Tampilkan postingan dengan label Romantikana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Romantikana. Tampilkan semua postingan
Senin, 07 November 2016
Taput Akan Steril Dari Kupu-Kupu Malam
Ingat lagu "sikupu-kupu malam" ciptaan Titiek Puspa.Konotasi kupu-kupu malam menjadi gambaran para wanita penghibur atau kasarnya PSK yang tak asing lagi di dunia gemerlap (dugem) yang terkait erat dengan kehadiran tempat-tempat berbau mesum semisal kafe,diskotik.
Di Taput yang sejak 1999 dicanangkan bupati RE Nainggolan sebagai daerah wisata rohani dan secara khusus wilayah Silindung, sudah cukup lama disoroti masyarakat luas dengan kehadiran kafe yang ditengarai mengoperasikan "kupu-kupu malam". Awalnya hanya satu kafe yang populer dengan sebutan Sarajevo. Belakangan kafe sejenis makin banyak bermunculan di sekitar jalinsum Pahae,jalan Sibolga,Siborongborong dan kawasan lainnya.
Bupati Tapanuli Utara rupanya tersentak ketika belum lama ini ada protes keras dari warga Pancurnapitu dan Pahae mengusung keresahan atas kehadiran kafe-kafe di sana. Mereka pun minta dengan tegas agar Pemkab Taput menutup kafe tersebut.
Nikson Nababan tak berpikir terlalu lama merespon. Sehari setelah demo warga itu, tim pemkab langsung turun ke lokasi dan langsung memerintahkan agar kafe dimaksud segera tutup.
Beberapa hari setelah aksi pemkab itu,rupanya bupati Nikson mendengar kalau masih ada pemilik/pengusaha kafe yang membandal
Nikson pun geram. Pada Sabtu malam (5/11), ia melakukan sidak ke arah Pancurnapitu dan jalan Sibolga mengecek apa masih ada kafe itu yang buka. Ternyata benar. Masih ada kafe yang belum melaksanakan penutupan kafenya. Pada malam itu juga aparat Satpol sigap mengamankan sejumlah peralatan yang ada di kafe. Begitu juga para kupu-kupu malam yang terjaring.
"Bupati menginginkan daerah wisata rohani ini steril dari segala macam bentuk kegiatan yang bertentangan dengan nilai nilai kerohanian", ucap seorang pejabat mengomentari.(Sumber foto: fb)
Senin, 22 Februari 2016
Bah, Aha Muse On ! Ibu Ini Menikahi Putranya Sendiri Setelah Dihamili
BATAKINDONEWS.COM -
Bagi suku yang sangat pantang menerima perilaku perkawinan sedarah (incest) seperti orang Batak Toba, pastilah kasus seperti ini akan mengundang caci atau sumpah serapah. Jangankan perkawinan sedarah, sedangkan pernikahan sama marga juga dipantangkan. Bahkan masih ada kelompok marga di Tanah Batak yang masih melarang perkawinan marga yang tergabung dalam kelompok itu.
Tetapi, begitulah dunia ini. Makin hari makin banyak peristiwa aneh
terjadi. Seorang ibu di Zimbabwe membuat keputusan yang sangat tidak
bisa diterima orang kebanyakan. Perempuan berusia 40 tahun ini
memutuskan untuk menikahi anaknya sendiri yang kini berusia 23 tahun.
Kabar pernikahan inses ini membuat dunia geger. Perempuan yang
bernama Betty Mbareko ini kini tengah mengandung enam bulan hasil
hubungannya dengan anaknya sendiri. Betty mengandung anak sekaligus
cucunya sendiri.
Seperti dilansir butthatsnoneofmybusiness.com perempuan itu telah
menjanda selama 23 tahun karena suaminya meninggal. Karena tak punya
suami, banyak saudara-saudaranya yang mengajaknya berhubungan seks.
Namun ia menolaknya.
Setelah dituduh melakukan inses, ia mengatakan di pengadilan bahwa ia
berhak menikahi anaknya karena ia selama ini yang membiayai hidup dan
sekolahnya selama bertahun-tahun. Dan dia tak ingin ada wanita lain yang
mendapatkan keuntungan dari anaknya.
Farai Mbereko pun tak menolak perniakhan inses ini. Ia
sungguh-sungguh ingin menikahi ibunya. Dan ia pun bersedia membayar
utang-utang yang ditinggalkan ayahnya.
Sementara itu pemimpin setempat, Nathan Muputirwa mengatakan,
sebenarnya dia melarang hal itu terjadi di wilayahnya, ini adalah hal
terburuk yang tak boleh dilakukan. Dia lalu menceritakan bahwa zaman
dahulu jika terjadi perkawinan inses pelaku harus dibunuh. "Tapi
sekarang kita tak bisa melakukan itu, karena takut pada polisi,
"katanya. (citizen6-lip6)
Sabtu, 23 Januari 2016
Kasih Sayang Monyet Pada Anak Anjing
Cinta dan kasih sayang bukan monopoli manusia semata, karena hewan juga bisa merasakannya. Di Rode, India, misalnya, penduduk setempat tersentuh oleh belas kasih seekor monyet yang bersedia mengadopsi anak anjing yang hidup sebatangkara. Masyarakat yang melihat itu awalnya merasa aneh, tetapi cinta dan kasih sayang antara kedua hewan itu tidak dapat ditolak.
Seperti yang ditulis dalam zeenews, Jumat (22/1/2016), “Kasih sayang abadi antara monyet dan anak anjing menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi manusia.” Perbedaan bukan lagi menjadi alasan bagi ungkapan rasa cinta dan kasih sayang. Monyet telah menunjukkan bahwa kasih sayang tidak memiliki batas. (lip.6)
Selasa, 19 Januari 2016
Ibu Ini Berteriak Ratusan Kali Setiap Hari
| Mama Indri berteriak "tahuuu" sambil menyorong kereta sorongnya pada siang terik. |
![]() |
| DEmi hidup harus membawa anak di dalam gerobak sorong (beko) |
| Mama Indri aktif setiap hari melayani pelanggan tahunya. Perempuan yang ulet! |
![]() |
| Mama Naomi br Hutabarat bersama anak kecilnya melayani pelanggan |
BATAKINDONEWS.COM - Beragam cara manusia untuk memperjuangkan hidup tetap survive. Banyak isteri tidak harus bergantung pada suami mencari nafkah. Sebaliknya ada juga isteri yang terlalu bergantung pada suami, hanya menjadi ibu rumah tanggga menjagai anak. Soal biaya hidup, serahkan pada suami. Di sisi lain, ada juga isteri yang sungkan karena perasaan harga diri atau malu.
