Tampilkan postingan dengan label Fenomena. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fenomena. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Februari 2016

(SKETSA) Gigihnya Boru Batak Melawan Ganasnya Kanker

BATAKINDONEWS.COM -

Kantor Imigrasi di beberapa tempat di Sumut, dari hari ke hari selalu penuh dengan warga Indonesia yang mengurusi paspor. Tak hanya di Gatsu atau Mangkubumi Medan, juga di perwakilan imigrasi Sibolga dan Siantar.
Itu memang hal yang biasa, mengingat masa sekarang ini ada kecenderungan kalau warga Sumut juga makin suka bepergian ke luar negeri untuk berbagai urusan, termasuk berwisata rohani ke Yerusalem. Keinginan jalan-jalan ke berbagai sudut dunia, makin terbuka dengan munculnya berbagai biro perjalanan (travel) hingga di kota kecil seperti Tarutung dan Balige.
 Tapi, kenyataannya tak semua yang berurusan paspor itu tujuannya untuk melancong-lancong. Banyak dari warga Sumut, khususnya dari kawasan Tapanuli, berurusan paspor hanya untuk berobat ke Pulau Pinang (Penang), Malaysia.
 Kenapa harus ke Penang? Pengakuan yang dihimpun www. batakindonews.com dari sejumlah orang Batak di Kantor Imigrasi Jalan Mangkubumi dan Gatot Subroto Medan, setidaknya didorong oleh rasa tidak puas dan kurang optimis terhadap pelayanan yang baik dari dokter dan rumah sakit yang ada di daerah itu. Dorongan berobat ke Penang makin bergelora lagi setelah mendengar cerita dari orang-orang yang berhasil disembuhkan di beberapa hospital di negeri jiran itu.
 Dari observasi sepintas yang dilakukan situs web ini di dua hospital di Penang, seperti Adventis dan Mount Miriam Hospital, ternyata banyak orang Batak (selain Tionghoa) yang dominan menjadi pasien di sana.
 Lalu penyakit apa saja yang dibawa ke Penang? Cukup mengherankan dan membuat hati miris. Meskipun banyak juga pasien itu datang ke Penang sekedar check-up atau mengobati penyakit umum, ternyata banyak dari pasien itu adalah boru Batak yang berjuang melawan ganasnya penyakit kanker yang bersarang di tubuhnya.  Banyaknya perempuan Batak yang mengidap sakit kanker dengan jenis dan stadium berbeda, bisa disaksikan sendiri di Mount Miriam Hospital di kawasan Tanjung Tokong. Rumah sakit ini konon merupakan hospital rujukan bagi pasien kanker yang harus menjalani pengobatan dengan kemoterapi, radiasi, tomoterapi, brakiterapi. 
 Tapi mengobati kanker di sana, tidaklah semudah dibayangkan. Selain memerlukan biaya relatif besar, waktu yang tidak singkat, para pasien dan keluarga yang mendampingi harus siap menginap di tempat yang mereka pilih. Boleh di hotel yang banyak bertebar di Penang, atau boleh juga pada homestay atau rumah biasa yang belakangan makin banyak dibisniskan pemilik menjadi tempat akomodasi khusus bagi orang sakit. Yang terakhir ini menjadi pilihan kebanyakan pasien kanker di Miriam Hospital, karena dianggap lebih praktis. Banyak orang Batak yang harus memasak makanan sendiri untuk menghemat kost. Mereka, terutama boru Batak yang sedang menghadapi keganasan sel-sel kanker itu terlihat begitu semangat dan gigih untuk melawan penyakit jahat itu. Apapun akan kami korbankan selagi bisa, asalkan masih bisa hidup lebih lama tanpa kanker, ujar seorang ibu boru Simbolon dari Simalungun.
 Lalu apa saja yang diderita para boru Batak yang jauh-jauh datang dari tempat asalnya ke Malaysia. Penulis web ini akan menurunkan beberapa cuplikannya pada bagian lain liputan khas dari Pulau Pinang pada kesempatan lain. Teruslah mengikuti, jika berkeinginan untuk mengetahui lebih jauh....

