Tampilkan postingan dengan label Kreasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kreasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Januari 2016

Giring-Giring Sitampurung ke Halmahera Utara





Warga Maluku Utara sedang menawar harga lonceng gereja di Jalan Dolok Sanggul =

 BATAKINDONEWS.COM - Desa Sitampurung di Kecamatan Siborongborong sudah lama dikenal sebagai desa produsen besi tempahan, selain pembuat giring-giring (lonceng). Aneka benda tajam, mulai dari parang dapur, parang babat, pisau, sabit pemotong padi, sampai cangkul, dari waktu ke waktu, diproduksi dari Sitampurung. Kalau di Sipoholon dikenal dengan kerajinan sitopa hudon dan pembuatan gitar secara manual, maka di Sitampurung sitopa bosi sudah berlangsung puluhan tahun.
Maka saat melintas dari desa yang letaknya di pinggir jalan Siborongborong-Doloksanggul, suara gemerincing besi yang dipukul bertalu-talu, tak asing lagi di ruang telinga. Para pekerja sitopa bosi seharian sibuk kerja keras mengolah besi menjadi ragam peralatan rumah tangga dan pertanian. Tak terhitung lagi banyaknya sudah berapa banyak produksi yang beredar dari Sitampurung kemana-mana.” Saya rasa sudah jutaan,” ujar  salah seorang pekerja kepada BATAKINDONEWS.COM.
 Selain dikenal penghasil kerajinan besi untuk peralatan rumah tangga dan pertanian, Sitampurung juga sangat kesohor dengan giring-giring tempahan warga desa ini. Sudah berpuluh tahun lamanya desa ini memproduksi giring-giring, bahkan sejak zaman penjajahan.
Penyebarannya juga sudah sampai dimana-mana. Tak cuma di Tanah Batak, lonceng buatan Sitampurung sudah ada di berbagai provinsi di Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan lain-lain. Tak hanya lonceng untuk gereja, juga lonceng kecil untuk sekolah-sekolah, kantor penjara, kantor polisi, dan lain-lain.
 Sebagai wilayah yang mayoritas penduduknya beragama Kristen, wajar jika giring-giring punya jaminan pasar. Banyak gereja baru dibangun, selalu butuh lonceng. Tak heran, kalau giring-giring Sitampurung dipesan ke berbagai tempat. Nama Sitampurung pun, makin dikenal, terutama di kalangan umat Kristen.
  “Kami sedang membangun gereja di kampong kami Sosol, Halmahera Utara, saat ini menjelang rampung, tentu gereja kami membutuhkan lonceng, makanya kami secara khusus mau beli lonceng, sambil liburan tahun baru,” ujar Nerice Neru, wanita asal Halmahera, Maluku Utara, ketika berkunjung ke Sitampurung, beberapa waktu lalu . Dia bersama  suami  Rey Manju serta anak-anak sedang tawar menawar dengan penjual giring-giring di toko UD Sitampurung Nauli, di pinggir jalan raya Siborongborong-Dolok Sanggul, km 4. Menurut Nerice Neru, mereka tahu pembuatan lonceng ada di Sitampurung dari orang Batak yang dikenalnya di Tobelo.
  Setelah tawar menawar, akhirnya sebuah lonceng ukuran besar seharga Rp 7,5 juta jadi dibeli. Lonceng yang beratnya sekitar 100 kg itu dibawa dengan mobil pribadi ke Medan, dari sana dikirim ke Halmahera. Setelah tiba di Medan, lonceng dikirim melalui Kantor Pos, karena melalui titipan kilat ongkos lebih mahal. “Ongkos pengiriman dari kantor pos juga mahal, bahkan hampir setara harga lonceng,”, katanya menginformasikan kepada media online ini melalui seluler. Ongkos pengiriman via kantor pos mencapai Rp 6 jutaan. Tak apalah, yang penting sampai di  tempat dengan selamat.
            Gereja Masehi Injili Indonesia di Sosol, Halmahera Utara, yang menggunakan giring-giring buatan Sitampurung itu, dikabarkan makin megah sejak giring-giring Sitampurung itu dipasang. Dentang suaranya terdengar begitu kuat, menggema pada radius sekitar 2 kilometer. Saat pertama kali lonceng tiba di tempat setelah lebih dua minggu di perjalanan, ratusan warga setempat berduyun-duyun datang ke gereja ingin menyaksikan lonceng besar itu. “Semuanya senang dan gembira Pak, gereja kami punya lonceng bagus. Selama ini gereja kami menggunakan lonceng seadanya, besi yang dipukul saat kebaktian hari minggu,” ujar Nerice Neru dan suaminya Rey Manju menelepon ke Tarutung. Disebutkan, saat pemasangan lonceng, hampir semua warga gereja datang berkerumun menyaksikannya. Lonceng itu diderek ke atas, dan setelah tiba di menara atas,  semua warga pun bersorak. (BIN)