Foto yang direkam BATAKINDONEWS di atas, adalah tipe isteri kategori pertama. Tak harus diucapkan, tapi mereka sadar betul kalau hidup ini adalah perjuangan atau pergumulan.Struggle for life. Kalau memang bisa, dan rasa malu atau gengsi itu harus disingkirkan, ya kenapa tidak.
Tidak banyak isteri yang mau memilih cara mencari duit seperti yang dikerjakannya sekarang. Dua ibu muda warga Tarutung ini kebetulan masih keluarga dekat dari suami marga Datubara yang abang beradik. Sehari-harinya mulai pagi jelang siang hingga jelang sore, harus berjalan kaki menjajakan tahu mulai dari kawasan kota Tarutung hingga ke pelosok dusun. Mereka juga seperti menyadari, dagangannya kurang laku kalau bungkam. Maka ibu-ibu muda ini pun harus rajin berteriak "tahuuuu, tahuuuu..." sambil menyorong gerobak bekonya. Terkadang suara mereka terdengar parau, seolah pita suara mengalami penurunan karena terlalu banyak diforsir. Bagi warga dusun di Desa Parbaju Julu misalnya, teriakan kedua ibu ini akan terdengar lengkingannya dari jarak 100 hingga 200 meter, saking kuatnya mereka meneriakkan "tahuuuu. tahuuuuu..." Kalau dikalikan dalam sebulan, tak terhitung lagi berapa ribu atau berapa puluh ribu kali mereka harus berteriak untuk melariskan tahu dagangannya.
Lalu bagaimana dengan anak-anak yang masih kecil. Nah, ini juga beban yang harus diatasi dengan lapang dada. Tak ada yang menjagai di rumah karena suami juga kerja, apa salahnya setiap berangkat dari rumah sekalian saja anak itu ikut dimasukkan ke dalam gerobak (lihat foto). Kedua inu muda ini, sebut saja namanya Mama Indri boru Simanjuntak dan Mama Naomi boru Hutabarat, tampak setiap harinya menguras keringat mendorong gerobak dan anaknya keliling jalan raya hingga pelosok dusun.
Berapa banyak tahu yang setiap hari dijajakan? Kata Mama Naomi yang berkulit hitam manis, terkadang 200 potong tahu diusahakan terjual habis. Tahu itu mereka langgani dari pabrik pembuatnya. Untungnya pun tipis. Tapi daripada hanya duduk di rumah, lumayanlah untungnya menambah pendapatan suami.
Setiap mama Naomi melintas, setiap teriakannya membahana menembus kesunyian dusun, para ibu yang sedang berada di sawah ladang atau di dalam rumah, segera tahu siapa yang datang. Umumnya kaum ibu di desa suka beli tahu, karena dianggap lauk praktis yang murah bergizi. Saat ibu muda penjual tahu ini muncul, ibu-ibu yang sedang di sawah pun keluar dari lumpur untuk membelinya. Banyak warga dusun sudah jadi pelanggan Mama Indri dan Mama Naomi.
Tahuuuuuu....tahuuuuu.......! Kalau satu hari salah satu dari wanita ini tak muncul dan berteriak, tentu akan menimbulkan pertanyaan: Kenapa ya dia tak datang..... (Teks dan foto: Leonardo TSS)
Sabtu, 29 Agustus 2015
Semangat Merdeka, Udin pun Sampai di Puncak
| Berjuang,berjuang menerobos tantangan |
Semangat merdeka? Atau hanya sekadar semangat menguji nyali dan kebanggaan menjadi orang nomor satu mendapatkan hadiah. Boleh jadi, apa saja nama semangatnya. Foto di atas adalah bagian dari momentum keriangan generasi muda setiap menyemarakkan HUT Kemerdekaan RI 17 Agustus. Banyak komunitas warga yang secara spontan menyelenggarakan lomba panjat pinang dengan ragam hadiah yang diperagakan di puncak pinang yang batangnya dilumuri minyak pelumas, seperti halnya lomba panjat pinang yang diadakan di tanggul Aek Sigeaon Km 2 Tarutung-Sipoholon ini. Ramai memang setiap HUT Kemerdekaan di kota ini. Habis, mau kemana lagi. Tarutung dan Sipoholon itu minus hiburan. Memang ada tontonan menarik lainnya Hoda Marsiadu (pacuan kuda) atau motor cross di Siborongborong, tapi tak sertamerta semua orang ke sana, dengan berbagai alasan. Nah, dari pada bengong atau cuma melihat kerumunan orang ramai yang hilir mudik di berbagai pelosok kota, kebanyakan lalu memilih nongkrong menonton lomba panjat pinang. Lumayan, cukup terhibur, apa lagi tontonan gratis, siapa tak mau.
Jumat, 22 Mei 2015
Kemerdekaan Semu di Garoga, Jalan Provinsi Rusak Parah Hambat Kemajuan
| Nikson Nababan memberi wejangan pada warga di Desa terpencil di Kecamatan Garoga.(rel) |
SARINGAR.Net - Bupati
Tapanuli Utara Nikson Nababan merasa
sangat prihatin saat melakukan kunjungan kerja ke Kecamatan Garoga Desa Garoga
Sibargot, desa yang masih sangat terpencil. Bupati langsung bertatap muka
mendengar keluhan masyarakat secara di desa Garoga Sibargot Dusun Pagaran
Padang, Kamis (21/5). Warga antusias dan penuh harap bakal ada perubahan dengan
kedatangan bupati ini.
“Saya benar-benar tersentuh dan
prihatin melihat masih ada daerah kita yang untuk menikmati listrik dan
pelayanan kesehatan pun masih sangat sulit. Ini menjadi beban tersendiri bagi
saya, apalagi setelah melalui jalan Garoga sepanjang 32 km, dimana jalannya
rusak parah, tidak layak lagi dan sejak tahun 2002 tidak ada lagi sentuhan
untuk memperbaiki jalan ini. Masyarakat sangat mengharapkan perbaikan jalan
ini, jalan Garoga ini status jalan propinsi, masyarakat sangat menantikan
perhatian Pemerintah Propinsi,” ujar Nikson ketika menyampaikan bimbingan/wejangan kepada warga setempat.