Rabu, 17 Februari 2016

Berobat ke Penang, Kini Jadi Tren Pilihan Banyak Warga Indonesia

Pasien yang bersabar menunggu giliran konsul dengan dokter
ahli di Mount Miriam Hospital,Penang =
Ini Mount Miriam Hospital di Penang, pusat pengobatan =
BATAKINDONEWS.COM -Pulau Pinang atau lazim disebut Penang, dari waktu ke waktu makin popular khususnya bagi orang sakit. Banyak pasien yang mendarat di Penang, Malaysia, berasal dari Indonesia. Selainnya dari negara kawasan Asia Tenggara, Thailand, Vietnam, Filipina, Myanmar. Tapi persentasenya lebih banyak dari Indonesia.
 Tentu saja,logis kalau satu pertanyaan mengemuka: Kenapa?
 Pertanyaan itu wajar. Karena Indonesia sebagai negara berkembang yang lebih besar dan lebih kaya dari Malaysia, sejauh ini sudah memiliki SDM dan fasilitas kesehatan kategori canggih. Di Jakarta ada rumah sakit (RS) Dharmais, RS Cipto, Harapan Kita dan ragam RS swasta yang punya peralatan lumayan modern. Di Medan terus bertambah RS yang konon memiliki peralatan mutakhir dan dokter spesialis aneka penyakit. Sudah lama diidolakan RS Herna, Elizabeth,dan belakangan RS Columbia, Stela Maris, Murni Teguh, dan lainnya.
 Lalu kenapa harus ke Penang Malaysia?
 Sejumlah orang yang pernah berobat ke negeri jiran itu terang-terangan mengatakan, dokter di Penang lebih pintar, lebih care merawat, lebih akurat mendeteksi penyakit yang bersarang di tubuh pasien, dan obatnya lebih pas. Selain peralatannya lebih mutakhir, terutama menyangkut kategori kanker.
 Di Penang ada 8 rumah sakit terkemuka yang sejak lama sudah aktif melayani penderita ragam penyakit. Ada Gleaneagles, Adventis, Island Hospital, Mount Miriam Hospital, dan beberapa nama terkenal lainnya. Mount Miriam dianggap banyak orang sebagai RS spesial kanker, yang dikelola secara profesional. RS ini sudah ada sejak 1963, usaha patungan yang berangkat dari jiwa pengabdian dan semangat religius, digagas Francis Chan bishop Katholik pertama di Pulau Pinang. Saat ini ada dokter spesialis kanker lulusan India dan Australia seperti Dr Rakesh Raman, Dr Fabian Lee, Dr Doris, dan lainnya siap setiap saat "menggempur" penyakit kanker para pasien yang datang berobat. Metode pengobatan melalui apa yang disebut kemotherapi, tomotherapi, radiologi, dan lainnya konon sudah  menyelamatkan banyak pasien dari kebuasan penyakit kanker. Bahkan sudah ada pasien yang menderita kanker stadium 4 yang bisa disembuhkan berkat metode penyembuhan yang diterapkan di rumah sakit Mount Miriam.
 Ternyata banyak pasien yang "menyerbu" rumah sakit di negeri jiran itu berasal dari Indonesia. Tak hanya dari kota besar Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, bahkan banyak yang berasal dari daerah-daerah kabupaten di Sumatera Utara, kawasan Tapanuli sekitarnya, Tanah Karo, Simalungun, Pakpak Dairi.
 "Kami didorong tekad untuk sembuh dari penyakit kanker datang ke Penang. Karena di daerah kami belum ada peralatan canggih seperti yang ada di Penang," ujar Sinambela dan Hutajulu, dua warga Sumut yang datang membawa keluarganya berobat ke Penang.
 Namun keduanya sengaja memperhalus pengakuan itu. Pasien lainnya yang berasal dari Surabaya dan Jakarta malah lebih gamblang menyebut faktor pelayanan dokter di daerahnya belum menunjukkan komitmen yang kuat terhadap pasien yang menginginkan penyembuhan yang cepat, tepat, dan nyaman. 
 "Biarlah kami keluarkan uang lebih besar, yang penting penyakit sembuh, umur pasien mudah-mudahan bisa lebih panjang hidup di dunia," ujar pasangan suami isteri dari Surabaya yang berbincang dengan BATAKINDONEWS di Mount Miriam Hospital, baru-baru ini. Para pasien kanker biasanya harus siap tinggal di negeri itu lebih sebulan sesuai sistem therapi yang berlaku.
 Bicara tentang kanker memang siapa yang tidak takut dan merasa ngeri bila disinggahi virus pembunuh yang merayap pelan menggerogoti daging manusia. Tapi zaman sekarang, paling menonjol adalah kanker payudara di kalangan wanita, kanker serviks, kanker hati, kanker usus, dan jenis lainnya. Sistem pelayanan yang terorganisir di hospital yang didirikan dari donasi ratusan donor yang perduli ini, menjadi bukti pelayanan profesional sebuah rumah untuk orang sakit.
 Terkait dengan makin ramainya pasien berdatangan dari berbagai negara termasuk Indonesia, pendapatan daerah kawasan yang dipimpin seorang gubernur ini, tentulah meningkat signifikan. Begitu juga pendapatan maskapai penerbangan. Maskapai seperti Lion Air, Sriwidjaya Air, Air Asia, setiap hari sibuk menerbangkan penumpang dari Medan yang sebagiannya pasti penderita sakit dalam hitungan waktu relatif cepat, hanya sekitar 35 menit sudah mendarat di Bandara Penang.
 "Seharusnya dalam era reformasi sekarang ini fakta seperti ini hendaknya dikaji Menteri Kesehatan kita, bagaimana supaya Indonesia yang lebih besar dari Malaysia, bisa menghadirkan rumah sakit sehebat yang ada di Penang dengan sistem pelayanan profesional. Saya kira hal itu harus sejalan dengan revolusi mental di kalangan dokter di Indonesia, yang selama ini terkesan masih komersial dibanding nilai pengabdiannya sesuai sumpah Hippocrates yang dianutnya, " kata seorang pasien di Adventis Hospital Penang, tanpa niat menyepelekan negeri sendiri, melainkan mengkritisi masih lemahnya pelayanan kesehatan berkualitas di Indonesia. (Catatan lebih rinci ditayangkan dalam serial tulisan lainnya)