Minggu, 04 Oktober 2015

Marsiranggut di Tarutung




BATAKINDONEWS.COM -

Sulit mencari kosaata yang pas untuk kata "gulat" dalam bahasa Batak Toba. Tapi jika kata gulat atau bergulat harus diterjemahkan ke bahasa Batak, barangkali kata yang dianggap lumayan pas  adalah Marsiranggut. Ada juga yang beranggapan marsiranggut itu adalah perkelahian dengan main jambak-jambakan rambut. Pada hal kata yang tepat untuk jambak-jambakan adalah masijanggolaan.
Dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Tapanuli Utara ke 70 yang jatuh pada 5 Oktober 2015, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Taput menggelar beragam kegiatan seni budaya tradisional di halaman Balai Data Jalan Sisingamangaraja, Tarutung. Ada beberapa stan lainnya di lokasi seputaran Sopo Partukkoan, tapi memang stan Diknas yang paling menyita perhatian banyak pengunjung. Di sana digelar berbagai kegiatan seni budaya yang dikemas dengan cukup apik di bawah arahan Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Taput Drs Jamel Panjaitan. Selain pagelaran tortor anak sekolah semua tingkatan dari SD sampai SMA, juga hiburan vokal grup, opera, juga kuliner dan pelayanan cek gula darah gratis.
 Panitia juga menggelar permainan gulat antar siswa dan siswi SMAN 1 Pangaribuan. Meski hanya eksibisi, tapi cukup menarik bperhatian banyak pengunjung. Terutama ketika yang main gulat itu tak hanya pelajar laki-laki, tapi juga murid perempuan. (lihat foto-foto di atas)

Protokol mengatakan, marsiranggut adalah salah satu jenis permainan olahraga tradisional Batak yang perlu digali dan dikembangkan kembali. Aturan mainnya juga nyaris sama dengan gulat konvensional, main piting dan kuncian. Seru juga para anak gadis itu marsiranggut di atas matras yang dibentangkan di halaman depan pentas. Para pemain dipandu dan diawasi coach Simatupang.
 Mimik serius cewek-cewek pegulat (parsiranggut) itu mencerminkan ketangguhan wanita Batak. Peluh mengucur di sekujur badan, merefleksikan daya tahan perempuan Batak mengarungi kehidupan, seperti terbukti pada profil wanita Batak umumnya. Perempuan Batak lebih tangguh dari pria Batak dan itu kelihatan di onan (pasar), ibu parrengge-rengge yang seharian berjemur dalam panas terik matahari dan diguyur hujan deras. Sementara (kata anggapan yang sering dilontarkan pejabat pemerintahan), kaum lelaki (bapak) lebih banyak menghabiskan waktunya di lapo tuak. Tak semua pria Batak memang begitu. Tapi beberapa bupati yang pernah memimpin pemerintahan di Tapanuli Utara sering mengungkap hal itu. (Teks/Foto: Leonardo TSS)