Nikson mengatakan bahwa
Kecamatan Garoga memiliki potensi yang sangat luar biasa, tanahnya yang subur
dan hasil pertanian yang bagus, tetapi kondisi jalan yang tidak memungkinkan
menjadikan kondisi masyarakat Garoga saat ini memperihatinkan. “Saya miris,
sedih dan sangat tersentuh dengan keadaan ini. Masyarakat di Desa Garoga
Sibargot ini juga belum menikmati adanya listrik, belum ada pelayanan kesehatan
berupa poskesdes atau pustu dan juga bangunan sekolah yang belum memadai. Saya
juga tadi sudah mendengar keluhan masyarakat mengenai kesulitan mengurus KTP,
Akte lahir, Kartu Keluarga dan surat-surat lainnya karena jarak yang sangat
jauh dari desa tersebut ke ibukota Kabupaten. Karenanya saya menegaskan minggu depan dari pihak Dinas Catatan Sipil
akan melakukan pelayanan di desa ini melalui pelayanan mobil keliling catatan sipil
,” tandas bupati yang baru setahun memimpin pemerintahan di kabupaten itu.
“Kondisi ini harus segera kita
atasi. Untuk daerah sangat terpencil kita sudah memberikan insentif sebesar
sebulan gaji untuk mendorong semangat dan memberikan motivasi bagi guru yang
mengajar di desa sangat terpencil. Masyarakat juga sudah menyerahkan tanah
untuk lokasi pembangunan poskesdes, ini akan segera ditampung di P-APBD Tahun
Anggaran 2015. Bangunan sekolah yang saat ini hanya terdiri dari 3 (tiga)
ruangan kelas akan segera kita tampung di P-APBD dan jalan-jalan tani yang
menghubungkan lokasi pertanian dengan tempat memasarkan hasil pertanian adalah
harga mati yang akan kita buka dan minimal perkerasan dan di aspal,” ujar Bupati
.
Bupati langsung mendengarkan
keluhan, masukan dan permohonan masyarakat dari 7 (Tujuh) Dusun, yakni Dusun
Pea Ombun, Dusun Sibargot, Dusun Pagaran Padang, Dusun Pasar Garoga, Dusun Bulu
Payung, Dusun Aek Horsik dan Dusun Sirpang.
Ketua DPRD Taput Ir.
Ottoniyer Simanjuntak dalam sambutannya menyampaikan bahwa pihak DPRD
Taput akan selalu mendukung semua program Pemerintah Kabupaten Taput selagi
program tersebut berpihak kepada rakyat. Kita akan perjuangkan anggaran yang
diperuntukkan bagi kemajuan masyarakat di Desa Garoga Sibargot. “Saya juga
berharap masyarakat Desa Garoga Sibargot turut berpartisipasi dalam pembangunan
guna memajukan daerah kita ini. Kita harus bersama-sama mencapai kemajuan itu,
kami tidak bisa tanpa ada dukungan masyarakat, begitu juga sebaliknya. Bersama
kita bisa,” ujar Ottoniyer.
Bupati juga
memberikan pencerahan dan pelatihan tentang pupuk organic dan pakan ternak
organic sekaligus memberikan bantuan berupa pupuk organic dan alat pengusir
hama monyet melalui Kantor Ketahanan Pangan yang dipimpin oleh Sofyan
Simanjuntak.
Kunjungan kerja Bupati
sekaligus memberikan pelayanan kesehatan gratis yang difasilitasi oleh Dinas
Kesehatan Taput. Di samping pelayanan kesehatan, Bupati juga menyerahkan bantuan
berupa buku tulis bagi siswa/I yang ada dari tujuh dusun tersebut. Dalam
kunjungannya, Bupati didampingi oleh Ketua DPRD Taput, Ir. Ottonyer Simanjuntak
dan sejumlah anggota dewan lainnya.
Salah seorang warga terdengar berkomentar pada warga lainnya usai bupati menyampaikan arahan, "Kita ini sudah mau 70 tahun merdeka, tapi kemerdekaan ini seperti kemerdekaan semu, karena seolah-olah ada penganaktirian pusat dan provinsi pada daerah Garoga."
Warga temannya ngobrol, mengangguk sambil berkomentar," Kemerdekaan yang semu atau bayang-bayang kalau begitu,ya..." (Leonardo TSSimanjuntak)
Warga temannya ngobrol, mengangguk sambil berkomentar," Kemerdekaan yang semu atau bayang-bayang kalau begitu,ya..." (Leonardo TSSimanjuntak)
Selasa, 24 Maret 2015
Dibekukan, LSM Yang Mengganggu Ketertiban Umum
Menganggu Ketertiban Umum, LSM Ladec Dibekukan
Oleh : Putra Zulfirman | 19-Mar-2015, 11:51:21 WIB
BATAKINDONEWS.Com - Langsa- Dinilai telah menimbulkan keresahan masyarakat, konflik sosial dan mengganggu ketertiban umum, Lembaga Swadaya Masyarakat Langsa Development Committee (LSM Ladec), akhirnya dibekukan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Langsa.
Keputusan pembekuan keberadaan dan operasional LSM Ladec, tertuang dalam hasil rapat yang dihadiri unsur Forkominda, Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), Tgk Rusli Nya’an, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), DR H Zulkarnain MA, Pasi Intel Kodim 0104/Aceh Timur, Kapten CPM Lili Fitriadi, Kasat Intel Polres Langsa, Iptu Jamaluddin, dan Kasi Intel Kejari Langsa serta Ketua LSM Ladec, T Jamalul Iqbal SH, sekretaris, Ambo Asse Azis dan beberapa pengurus lainnya.
Kepala Badan Kesbangpol Kota Langsa, Agussalim dalam keterangannya, Kamis (12/3) mengatakan, dilarangnya kegiatan LSM Ladec dikarenakan mereka tidak mampu memperlihatkan struktur organisasinya di tingkat pusat.
