Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Mei 2015

Ada Restoran Sajikan Daging Manusia




  SARINGAR.Net-KEPOLISIAN di Nigeria menggerebek sebuah restoran di Provinsi Anambra. Penyebabnya, restoran yang terletak di wilayah timur Nigeria itu menyuguhkan daging manusia ke para pelanggannya.
Awalnya, polisi mendapat petunjuk dari warga setempat yang curiga dengan sesuatu nan mengerikan di dalam dapur restoran. Seorang pemuka agama setempat yang makan di restoran itu awalnya curiga karena harga daging yang disuguhkan cukup tingi.
Dia disodori tagihan sebesar 700 Naira, atau sekitar Rp 45 ribu. Padahal, upah harian bagi jutaan warga Nigeria hanya mendekati Rp 12 ribu.
Karenanya, ia ingin mengetahui asal daging itu, pelanggan yang curiga pun berupaya mencari informasi. “Pengunjung menyadari reaksiku dan memberi tahu aku tentang potongan kecil daging yang aku makan sehingga tagihannya tinggi,” katanya.
Dan ternyata, potongan kecil daging itu pula yang membuat tagihannya bengkak. “Aku tak tahu aku telah disuguhi daging manusia dan itulah mengapa mahal,” tuturnya.
Karenanya, polisi yang mendapat informasi mencurigakan lantas menggerebek restoran yang berada di sebuah hotel itu. Ternyata, polisi menemukan kepala manusia yang masih meneteskan darah di dalam kantong plastik.
Polisi juga menemukan gudang senjata yang mencengangkan. Isinya antara lain granat. Dari penggerebakan itu, polisi menangkap 10 orang.
Seorang warga setempat justru mengaku tidak terkejut dengan terungkapnya restoran penyaji daging manusia itu. “Setiap waktu saya pergi ke pasar, saya melihat aktivitas yang aneh di dalam hotel itu,” katanya.
Menurutnya, pegawai-pegawai di hotel itu tak pernah terlihat berpakaian bersih.  “Membuat saya curiga dengan aktivitas mereka,” katanya.(bbcswahili/dailymail//jpnn)