Senin, 24 Agustus 2015

Senyum Misterius Monalisa

BATAKINDONEWS.COM- Banyak penduduk dunia tahu atau minimal pernah dengar siapa Leonardo da Vinci seniman besar berkelas dunia, dan apa nama lukisannya yang paling kesohor.  Lukisan Mona Lisa karya Leonardo da Vinci mungkin adalah lukisan paling terkenal sepanjang masa, gambaran senyum halus dan menawan berpose memuaskan generasi pecinta seni hingga lebih dari 500 tahun lamanya. Senyum Mona Lisa seolah-olah menyimpan misteri yang tersembunyi, sehingga begitu mempesona dan menebarkan daya tarik       kepada para pencinta seni selama ini.
Namun, belum lama ini, para peneliti telah mengidentifikasi semacam ilusi optik yang halus terdapat dalam senyum misterius lukisan itu. Para peneliti berhasil memecahkan salah satu misteri lukisan paling abadi tersebut dengan jalan memeriksa lukisan karya Leonardo da Vinci lainnya yaitu lukisan La Bella Principessa.


Misteri Lukisan Senyum Mona Lisa Terpecahkan


Apa yang mereka temukan adalah bahwa da Vinci telah menerapkan ilusi optik halus dalam lukisannya dengan memadukan warna untuk mengeksploitasi peripheral vision pengamat, suatu teknik yang bisa memberikan bentuk penampilan mulut yang berbeda tergantung pada bagian mana pengamat lukisan berfokus.

Pada lukisan La Bella Principessa misalnya, bentuk mulut tampaknya kemiringan ke bawah bila dilihat secara langsung dari dekat namun ketika diamati secara tidak langsung, lukisan tersebut menebar senyum yang sungguh mempesona. Da Vinci diyakini telah menerapkan teknik yang sama ini ketika ia melukis Mona Lisa.

Misteri Lukisan Senyum Mona Lisa Terpecahkan
Studi ini mengungkapkan bagaimana La Bella Principessa (kanan), yang dilukis oleh da Vinci sebelum Mona Lisa (kiri) pada akhir abad ke-15, menggunakan trik pintar untuk memikat pengamat. Dengan keahlian pencampuran warna untuk mengeksploitasi visi perifer, bentuk mulut subjek tampaknya berubah sesuai dengan sudut pandang.

Misteri Lukisan Senyum Mona Lisa Terpecahkan
Para peneliti meminta relawan untuk melihat versi digital manipulasi dari tiga buah lukisan da Vinci, yaitu La Bella Principessa (atas), Mona Lisa (tengah) dan Potret dari Girl oleh Piero del Pollaiuolo (bawah). Mereka mengubah tingkat blur pada lukisan tersebut untuk memeriksa apakah cara ini dapat merubah kesan tersenyum mereka atau tidak. Bagaimana menurut Anda?

Misteri Lukisan Senyum Mona Lisa Terpecahkan
Bila dilihat secara langsung, kemiringan dari mulut dalam Mona Lisa (foto atas) adalah jelas ke bawah. Tetapi ketika mata bergerak ke tempat lain untuk memeriksa fitur lainnya, bentuk mulut seolah mengambil bagian atas, sehingga menciptakan senyum yang hanya bisa dilihat langsung

"Seolah-olah senyum itu menghilang secepat pengamat mencoba untuk 'menangkap', teknik ini telah dikenal sebagai ilusi visual 'uncatchable smile'," tulis para peneliti dalam sebuah makalah yang diterbitkan dalam jurnal Vision Research.(viva)

Selasa, 11 Agustus 2015

Ingin Bertemu Anaknya,Gelandangan Ini Main Piano di Jalanan



Gelandangan ini main piano di jalanan  dengan kepiawaian luar biasa, hanya untuk bisa bertemu anaknya.=