Selain itu, rekrutmen anggota yang dilakukan Ladec di setiap gampong (desa-red) tidak berkoordinasi dengan keuchik (kepala desa) dan camat di lingkup pemerintah Kota Langsa. “Sejauh ini, mereka tidak mampu memperlihatkan struktur organisasi di tingkat pusat. Hanya mampu menunjukkan keberadaan tunggal pimpinan Ladec, Mahmuddin yang berada di tingkat provinsi,” jelas Agussalim seraya menambahkan, atas dasar itu, Pemko Langsa melarang Ladec melalukan aktivitas di wilayah Kota Langsa.
Merebaknya gerakan LSM di seluruh penjuru Nusantara memang sudah menjadi fenomena sosial, seperti halnya pertumbuhan media cetak dan wartawan secara kuantitas. Dari satu sisi ini dianggap banyak pihak secara positif terkait peningkatan elemen sosial kontrol. Tapi di sisi lain ditanggapi banyak pihak pula dari sudut negatif, karena terkesan keberadaan LSM sudah menjurus pada hal-hal yang bisa mengganggu kinerja instansi pemerintahan, bahkan sudah menimbulkan keresahan terutama di kalangan sekolah-sekolah. Di Sumatera Utara sering terdengar keluhan kepala-kepala sekolah karena di saat jam belajar pun sering didatangi oknum mengaku dari LSM ini dan LSM itu. Bahkan ada guru merasa kinerjanya sudah terganggu karena seringnya oknum mengaku LSM datang seperti mencari-cari pasal kesalahan dengan lagak aparat pemeriksa. Tapi kata beberapa guru kepada blogger, ujung-ujungnya juga minta bantuan uang minyak dan biaya makan. Bah !
(Harian Online KabarIndonesia)
Selasa, 10 Maret 2015
Bah! Jokowi pun Dihadiahi Cincin Batu Akik di Aceh
| Presiden Jokowi mengamati cincin berbatu akik yang diberikan warga di Sabang = |
SABANG, SARINGAR.Com —
Presiden Joko Widodo mendadak menghentikan perjalanan dalam rangkaian
kunjungan kepresidenan saat hendak bertolak ke Bendungan Paya di Kota
Sabang, Aceh, Selasa (10/3/2015). Mobil RI-1 yang ditumpanginya pun
berhenti dan menepi ke sebuah perkampungan warga Desa Paya Seunara.
Belasan pejabat kemudian terburu-buru mengikuti langkah cepat Jokowi
yang masuk menelusuri jalan setapak bebatuan ke perkampungan warga. Di
sana, Jokowi berdialog dan membahas mengenai pembebasan lahan untuk
perkampungan Bendung Paya yang hampir jadi."Jadi, sekarang maunya apa?" tanya Jokowi.
"Ya, begini, Pak. Kami ini di sini, karena bendungan belum jadi, airnya melimpah kemari kalau hujan. Banjir sampai 1 meter," ungkap Zaini selaku Ule Jurung atau kepala desa setempat.
Jokowi mengambil kesimpulan bahwa ada permasalahan karena warga merasa tidak cocok dengan harga ganti rugi yang diberikan pemerintah. Namun, Zaini buru-buru meluruskan bahwa sebenarnya warga sudah sepakat dengan harga ganti rugi, tetapi pencairan tak juga dilakukan oleh pemerintah daerah.
Jokowi kemudian berdiskusi dengan Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam Abdullah Zaini dan Wali Kota Sabang Zulkifli Adam. "Ya sudah, berarti tidak ada masalah di sini. Nanti akan cepat diselesaikan oleh pemerintah," kata Jokowi.
Dialog hanya berlangsung sekitar 10 menit. Jokowi yang didampingi Menteri Pekerjaan Umum Basuki Hadimoeljono, Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto, dan Menteri Koordinator Kemaritiman Indroyono Soesilo lalu bergegas masuk ke dalam mobil. Namun, warga tiba-tiba mencegat Jokowi dan memberinya kenang-kenangan berupa cincin dengan hiasan batu.
"Ini batu giok lavender dari Meulaboh, kenang-kenangan dari saya. Semoga Bapak ingat sama Waduk Paya di sini," ucap Marzuki, warga tersebut, sambil memberikan cincin itu kepada Presiden.
Jokowi menerima cincin dengan batu berwarna abu-abu tersebut. Ia kemudian masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan ke Bendungan Paya. Tak dijelaskan dalam berita media, apakah Jokowi tertarik atau senang dengan cincin hadiah dari warga tersebut. (kps.com)
Senin, 09 Maret 2015
Di Halmahera, 2 Ton Batu Bacan Jadi Bahan Membuat Jembatan
SARINGAR.Net, Ternate - Menjadikan batu akik
sebagai koleksi batu mulia mungkin itu biasa. Namun bagaimana jadinya jika batu
akik dijadikan sebagai bahan baku pembuatan jembatan penghubung? Di Labuha,
Halmahera Selatan, Maluku Utara, batu bacan dijadikan bahan dasar pembuatan
jembatan penghubung dua desa. Hampir semua
lantai dasar jembatan yang menghubungkan Desa Amasing Kota Utara dan Desa
Amasing Kota Bara menggunakan batu bacan. Jembatan yang panjangnya 38 meter dan
lebar 6 meter itu sedikitnya membutuhkan ribuan bongkahan batu bacan.
Muhammad Abusama, tokoh masyarakat Desa
Amasing, mengatakan pembuatan jembatan dengan menggunakan batu bacan dilakukan
sebagai simbol kebersamaan masyarakat Halmahera Selatan. Penggunaan batu bacan
sebagai bahan baku jembatan untuk menguatkan identitas Halmahera Selatan
sebagai daerah penghasil batu akik terbaik.
"Tetapi yang paling dasar dari
pembangunan jembatan ini adalah menghubungkan kedua desa untuk saling
bersilaturahmi dan menjalankan ibadah di Mesjid Kesultanan Bacan," ujar
Muhammad kepada Tempo.
Menurut Muhammad, selain batu bacan, batu
mulia dari Pulau Kayoa dan Obi Halmahera Selatan digunakan warga untuk membuat
dinding jembatan. Hal itu dilakukan sebagai bentuk kepedulian masyarakat
terhadap keberadaan batu mulia lain di Halmahera Selatan.