Rabu, 20 Januari 2016

Gubernur Ahok Minta Kapolda Sikat LSM Abal-Abal




  BATAKINDONEWS.COM -  Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dianggap sebagai salah satu penghambat terserapnya anggaran DKI Jakarta. Terutama LSM yang hobi memeras dan mengancam pejabat DKI Jakarta dalam melakukan tugasnya. Demikian berita seperti dilansir Metronews.Com.
 Bukan Ahok namanya kalau tidak bersuara lantang soal seperti ini. Gubernur Basuki `Ahok` Tjahaja Purnama meminta polisi ikut memutus rantai praktek-praktek yang dianggap menganggu kinerja pejabatnya. Basuki meminta pejabat DKI yang mengalami hal itu langsung berinisiatif merekam aksi pemerasan tersebut.
 "Tidak ada alasan upeti. Semua HP canggih bisa rekam. LSM macam-macam kita sikat. Polda siap membantu. Oknum wartawan surat kabar yang meras-meras juga harus ditindak," kata Ahok dalam pertemuan dengan semua penegak hukum dan SKPD di Ruang Pola, Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (27/8/2015).
 Ahok meminta kepada Kapolda Metro Jaya Irjen Tito Karnavian menindak LSM abal-abal yang kerjanya mencari kesalahan dan memeras. Bila laporan LSM tidak terbukti, Ahok minta Polda tindak LSM tersebut.
 "Kesimpulan ada dua. Jangan takut diperas oleh LSM. LSM yang suka ngancam bawa saja ke polisi ke jaksa. Kalau dia memeras dan kalian (SKPD) ada rekaman. Selama bapak-ibu tidak merasa main, silakan laporkan," kata Ahok geram.
 Mendengar permintaan itu, Kapolda Tito langsung merespons. "Sekali-kali LSM kita jadikan tersangka. Yang penting laporannya benar," kata Tito. (MI/FZN)
Saat ini hampir di berbagai daerah bermunculan puluhan bahkan ratusan oknum mengaku dari LSM. Apakah LSM tulen atau gadungan, tak jelas. Di Medan juga LSM menurut berita di media cetak, jumlah LSM terus meningkat. Banyak pejabat hingga kepala sekolah ketar-ketir didatangi LSM. Di Kabupaten Tapanuli Utara dan Tobasa juga disebut sepak terjang LSM terus menggebu, hingga ke sekolah-sekolah di pedesaan. Apakah mereka terdaftar di Kesbangsos setempat kurang jelas. Sementara Kepala Kesbangsos Taput Ramli Surbakti pernah menegaskan, LSM yang tidak terdaftar di Kesbang adalah LSM illegal, atau idetik dengan istilah Ahok "LSM abal-abal.". (BIN)

Minggu, 02 Agustus 2015

Ini Dia...Batu Dari Tanah Batak Mulai Bermunculan Dari 8 Penjuru Angin

Ini beberapa sampel batu keluaran Tapanuli Utara, khususnya dari Muara dan
Garoga.(Foto By:Leonardo TSS)
Sebagian dari Komunitas Toba Na Sere, kiri ke kanan: Mananti Tarihoran, N.Sihombing
F.Simatupang, PPP L.Tobing, Ir A.Hutagaol, David Panggabean. (Foto By: Leonardo
Simanjuntak)

Naek Sihombing dengan batu produk asal Muara. Tidak kalah kualitas dari daerah
lainnya.(Foto By;Leonardo TS Simanjuntak)
F Simatupang pengusaha TPA Toba Na Sere menunjukkab beberapa sampel
batu dari Tapanuli Utara.(Foto By:Leonardo TSS)
Simamora,teknisi pengolah di TPA Toba Na Sere Tarutung sedang sibuk mendesain.
(Foto By:Leonardo Simanjuntak)