  SARINGAR.Net - Ini memang luar biasa. Seorang pria gelandangan setiap hari bermain piano di jalanan Florida. Kemampuannya bermain piano membuat banyak orang terpukau dan seringkali berhenti demi mendengarkan permainannya yang indah. Seorang wanita berpendapat bahwa permainan pianonya sempurna, kemudian merekam aksinya dan mengunggahnya di YouTube. Ceritanya tak berhenti di sini. Yang paling mencengangkan adalah alasan mengapa pria ini bermain piano setiap hari. Ternyata meski dia hanya seorang gelandangan, rasa cinta terhadap darah dagingnya masih melekat pada dirinya.

Donald Goud, nama gelandangan tersebut, berharap dia bisa bertemu dengan putranya dengan bermain piano di pinggir jalan setiap hari. Donald tahu bahwa aksinya akan menarik perhatian dan berharap suatu hari putranya akan melihatnya, kemudian mau menemuinya.

Donald yang dulunya adalah veteran angkatan laut kehilangan hak asuh atas putranya yang saat itu berusia tiga tahun. Istrinya telah meninggal pada tahun 1998 dan sejak itu Donald terlibat dengan obat-obatan terlarang hingga pemerintah mengambil hak asuh atas anaknya.

Donald mengaku dia tak pernah belajar piano secara profesional. Dia berlatih piano secara otodidak dan sudah menggelandang selama enam sampai tujuh tahun. Kini videonya di YouTube memang benar-benar telah meledak dan bahkan menarik minat wartawan untuk meliputnya.

Saat ini, banyak orang tengah melakukan penggalangan dana untuk Donald agar dia bisa memiliki tempat tinggal yang layak dan sertifikat untuk bisa mengajar musik. Ingin melihat aksi Donald bermain musik? Bisa dinikmati di You Tube. (mdk)

Sabtu, 27 Desember 2014

(KREASI) Jauh-jauh Dari Semarang Ngecat Rumah di Tarutung

Parno sedang mencat sebuah rumah di Desa Hutabarat Tarutung =

 Semangat. Ya, semangat juang demi nafkah hidup, harus diakui cukup membara di hati orang sebangsa kita, Jawa. Tapi tak hanya spirit atau semangat hidup yang tinggi itu yang perlu diacungi jempol. Orang dari pulau Jawa sana, harus diakui juga memiliki kelebihan dalam hal kreatifitas, kekayaan yang mereka miliki menyangkut ide dan menciptakan sesuatu yang punya nilai jual. Tak semua etnik kreatif. Ada juga etnik tertentu yang cenderung hanya sebagai konsumen, miskin kreasi.
 Begitulah contoh yang terlihat pada foto di atas. Tak hanya kulineran yang dikenal dengan jualan baksonya, putu bambu, pecal lele, dan sebagainya yang kini makin ramai masuk ke pelosok Sumatera Utara termasuk ke Tanah Batak, juga kreasi dalam melekatkan keindahan pada rumah-rumah. Sejak tuga bulan terakhir ini, beberapa kota di Tapanuli seperti Tarutung, Siborongborong, Balige, didatangi sejumlah orang yang menawarkan kreatifitasnya memperindah rumah melalui sentuhan cat air yang artistik. Mereka mendatangi pemilik rumah tak hanya di kota, juga di pelosok desa.
 "Ibu mau kami beri keindahan dengan cat yang bagus, supaya rumah ibu tampak baru lagi," kata seorang lelaki muda yang melintas di depan rumah ibu boru Hutabarat di Desa Parbaju Julu, Tarutung, awal Nopember barusan. Awalnya si ibu kurang mengerti, karena dikiranya cuma cat biasa. Tapi setelah dijelaskan, akhirnya si ibu dan anaknya ingin mencoba.
 Alhasil, karya yang dilekatkan tukang cat itu sungguh menakjubkan. Sebanyak tiga orang pria muda usia yang mengaku datang dari Semarang,Jawa tengah itu, menawarkan harga Rp 7 juta untuk mengecat seluruh dinding luar dan jendela rumah si ibu. Tarifnya tergantung tafsiran luas yang akan dicat, tapi nego boleh. Jadinya Rp 4,5 juta.
 Catnya sepintas biasa saja, pakai serbuk beberapa warna, tergantung kemauan pemilik rumah. Dicampur dengan air biasa. Mereka bersihkan dulu dinding yang akan dicat, baru diberi cat dasar, lalu pasang cat yang akan tampil, habis itu diberi lagi air anti gores. Dinding rumah yang dicat dengan warna kuning dan coklat, diberi lagi dengan sentuhan ornamen seni, sehingga dinding yang aslinya beton berubah seolah-olah jadi dinding kayu. Kinerja mereka yang memuaskan membuat banyak orang memperbincangkan, dan kalau harga cocok mereka akan segera mengerjakannya. Dengan tenaga tiga orang Parno dkk bisa cepatmenyelesaikan. Mereka tampak fokus dan gesit bekerja. Mereka juga tak begitu fanatik, mau makan atau minum kopi yang ditawarkan pemilik rumah.
 Kini rumah ibu boru Hutabarat di desa Parbaju Julu yang semula catnya sudah kusam, jadi cemerlang lagi dengan sapuan seni cat yang atraktif, tampak seperti baru lagi. Perhatikan gambar saat salah seorang kru tukang cat dari Semarang itu sedang mulai melakukan pengecatan tanpa banyak basa-basi. (Leonardo TS Joentak)