Selasa, 16 September 2014

Resep Sambal Tuktuk Buat Seorang Teman di Jerman

  Satu kebanggaan bagi kita bangsa Indonesia yang kaya dengan budaya,tradisi, hingga aneka resep kuliner lokal. Lezatnya makanan lokal tak kalah “mak nyus”, meski makanan luar makin membanjiri negeri ini. Tergantung selera seseorang, makanan khas lokal selalu dirindukan saat seseorang jauh berada di negeri asing. 
 Secara khusus, bangsa Indonesia umumnya penyuka sambal. Banyak jenis sambal spesifik satu daerah atau etnik. Lain sambal orang Deli, sambal Melayu, sambal belacan Betawi, lain lagi apa yang disebut sambal tinuktuk (tuktuk) di daerah Batak, lain lagi sambal tuktuk daerah Sipirok di Tapanuli Bagian Selatan. Setiap etnik di negeri ini boleh dibilang penyuka sambal pedas. Apakah itu etnik Minang dengan rendang khasnya, Aceh dengan mi Acehnya yang mak nyus, apalagi sambal Batak yang kerap dilengkapi biji andaliman seperti sudah saya tulis di kompasiana. Sambal berperan strategis menambah selera makan,meski pedas mengggigit di lidah. Ada yang hobi makan dengan mengkombinasi jengkol atau petai dengan sambal. Makan pun lahap bukan main sampai keringat bercucuran. Nikmatnya makin tembus ketika usai makan kepedasan dikunci lagi minum manis panas atau manis dingin kalau di kota berhawa panas seperti Jakarta, Medan, Pekanbaru.
 Saya salut pada saudari Gitanyali Ratitia yang tinggal di Magdeburg Jerman Timur, 80 kilometer dari Berlin. Meski ia bukan dari etnik Tapanuli (mungkin), tapi ia antusias dengan spesifikasi kuliner lokal negerinya, secara khusus resep kuliner Batak. Dia teman saya penulis di Kompasiana.Com, dan sebagai teman kompasianer saling kirim pesan, sdri Gitanyali tertarik membaca artikel saya tentang andaliman di kompasiana. Gita pun menanyakan, apa saya bisa mengirimkannya resep sambal tinuktuk. Wah, saya merasa terhormat kalau bisa menjelaskannya pada sdri Gita yang jauh di Jerman sana. Saya kebetulan penyuka sambal tuktuk, jadi saya tak begitu kesulitan mencatat dan mengirimkannya ke Jerman via kompasiana. Saya hanya perlu adaptasikan nama-nama bahannya, agar afdol, bisa lebih dipahami Gita. Ternyata, Gita malah tahu apa itu buah kincung (sihala namanya di kami), bahkan tahu apa itu yang dimaksud bawang Batak yang bentuknya panjang-panjang. Menurut Gita, namanya bawang batak itu lokio.
 By the way, sambal tinuktuk itu namanya kalau di daerah Simalungun sana, dan kalau di kampung kami Tapanuli disebut sambal tuktuk. Kalau sambal tinuktuk biasanya dikombinasi dengan ikan bakar, ikan goreng, maupun daging bakar. Kalau di Sibolga ada jenis sambal tuktuk (walau di sana namanya lain) yang dikombinasi dengan ikan segar bakar, disebut sombom. Uenaknya tak kepalang. Saat lapar menyengat, mau tambah nasi terus, apalagi makannya di tepi pantai Pandan yang kesohor.
 Dalam bentuk paling sederhana, sambal tuktuk di kampung saya Tarutung paling simpel pembuatannya. Cukup sediakan beberapa biji cabai merah atau cabe rawit, bawang secukupnya, buah kemiri gonseng lima atau enam biji, lada secukupnya, campur rias (sejenis kincung atau kecombrang) yang sudah dibakar tak terlalu hangus, asam dan garam secukupnya, lalu ditumbuk dengan ikan teri gonseng (boleh digoreng pakai minyak) diaduk dengan sambal yang sudah ditumbuk, dan ikan teri gonseng atau kalau ada yang namanya disini ikan asin silakkop ( sejenis ikan kecil berbentuk bawal yang diasinkan), ditumbuk kasar tak terlalu halus. Jadilah itu sambal tuktuk Tarutung namanya. Tak terlalu merepotkan, asalkan ada kemiri gonseng, rasanya enak apalagi kalau makan dengan nasi panas baru ditanak.
 Untuk sambal tinuktuk yang lebih lengkap seperti saya kirimkan untuk sdri Gitanyali di Magdeburg, Jerman, juga tak begitu sulit meraciknya. Masalahnya, apakah di negerinya Adolf Hitler itu ada bahan tradisionalnya seperti yang ada di Indonesia sini. Resep sambal tinuktuk yang saya tahu sejak dulu dari almarhumah nenek dan ibu saya, seperti di bawah ini:
1. Kencur 1/4 kg (dikupas/diiris)
2. Jahe 1/4 kg (dikupas/diiris)
3.Bawang merah secukupnya (dikupas/diiris)
4. Bawang putih secukupnya (dikupas/diiris)
5. Lada hitam kira-kira setengah muk kecil
6. Kemiri 15 atau 20 biji ( dikupas )
7. Garam secukupnya
8. Bawang batak (menurut sdri Gita namanya itu lokio) satu ikat
9. Buah kincung (di kami namanya disebut sihala) dan kata sdri Gita namanya kecombrang. Buah ini punya cairan asam yang khas. 
CARANYA: Bahan-bahan yang sudah siap digonseng secara terpisah.
1. Lada dan garam digonseng, tak usah sampai hitam
2. kemiri digonseng sampai batas jangan terlalu gosong
3. Kencur, jahe,bawang merah, bawang putih,bawang batak digonseng
 Ketiga bahan yang sudah digonseng diulek secara terpisah.Setelah halus, ditampi dengan nyiru untuk mendapatkan serbuk paling halus. Serbuk sisanya yang masih kasar diulek lagi hingga halus, begitu seterusnya. Bahan yang sudah diulek disatukan dan ditumbuk lagi sekalian. Kemudian buah kincung (sihala) ditumbuk diperas dan air perasan itu menjadi semacam cairan asam untuk sambal tinuktuk. Tergantung selera pedas seseorang, boleh juga digabung cabe rawit sedikit kira-kira 10 biji untuk mencipta rasa yang plus.
 Rasa sambal tinuktuk ini bagi banyak orang Sumut membuat ketagihan. Rasanya sangat khas, gurih dan rasa ppedasnya berasal dari lada. Karena itu ada juga yang bilang sambal ini sebagai sambal lada, ataukah ini asal nama sambalado yang kesohor? 
 Bahan-bahan tadi sebenarnya ada tersedia di pasar-pasar tradisional. Tak tahu apakah di Eropa seperti Jerman juga mudah didapat. 
 Konon, pada masa silam, wanita Batak yang baru melahirkan selalu dianjurkan makan sambal tinuktuk. Misalnya sebagai pelengkap lauk saat makan dan cocolan untuk sayuran. Mungkin juga untuk menghangatkan tubuh si ibu karena baru melahirkan. 
 Itulah sekadar yang bisa saya sharing, berawal dari korespondensi saya dengan Gitanyali Ratitia di Magdeburg Jerman. Mudah-mudahan bisa dibuat di Jerman, dan juga berguna bagi kompasianer lainnya yang suka dengan aneka sambal Indonesia. 
 Oh ya, Sdri Gita sedikit mengeluh soal buah kincung tadi. Di sini (Jerman) tak ada bang, tulis dia. Itu kan namanya kecombrang bahasa Indonesianya.Kalau bawang batak namanya lokio, bisalah diganti dengan bawang dan daunnya. Tapi nanti kalau ada teman pulang kampung ( ke Indonesia)  saya mau nitip kincungnya.
Ok dah sdri Gita, selamat mencicipi sambal tuktuk di negeri Jerman. Nanti kalau pulang ke Indonesia bolehlah lebih gampang meraciknya.  Horas tiga kali.(Leonardo TS,Sumatera Utara)