"Kalau dihitung, kurang-lebih 2 ton
batu bacan dan obi yang digunakan untuk membangun jembatan. Semua material batu
bacan yang digunakan berasal dari dari Desa Palamea, Doko, dan Bisori Pulau
Kasiruta," ujar Muhammad.
Ikbal Bafaqi, warga Labuha, menuturkan, sejak
pamor batu bacan naik, jembatan ini mulai banyak dikunjungi wisatawan. Tak
sedikit orang yang datang ke Labuha untuk menyempatkan diri berfoto dan
mengabadikan jembatan tersebut. Makanya, tak heran, jembatan yang menghubungkan
dua desa ini mulai dijadikan obyek wisata.
"Hampir setiap hari selalu ada saja
wisatawan yang datang untuk melihat jembatan ini. Tak sedikit orang berkunjung
menaruh kagum. Masyarakat di sini pun mulai merawat dan menjaga jembatan
tersebut," kata Ikbal.
Fernando Simanjuntak warga Kao Halmahera Utara asal Tapanuli Utara saat pulang ke kampung halamannya baru-baru ini membenarkan hal itu pernah didengarnya. Mungkin saja supaya tampak lebih nyata Maluku Utara itu punya potensi besar batu akik, sebut dia. Batu bacan dari daerah itu sudah lama terkenal kemana-mana, tak hanya di Indonesia juga secara internasional. (Tmp)
Rabu, 25 Februari 2015
FOTO NEWS: Jembatan Goyang Hanyut,Jembatan Senggol Gantinya...
| Jembatan goyang Dusun Lumbanrihit yang baru pengganti yang hanyut. (LTSS)= |
Jembatan atau titi penyeberangan seperti dalam gambar ini merupakan jembatan spesifik yang masih eksis di berbagai tempat. Di kawasan Rura Silindung, Kabupaten Tapanuli Utara, jembatan berciri khas seperti ini dinamakan "jembatan goyang" atau "jembatan senggol'. Istilah jembatan senggol pertama kali muncul pada masa PRRI tahun 1958. Ketika itu pasukan Batalyon 330 Siliwangi yang turun ke Sumatera untuk memadamkan api pemberontakan PRRI, membuat sebuah jembatan plus penyeberangan di Aek Sigeaon, tepatnya di pertengahan antara dua jembatan permanen buatan Belanda di Tarutung.
Jembatan buatan Siliwangi terbuat dari kayu dengan lebar hanya lebih sedikit dari satu meter. Tiang penopang di dalam sungai juga hanya beberapa tiang bulat, sepintas hanya sebuah jembatan darurat. Ketika orang melintas dari jembatan menuju tanggul di sebelah timur (kompleks HKI), jembatan pasti bergoyang, sehingga banyak orang melintasinya dengan perasaan "deg-deg an". Kemudian muncullah sebutan "jembatan senggol" untuk jembatan kecil itu. Mungkin karena saat beberapa orang melintasinya, saling senggol karena sempit dan goyangan. Cukup lama jembatan senggol bertahan, sampai kira-kira tiga tahun sebelum kemudian hanyut diterjang banjir Aek Sigeaon.
Di seputaran Rura Silindung, hingga kini masih ada beberapa titi gantung atau jembatan senggol yang dimanfaatkan masyarakat desa menyeberangi sungai. Seperti halnya di Desa Hutabarat Topi Aek atau Rampa. Sejak dulu sebuah jembatan goyang tetap berperan untuk warga yang menyeberangi Aek Situmandi. Tapi konstruksinya sudah lebih permanen dengan tiang besi dan kabel besar. Meski tetap bergoyang saat dilalui, tapi terasa lebih aman. Selain itu jembatan gantung juga ada di Hutagalung Harean, begitu juga di Desa Lumbanrihit Sipoholon. Jembatan Lumbanrihit selama puluhan tahun berperan menjadi prasarana penyeberangan umum dari Jalan Lintas Sumatera menuju dusun Lumbanrihit. Dusun itu adalah kampung Johnny Simanjuntak alm yang pernah jadi anggota DPR-RI dua periode zaman Orba.
Pada Desember 2012, hujan deras di kawasan Humbang dan Silindung berkepanjangan, membuat air sungai Sigeaon meluap. Bahkan ada banjir bandang dari arah Sipoholon membawa potongan-potongan kayu besar. Air deras dengan dahsyat menghajar jembatan goyang yang ditopang tiang besi itu, menghanyutkannya pada malam hari tanpa menyisakan apapun kecuali tanggul semen di kedua sisi barat dan timur. Sejak itu beberapa bulan warga yang ingin masuk dan keluar via jembatan goyang itu harus menempuh jalan memutar dari Simanare Sipoholon atau masuk dari kota (Naheong). Anak sekolahan SD dari Desa Parbaju terpaksa tiap hari harus diangkut berkeliling dari kota atas bantuan pemerintah setempat.
Beberapa waktu kemudian, pemerintah mengucurkan dana untuk mengganti jembatan goyang hanyut itu. Warga sempat berharap pemerintah akan membuat jembatan permanen, apalagi Lumbanrihit itu kampungnya Fernando Simanjuntak, Ketua DPRD Taput ketika itu. Tapi ternyata jembatan penggantinya masih tetap dengan format jembatan bergoyang, malah lebih goyang dari jembatan yang hanyut entah kemana. Hal itu membuat seorang ibu berkomentar setengah guyon saat menyeberanginya." Bah jembatan goyang nunga maup,jembatan senggol panggantina,ate..."
Selasa, 24 Februari 2015
Suku Polahi di Gorontalo, Sang Ibu Boleh Kawin Dengan Anak Kandung...
Wahai ibu-ibu, kebayang nggak anda kawin
dengan anakmu yang laki-laki ? Mungkin anda merasa risih dan tidak akan
enak berumah tangga dengan anaknya sendiri. Akan tetapi itu tidak akan
terjadi untuk Suku Polahi di pedalaman Gorontalo. Mereka sampai saat ini
- seperti dikutip dari web regional.kompas.com - justru kawin dengan sesama saudara sekandung. Kalau di India yang terjadi adalah Wanita Menikah Dengan 5 Pria Bersaudara. Eh kalau ini lebih dahsyat lagi.