Kamis, 11 September 2014

Gila! Membangun Rumah di Tepi Jurang...



Add caption
  GILA! Komentar itu wajar dari orang yang membayangkan suatu bahaya besar ketika ada orang membangun rumah persis menggantung di sisi jurang, apa lagi di bawahnya ada laut menganga dengan debur ombaknya yang menyeramkan (lihat gambar). Tapi, di zaman serba mungkin sekarang ini, apapun bisa jadi nyata. Seperti dikutip Ekspresiana berikut ini: 
— Perusahaan yang biasa membuat rumah cetakan telah meluncurkan konsep untuk kediaman modular yang posisinya menggantung di sisi jurang. Hal ini sudah dilakukan oleh perusahaan perumahan Australia, Modscape.

Modscape baru saja mengembangkan Cliff House atau rumah di sisi jurang saat merespons sejumlah klien yang meminta lokasi rumahnya di pesisir pantai yang ekstrem. Terdiri dari 5 lantai, hunian tersebut didesain melekat pada sisi vertikal permukaan berbatu.

"Terinspirasi dari cara Barnacle berpegangan pada lambung kapal, konsep ini dikembangkan untuk rumah modular yang menggantung pada sisi jurang, alih-alih berada di atasnya," kata Modscape.

Rumah tersebut lebih terlihat seperti sambungan alami dari jurang ketimbang sebagai bagian tambahan yang sengaja dibuat di dataran untuk menjalin hubungan dengan laut. Menurut tim perancangnya, konstruksi semacam ini tidak bisa menggunakan konstruksi konvensional.

Konsep Modscape adalah membuat lima susunan modul yang tertancap pada jurang dengan menggunakan desain pin baja. Atap rumah yang menempel pada tanah memungkinkan dibuatnya pintu masuk. Malah, garasi yang biasanya berada di bawah gedung dibuat di lantai paling atas Cliff House ini.

Sebuah anak tangga dan lift membuat pengunjung atau pemilik rumah menjangkau seluruh gedung. Anak tangga dan lift ini juga membuat sebuah pemisahan yang natural antara dua sisi rumah.