BATAKINDONEWS.COM - Fenomena batu akik se Nusantara masih terus berlangsung. Meski tak segila di kota lain, fenomena akik itu juga terasa di wilayah Tapanuli, termasuk Tapanuli Utara, dan secara khusus Tarutung/Silindung sekitarnya. Awalnya peminat masih sehitungan jaru, lama kelamaan makin bertambah, dan terus bertambah. Penggemar akik di Tarutung misalnya mulai membentuk komunitas di beberapa tempat pengolahan. Terbentuknya komunitas itu terwujud sendiri, menjadi semacam forum diskusi atau tukar informasi seputar batu akik.
 Komunitas pertama yang muncul adalah di tempat pengolahan yang diberi bendera Tapanuli Gemstone “Toba Na Sere” di Jalan Smraja Simpang Empat Tarutung (samping Toko Simamikra). Ini juga tempat pengolahan akik (TPA) paling ramai dikunjungi peminat. Karena banyaknya order pengolahan, maka Simamora sebagai teknisi pengolah sering harus bekerja marathon. Sementara manager Toba Na Sere, N. Sihombing dan F.Simatupang harus bersikap bijak melayani peminat agar bersabar menunggu secara antrean. Menurut beberapa penggemar batu akik yang sudah mengolah di Toba Na Sere, hasil olahan di situ lebih bagus dibanding di TPA lainnya. Banyak akik yang sudah diolah di TPA lain, dibawa ke TPA Toba Na Sere untuk renovasi.
 Ada pun TPA dan komunitas lainnya muncul di kawasan jalan DI Panjaitan, Jalan Hutagalung, Simorangkir, jalan Sipoholon. Dan belakangan Mual Siregar dan isterinya Poppy br Sinambela membuka TPA yang mereka namakan “Tapanuli Gemstone”. Seperti juga TPA Toba Na Sere, Mual Siregar dkk mengutamakan pemunculan batu produk daerah Batak (Tapanuli).
 TPA Toba Na Sere yang dimotori Simatupang dan N Sihombing (Bapak Nando) juga getol melakukan inventarisasi batu-batu berasal dari Tapanuli, khususnya Tapanuli Utara. Menurut mereka, beberapa jenis batu khas sudah dihimpun dari kawasan Kecamatan Pahae Julu/Pahae Jae, Purba Tua, Sipoholon, Tarutung, Adiankoting, Garoga, dan Muara.Dari sekian banyak batu yang dihimpun di TPA ini, tampaknya batu asal Muara cenderung menjadi jenis batu yang dapat dijadikan primadona dari Tanah Batak, namun masih dinantikan kemunculan batu lain yang mungkin lebih bagus dari batu Muara. “Kami memberi nama serat Toba untuk batu dari Muara,” ujar N Sihombing dalam wawancara khusus dengan Majalah Online BATAKINDONEWS.COM Kamis (30/7) di TPA yang ditanganinya bersama Simatupang.
 Kekhususan batu serat Toba dimaksud terdapat pada motif berserat khas, dan kilaunya yang bisa diandalkan. Ada dua warna pada batu Muara ini, hijau dan merah. Bisa tembus cahaya senter.
 “Kami masih lacak bebatuan lainnya yang kemungkinan masih ada yang lebih bagus dari daerah ini, tapi sementara itulah yang eksklusif saat ini, serat Toba, suri-suri, dan batu yang dinamakan sijago-jago,” papar Simatupang didampingi Sihombing. Di atas lemari etalase tampak tulisan "Tersedia
 Hampir setiap hari komunitas di TPA Toba Na Sere ini berkumpul di sana, selain untuk mengolah batu cincin, juga sharing tentang banyak hal mengenai batu akik yang jumlahnya begitu banyak. Di komunitas itu ada Pak A.Hutagaol, PPP Lumbantobing, Menanti Tarihoran, Solo Lumbantobing, David Panggabean, Leonardo Simanjuntak (editor Majalah Online SARINGAR.Net), dan banyak yang lainnya.
 Kini di Tarutung, bukan suatu pemandangan yang aneh atau mengherankan lagi kalau ada pria yang memakai batu cincin ukuran jumbo pada jari tangannya lebih dari satu. Ada yang memakai hingga empat sampai lima, selain juga yang terang-terangan mengenakan liontin tergantung di dada. Tampaknya batu cincin sudah mengarah menjadi semacam simbol seni hias pada diri pengguna, atau mungkin menjadi manifestasi kebanggaan terhadap batu akik yang disukainya untuk diolah. Bukan hal yang mengherankan pula, kalau sudah ada sejumlah penggemar yang telah mengolah batu puluhan buah. Mereka adalah kolektor yang memang senang mengoleksi perhiasan jari tangan itu, meski mungkin ada pula yang gemar mengolah banyak batu untuk bisnis. Yah, itu sah-sah saja. Tapi apapun itu, cincin berbatu akik apalagi batunya indah berkilau dengan motif menarik,  di sisi lain mencerminkan kepribadian personal yang unik. Kalau batu akik dari daerah Batak memang indah kenapa harus membanggakan batu bacan dari Maluku. Sayangnya, atensi pemerintah daerah terhadap fenomena ini tampaknya minim, atau mungkin tak ada sama sekali. (Posting by : Leonardo TS Simanjuntak)

