segala.”
“Pernah kuliat dia berjemur depan rumahnya, aku tak berani liat mukanya, sepertinya menikam ke jantung,” makin dibumbui lagi.
“Kalau begitu menjauhlah dari dia,” kata ibu si anak.
Tapi Marco tak pernah tahu kalau dirinya belakangan dipergunjingkan warga seputar. Marco setiap hari menjalani kehidupannya dengan tenang, nyaris tanpa emosi, dan tak begitu tertarik dengan suasana di sekitarnya. (Next-)

   


Jumat, 12 Februari 2016

Kekasihku Preman Pinggiran


 (BINDU 2)- Novel: Leonardo TSS
 _____________________________________
TETAPI hidup ini mau tak mau harus tetap dijalani, karena hidup terlanjur ada. Jenni berpikiran seperti itu, melawan galau yang kerap menyergap. Perasaan tertawan di rumah pamannya membuatnya berang. Tapi golak perasaan itu dipunahkannya dengan satu kata: SABAR!
 Jenny sejatinya gadis low profile. Lincah, periang, bijak, pintar, rajin, dan entah apa lagi parameter untuk kebaikan seorang gadis masa kini. Pokoknya Jenni soepel. Ia menempa diri dalam keteraniayaan nasib yang kejam, seraya berharap agar Tuhan yang bermukim di hatinya segera menatapnya dan memberinya way out. Jenni belajar lebih tabah, jangan mudah cengeng, jangan lagi menabur air mata yang tak berguna.
Isteri pamannya bernama Marice, dibiarkannya memperagakan akting munafiknya tatkala pamannya lagi di rumah. Manis senyum dan sikap Marice membuat Jenni mau muntah. Bah, wanita macam apa ini, dari mana pamannya menemukan perempuan selicin ini.
“Jenniiiii, jangan terlalu forsir kerja, bisa sakit kau,” seru Marice ketika Jenni sedang cuci pakaian di kamar mandi. Banyaknya pakaian kotor hampir satu mobil pikap. Marice sengaja menimbun pakaian kotor sebanyak-banyaknya setiap hari. Pada hal ada baju yang baru sebentar dipakai sudah ditaruh di keranjang pakaian kotor.
Jenni mendengar teriakan itu dengan hati ditusuk. Itu perangai Marice yang biasa, saat paman ada di rumah.
“Kamu dengar kata nantulangmu itu Jen,” kata Berman, pamannya dari teras belakang. Berman sedang membaca koran. Menyimak kalau ada kode teka-teki togel.
Jenni pun menyahuti, tidak dari hati,” Ya tulang, aku tak capek kok.”
Jenni membayangkan Marice senyum senang. Lalu dari celah pintu kamar mandi Jenni melihat Marice beringsut ke teras, berkata pada Berman.” Itulah ponakanmu ini Pak E, macam hari itu dia demam karena keliwat forsir kerja, maunya kerja terus tak kenal lelah.”
Berman mengangkat kaca mata plusnya sedikit menoleh ke isterinya.” Yah, kalau itu kemauan dia biarkan sajalah, bukannya mama yang paksa dia harus kerja keras. Ya kan?”
“Yalah Pak E, kubilang pun sama Jenni kalau nyuci pakaian jangan sekaligus, kan itu menguras tenaga.” Jenni mau muntah mendengar ucapan Marce itu. Lidah perempuan itu sungguh berbahaya. Lebih berbisa dari kobra.
Lalu didengarnya lagi suara Marice,” Aku mau nagih janjimu Pak E, lusa kan libur karena hari Imlek, Pak E janji kita piknik ke Parapat.”
Mau muntah lagi Jenni setiap mendengar sebutan “Pak E” itu. Entah dari mana ide perempuan itu menjadikannya panggilan baku pada pamannya.
Berman menanggalkan kacamatanya, menyandar pada kursi rotan Jepara yang mulai lusuh. Diletakkannya koran di meja, kemudian mengempaskan nafas.
“Kita liat besok aja dulu, apa toke Liong mau kasi pinjaman yang kuminta tadi. Lagian aku pening, tebakan togelku terus meleset sebulan ini.”