Senin, 08 September 2014

Hati-Hati, Tarif Makan di Anyer Mengejutkan Dompet

-

Kuitansi mencekik dompet yang diunggah di Fesbuk


   Para pengusaha rumah makan/resto di manapun itu, tak hanya di kawasan Anyer, perlu segera menata ulang sistem pemasangan tarif makanannya, jangan sampai menguras dompet tamu. Kisah harga mencekik dompet yang terjadi di Anyer, tampaknya baru permulaan muncul ke permukaan. Ini baru yang menimbulkan reaksi dan terunggah di internet. Belum lagi kalau ada kasus serupa, tapi tak dipublikasikan orang yang merasa korban pemerasan.Kasus tarif sembarangan yang mengejutkan dompet, mungkin masih ada di tempat dan waktu yang berbeda. Ini bisa membuat orang berpikir 7 keliling saat berkunjung ke Anyer.

 Seorang pengguna Facebook mengunggah sebuah bon atau kwitansi pembayaran makanan yang diakuinya berada di sebuah restoran di Anyer. Di kuitansi tersebut ada tujuh menu makanan dan minuman yang dipesan. Namun, harga tiap makanan terbilang mahal.

Dua ikan bakar dihargai Rp 400 ribu, 1 cumi saos tiram Rp 180 ribu, 3 cah kangkung Rp 200 ribu, 1 baso sapi Rp 20 ribu, 2 nasi putih Rp 90 ribu, 2 lalap+sambal Rp 30 ribu, dan 1 es teh manis Rp 80 ribu. Jumlah total yang harus dibayar oleh pemesan adalah Rp 1 juta.

"Hati-hati makan di "rumah makan" sekitaran pantai anyer. Baru kali ini makan sampai sejuta. Mending eksklusif, kaya warung pecel ayam. Bakso semangkok harganya ckckckckckck. Bakso kecil-kecil gitu aja," demikian tulis pemilik akun Facebook bernama Dewi Kabisat Andriyani di bawah unggahan kuitansi seperti dikutip merdeka.com, Jumat (5/9).

Pengakuan Dewi membuat heboh. Terungkap kasus ini bukan perkara baru. Sejumlah korban yang kena getok menceritakan kisahnya.

Menanggapi hal tersebut ketua Perhimpunan Hotel dan Restaurant Indonesia (PHRI) Kabupaten Serang Hardomo pun angkat bicara. Menurutnya, hal tersebut merupakan lagu lama yang kerap menimpa wisatawan di sejumlah area wisata di Anyer.

Hardomo mengungkapkan pihaknya beberapa tahun lalu juga menerima laporan dari wisatawan yang merasa terjebak saat makan di rumah makan di wilayah Anyer dan sekitarnya. Dia telah melakukan sosialisasi kepada pedagang dan memberi masukkan kepada dinas terkait untuk membuat peraturan agar rumah makan mencantumkan daftar menu serta harga.

"Lagu lama itu, pasti di daerah Karang Bolong. kita sudah beri masukan ke Dinas terkait untuk membuat peraturan agar rumah makan mencantumkan menu beserta harga," ujarnya.

Sejumlah kasus yang serupa tapi tak sama bermunculan di media online, sejak diunggahnya rumah makan  yang memasang tarif selangit itu di fb.(EKSPRESIANA/Mdk.Com)

Rabu, 27 Agustus 2014

( KULINER ) Bagaimana Kalau Andaliman Punah dari Bumi Batak?