Sabtu, 04 Juli 2015

Tapanuli Gemstone dan Toba Na Sere Hadir di Tarutung



Tapanuli Gemstone di Jalan Smraja Tarutung ikut berkiprah menyahuti fenomena
akik di Indonesia. (Leonardo Smjoentak)


Seorang perajin akik bernama Lubis di Tapanuli Gemstone di Tarutung, sedang
asyik mendesain batu akik sesuai pesanan. (Foto:Leonardo)

Sebagian pendukung Tapanuli Gemstone, dari kiri ke kanan Lizbeth Situmorang
Lambas JJ Matondang, Sianturi, Mual Siregar, Poppy Sinambela, Lubis (teknisi).
(Foto: Leonardo Simanjuntak)
 
Sebagian batu asli (original) bersumber dari Tapanuli yang diolah sebagai sampel
di Tapanuli Gemstone dengan ragam keunikan dan ciri khas. (Foto: SARINGAR/
Leonardo Simanjuntak)

  Batu akik sedang booming di Indonesia. Ya, faktanya begitu. Khususnya sejak awal 2015, fenomena akik itu tak lagi sekadar berita yang diberitakan media, tapi lebih dahsyat lagi diberitakan lewat mulut ke mulut. Maka cerita seputaran akik pun menggurita di mana-mana, dan ke mana-mana. Luar biasa!
 Hampir tiap kota yang disinggahi kompasianer di Sumatera Utara (Sumut) ikut "terlibat" menyahuti fenomena ini. Tak hanya di Medan sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia. Di Pematang Siantar, Tebing Tinggi, Binjai, Sibolga, Padang Sidempuan, dan kota kategori kecil seperti Balige dan Siborongborong, tak mau ketinggalan. Para perajin atau tukang olah batu akik bermunculan di berbagai sudut kota. Dan Tarutung, salah satu kota terbesar di kawasan Tapanuli selain Sibolga dan Sidempuan, dalam beberapa bulan terakhir ikut berkiprah menyemarakkan "gila-gilaan" batu akik yang memang sedang mewabah di seantero negeri ini.
 Awalnya perajin akik di kota ini hanya satu orang di Jalan DI Panjaitan. Orang pun langsung berkerumun, ingin tahu. Kerumunan itu tiap hari bertambah ramai, ibarat menonton pedagang obat kaki lima. Belakangan banyak warga di seputaran Tarutung datang dengan mengusung bongkahan batu masing-masing. Entah dari mana batu itu didapat, dialah yang tahu. Lalu bongkahan batu itu disuruh olah oleh sang perajin. Harga setiap batu cincin yang diolah Rp 40 ribu. Kalau ditambah cincin pengikat yang dinamakan cangkang, Rp 70.000 - Rp 80.000, maka setiap peminat harus merogoh kocek: kena Rp 120.000. Begitu cincin sudah siap, biasanya langsung kenakan di jari manis atau tengah tergantung diameter. Tak jarang si pemesan asyik mengggosok-gosok batu cincinnya dan tak henti-hentinya memandang indah atau tidaknya batu yang baru diolah. "Paten juga batuku ini bah," kata seorang pria paruh baya pada temannya seraya menunjukkan batu cincin yang belakangan dia tahu namanya jenis raflesia Bengkulu.
 Lalu dari hanya satu orang awalnya, dalam tempo sebulan sejak Maret tahun ini, mulai bermunculan pengolah batu lainnnya di berbagai sudut. Tak harus di area perkotaan, di kawasan pinggiran bahkan kawasan desa, perajin akik bermunculan. Setidaknya, hingga akhir Juni lalu, di daerah ini sudah ada sekitar 15 perajin batu akik. Ada yang tampil single, tapi ada juga yang membuka lapak khusus agar kelihatan lebih bonafid, dilengkapi atalase tempat menggelar ragam batu dan cangkang siap olah. Maka tempat yang lebih bonafid ini pun ramai dikunjungi orang. Ada yang cuma sekadar menonton tata cara pengolahan, ada juga yang sengaja membawa batunya untuk dikerjai si perajin. Ragam komentar hingga yang beraroma "bual" pun sering terdengar di tempat pengolahan ini. Setiap hari, semua tempat pengolahan batu akik tak pernah sepi, kecuali pada hari minggu.
