Penyanyi idola tahun 60 an Tetty Kadi dan penyanyi bersuara merdu Christin Panjaitan orbitan Rinto Harahap di tahun 80 an tampil mempesona dalam tayangan Golden Memories Indosiar,Selasa (20/9). Kehadiran kedua artis beda zaman itu sungguh memuaskan kerinduan jutaan pengagumnya, apalagi saat Tetty Kadi mojang Priyangan yg masih tampak awet dan cantik menembangkan lagu nostalgia seperti juga artis Batak Christin Panjaitan yang suara merdunya sulit dicari duanya hingga sekarang.
Pada awal kehadirannya di dunia tarik suara, Tetty dikenal dengan tembang manisnya Sepasang Rusa, Teringat Selalu, dan belakangan lagu Mimpi Sedih, Layu Sebelum Berkembang, dan banyak lainnya. Sementara Christin sangat menggugah dengsn tembang-tembang sentimentalianya Sudah Kubilang selain juga mempopulerkan lagu Batak nostalgia ciptaan komponis legendaris Nahum Situmorang dan S.Dis Sitompul
Tampilkan postingan dengan label Nostalgia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nostalgia. Tampilkan semua postingan
Selasa, 20 September 2016
Sabtu, 23 Januari 2016
Manggadong di Medan
![]() |
| Nikmatnya makan gadong kombinasi dengan teh manis = |
BATAKINDONEWS.COM -
Manggadong...! Kalau dia orang Batak yang lahirnya masih di seputaran Tanah Batak, tentu tahu apa yang dimaksud dengan "manggadong". Terjemahannya mudah saja, makan ubi yang direbus. Pada zaman dahulu, di pedesaan selalu diawali manggadong dulu sebagai pengantar makan nasi. Apalagi zaman dulu hidup masih sulit, sering terjadi haleon potir (musim paceklik). Semasa kecil saya sempat melihat sendiri betapa susahnya kehidupan rakyat di desa, manakala saya sesekali berkunjung ke kampung ompung di dusun Nagatimbul. Saat itu sedang haleon potir. Beras sangat langka dan mahal. Untuk mengatasi ancaman lapar, keluarga paman mengambil kebjakan makan nasi cukup satu kali sehari. Itu pun cara masak nasinya dibuat "malala" (setengah dibubur) seperti lontong sate, supaya cukup untuk seluruh keluarga yang jumlahnya lumayan.
"Boasa malala indahan on,nantulang," tanya saya pada isteri paman. Pada hal saya paling anti makan nasi yang malala.
Dengan mimik sendu, nantulang saya itu bilang beras sangat terbatas. Harus pandai-pandai mengatur supaya tercukupi untuk beberapa minggu. Maka caranya, nasi yang dimasak cukup dua atau tiga takar, dan itu jadi banyak kalau dibuat malala. Bah! Sulit sekali saya makan nasi yang setengah dibubur itu, hampir saja saya tak bisa menelan. Tapi karena lapar habis bermain-main dengan anak paman seharian, terpaksalah saya ikut menikmati nasi yang seperti lontong sate itu.
Saya sempat heran, siang jelang sore nantulang memanggil anak-anaknya dan saya untuk manggadong. Itu pun terasa resmi seperti biasanya makan nasi. Duduk melingkar di atas tikar, dan gadong yang masih mengepul ditaruh dalam sebuah panci. Lalu di sebuah piring lainnya ada gulamo (ikan asin) bakar. Tapi yang membuat saya kaget, ketika nantulang menyuguhkan air minum yang dicampur dengan cabe giling. Bah,apaan pula ini. Heran saya jadinya.
Keheranan saya terjawab ketika nantulang mengatakan," supaya enak manggadong makan gulamonya dikir-dikit, dan ini namanya aek na malla sebagai ganti kopi supaya enak makan gadongnya." Aek na malla maksudnya "aek na marlasiak" (air yang diaduk dengan cabe giling). Terasa panas perutku memang karena tak terbiasa. Sedang anak paman (laeku) begitu asyik menyeruputnya seraya melahap gadong. Nikmat sepertinya sadar betul kesulitan yang mendera kehidupan saat itu.
Saya mencermati ketika kehidupan sekarang jauh lebih baik dengan meningkatnya kemajuan perekonomian, apakah masih ada yang merindukan tradisi manggadong seperti dulu? Atau memang belum pernah mengalaminya di kampung? Ataukah setelah menjadi orang penting, kaya raya, hidup mewah, tak ingat lagi apa yang dialami di kampung masa silam. Mungkin juga pura-pura tak mau tahu,atau merasa jadi kolot kalau itu dikenang?
Makanya ketika paribanku marga Sihotang berkunjung ke rumah tumpangan kami di Perumnas Mandala, saya merasakan surprise, ketika saya tahu pariban itu membawa oleh-oleh yang eksklusif: GADONG.