Andaliman wajar harganya mahal, memetiknya juga harus ekstra
hati-hati,kalau tidak siaplah jari berdarah


 SARINGAR.Net - Orang Batak umumnya pasti  kenal andaliman. Itu adalah salah satu tumbuhan pelengkap masakan khas Batak. Masakan khas semisal na ni arsik, jagal sangsang, na niura, dan lain-lain, tidak klop,tanpa andaliman. Sebuah hajatan (pesta) adat Batak, selalu menyajikan ikan mas arsik, demikian halnya jagal (daging hewan) yang bumbu utamanya,ya itu tadi:andaliman. Begitu juga rumah makan Batak.Pasti selalu menyiapkan andaliman, sebagai resep utama. Kuliner Batak tanpa andaliman bisa kehilangan spesifikasinya.
         Orang Batak yang tersebar di berbagai daerah, bahkan mancanegara, selalu mengungkapkan kerinduannya terhadap makanan Batak yang dibumbui andaliman. Seperti dicetuskan Raymond Pasaribu, warga asal Sibolga yang lama menetap di Sidney, Australia.”Ai adong dope andaliman di hitaan? Nunga tung masihol dila mandai dekke arsik dohot jagal na marandaliman”, (masih adakah andaliman di kampung kita. Sudah rindu rasanya lidah ini mencicipi ikan yang diresep dengan andaliman). Ungkapan serupa, sering terdengar dari orang-orang Batak di rantau. Lumayan, di kota seperti Medan, Jakarta, Pekan Baru, orang Batak belum kesulitan mendapatkan bumbu yang satu ini. Meskipun memang, harganya lumayan mahal. Konon, di Jakarta, satu kilo andaliman pernah mencapai Rp 200 ribu. Normalnya sekarang, antara Rp 50 ribu- Rp 100 ribu, per kilo.
         Tapi terkadang harga andaliman juga bisa anjlok.Tak jarang, harganya menukik hanya Rp 5 ribu perkilo.
         Andaliman, termasuk tanaman langka. Tak di sembarang tanah bisa tumbuh. Di Tapanuli Utara misalnya, tanaman ini normalnya tumbuh di Kecamatan Parmonangan, Pangaribuan, Sipahutar,Siborongborong,Pagaran, dan seputaran Muara. Di kawasan Tobasa, adalah di seputaran Parsoburan.Andaliman, diakui dulunya termasuk tanaman liar. Tapi sejak diketahui manfaatnya begitu penting melengkapi cita rasa masakan Batak, banyak warga yang membudidayakannya. Tanaman ini konon cocok ditanami di tanah bertebing, tanah bersemak di sekitar jurang. Sedang di kawasan Humbang, andaliman justru tumbuh di sekitar adaran (padang penggembalaan) kerbau. Sulit berandai-andai sejak kapan tanaman berduri ini dijadikan leluhur sebagai bumbu peracik menggiurkan. Dua ratus tahun? Tiga ratus? Atau sejak Raja Batak hadir pertama kali di Pusuk Buhit kah?
            Nai Rouli boru Siburian, sudah lima belas tahun khusus berniaga andaliman, antara Tano Batak- Pekan Baru – Jakarta.”Saya akui, untung cukup besar berdagang andaliman. Anakku empat jadi sarjana dari untung berdagang andaliman. Memang capek berjualan jauh-jauh, tapi karena untung besar, terasa ringan juga”, katanya terkekeh saat bercerita dengan SARINGAR.Net, di Tarutung, pekan lalu. Makanya, kata ibu paruh baya ini, kalau sempat andaliman punah dari Tano Batak, dialah salah satu yang paling berduka.”Semua orang Batak kurasa akan merasa rugi besar, karena masakan Batak tak enak lagi dimakan…ha-ha-ha…makanya, aku pun selalu berharap, janganlah sampai andaliman punah dari Tano Batak ini”, umbarnya lagi.
            Sekadar catatan, dari 15 kecamatan di Taput, hanya enam kecamatan yang memproduksi andaliman. Itu pun jumlah produksi tak sebanyak dulu. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Taput tahun 2007, luas tanaman andaliman produktif hanya 16 hektare, dari 21 hektare yang terdata. Produksi pada 2005 tercatat 5,64 ton, naik jadi 7,53 ton pada 2006. Rata-rata produksi 470 kilogram per hektare. Kecamatan Parmonangan, Pangaribuan, Siborongborong, menjadi produsen andaliman terbesar, yang bertahan hingga kini. Menyusul Kecamatan Pagaran dan Muara.Data itu belum berbeda jauh dengan kondisi sekarang.
            Melihat besarnya potensi pasar andaliman, sejak lama muncul pertanyaan: Mengapa Pemkab Taput tak pernah terpikir untuk memprogram, agar andaliman, menjadi salah satu komoditas unggulan dari daerah ini? Hingga saat ini andaliman masih di anggap warga sebatas komoditas sampingan, belum mengarah menjadi komoditas penting dalam konteks kuliner Batak. Maka pertanyaan yang kemudian muncul," Bagaimana kalau andaliman suatu saat punah dari Tanah Batak?" Dengan santai beberapa orang penikmat masakan khas Batak menjawab," Bah, dang tabo be antong lompa-lompa ni hita Batak...ha-ha-ha..." (Tak enak lagi lah nanti cita rasa masakan kita Batak).