 Di pusat kota muncul salah satu usaha perajin akik yang diberi nama Gemstone Toba Na Sere. Pengusahanya patungan terdiri dari beberapa orang pesaham, yakni Naek Sihombing, Fajar Simatupang, Siburian, Sianturi. Di sini pengolahan batu jarang bisa cepat karena harus antre saking banyaknya pesanan. Mereka terobsesi andaikan di kota ini ada yang menggagas diadakannya pameran akik seperti sudah dilakukan Pemda di berbagai daerah. "Kami sedang mencermati secara intensif kalau sudah ada ditemukan bongkahan akik yang benar-benar spesifik dari Tanah Batak, tapi depositnya hendaknya lumayan banyak. kalau itu sudah ada kita pun sudah berani mengadakan pameran." ujar Naek Sihombing bangga. Ia menyebut sudah banyak batu temuan dari daerah Pahae, Garoga, Sipoholon, yang ditemukan, tapi belum ada yang benar-benar berdeposit besar.
 Tak hanya Toba Na Sere. Belakangan, Mual Siregar dan isterinya Poppy br Sinambela di kawasan Simaung-maung Jalan Sisingamangaraja Tarutung, ikutan membuka usaha pengolahan dan bisnis akik yang namanya keren "Tapanuli Gemstone". Mereka menegaskan, usahanya itu mengutamakan pengolahan batu produk Tapanuli, apakah itu dari Sidempuan, Sibolga, atau Toba Samosir dan Tapanuli Utara. Menurut Mual Siregar didampingi Lambas Matondang dan Sianturi, dia telah melalukan perburuan batu ke berbagai pelosok di Tanah Batak. Antara lain, ke Bakkara kampung Raja Sisingamangaraja, kawasan Dolok Pinapan, Dolok Margu, Batu Harang Lintong Ni Huta, dan seputaran Rura Silindung. Dari hasil perburuan itu, Mual menyimpulkan ternyata banyak jenis batu unik dan berkualitas yang bisa diolah menjadi perhiasan, dan jenis batu itu belum tentu ada di daerah lain. "Inilah yang kami coba angkat ke permukaan, dan kita rintis semacam komunitas pecinta batu asal Tapanuli melalui usaha pengolahan ini," kata Mual Siregar.
 Lalu, siapa saja peminat yang menonjol menyangkut hobi batu akik penghias jemari ini? Tak sebatas warga biasa. Para PNS juga banyak. Bahkan dari kalangan anggota Polri dan TNI, ada juga penyuka batu akik, bahkan mengkoleksinya.
 Namun para penggemar akik sudah makin jeli menilai, mana tukang olah yang piawai dan mana yang kerjanya asal-asalan. Artinya, bagi para penggemar yang berpengalaman dalam hal akik, tukang olah batu yang piawai itu setidaknya punya jiwa seni agar bisa memuaskan pemesan. Jeli dan cermat melihat dari sisi mana batu itu diolah supaya nilai estetikanya menonjol. Biasanya pengolah yang sudah ahli, paham betul cara mengolah yang baik. Sedangkan pengolah yang kurang ahli, kebanyakan hanya asal menggerinda batu dan membentuk sesuai ukuran dan tak begitu memahami kemauan pemesan. Hal ini sering membuat pemesan kecewa, sehingga merenovasi batu cincinnya lagi ke tempat lain.
 "Ini hanya hobi semata, karena ini merupakan seni yang menimbulkan rasa senang," ujar seorang kolektor akik di Tarutung. Ragam jenis batu dan keindahannya dianggap kekayaan alam yang pantas disyukuri dan dikembangkan menjadi salah satu asesoris untuk penampilan siapa saja. Nah! Boleh juga tuh pendapat. (Lihat juga tulisan yang sama di Kompasiana/Kompas.Com- Leonardo Ts Simanjuntak)

Senin, 25 Mei 2015

Demam Batu Akik Masih Berlangsung Dimana-mana

Suami isteri ini bersabar menunggu batu bongkahannya siap diolah. Foto ini
diambil SARINGAR di Jalan Letda Sujono,Medan, Mei 2015.