" Bah, ai adong do gadong di Medan?" saya bertanya.
" Na husuan hami do on anggia, sipata olo do manggadong hami, huboan hami on atik lomo roham asa manggadong jolo hita." kata Sitohang senyum.
" Bah, pasti do lomo rohakku, nunga leleng dang hea be au manggadong, Suman do hapur gadong na binoanmuna on. Alai ingkon tes manis do donganni on asa tabo."
Gadong ukuran besar-besar yang dibawa Sitohang itu pun direbus. Kami menikmatinya dengan dengan sukacita, seraya bernostalgia ingat pengalaman masing-masing soal manggadong. Hanya saat itu tidak ada aek na malla dan gulamo tinutung seperti jaman dulu kucicipi di kampung ompung. Cukup pakai teh manis hangat, terasa plong gadongnya meluncur ke perut... Hah, nunga gabe butong hian au, kataku disambut tawa paribanku baoa dan pariban boru. Manggadong di Medan...
![]() |
| = Gadong Medan yang lezat = |
Sabtu, 03 Januari 2015
Masak Alame (Dodol) Tradisi Tahun Baru Yang Sudah Raib
Tradisi memasak alame (dodol Batak) saat merayakan tahun baru, sudah mulai pudar atau mungkin sudah
raib, sejalan dengan kemajuan zaman, dengan semakin majunya perkembangan kue-kue instan yang bisa dibeli dengan mudah di toko-toko. Pada saat Kabupaten Tapanuli Utara masih dipimpin Bupati Torang Lumbantobing, sehingga dirasa perlu menyelenggarakan lomba memasak alame seperti terlihat pada gambar di atas. Lomba memasak dodol dilaksanakan Dinas Pariwisata dalam rangka peringatan Hari Jadi (HUT) Kabupaten Tapanuli Utara.
Bernostalgia tentang suasana tahun baruan, memang banyak pernak-pernik suasana tahun baru masa silam yang perlahan tapi pasti, sudah menghilang, sejalan dengan pergeseran nilai yang menghadirkan pernak-pernik baru berbau modern.
Tak hanya kebiasaan memasak alame itu yang sudah langka ditemukan sekarang. Juga tradisi mainan meriam bambu pada malam-malam memeriahkan tahun baru sudah ikut raib. Sebagai gantinya kini sudah mewabah mainan petasan atau mercon dengan ragam model dan variasi percik pijar apinya mewarnai angkasa raya. Anak-anak di dusun paling sepi pun tak nampak main meriam bambu lagi, yang dulu sangat menghebohkan malam-malam tahun baru. Kini di dusun paling terpencil pun sudah disemarakkan kembang api dari yang harganya termurah sampai yang harganya "wah". Tapi itulah pergeseran yang secara alami telah terjadi di mana-mana termasuk di Tanah Batak. Saat diselidiki kenapa tak ada lagi meriam bambu, warga bilang dengan nada datar," Yah mana laku lagi main meriam bambu, sudah harga minyak tanah pun mahal, cari bambu juga sulit. Lagi pula main meriam bambu itu sangat berisiko bagi anak-anak, bisa celaka kena sembur api saat meniup-niup lobang bambu dan menyulutkan api, seperti pernah kejadian dulu di satu desa."
Lalu, masak alame? Ini salah satu ciri khas yang membuat perayaan natal atau tahun baru di kampung-kampung zaman dulu, luar biasa meriahnya. Masih segar dalam ingatan generasi tua sekarang, ketika dulu muda-mudi begitu semangat dan cerianya bergotongroyong memasak alame dengan ragam citarasa yang diciptakan. Terkadang alame dimasak di dalam belanga besar, memakan waktu berjam-jam. Para juru aduk juga gonta-ganti, tiga sampai empat orang satu sesi. Untuk melupakan rasa capek dan keringatan karena panas api kayu bakar, terkadang anak-anak muda itu main gitar sambil menyanyi, menunggu gilirannya mengaduk. "Sekarang tradisi rame-rame masak alame tinggal kenangan, kalau pun masih ada mungkin sudah sulit ditemukan kecuali kalau masih ada di desa terpencil seperti Torhonas misalnya atau Hajoran di Parmonangan," kata Parluhutan Hutauruk saat menjabat Kadis Pariwisata Tapanuli Utara.