Untuk masyarakat umum seperti kita-kita ini, menikah / kawin dengan saudara kandung adalah
merupakan sebuah pantangan, dan bahkan tidak bisa ditoleransi. Tetapi,
hal itu tidak berlaku bagi suku Polahi di pedalaman Gorontalo. Hingga
saat ini mereka justru hanya kawin dengan sesama saudara mereka.
Apa kata mereka ?
"Tidak ada pilihan
lain. Kalau di kampung banyak orang, di sini hanya kami. Jadi kawin saja
dengan saudara," kata Mama Tanio, salah satu perempuan Suku Polahi yang
ditemui di Hutan Humohulo, Pegunungan Boliyohuto, Kecamatan Paguyaman,
Kabupaten Boalemo, minggu lalu.
Eksistensi Suku Polahi
Suku Polahi
adalah merupakan suku yang masih hidup di pedalaman hutan Gorontalo.
Mereka memiliki beberapa kebiasaan yang primitif. Tidak mengenal agama
dan pendidikan, serta cenderung tidak mau hidup bersosialisasi dengan
warga lainnya.
Meskipun beberapa keluarga Polahi sudah mulai membangun tempat tinggal tetap akan tetapi kebiasaan nomaden mereka masih ada. "Suku Polahi akan berpindah tempat, jika salah satu dari keluarga mereka meninggal".
Perkawinan Sedarah Kandung
Mereka memiliki kebiasaan yang primitif. Salah satu kebiasaan yang hingga saat ini masih terus dipertahankan oleh suku Polahi
adalah kawin dengan keluarga sendiri yang masih satu darah. Ini
merupakan Hal biasa bagi mereka ketika seorang ayah mengawini anak
perempuannya sendiri, begitu juga seorang anak laki-laki kawin dengan
ibunya.
Kondisi ini diakui
oleh satu keluarga Polahi yang ditemui di hutan Humohulo. Kepala
sukunya, Baba Manio, meninggal dunia sebulan lalu. Baba Manio beristri
dua, Mama Tanio dan Hasimah. Dari hasil perkawinan dengan Mama Tanio, lahir Babuta dan Laiya.
Babuta yang sekarang mewarisi kepemimpinan Baba Manio memperistri adiknya sendiri, hasil perkawinan
Baba Manio dengan Hasimah. Hasimah sendiri merupakan saudara dari Baba
Manio. Kelak anak-anak Babuta dan Laiya akan saling kawin juga.
"Kalau mau kawin, Baba Manio membawa mereka ke sungai. Disiram dengan air sungai lalu dibacakan mantra. Sudah, cuma itu syaratnya," ujar Mama Tanio dengan polosnya.
Ketertinggalan
mereka di hutan dan tidak adanya pengetahuan bagi mereka terhadap etika
sosial dan agama membuat suku Polahi tidak mengerti bahwa inses
dilarang. Menurut mereka, kawin dengan sesama saudara kandung adalah
salah satu cara untuk mempertahankan keturunan Polahi.
"Yang mengherankan, tidak ada dari turunan mereka yang cacat sebagaimana akibat dari perkawinan satu darah pada umumnya," ujar Ebbi Vebri Adrian, seorang juru foto travel yang ikut menyambangi suku Polahi.
Faktanya, belum terdapat penelitian
yang bisa mengungkapkan akibat dari perkawinan satu darah yang terjadi
selama ini di Suku Polahi. Tetapi, dibandingkan dengan suku-suku
pedalaman lainnya di Indonesia, mungkin hanya Polahi yang mempunyai
kebiasaan primitif tersebut. Sebuah ironi atau keprihatinan yang masih
saja terjadi di belahan bumi Indonesia ini.
Semoga informasi di
atas tentang Suku Unik Di Polahi,tentang seorang ibu bisa Kawin dengan anak laki-lakinya atau seorang ayah kawin dengan anak perempuannya hanya sebagai penambah pengetahuan kita. Tapi bukan untuk ditiru lho,
karena kita adalah manusia yang beragama. Seperti dikutip dari Viva.(LTSS)
Minggu, 22 Februari 2015
Kerjasama Kodim dan Pemkab Taput Membangun Pertanian
| Bupati Nikson Nababan berbincang dengan Ketua DPRD, Dandim 0210, Kapolres seputar upaya pengembangan pertanian di Tapanuli Utara.(Dok.SARINGAR.Net/sumber Hms)= |
| Bupati Taput Nikson Nababan memberi pandangan tentang upaya memperlancar irigasi terkait upaya pengembangan pertanian, dalam kunjungannya ke Desa Sigurunggurung,Pahae.= |
Tarutung,SARINGAR.Net- Bupati Tapanuli Utara Drs Nikson Nababan menandatangani nota kesepakatan kerjasama antara Pemkab Tapanuli Utara dengan Kodim 0210/TU di bidang pembangunan pertanian/ketahanan pangan. Program ini untuk menngkatkan produksi dan daya saing dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Penandatanganan kerjasama ini dirangkaikan dengan acara peletakan batu pertama pembangunan irigasi dalam rangka pencanangan gerakan perbaikan jaringan irigasi pertanian di Kabupaten Tapanuli Utara. Pencanangan dilakukan di Dusun Banjar Pea Desa Sigurunggurung Kecamatan Pahae Jae (17/2).
“Saya sangat mengapresiasi kesepakatan ini, dimana Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara akan bergandengan tangan dengan pihak Kodim dalam memberhasilkan visi Tapanuli Utara sebagai lumbung pangan serta kedaulatan pangan yang merupakan program prioritas bidang pertanian. Kita akan bersama-sama dalam pembukaan jalan, pemanfaatan lahan-lahan tidur, perbaikan jaringan irigasi, pengawasan penyaluran pupuk bersubsidi, pemberantasan gizi buruk dan pengawasan pasar dan banyak lagi kegiatan yang akan kita lakukan bersama. Dalam hal ini, babinsa Kodim akan memegang peranan penting sebagai pelaku-pelaku perintis dalam pertanian,” ujar Bupati dalam paparannya, sebagaimana diinformasikan staf Humas Taput Herdianto Situmorang via emal ke SARINGAR.Net. Bupati Nikson yang mengusung visi perubahan itu menyampaikan agar masyarakat Tapanuli Utara menyambut baik kesepakatan ini. Jangan sampai disia-siakan, karena ini demi kepentingan masyarakat luas. “Manfaatkan kesempatan yang baik ini, dengan kita bergandengan tangan, apa yang akan kita lakukan akan terasa lebih ringan. Kita akan meningkatkan produksi tanaman padi dengan membuka lahan percontohan seluas 1 hektar bagi tiap desa di Kabupaten Tapanuli Utara. Untuk mengawali semua ini, infrastruktur menjadi prioritas dalam pembangunan, seperti irigasi, jalan-jalan usaha tani dan juga pembangunan jalan hotmix,” ujar Nikson menambahkan.