Demam batu akik/giok sudah memasuki bulan ke empat. Tampaknya masih bertahan lebih lama, seperti diperkirakan para "penggila" batu cincin di Medan. "Tampaknya ini belum reda, masih lama berlangsungnya," kata Tan Soey Can dalam suatu perbincangan di Jalan AR Hakim Medan baru-baru ini.
Kaki lima di beberapa jalan utama seperti Jalan Arif Rahman Hakim, Jalan Garuda Mandala, Jalan Letda Sujono, dan lainnya, tampak diramaikan pedagang batu bongkahan dan cangkang (pengikat cincin), selain tukang olah batu. Nyaris tiada hari berlalu tanpa orang-orang yang berkerumun di setiap tempat pengolah batu. Banyak yang spesial hanya menjual bongkahan batu sungai atau gunung. Ada yang mengaku batu itu dari Jambi, Bengkulu, Riau, Palembang. Selain banyak juga yang menjual cincin sudah jadi dengan aneka jenis batu.
Tapi tampaknya lebih banyak orang yang lebih suka mengolah batu yang dibawanya sendiri. Seperti sepasang suami isteri keturunan Tionghoa dalam foto di atas. Mereka dengan semangat mendatangi salah sat pengolah batu akik di Jalan Sujono, untuk dibuatkan cincin. Harga olah per cincin relatif murah Rp 30 ribu, dibanding di Tarutung ada yang pasang tarif Rp 40 ribu per cincin.
Indonesia benar-benar semarak dengan batu cincin. "Ini hanya kesenangan pribadi saja, tak ada niat untuk mengambil untung dengan mengolah batu yang saya bawa," ujar Ramli Sitompul, warga Medan yang mengaku untuk mengolah batu cincin sudah mengeluarkan biaya lebih kurang Rp 3 juta. Dia seorang kolektor batu akik dan giok yang fanatik, bahkan jauh sebelum demam akik yang menjadi fenomena nasional saat ini. (Leonardo TSS)

Sabtu, 02 Mei 2015

Batu Akik Jawa Barat Dipromosikan di Paris


Pameran batu akik unggulan di Semarang  =


 BANDUNG,SARINGAR.Net- Batu akik asal Jawa Barat  dipamerkan di Paris, Prancis, sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia, kata Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Kota Bandung Herlan Joerliawan.

"Statusnya sistemnya undangan, kita diundang untuk pameran di sana. Kita memamerkan kebudayaan Indonesia seperti kesenian, kuliner, dan tempat wisata. Nah disitu sekalian kita pamerkan batu akik," katanya pada ajang Asian-African Gemstone Festival di Balai Kota Bandung, Jumat (24/4).

Pada program pameran di Prancis , dua orang perwakilan dari komunitas batu akik akan dipilih untuk memamerkan batu-batu mulia itu. Selain memamerkan batu akik, pameran itu juga akan menjadi etalase Kota Bandung sebagai kota wisata terfavorit di Indonesia.

Herlan mengatakan Bandung mengikuti pameran di luar negeri agar warga internasional selalu kenal dengan Kota Kembang itu.

"Bandung sekarang kota wisata nomor satu di Indonesia. Di dunia kita urutan 21. Kita coba ke luar negeri untuk mengenalkan terus Kota Bandung ini," katanya.

Dalam acara itu, batu akik tak hanya untuk dijual, namun juga akan dihadiahkan pada 500 delegasi negara yang akan berkunjung pada Sabtu atau Minggu. Nantinya, setiap stan akan menyumbangkan beberapa batu akik mereka. "Mudah-mudahan menjadi salah satu media promosi, supaya Indonesia terkenal akan batu akiknya," katanya.

Seniman ysekaliang gus kolektor batu akik, Dadang Usman, yang akrab disapa Ki Daus mendukung diadakannya pameran batu akik di Prancis.Ia berharap, negara-negara lain bisa melirik bahwa Indonesia memiliki berbagai jenis batu akik, yang bukan permata, namun berharga.

"Batu akik itu unik, ia punya berbagai macam corak tersendiri. Harganya pun tidak terbatas pada mahal dan murah, karena ada dari mulai puluhan ribu hingga jutaan," katanya. [ant)

Jumat, 01 Mei 2015

Akik Sigeaon Itu Setara Raflesia Bengkulu





Red raflesia dan yellow raflesia jenis akik bergengsi. Batu warna kuning
itu tak beda dengan akik yang ditemukan di Sungai Sigeaon Tarutung.
(Okezone)
  Batu akik yang ditemukan anak muda Tarutung dari Aek (sungai) Sigeaon baru-baru ini (baca artikel SARINGAR.Net sebelum ini), diduga kuat setara dengan batu jenis cempaka (chalcedony) yang juga lebih populer disebut raflesia. Menurut pencarian di google, raflesia banyak ditemukan di Bengkulu. Ada beberapa warna khas raflesia, terutama raflesia merah dan raflesia kuning (yellow reflesia). Berdasarkan foto-foto raflesia yang ditayangkan di internet (okezone.com), seorang penggemar akik di Jakarta bernama Margan Simanjuntak menyebut akik yang ditemukan di Tarutung itu identik dengan raflesia kuning yang terdapat di Bengkulu. Margan telah menempah bongkahan kecil akik Sigeaon itu pada perajin akik di Jakarta, dan perajin itu langsung menyimpulkan," Lho, ini jenis raflesia yang ada di Sumatera". Tapi tidak menyebut secara spesifik, bahwa raflesia kuning itu hanya ada di Bengkulu. Pokoknya akik seperti itu katanya ada di Pulau Sumatera dan sudah terkenal secara internasional sejak dulu. (Bandingkan juga gambar raflesia kuning yang ditayangkan Okezone.com dengan gambar akik Sigeaon setelah diolah). Hasil olahan di Jakarta memang jauh lebih baik dari olahan yang ramai di daerah saat ini. Perajin akik jakarta sudah profesional, sedangkan yang muncul di daerah saat ini dikatakan "perajin kagetan". Berikut selintas catatan tentang akik raflesia seperti dikutip dari Okezone.com serta gambar lampirannya di atas:
 