Kebiasaan indah lainnya yang juga hilang, yalah tradisi tukar menu kuliner buatan rumah tangga saat malam pergantian tahun (31 Desember). Saya (penulis) masih ingat dulu masa kecil di tahun 60 an, begitu sirene mengaum tepat pukul 12 tengah malam, dan usai acara doa keluarga, ibu menyuruh kami anak-anaknya mengantar kue buatan ibu seperti kambang layang (kembang loyang), kacang tojin, kue semprit bahkan lampet bulung, ke rumah tetangga-tetangga seputaran kompleks rumah tinggal kami. Dan biasanya sebagai gantinya, tetangga akan mengirimkan pula melalui kami kue buatan mereka. Bisa kue yang jenisnya sama dengan yang kami berikan, bisa juga ada kue yang berbeda. Dan uniknya lagi, kalau kami antar kue buatan ibu lalu si tetangga tak bikin kue, maka sebagai gantinya diberikan beras, ada yang satu liter ada yang dua tiga takar atau muk.
Pendek kata, suasana tahun baru zaman dulu sungguh indah dan menyemangati siapa saja. Tak ada petasan atau kembang api, kalaupun ada bunyi ledakan sayup-sayup dari jauh itu adalah dentuman meriam bambu yang dipasang anak-anak di desa tertentu. Tergantung besarnya meriam bambunya, begituah juga kerasnya bunyi dentuman. Terkadang mengejutkan sampai ke kota.
Dulu, karena minimnya pakaian atau sepatu yang keren, selain karena ekonomi masyarakat masih susah di zamannya orde lama, pakai baju atau sepatu baru itu sangatlah membanggakan anak-anak bahkan orang dewasa. Tapi sekarang? Pakaian baru, sepatu baru, tali pinggang baru, seakan bukan hal yang harus dibanggakan lagi. Karena apa. Selain masyarakat umumnya ekonominya makin membaik, juga segala macam jenis dan kualitas pakaian sudah gampang didapatkan. Kehadiran pakaian bekas (burjer) menjadi salah satu faktor, punya pakaian paling keren dengan harga terjangkau mudah didapatkan siapa saja bahkan oleh orang desa. Dulu seorang remaja saat memakai baju baru, pergi jalan-jalan suka larak lirik baju sendiri saking bangga perasaannya. Kalau sekarang? Wah, saking banyaknya pakaian setiap saat gonta-ganti, sampai sering lupa ada yang tak pernah dipakai...ha-ha-ha-ha....perubahan zaman memang luar biasa..(Leonardo TS Joentak)
raib, sejalan dengan kemajuan zaman, dengan semakin majunya perkembangan kue-kue instan yang bisa dibeli dengan mudah di toko-toko. Pada saat Kabupaten Tapanuli Utara masih dipimpin Bupati Torang Lumbantobing, sehingga dirasa perlu menyelenggarakan lomba memasak alame seperti terlihat pada gambar di atas. Lomba memasak dodol dilaksanakan Dinas Pariwisata dalam rangka peringatan Hari Jadi (HUT) Kabupaten Tapanuli Utara.
Bernostalgia tentang suasana tahun baruan, memang banyak pernak-pernik suasana tahun baru masa silam yang perlahan tapi pasti, sudah menghilang, sejalan dengan pergeseran nilai yang menghadirkan pernak-pernik baru berbau modern.
Tak hanya kebiasaan memasak alame itu yang sudah langka ditemukan sekarang. Juga tradisi mainan meriam bambu pada malam-malam memeriahkan tahun baru sudah ikut raib. Sebagai gantinya kini sudah mewabah mainan petasan atau mercon dengan ragam model dan variasi percik pijar apinya mewarnai angkasa raya. Anak-anak di dusun paling sepi pun tak nampak main meriam bambu lagi, yang dulu sangat menghebohkan malam-malam tahun baru. Kini di dusun paling terpencil pun sudah disemarakkan kembang api dari yang harganya termurah sampai yang harganya "wah". Tapi itulah pergeseran yang secara alami telah terjadi di mana-mana termasuk di Tanah Batak. Saat diselidiki kenapa tak ada lagi meriam bambu, warga bilang dengan nada datar," Yah mana laku lagi main meriam bambu, sudah harga minyak tanah pun mahal, cari bambu juga sulit. Lagi pula main meriam bambu itu sangat berisiko bagi anak-anak, bisa celaka kena sembur api saat meniup-niup lobang bambu dan menyulutkan api, seperti pernah kejadian dulu di satu desa."
Lalu, masak alame? Ini salah satu ciri khas yang membuat perayaan natal atau tahun baru di kampung-kampung zaman dulu, luar biasa meriahnya. Masih segar dalam ingatan generasi tua sekarang, ketika dulu muda-mudi begitu semangat dan cerianya bergotongroyong memasak alame dengan ragam citarasa yang diciptakan. Terkadang alame dimasak di dalam belanga besar, memakan waktu berjam-jam. Para juru aduk juga gonta-ganti, tiga sampai empat orang satu sesi. Untuk melupakan rasa capek dan keringatan karena panas api kayu bakar, terkadang anak-anak muda itu main gitar sambil menyanyi, menunggu gilirannya mengaduk. "Sekarang tradisi rame-rame masak alame tinggal kenangan, kalau pun masih ada mungkin sudah sulit ditemukan kecuali kalau masih ada di desa terpencil seperti Torhonas misalnya atau Hajoran di Parmonangan," kata Parluhutan Hutauruk saat menjabat Kadis Pariwisata Tapanuli Utara.