Marice pun mengomel.” Itulah kau Pak E, untuk togel jutaan pun ludes tak masalah, kalau untuk bawa aku piknik uang tak ada. Awas Pak E ya, ntar malam jangan ganggu aku...huh...”
Jenni menghentikan tangannya yang sedang mengucak baju dalam ember. Ucapan Marice itu tak sekali dua kali lagi didengarnya. Jenni sudah dewasa. Tahu betul makna perkataan Marice. Bukankah itu semacam ancaman isteri tak melayani suami di ranjang? Pehhh, jijik aku dengarnya... gumam Jenni.
Didengarnya Marice masuk kamar. Lalu didengarnya langkah kaki pamannya masuk ke rumah melewati kamar mandi sehingga Jenni melihatnya. Jenni mendengar ketika Berman seperti biasa menyuarakan rayuan yang memanjakan isterinya itu.
“Itulah kau Ma, belum apa-apa sudah merajuk. Kan belum kubilang tak bisa pergi. Tenanglah kau Ma, besok uangnya pasti ada.”
Lalu terdengar desah manja Marice yang sudah berada dalam kamar.” Jadi kita lusa jadi ke Parapat Pak E ya? Kita nginap di sana kah? Aku senang sekarang Pak E, memang Pak E suami terbaik yang selalu mengerti aku...kwk kwk kwk....uuuuhhh, jangan dulu Pak E aku belum mandi ah, gimana sih Pak E ini, ntar malam kan lebih....”
Jenni tahu pamannya rupanya sudah menyusul ke kamar lalu menggodai isterinya. Mereka biasa seperti itu. Terkadang merajuk tapi sekejap sudah bercanda ria di kamar. Jenni bahkan pernah memergoki paman dan Marice isteri barunya itu beradegan panas ketika Jenni tak sengaja masuk kamar mau ambil kain cucian.  Jenni tersipu malu sendiri mundur teratur. Untung paman dan isterinya tak tahu kalau ia masuk dan melihatnya walau sepintas. Jenni dalam penglihatan sepintas melihat geliat ganas perempuan itu, engahan nafasnya, dan remasan jarinya yang kuat di punggung pamannya.
Jenni sering bertanya sendiri: Dari mana dulunya perempuan bernama Marice ini. Apa paman memungutnya dari warung remang-remang sana, kenapa paman tak memilih perempuan yang lebih tenang kalau memang harus kawin lagi.
Paling bencinya lagi Jenni, kalau isteri pamannya itu seolah menganggap sepele pada dirinya. Tak pernah sungkan bicara porno pada paman walau Jenni ada di situ. Jenni merasa dianggap seperti sandal jepit yang tak perlu disegani sedikit pun.
“Pak E, ini telor setengah matangmu, sudah direbus Jenni tadi. Pak E kan perlu protein pengganti yang semalam, biar jangan loyo kerja hari ini.”
Jenni tahu memaknai kalimat itu. Jenni bukan anak kecil lagi. Tapi Jenni merendam rasa muaknya dengan menyibukkan diri dengan apa saja.
“Jenni, kamu jangan lupa siram bunga bugenvil yang kutanam kemarin ya.” Marice terbiasa dengan nada memerintah ketika Berman sudah keluar rumah.
“Ya ... nan...tulang,” kadang lidah  Jenni kelu mengucap sebutan “nantulang” pada perempuan beringas itu. Sepertinya terpaksa ia harus menyebutnya. Karena bagaimanapun itu sudah isteri pamannya. Suka tak suka Jenni harus menerima kenyataan.
Pagi, siang, malam, sama saja. Bagi Jenni jarum waktu tak membedakan apa-apa. Risau, resah, gerah, entah apa lagi nama perasaan tak nyaman lainnya. Malam hari ia tak bisa langsung masuk ke kamar, pada hal rasa penat membuatnya ingin segera menggeletak di ranjang. Terkadang Marice membangunkannya saat mata Jenni sudah minta istirahat.
 Jenni jangan terus tidur melulu dong, kek kamu aja nyonya di rumah ini. Buatkan dulu nasi goreng buat kami, yang enak ya, jangan terlalu asin.”
“Belikan dulu sate ke simpang sana, yang banyak dagingnya ya...”
“Seterika dulu bajuku yang sudah kering, kamu tau kan besok aku mau arisan marga...”