“Program pendidikan gratis dari tingkat SD sampai tingkat SMA diharapkan mampu memberikan semangat bagi para orangtua untuk lebih semangat dalam bekerja agar nantinya dapat membiayai kuliah anak. Pendidikan gratis jangan dijadikan ajang bersantai-santai dan menikmati dilapo tuak, tetapi semakin bergiat bekerja dan menabung untuk masa depan anak. Untuk itulah pemerintah membuat himbauan tutupnya lapo tuak dipercepat menjadi jam 8 malam agar orangtua tidak menghamburkan uang yang tadinya untuk uang sekolah anak. Di samping itu, saya sangat mengharapkan sistem didikan orangtua jaman dulu dihidupkan kembali dimana orangtua selalu mendampingi anak belajar dan mengerjakan PR. Jadi orangtua memiliki waktu yang lebih banyak di rumah mengawasi anak belajar, bukan di lapo tuak, “ ujar Nikson menegaskan.
Lebih lanjut Bupati menyampaikan, dirinya tidak akan menyerah membangun Tapanuli Utara, walaupun ada pihak-pihak yang menilai dengan sudut opini yang cenderung negatif. “Saya akan tetap berupaya dan akan terus melobi dana pembangunan dari pusat ke Kabupaten Tapanuli Utara demi kesejahteraan masyarakat Taput. Kini Pemkab sudah bergandengan tangan dengan Kodim dalam membangun sector pertanian, masyarakat harus semakin giat bekerja,motto kita adalah bersama kita bisa,” ujar Bupati mengakhiri.
Dalam kunjungan kerja tersebut, Bupati Taput didampingi Dandim 0210/TU, Kapolres Tapanuli Utara, Kajari Tarutung, Ketua DPRD Taput Ir Ottoniyer Simanjuntak, Kadis Pertanian Marco Panggabean dan beberapa pimpinan SKPD lainnya. (rel/LS)
Selasa, 03 Februari 2015
(SKETSA) Membuat Arang, Mandi Keringat
![]() |
| Di siang terik mandi keringat membuat arang (SARINGAR. Net/LS)= |
SARINGAR.Net- Arang, siapa yang tak tahu apa itu arang. Peribahasa lama pun ada menyebut benda yang satu ini: arang habis besi binasa. Tapi, bagaimana proses pembuatannya hingga jadi siap dibakar, tak semua orang tahu. Prosesnya tampaknya sederhana, tapi butuh energi dan kerja keras. Selain itu harus “siap bermandi keringat’, seperti dituturkan dua orang pembuat arang saat ditemui jurnalis online Leonardo Simanjuntak, di satu tempat di kawasan Desa Sisordak perbatasan Kecamatan Parmonangan-Sipoholon, Sumatera Utara, lebih kurang 250 kilometer dari Medan.
Secara umum, ada dua jenis arang yang biasa dikenal orang. Ada arang keranjang atau biasa juga disebut arang toko. Jenis
arang ini biasa di jual di toko kelontongan. Harga memang lebih mahal,
karena lebih berkualitas, lebih tahan lama, selain kandungan asap lebih
sedikit. Jenis yang kedua adalah arang goni. Sesuai namanya, arang yang
ini dijual per goni, walaupun bisa juga dibeli per kaleng. Jenis arang
goni lebih murah, karena terbuat dari kayu sembarang. Jenis arang goni
juga tidak sekeras arang keranjang, lebih lembek, dan lebih mudah habis.
Jenis arang ini lebih banyak mengeluarkan asap saat pembakaran.
Yang saya
tuturkan sekilas di sini, ya arang goni itu. Biasanya arang yang ini
lebih banyak digunakan para pedagang makanan ringan, yang butuh
pembakaran atau main panggang. Seperti pedagang sate, pedagang jagung
bakar, pemanas bakso, dan lain-lain. Sedangkan arang keranjang karena
dianggap lebih bermutu dan lebih aman dari kepulan asap, biasa dipakai
di resto-resto atau rumah makan yang agak berkelas di kota. Tapi apapun
jenisnya, tetaplah itu namanya arang. Dari dulu hingga kini masih tetap
berperan untuk banyak kebutuhan manusia, meski tentu saja penggunaannya
sudah berkurang pada era kemajuan sekarang ini.
Ada dua
orang pembuat arang yang masih konsisten, bahkan saya sebut militan,
namanya Hokkop Purba dan Purba di Desa itu. Saat saya
jalan-jalan ke Parmonangan, saya ketemu mereka di sebuah areal
perladangan sepi. Saat matahari terik membakar, dan angin seakan
berhenti berembus. Saat suasana begitu lengang, dan para pekebun
sepertinya istirahat dari kesibukan banting tulang di sawah dan ladang.
“Horas,
lae,” kata saya seraya memarkir sepeda motor di jalan tanah. Sapaan
akrab di daerah ini. Kedua pria itu sedang istirahat setelah makan
perbekalan yang dibawa dari rumah. Tak jauh dari jalan tanah itu
kelihatan asap mengepul tebal dari kayu-kayu yang dibakar di sekitar
area perladangan yang tak diusahai. Kami berkenalan, dan namanya orang
tapanuli, tentu saling menyebut marga. “Purba,” kata pria berkulit hitam
yang lebih muda.”Purba juga”, sebut pria yang lebih tua.
Meski
berbeda usia, satu hal terlihat sama. Ketangguhan dua sosok yang saban
hari bergelut diterpa angin pegunungan dan cahaya terik matahari yang
saat kemarau tak kenal ampun membakar apa saja di muka bumi. Bertubuh
kurus dan mata cekung, seperti umumnya penduduk desa kurang gizi. Itu
kesimpulan saya. Sorot mata yang kuyu dan kulit yang legam, menandakan
pekerja keras yang pantang menyerah.