Kebiasaan indah lainnya yang juga hilang, yalah tradisi tukar menu kuliner buatan rumah tangga saat malam pergantian tahun (31 Desember). Saya (penulis) masih ingat dulu masa kecil di tahun 60 an, begitu sirene mengaum tepat pukul 12 tengah malam, dan usai acara doa keluarga, ibu menyuruh kami anak-anaknya mengantar kue buatan ibu seperti kambang layang (kembang loyang), kacang tojin, kue semprit bahkan lampet bulung, ke rumah tetangga-tetangga seputaran kompleks rumah tinggal kami. Dan biasanya sebagai gantinya, tetangga akan mengirimkan pula melalui kami kue buatan mereka. Bisa kue yang jenisnya sama dengan yang kami berikan, bisa juga ada kue yang berbeda. Dan uniknya lagi, kalau kami antar kue buatan ibu lalu si tetangga tak bikin kue, maka sebagai gantinya diberikan beras, ada yang satu liter ada yang dua tiga takar atau muk.
Pendek kata, suasana tahun baru zaman dulu sungguh indah dan menyemangati siapa saja. Tak ada petasan atau kembang api, kalaupun ada bunyi ledakan sayup-sayup dari jauh itu adalah dentuman meriam bambu yang dipasang anak-anak di desa tertentu. Tergantung besarnya meriam bambunya, begituah juga kerasnya bunyi dentuman. Terkadang mengejutkan sampai ke kota.
Dulu, karena minimnya pakaian atau sepatu yang keren, selain karena ekonomi masyarakat masih susah di zamannya orde lama, pakai baju atau sepatu baru itu sangatlah membanggakan anak-anak bahkan orang dewasa. Tapi sekarang? Pakaian baru, sepatu baru, tali pinggang baru, seakan bukan hal yang harus dibanggakan lagi. Karena apa. Selain masyarakat umumnya ekonominya makin membaik, juga segala macam jenis dan kualitas pakaian sudah gampang didapatkan. Kehadiran pakaian bekas (burjer) menjadi salah satu faktor, punya pakaian paling keren dengan harga terjangkau mudah didapatkan siapa saja bahkan oleh orang desa. Dulu seorang remaja saat memakai baju baru, pergi jalan-jalan suka larak lirik baju sendiri saking bangga perasaannya. Kalau sekarang? Wah, saking banyaknya pakaian setiap saat gonta-ganti, sampai sering lupa ada yang tak pernah dipakai...ha-ha-ha-ha....perubahan zaman memang luar biasa..(Leonardo TS Joentak)
Selasa, 28 Oktober 2014
Pedagang Sate Hina Jokowi, Masuk Sel !
JAKARTA-EKSPRESIANA, Menghina merupakan perilaku yang berbahaya. Jangankan melakukan penghinaan atas nama agama, menghina pribadi seseorang juga bisa berakibat runyam.Tukang santet atau tukang sate, memang beda. Tapi menyangkut soal penghinaan, keduanya sama saja. Apalagi kalau orang yang dihina selevel presiden, bah memangnya gampang dan tanpa risiko? Inilah contohnya: Seorang pedagang sate di Jakarta Timur disebut-sebut telah ditangkap polisi pada Kamis (23/10) setelah dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik Presiden Joko Widodo. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar, mengatakan laporan itu dilayangkan oleh tim kuasa hukum sekaligus politisi PDI Perjuangan, Henry Yosodiningrat.
"Iya benar. Dilaporkan oleh Henry Yoso. Inisialnya MA," kata Boy saat ditemui di Bareskrim Polri, Rabu (29/10). Meski demikian, Boy mengaku belum mengetahui detil identitas ataupun profesi MA. "Tapi saya belum cek identitas dan profesinya," kata dia. Tapi dari permulaan berita, disebutkan orang berinisial MA itu seorang pedagang sate.
Dari informasi yang beredar, MA diketahui telah ditangkap karena mengunggah sebuah gambar dua orang yang sedang berhubungan badan ke media sosialnya. Hanya saja, dua orang tersebut ditampilkan dengan menggunakan wajah Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati.
Di tempat berbeda, Henry Yoso menjelaskan ihwal laporan pencemaran nama baik yang dilayangkannya. Dia mengatakan, pelaporan tersebut dilakukan setelah Sekjen PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo memberi informasi mengenai adanya penyebaran gambar-gambar tersebut.