"Peralatan atau aksesori di dalam rumah dibuat seminimal mungkin untuk menekankan pemandangan laut," kata si perancang. Betul-betul gila bangat! (EKSPRESIANA/Kps.co/www.the dezeen.com)


Jumat, 29 Agustus 2014

Gordon Tobing Pakai Gitar Sipoholon di Moskow?




Albert Hutagalung mewarisi talenta ayahnya meneruskan pembuatan
gitar Sipoholon (Foto:Leonardo TS Joentak)


  Waktu saya bepergian ke Surabaya tahun lalu, saya melihat tetangga tante saya sedang main gitar. Bunyi dentingan snar gitarnya terdengar sangat bagus, tak kalah dari denting gitar buatan terbaik di Meksiko atau Yamaha Jepang. Setelah saya berkenalan dengan anak muda pemain gitar bernama Gito Sarjono itu, ternyata gitar yang dipakainya buatan Sipoholon, sebuah kecamatan terkenal di Sumatera Utara karena pemandian air panas belerangnya.
“Wah ini gitar buatan Sipoholon ya, kok jauh kali ke sini ada gitar Sipoholon,” kata saya pada Gito. Kata Gito saat SMA dulu ia punya teman marga Hutabarat, dan di tempat kos sering pakai gitar buatan Sipoholon. Setelah lulus SMA, Gito melanjut ke Surabaya atas saran kakaknya. Untuk mengusir kesepian dan refreshing saat jeda belajar, Gito merasa perlu gitar. Tapi ia ingin gitar Sipoholon seperti dipakainya waktu di Medan, karena kualitasnya tak kalah disbanding gitar yang dijual di toko. Gito pun memesan via temannya sebuah gitar Sipoholon, waktu itu harganya masih Rp 500.000.
Gitar buatan Sipoholon, Tapanuli Utara, Sumatara Utara,memang sudah lama mengukir kebanggaan dalam sejarah. Bahkan boleh disebut sudah legendaries. Meski sudah sering dipublikasikan beberapa media cetak, tapi detailnya kurang tanpa mengungkap proses alih generasi yang terjadi saat ini. Tokoh pembuat gitar Sipoholon yang sering diekspos adalah K.Hutagalung, yang kini sudah almarhum. Beliau memang kreator pertama, yang melahirkan salah satu alat musik akustik yang denting senarnya enak didengar itu.
K Hutagalung sudah tiada, tapi gitar Sipoholon – yang kini dinamakan Gitar Bona Pasogit- tetap eksis. Keahlian Hutagalung menukangi gitar, ternyata diwarisi dua putranya. Salah satunya adalah A Hutagalung (65), yang kini membuka sanggar tersendiri di pinggir Jalan Raya Km 3 Sipoholon-Tarutung. Dengan penuh semangat, pria beristrikan boru Hutabarat ini tiap hari tampak bekerja telaten menekuni pembuatan gitar. Baginya, tiada hari terlewatkan tanpa membuat gitar. Sering, seharian penuh hanya memakai kaos kutang, Hutagalung asyik mendesain gitar buatannya.
“Dulu sudah ikut membantu bapak, makanya sudah tahu cara pembuatannya”, katanya kepada penulis. Pembuatan gitar sudah dimulai alm K Hutagalung pada 1957. Sejalan dengan pembuatan organ gereja, yang waktu itu disebut Poti Marende (peti bernyanyi). Dalam wawancara dengan wartawan dulu, K Hutagalung mengatakan, gitar buatannya sudah terjual beberapa buah tahun 60 an. Tapi saat itu pembuatan gitar masih dianggap selingan, di sela-sela kesibukan merakit organ gereja."Saya dengar penyanyi bersuara hebat Gordon Tobing itu memakai gitar buatan saya waktu dia bersama rombongan grupnya Impola melawat ke Moskow dan Cina. Di sana mereka bertemu Presiden Soekarno, dan Presiden memuji ada orang Batak menyanyi di luar negeri. Saat