Mereka
bercerita tentang kehidupan ini, apa adanya.”Kami sedang membuat arang,”
ujar Pangaribuan sambil mengisap rokoknya dengan santai, menyandar pada
sebatang kayu ekaliptus yang banyak tumbuh di sana-sini. Hokop Purba
baru menikah, masih beranak satu umur dua tahun. Sedang rekannya punya beberapa anak masih kecil. Selain membuat
arang, keduanya juga berkebun kopi, jagung, dan sesekali tanam cabe.
“Hidup di desa ini sulit, mana sempat santai, kecuali saat begini
istirahat sejenak, sebentar lagi juga sudah harus dipanggang matahari,”
kata Hokop Purba yang berperawakan kecil.
Bagaimana
cara membuat arang? Keduanya bergantian cerita secara terbuka dan
familiar. Untuk membuat arang goni, mereka harus mencari kayu sembarang,
di seputaran hutan di areal itu yang masih cukup luas. Kayu atau dahan
yang seukuran broti tiang hingga yang ukuran tiga kali ukuran tebu,
dipotong-potong dan dikumpulkan dekat tanah yang sudah dilubangi. Ukuran
lubang dibuat sekitar 3x 4 meter, dengan kedalaman satu setengah hingga
dua setengah meter, dibentuk dengan petak segi empat. Selanjutnya
potongan-potongan kayu itu dimasukkan ke dalam lubang dibuat bertingkat,
tak terlalu rapat, setelah di bawahnya dilapisi ranting-ranting dan
dedaunan kering yang mudah terbakar. Setelah itu dilapisi lagi dengan
dedaunan dan ranting kering dari atas. Kalau itu sudah siap, tinggal
membakar. Kalau tak ada minyak tanah, sering juga dibantu dengan
penggalan-penggalan kayu tusam diselipkan di sekitar potongan kayu yang
akan dibakar. Saat mencari kayu sebagai bahan sudah setengah mati,
apalagi kalau lokasinya agak jauh. Mereka harus berjibaku mengangkut ke
lokasi pembakaran. Saat matahari sedang terik, mereka setiap hari harus
bermandikan keringat. Sehelai handuk kecil tak lekang dikalungkan di
leher, untuk mengusap cucuran keringat yang tiada henti.
Setelah
potongan kayu dibakar, bukan berarti tugas selesai. Mereka harus rajin
mengecek apa apinya terus nyala di dalam lubang. Hati galau akan
terjadi, manakala hujan turun. Itu akan mengganggu proses pembakaran
kayu. Apa lagi kalau hujannya deras, bisa membuat lubang banjir jadi
sumur buatan. Makanya, saat pembakaran selalu diwanti-wanti apa cuaca
sedang bersahabat atau tidak. Sukses pembuatan arang hanya terjadi
ketika musim kemarau panjang.
Masih
menurut Purba dan Pangaribuan, proses pembakaran itu biasanya menunggu
tiga hingga empat hari. Pada hari yang ditentukan, mereka meninjau
lokasi pembakaran, membuka tanah dan dedaunan penutup di atas lubang.
Tampaklah kayu sudah pada gosong, tinggal membentuknya menjadi potongan
sesuai ukuran dengan cara dipukuli dengan kayu atau apa saja. Setelah
semuanya selesai, tinggal memilah-milah potongan-potongan yang sudah
jadi arang, dimasukkan ke dalam goni. Potongan-potongan arang terkecil
berserakan pada lantai bawah lubang, itupun dipilih kembali digabung
dengan arang berukuran standar. Lalu pada bagian mulut goni ditutupi
dengan dedaunan bernama daun arsam, sebelum dijahit dengan tali plastik.
Berapa
harga satu goni?” tanya kompasianer yang hobi jalan-jalan ke pedesaan.
“Dulu satu goni itu kami jual ke toke penampung Rp 70 ribu, sekarang
sudah naik jadi Rp 100 ribu per goni,” terang Pangaribuan seraya
menyeruput kopi dingin dari cangkir besar berwarna biru. Tapi kalau
mereka jual ke pedagang yang akan menjual lagi, biasanya dikasi lebih
murah, hanya Rp 70 ribu per goni. Lalu pedagang penjual akan menjualnya
ke pembeli bisa Rp 90 ribu hingga Rp 100 ribu. Ada juga pengguna yang
langsung datang membeli atau memesan ke pembuat arang agar harganya bisa
lebih murah.
Kata Purba,
di daerah ini arang masih berperan penting bagi banyak orang. Khususnya
bagi ibu yang sedang melahirkan. Sesuai kebiasaan leluhur, biasanya ibu
melahirkan di kampong-kampung masih menggunakan arang untuk memanaskan
punggung dan pinggang ibu melahirkan, sekaligus melawan hawa dingin.
Hinggang kini masih ada penduduk desa yang menerapkan cara itu, meski
zaman sudah super modern. Arang dimasukkan ke dalam sebuah kaleng, dan
dua sisi kaleng diberi lubang angin. Lewat lubang angin itu panas yang
ditransfer dari bara arang dalam kaleng akan menghangati punggung ibu
melahirkan.
Memang,
itulah kehidupan manusia. Banyak cara yang dilakukan untuk menjalani dan
mempertahankan hidup. Sementara banyak orang kota tak lagi ingat arang,
toh masih banyak yang menggantungkan usahanya dengan bahan arang.
Lihatlah itu tukang jual sate, dimana pun mereka menjajakan satenya,
harus siapkan arang sebagai bahan bakar utama. Wanginya daging kambing
atau daging sapi saat dibakar dengan arang setelah ditetesi minyak
khusus pewangi, wah…membuat perut ini tiba-tiba lapaaar…!
Sayang sekali bila ajal sudah tiba. Beberapa bulan setelah liputan ini ditayangkan, Hokkop Purba sang pembuat arang itu, terkabar sudah meninggal dunia. Maka berkuranglah salah satu pekerja ulet yang masih mau bermandi keringat membuat arang. (Juga tayang di Kompas.Com)
Langganan:
Postingan (Atom)