"Saya laporkan setelah diberitahu oleh Pak Tjahjo. Ini inisiatif pribadi saya," kata Henry saat dihubungi CNN Indonesia. Dia menceritakan, dirinya melapor pada pukul 02.00 dini hari pada 27 Juli lalu. "Waktu itu pukul 02.00 saya langsung lapor ke Mabes," ujarnya. Makanya hati-hatilah menghina orang,apalagi kalau orang yang dihina itu "kelas berat".(sp)
Minggu, 26 Oktober 2014
Nahum Situmorang, Sang Maestro Yang Kesepian Hingga Akhir Hayat
![]() |
| Nahum Situmorang, Sang Maestro = |
Seorang pemain gitar begitu piawai mengiringi empat pria lainnya membawakan lagu Lissoy
yang terkenal. Mereka tampak bernyanyi penuh perasaan, seolah tak acuh
suasana sekitar. Sambil sesekali meneguk tuaknya, silih berganti lagu
karya Nahum dilantunkan.
“ Kenapa semua lagunya Guru Nahum?”, tanya penulis ketika para parmitu itu jedah sejenak.
Salah seorang menjawab, hanya kebetulan semacam acara mengenang
komponis besar Nahum Situmorang,mendorong mereka kumpul di kedai itu.
“Almarhum guru Nahum Situmorang adalah komponis Batak terbesar yang
pernah dilahirkan,meski pun masih ada beberapa komponis Batak lainnya
yang hampir setara dengan Nahum,” jelas pria bermarga Purba sambil mengajak penulis mencicipi sedikit tuak bagot
(jenis tuak dari pohon enau) yang tersaji dalam sebuah kendi di atas
meja. Ternyata ke empat pria itu bukan warga setempat. Mereka hanya
kebetulan singgah dalam perjalanan dari Siantar menuju Sibolga. Saat itu
hujan gerimis, dan mereka memutuskan singgah sebentar. “Kami lihat ada
gitar, yah langsung saja dimainkan”, ujarnya tertawa lepas.
Purba mengatakan, Nahum Situmorang adalah “pendekar seni musik”(maestro)
Batak yang telah menciptakan ratusan lagu yang tetap popular hingga
kini. Bahkan banyak lagu ciptaan Nahum belum sempat dirilis, sampai ia
meninggal pada 1969. Kepiawaian Nahum mencipta lagu, setara dengan
komponis Batak lainnya seperti Ismail Hutajulu, Guru Sidik Sitompul
(S.Dis), Tilhang Gultom. Sejumlah lagu ciptaan Nahum yang terkenal, di
antaranya Lissoy,Tabo Dekke Niura,Boha PandungdungBulung,Sombuma roham
,Dijou
au mulak tu Rura Silindung, O Luat Pahae,Pulo Samosir do, Ketabo tu
Sidimpuan i, Marragam-ragam, Dekke Jahir, Marsahit Lungun , Bunga na Bontar,
dan banyak lainnya yang terlalu banyak disebut satu persatu. Semua lagu
Nahum sudah dirilis dalam format album kaset, kepingan vcd/dvd, dengan
penyanyi berbeda. Mulai dari Trio Lasidos, hingga vokal grup yang
berunculan dari waktu ke waktu.
Dari beberapa referensi, bukan rahasia lagi kalau Nahum Situmorang
sampai akhir hayatnya memilih hidup sendiri (melajang),konon karena
patah hati. Tak jelas ceritanya siapa gadis yang dulu begitu
dicintainya, sehingga sampai usia 60 lebih, ia tidak kawin. Tapi menurut
cerita, si gadis yang membuatnya patah hati adalah seorang gadis
rupawan, dan masih cicit seorang tokoh pahlawan nasional. Gadis jelita
yang kemudian kawin dengan seorang dokter itu, pernah diwawancarai
wartawan di Tuktuk,Samosir, menyangkut kedekatannya dengan Nahum di masa
muda. Namun dia menepis anggapan bahwa ia pernah dekat dengan Nahum
dalam arti spesial.”Mungkin saja dia (Nahum) memendam cinta pada saya,
namun tak pernah diungkapkan,” tutur wanita yang rambutnya sudah ubanan
ketika itu. Dia menyebut semasa muda dulu di Tarutung, sering
beramai-ramai marguru ende (latihan koor) ke gereja. Nahum sering ikut menghidupkan suasana dengan main gitar dan menyanyikan lagu-lagu ciptaannya.