  Provinsi Bengkulu tak kalah dengan daerah lain di Indonesia soal keberadaan bongkahan batu akik. Di provinsi ini ada bongkahan batu akik jenis cempaka (chalcedony) yang disebut dengan Rafflesia.
Rafflesia sendiri terdiri dari empat jenis, yakni Red Rafflesia (batu akik merah), Yellow Rafflesia (kuning sunkis), White Rafflesia (bening kinyang), dan Orange Rafflesia (cempaka limau manis).
"Harga bongkahan batu akik Rafflesia mulai Rp500 ribu hingga Rp5 juta per kilogram," kata pencinta dan pelestari batu akik nusantara, Parulian May Putra Sinaga, kepada Okezone, Rabu (18/3/2015).
Menurutnya, batu akik Rafflesia memiliki kualitas kristal tinggi dan bersih. Lebih baik bila dibandingkan dengan batu akik cempaka Musi Rawas Utara (Muratara) yang kualitas bersihnya sulit diperoleh.
"Chalcedony Muratara mulai dikenal di nusantara, begitu juga dengan chalcedony Rafflesia yang sudah terkenal di seluruh nusantara, bahkan mancanegara," jelas pria yang akrab disapa Rian ini.
Kualitas chalcedony dapat dilihat dengan rumus empat C, yakni carat (berat), clarity (kebersihan), cristal (tingkat kebersihan), dan colour (warna) dari Chalcedony itu sendiri.
"Setiap batu memiliki nilai masing-masing, yang jelas, keunikan chalcedony Rafflesia dan chalcedony Muratara sama-sama memiliki fenomena cat eye atau giwang," pungkasnya.

Kamis, 26 Maret 2015

Fantastis ! Akik Bergambar Kakbah Ditawarkan Rp 25 Miliar



Batu akik bergambar Kakbah ditawarkan Rp 25 miliar. Astaga , mahalnya ! =

 SARINGAR.Net - Ternyata masih ada batu cincin  yang lebih mahal dari batu akik janggus  bergambar naga di Langkat Sumut yang ditawarkan Rp 18 miliar (lihat SARINGAR.Net 13 Februari 2015).  Sebuah batu berjenis rubi asal Burma (kini Myanmar), bergambar kakbah dengan siluet orang sedang menunaikan salat, dengan posisi duduk di antara dua sujud membuat heboh Kontes Batu Akik Internasional Wirabraja 2015 di Sumatera Barat. Pihak Museum Rekord Indonesia (MURI) bisa terperangah ke sekian kalinya dengan penawaran akik yang spektakuler ini.

 Bagaimana tidak, batu berukuran medium ini dipatok dengan harga fantastis senilai Rp25 miliar. "Saya ingin buat pesantren kalau laku nanti," ujar Buya Fakhruddin, Selasa 24 Maret 2015.

 Sebelumnya, sudah ada yang menawar batu tersebut dengan harga Rp5 miliar. Namun, belakangan ini ada seorang penyuka batu fantastis dari kebangsaan Timur Tengah, hendak menawarnya dengan harga tidak jauh berbeda dengan harga yang ditawar sebelumnya.

"Kini, masih proses negosiasi dulu. Mudah-mudahan jadi," ujarnya.

 Batu langka ini didapat Fakruddin pada lima tahun lalu dari salah seorang pedagang dari Jakarta, yang berkebangsaan Arab. Keberuntungan luar biasa, diperoleh dari pedagang batu, tahu-tahu harganya selangit ( kalau sudah terjual).

Sementara itu, salah seorang dewan juri dari Gemstone Indonesia, Ery Artanto, mengatakan bahwa batu milik Buya Fakhruddin tersebut, diakui memang terbilang langka.

"Corak dan motifnya, saya rasa cuma satu-satunya di dunia. Kalau soal harga, itu hak pemiliknya. Cuma yang jelas, batu itu memang langka," ujar Artanto.
 Para penggemar atau penggila batu cincin, rajinlah dan cermatlah mencari dan memilih batu aneh bergambar. Siapa tahu kelak akan ada pula batu cincin bergambar Yesus atau Nabi Musa, bisa harganya triliunan, bukan lagi miliaran.  (viva/LTSS)