 Kalau ada permen karet paling kenyal yang bisa menutup ruang dengarnya, itulah yang akan dilakukan Jenni. Ia paling alergi mendengar tiap urutan kata yang meloncat dari mulut perempuan itu. Gayanya lebih pas menjadi isteri seorang pengusaha besar atau isteri pejabat, minimal isteri seorang camat.
 Marice tak suka kalau ada orang memuji Jenni cantik menarik. Ada ibu-ibu searisan Marice terpana memandang Jenni ketika giliran di rumah itu arisan bona taon punguan (syukuran awal tahun) biasanya Januari.
 “Bah, cantik kali gadis ini, siapa ini Mama Jodi,” cetus salah seorang ibu.
 Jenni tahu Marice tak sudi kalau dirinya dibilang orang cantik. Jenni pernah menduga, satu saat Marice akan menyahut,” Ah, itu pembantu rumah.”
 Tapi ternyata tidak.
Marice jujur bilang,” Itu keponakanku.”
Lalu Marice dengan nada antara iseng dan canda berkata,” Cantik apa dia, keliatan aja cantik tapi dia malas, doyan tidur...”
 Sakit hati Jenni mendengarnya. Tapi hatinya terlalu lembut untuk menentang arus. Jenni hanya senyum malu kucing dengan sebatang anak panah menancap di dada.
Dan semua kata dan sikap ketus Marice hanya terjadi, bila mana Berman paman Jenni tidak ada di rumah. Mana kala Berman sudah pulang, sikap Marice pun sontak berubah seratus delapan puluh derajat atau lebih. Tiba-tiba saja sinisnya disunglap begitu cepat jadi lembut.
 “Mana Jenni,” tanya Berman sambil membuka kaos kakinya.
 “Dia istirahat Pak E, jangan disuruh ngapa-ngapain lagi, kita harus mengerti anak gadis sebesar dia pantasnya tiduran sambil pencet-pencet henpon...”
“ Ah memang kamu selalu bela Jenni terus. Aku bukannya mau nyuruh dia malam begini, Cuma tanya dia di mana,” balas Berman.
 “Ya biarin aja Pak E, dia istirahat kali di kamar. Kalau mau buatkan makanmu tak usah harus Jenni, aku kan isterimu, aku yang wajib meladeni, bukan hanya di ranjang...he-he-he...”
 Dan Berman mencubit lengan perempuan itu.
“Kita jadi ke Parapat Pak E?”
Berman tersenyum.” Kamu memang bernasib bagus. Aku dapatkan uangnya dari Toke Liong.”
Marice seperti mau melonjak girang.” Horeee, Pak E sih orangnya...”
Berman menarik tangan perempuan itu. “Semua anak kita sudah tidur kan?”
Marice melirik ke kamar bagian tengah. “Sudah dari tadi usai belajar. Memangnya kenapa Pak E...”
Berman tertawa senang.” Kok bertanya... seperti tak tau aja mauku apa.”
Marice tertawa ngikik lalu menutupi mulut dengan sebelah tangan.” Oooo yang itu, Pak E memang tak pernah cukup ya. Baru dua malam sudah...”
Berman berbisik ke telinga perempuan itu,” Kamu...kamu Ice yang buat aku jadi begitu, kamu hebat, kamu luar biasa...” Nada kata Berman berubah romantis. Marice menggelinjang dipegangi bahunya.
Di kamarnya Jenni hanya bisa menekan perasaan. Tapi dalam hati ia merasa bersukacita mendengar paman dan isterinya mau ke Parapat. Pada saat seperti itulah Jenni merasa merdeka. Ia bisa bertemu bercanda dengan teman dekatnya Bornok dan Ida. Atau, ia bisa bercengkerama dengan Bistok, pemuda tampan yang kata Bornok sangat pintar main gitar dan nyanyi.
“Pergilah, berangkatlah kalian segera, aku tak sabaran sendiri di sini,” berdentum-dentum suara dari lubuk hatinya sambil bergulingan di atas ranjang.
 Malam itu Jenni tertidur pulas dengan bermacam mimpi...( Kawasan Tanjung Tokong Pulau Pinang Malaysia, 13 Feb 2016)