Nahum Situmorang yang nama samarannya “Humstrong”, lahir di Sipirok,
Tapanuli Selatan, pada 13 Februari 1908. Semasa hidupnya ia sempat
mengecap pendidikan di Kwekschool Gunung Sahari, Jakarta.Tapi kemudian
Belanda menutup sekolah itu karena dianggap berbahaya. Dari sana Nahum
melanjut ke Lembang Bandung pada 1927, tamat 1928. Tapi ia tidak
diterima mengajar di sekolah negeri karena dianggap sebagai pejuang yang
memusuhi Belanda. Nahum kembali ke Sibolga dan mengajar di Particuliere
HIS van Batakse Studifonds. Sejak itulah panggilannya sehari-hari
disebut “Guru Nahum”. Dari Sibolga, Nahum lama menetap di Tarutung. Dia
menciptakan banyak lagu semasa di Tarutung. Salah seorang adiknya
mengajar di SMP Nommensen Sigompulon. SMP itu belakangan tutup.
Sejak remaja bakatnya menyanyi dan mencipta lagu sudah kelihatan. Tapi
bakat itu makin menonjol setelah Nahum pindah ke Medan 1950. Keindahan
alam Tapanuli terutama Danau Toba dan Lembah Silindung mengundang banyak
inspirasinya mencipta lagu. Di antaranya lagu Rura Silindung,Pulo Samosir,Sitogol-Sitogol,Tao Toba, Marina (pernah menghiasi film Marina pada 1960 an). Selain itu Nahum juga mencipta lagu Lontung Sisiamarina,yang melukiskan sejarah sembilan marga turunan Raja Lontung, termasuk marga Situmorang.
Menurut Purba, semasa hidupnya Guru Nahum sering menghabiskan waktunya bergaul dengan rekannya sesama penyanyi di lapo-lapo tuak di Tarutung, Siborongborong, Sibolga, Medan . Di sana ia bertemu parmitu,abang
beca, bahkan pemain judi. Dari pergaulannya dengan ragam manusia Nahum
makin produktif mencipta lagu. Guru Nahum sering memainkan gitar buatan
Sipoholon, yang menurutnya tak kalah dari gitar buatan luar negeri.
Pernah suatu malam pada Oktober 1959, Nahum melintas di jalan Ambon,
Medan . Tiba-tiba ia tertegun mendengar tangisan bayi dari sebuah rumah.
Nahum tertarik mendekat untuk memantau situasi di rumah itu. Rupanya si
bayi sedang rewel tak mau tidur walau ibunya berusaha meninabobonya
dalam ayunan. Sang ibu menggerutu, karena suaminya belum pulang larut
malam. Dari situlah Nahum mendapat ilham menciptakan lagunya berjudul Modom ma damang ucok.
Salah satu lagu sentimental yang disukai perempuan Batak. Lagu itu
pernah dinyanyikan Nia Daniaty dalam album lagu Batak produksi Akurama
Record. Syair lagu itu melukiskan kesetiaan dan perjuangan seorang
perempuan Batak mengasuh anaknya, sementara saang suami asyik di kedai tuak atau main judi.
Diduga, karena Nahum begitu sibuknya mencipta lagu, sehingga ia sering
begadang. Faktor kurang tidur, membuat kesehatannya cepat menurun di
hari tuanya. Nahum mulai sakit-sakitan, namun dalam keadaan sakit pun ia
tetap mencipta lagu. Ketika akhirnya Nahum meninggal dunia di Medan
pada 20 Oktober 1969, suasana terasa memilukan. Karena sampai akhir
hidupnya tak ada isteri atau anak-anak yang melepas kepergiannya. Ia
telah memilih hidup sendiri dengan jiwa seninya. Nahum Situmorang
dimakamkan di pekuburan Jalan Gajah Mada,Medan. Makamnya
menjadi salah satu obyek wisata bagi para pengagumnya, menyimak kembali
aspek kesejarahan komponis besar itu. Banyak generasi muda sekarang tak
tahu lagi persis siapa dan bagaimana guru Nahum melintasi kehidupannya
di masa silam, tapi mereka mau meluangkan waktunya ikut membuka lembaran
sejarah, seraya mengumandangkan ragam lagu ciptaan Nahum yang memang
memiliki karakteristik tersendiri, tentang alam Tanah Batak, tentang
panorama indah Danau Toba, tentang Lembah Silindung yang dicintainya,
tentang kehidupan masa silam yang tak terbandingkan lagi dengan nuansa kekinian.
Pada masa mudanya, Nahum lama bergaul di Tarutung. Ia menyukai alam dan
masyarakatnya yang solider. Marga- marga Situmorang merasa bangga,
karena dalam salah satu lagu ciptaannya, Nahum menguntai syair molo masihol ho tu Silindung, endehon ma ende ni Situmorang (
Kalau rindu ke Silindung nyanyikanlah lagunya Situmorang). “ Terus
terang saya bangga, karena Silindung itu bukan kampung halamannya marga
Situmorang tapi nyanyian untuk Silindung justru lagu Situmorang”, kata
Martua Situmorang, seorang pensiunan guru STM Pansurnapitu . Lagu Rura Silindung
memang salah satu lagu rakyat berirama sentimental,yang sering
dinyanyikan dalam berbagai event penting. Tak heran kalau alm KK
Mangatas Panggabean mengatakan lagu tersebut sudah seperti “lagu
kebangsaan” bagi warga Silindung.