itu seperti saya baca di koran, Presiden Soekarno sedang berkunjung ke Sovyet, dan Gordon bersama kawan-kawannya juga kebetulan diundang untuk suatu acara kesenian," tutur Hutagalung ketika itu. Namun ia tak memastikan, apa benar Gordon Tobing memakai gitar Sipoholon buatannya sampai ke luar negeri. "Waktu mendengar cerita tentang itu, saya merasa sangat bangga, dan mendorong saya lebih teliti membuat gitar, agar lebih bagus lagi suaranya," papar orang tua bertubuh kurus itu. Wawancara penulis dengan K Hutagalung (alm) itu dimuat di Harian "Sinar Indonesia Baru" (SIB) yang ketika itu sedang meroket popularitasnya. Tapi, beda dengan gitar, pembuatan organ yang mengandalkan power angin dengan genjotan kaki itu, kini terpaksa dihentikan. Pasalnya, kalah bersaing dengan organ/keyboard buatan luar negeri,seperti Yamaha,Roland, Technick KN, dan lain-lain. “Sekarang, kami fokus hanya membuat gitar, karena poti marende sudah tak laku lagi,kalah dengan keyboard canggih”, tutur pria beranak delapan ini.
Hutagalung tak bisa memastikan berapa sudah jumlah gitar yang diproduksi sejak 1957. Perkiraannya, antara 8 ribu sampai 10 ribuan buah. Pemesannya juga dari berbagai pelosok Nusantara. Bahkan, gitar buatan mereka sudah ada yang dipakai di luar negeri, seperti Jerman, Belanda, Malaysia, Singapura. Karena banyak orang memesan gitar buatannya untuk diberikan sebagai souvenir buat kerabat di luar negeri. Dulunya, selain gitar dan keroncong, almarhum K Hutagalung juga membuat strumbas. Yakni gitar besar yang khusus digunakan untuk bas. Sekarang, strumbas tak dibuat lagi, setelah munculnya gitar elektronik khusus untuk bas.
Menurut Albert Hutagalung, nama Bona Pasogit dicantumkan atas saran dari RE Nainggolan (waktu itu Bupati Taput).”Pak RE Nainggolan memang hebat. Dia sangat memperhatikan industri kerajinan tangan daerah ini. Pernah satu waktu, beliau memesan gitar sepuluh buah sekali gus, untuk disumbangkan. Beliau yang membayar semua”, kata Hutagalung mengenang.
  Harga gitar Sipoholon saat ini memang naik, berhubung kenaikan harga bahan.” Sekarang saya jual antara Rp 700 ribu sampai Rp 800 ribu”, katanya seraya memastikan kualitas gitar buatannya terjamin.Tidak kalah dari gitar yang dijual di toko. Banyak penyanyi Batak di Jakarta yang sudah memakai gitar buatannya. Proses pembuatannya tergantung kerja keras. Terkadang empat gitar bisa diselesaikan dalam seminggu. Tak jarang harus antre, karena banyaknya pesanan dari berbagai daerah, paparnya seraya menunjuk kertas bertuliskan nama pemesan yang ditempelkan di dinding sanggar kerjanya. Gitar Sipoholon dibuat menggunakan kayu khusus yang harganya saat ini lumayan mahal. Bahan kayunya jenis kayu antuang yang masih ada tumbuh di daerah pedalaman, walaupun pepohonan sudah makin menipis di kawasan hutan akibat perambahan hutan oleh toke-toke kayu yang legal maupun yang illegal.
Lalu, benarkah putra-putri asal Tarutung-Sipoholon umumnya pintar main gitar, sehingga banyak gadis non Batak yang keranjingan pada pemuda dari daerah ini? 
Boleh jadi. Dan mungkin salah satu factor pendukung, karena gitar Sipoholon banyak dimiliki keluarga di daerah itu.(Leonardo TS/ Disempurnakan dari Kompasiana/Kompas.Com)