Sebagai kenangan dan penghargaan atas jasa Nahum Situmorang dalam
pengembangan lagu rakyat khas Batak, Pemda Tapanuli Utara telah
menabalkan namanya menjadi nama sebuah jalan di kawasan Sigompulon
Tarutung, ibu kota Kabupaten Tapanuli Utara. Prasasti abadi untuk sang maestro.
Seorang
komponis boleh saja sudah tiada, tapi lagu ciptaannya akan abadi
sepanjang masa. Tapi menjadi pertanyaan sekarang, akankah masih ada
lahir komponis dengan talenta, visi, dan misi Guru Nahum di tengah
semarak kemunculan para pengarang lagu dan penyanyi asal Tapanuli?
Sejarah juga yang akan mencatat. (Leonardo TS / diperkaya berbagai sumber/lihat juga Kompasiana.Com)
Kamis, 11 September 2014
Nostalgia Musim Panen: Ketemu Jodoh di Bulan Purnama
![]() |
| Capeknya saat panen lega rasanya setelah padi terkumpul di lumbung |
Musim panen padi di sebagian wilayah di Sumatera Utara, biasanya berlangsung antara bulan Juni hingga Juli, tahun ini usai sudah. Khususnya di sebagian wilayah Tapanuli, bulan Juni-Juli adalah saatnya para petani menarik napas lega. Setelah sekian lama banting tulang memeras tenaga dan keringat, maka di musim panen, terbayar lunas lah segala jerih payah yang membuat tubuh letih dan timbangan badan berkurang.
Boleh dikatakan, di Indonesia sebagai negeri agraris, musim panen satu-satunya musim di mana rakyat petani kembali mengumbar senyum. Tapi dengan catatan, asalkan hasil panen bagus, tanpa gangguan cuaca ekstrim atau hama perusak tanaman. Di benua Eropa dan sebagian Asia, ada saatnya ketika musim panas tiba, ada pula musim semi, musim gugur, musim dingin, musim salju. Beruntunglah di Indonesia, hanya ada musim hujan,musim kemarau, dan bolehlah disebut lagi musim panen. Kalau mau sedikit humoria, boleh juga ditambahkan sekali lima tahun di negeri ini ada musim memilih-milih kepala daerah, anggota legislatif, memilih presiden, dan yang paling mendasar pemilihan kepala desa (pilkades).
Petani di sebagian Sumatera Utara tahun ini bolehlah mengelus dada melepas rasa lega, karena hasil panen padi lumayan bagus. Meski ada kecenderungan cuaca terkadang ekstrim, tak sampai menganggu produktivitas. Hal itu diakui instansi terkait Dinas Pertanian , bahwa panen raya tahun ini cukup menggembirakan. Yang tidak bergembira pada musim panen adalah apabila ada di antara petani, seusai banting tulang memetik hasil sawahnya, kembali ke titik nol akibat dililit utang. Itu sering terjadi pada sebagian warga tani. Terkadang bisa memetik hasil sampai 200 hingga 300 kaleng padi, tapi tinggal sekitar 50 kaleng ketika pengijon datang menagih. Itu pernah diakui seorang ibu petani di salah satu desa di Siborongborong saat berbincang dengan Ekspresiana bulan lalu. Ibu itu bersama tiga anaknya memiliki luas sawah yang lumayan. Normalnya, kalau panen mendapat 300 sampai 400 kaleng padi (bersih). Tapi, berhubung ada keperluan insidentil, biaya kulaih anak termasuk biaya adat meninggalnya suami, ibu inipun terpaksa mengutang dengan janji bayar panen. “Begitulah kami petani, jangan sempat berutang, karena sekali berutang maka bertahun-tahun tetaplah begini,” katanya polos.
Bernostalgia di musim panen tempo dulu, saya sering ke kampung nenek saat masih anak SD. Indahnya suasana melihat para remaja ketika itu punya jiwa gotongroyong yang tinggi, saling bahu membahu memetik hasil sawah sesama. Dulu, nyaris tak ada terdengar istilah gajian. Bukan seperti sekarang, sistem kebersamaan di musim panen itu sudah makin memudar. Apa tak ada lagi cara gotongroyong seperti dulu ? Warga bilang, itu sudah sulit. Kalaupun kerjasama itu masih ada, ya imbalannya berbalas dengan membantu petani yang sudah dibantu. Tapi yang begitu pun sudah susah. Makin berkurangnya tenaga muda-mudi di desa membuat keluarga petani saat musim panen jadi uring-uringan. Mau menggaji orang pun terkadang susah. Soalnya banyak pemuda desa lebih memilih mandah jadi kuli bangunan dari pada tinggal di desa mengusahai sawah orang tua. Jangankan pada musim panen, sejak musim membajak sampai masa panen, sudah susah cari tenaga kerja. Untunglah sudah makin banyak hand-tractor dioperasikan saat ini, bisa meringankan petani membajak sawahnya.
Sejalan dengan kemajuan zaman, banyak sudah terjadi pergeseran nilai di lingkungan desa, termasuk dalam hal panen tadi. Saya teringat dulu ketika sering berkunjung ke kampung nenek di Desa Hutabarat sana, jarang ada orang tua yang ikut turun ke sawah memetik hasil panennya. Umumnya muda-mudi penuh semangat dan dengan ceria bergabung memotong padi hingga proses mempreteli biji padi.Dulu masih menggunakan kaki menginjak-injak batang berisi padi yang digelar di atas tikar anyaman. Di kampung saya itu disebut “mardege” (menginjak-injak padi yang sudah dipotong dan dikumpulkan dengan kaki). Sering hal itu dilakukan hingga malam hari, memakai penerangan lampu gas (strongking) atau lampu obor. Tapi lebih indah saat bulan purnama, tak perlu lagi pakai obor atau lampu gas. Ada pemuda yang membawa gitar, saat istirahat asyik menyanyi. Namanya juga orang Batak, umumnya piawai main gitar dan nyanyi. Bayangkan, kerja keras di sawah malam hari, lalu ada penerangan bulan purnama. Duh asyik dan romantisnya.
Tante saya sering menyebut “cinta bersemi di musim panen”. Dia salah satu contohnya. Di masa muda dulu tahun 60 an, tante saya itu sering ikut panen gabung dengan pemuda dari luar kampung. Saking asyiknya panen bareng di tengah sawah, cinta pun bersemi, dirajut hingga berakhir ke perkawinan.” Saya memang ketemu jodohnya di sawah ketika musim panen,tak terlupakan saat itu bulan purnama pula,” kenang tanteku terbahak.
Bukan hanya tante saya yang ketemu jodoh di musim panen jaman dulu itu, ketika lampu listrik masih impian orang desa. Ketika bulan purnama begitu disanjung sebagai dewi asmara yang memberkati orang muda kasmaran. Di banyak desa, kisah-kisah nostalgik seperti itu selalu ada. Awalnya pemuda datang bertandang ke kampung si gadis. Kebetulan saat itu lagi mau panen raya. Ya kalau si pemuda sudah naksir sama si gadis, berat dong menolak kalau diajak ikut membantu panen. Mulanya biasa saja, seperti lirik lagu Pance. Berbincang seadanya, lalu makin melekat di tengah gatalnya jerami dan hujan gerimis.
Di kota kenangan saya, Tarutung, yang dikelilingi areal persawahan dan pegunungan seperti di Napel Italia, kini terasa banyaknya pergeseran yang terjadi. Tak hanya romantisme di musim panen makin pudar, juga areal persawahan makin menciut, dengan makin banyaknya lahan persawahan terjual untuk pertapakan rumah-rumah baru. Dulu, sejauh mata memandang dari dataran tinggi sebelah Barat dan Timur, persawahan terhampar indah menjadi suatu silhoute yang membuat mata ini nyaman hati berbunga. Sekarang panorama hijau itu tinggal kenangan. Di sana-sini, bahkan di tengah sawah, sudah banyak bangunan rumah berdiri. Tak sedap lagi dipandang mata. Tiada lagi pemandangan musim panen malam hari, ketika rombongan anak muda dan gadis remaja bersendagurau di tengah sawah. Kini remaja desa sudah nongkrong nonton tv di rumah, atau jalan-jalan naik sepeda motor ke mana-mana.
Ah, berlalu sudah ya, begitu keluh seorang anak rantau yang pulang mudik di musim liburan sekolah baru-baru ini. Seraya mengerutkan kening, ingin mereview kenangan indah masa silam yang tak mungkin hadir kembali. Kemajuan di semua lini kehidupan, pergeseran mindset, pergeseran nilai budaya, membuat semuanya serba berubah. Masih adakah cinta bersemi di musim panen? tante saya yang ceria dan sudah jadi ibu elit di Jakarta, menggeleng kepala.”Entahlah, tapi yang jelas panen raya sekarang jauh beda dengan masa kami remaja dulu.” Yalah tante, namanya juga sudah zaman milenium.
Langganan:
Postingan (Atom)




.jpg)


