EKSPRESIANA- Terkait
penolakan Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) sebagai Gubernur DKI Jakarta
oleh Front Pembela Islam (FPI), dikomentari anggota DPRD Provinsi Nusa
Tenggara Timur (NTT), Jefry Un Banunaek.
Menurut Jefry, Ketua FPI, Habib Rizieq dan anggota FPI lain harusnya melakukan studi banding ke NTT soal kebhinekaan.
“Saya
anggota DPRD dari NTT mengundang Habib Rizieq dan FPI untuk datang
studi banding ke NTT, guna melihat suasana kebersamaan dalam kehidupan
yang harmonis. Walaupun kami di NTT mayoritas beragama Kristen, namun
ketua DPRD kami berasal dari muslim. Harus diakui memang ada pro dan
kontra, tetapi itu tidak sama seperti yang dilakukan oleh FPI,” tegas
Jefry.
Politisi muda asal Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS)
yang dikenal vokal itu mengatakan, NTT walaupun dikenal sebagai provinsi
yang tertinggal, tetapi tidak miskin moral. Seharusnya, kata Jefry, FPI
sebagai organisasi yang selalu berada di garda depan, setiap aksinya
harus menggambarkan seperti yang diwakilinya.
"Kami di NTT,
semakin hari kian terbuka dan semakin terpupuk rasa saling menghargai.
Perbedaan tentunya ada, tetapi itu harus dipakai untuk membangun, bukan
malah menjatuhkan,” kata Jefry.
Penolakan terhadap Ahok, menurut
Jefry, adalah bentuk perlawanan FPI terhadap konstitusi. Oleh karena
itu, Jefry meminta FPI segera meminta maaf kepada seluruh rakyat
Indonesia, kalau mau masih menjadi pembela yang benar.
Jefry mengatakan, sudah bukan zamannya lagi membangun bangsa pakai otot. Sekarang zamannya pakai otak.
Sebab, kata Jefry, kalau mau ekstrem, kata Jefry, orang NTT dikenal sangat ekstrem karena memang besar di alam yang ekstrem.
“Saya
yakin FPI adalah organisasi yang lahir untuk membela yang benar. Hanya
saja, FPI sekarang ini sudah ditunggangi untuk tujuan-tujuan tertentu
yang sudah bukan menjadi tujuan awal FPI,” pungkasnya. (kps.com)
Sabtu, 15 November 2014
Ketua DPRD Kabupaten Ini: Dari Simanjuntak ke Simanjuntak
| Dari kiri ke kanan:Reguel Simanjuntak, Ottoniyer Simanjun tak, dan Fatimah Hutabarat (foto:Leonardo Joentak)= |
SARINGAR.Net- Pimpinan DPRD Tapanuli Utara Priode 2014-2019 Rabu (5/11) dilantik di Gedung Dewan Jalan Sisingamangaraja, Tarutung, dengan upacara yang berlangsung khidmat. Keterbatasan kapasitas gedung tak mampu menampung ratusan pengunjung, sehingga banyak pengunjung terpaksa berjubel di luar. Pelantikan yang dilakukan oleh Ketua PN Tarutung Mian Munthe SH ini tampak dihadiri Bupati Taput Drs Nikson Nababan dan nyonya , Kapolres AKBP Henky Kalele, Dandim 0210 TU Letkol Inf Baginta Bangun, Kajari Tarutung Hotman Tambunan SH MH,mantan Ketua DPRD Taput FL Fernando Simanjuntak SH MH, sejumlah pimpinan parpol, ormas, tokoh ,masyarakat, dan para pendukung/simpatisan pimpinan DPRD Taput yang dilantik.
Pimpinan DPRD yang dilantik hari itu, yakni Ir Ottoniyer Simanjuntak (dari PDI Perjuangan) sebagai ketua, Reguel Simanjuntak (Partai Golkar) dan Fatimah Hutabarat (Partai Nasdem) sebagai wakil ketua. Nama nama pimpinan legislatif yang baru ini, tidak berubah dari informasi-informasi yang sebelumnya berkembang di tengah masyarakat Tapanuli Utara. Menurut informasi sebelumnya santer disebutkan bahwa DPRD Taput masih dipimpin Ir Ottoniyer Simanjuntak menggantikan posisi ketua yang ditinggalkan Fernando Simanjuntak. Ternyata hal itu benar, setelah pimpinan DPRD Taput priode 2014-2019 dilantik. Untuk posisi wakil juga sebelumnya sudah lama beredar nama Reguel Simanjuntak dan Fatimah Hutabarat, sesuai dengan ranking perolehan suara hasil pemilihan legislatif 2014.
Bupati Nikson Nababan pada pidato sambutannya pada garis besarnya menekankan, agar pimpinan DPRD Taput yang baru benar-benar bekerja keras dan bersinergi dengan eksekutif serta segenap elemen yang ada, untuk memacu kemajuan daerah ini lima tahun ke depan. Diharapkan, kiranya kesatuan persepsi antara pimpinan dan segenap anggota DPRD Taput bisa terjalin dengan baik, sehingga tugas yang diemban berhasil maksimal. Bupati Nikson Nababan pada kesempatan itu menyebut ada tiga tugas pokok DPRD , yakni 1. Legislasi, yang berhubungan dengan pembuatan peraturan-peraturan daerah, 2. Anggaran, berkaitan dengan kecermatan dalam menetapkan anggaran yang akan digunakan untuk kepentingan pembangunan, dan 3. Pengawasan. Ketiga tugas pokok DPRD itu juga dikutip Sekjen HKBP Pdt Mori Sihombing dalam khotbahnya.
Usai pelantikan dilanjutkan dengan acara resepsi yang terbuka untuk umum di Gedung Sopo Partukkoan. Acara resepsi diawali kebaktian, dan khotbah yang dibawakan oleh Sekjen HKBP Pdt Mori Sihombing MTh, diwarnai nyanyian puji-pujian, koor ama HKBP Kota, dan paduan suara Akbid Tarutung. Doa syafaat dibawakan hula-hula marga Sitorus. Khotbah yang diperdengarkan oleh Sekjen HKBP yang cukup bernas pada intinya menekankan, agar pimpinan DPRD Taput yang baru sungguh-sungguh mencermati amanah kepercayaan yang diberikan terutama dalam meningkatkan kemajuan daerah serta kesejahteraan rakyat. Pada masa sekarang ini, ujar Sekjen, ada kecenderungan seolah-olah kepedulian selalu terarah pada orang-orang berstatus orang penting atau orang berada, jarang yang peduli pada rakyat di lapisan bawah. Ini perlu sekali dicermati dan dirobah agar aspirasi rakyat kecil lebih diutamakan, karena rakyat kecil itu sangat mendambakan kepedulian pemerintah dan DPRD terhadap
kehidupan mereka. Sekjen yakin Ottoniyer akan mampu memimpin legislatif, sesuai makna namanya Otto dalam bahasa Jerman artinya, orang yang berhasil, cerdas, dan jaya.
Setelah kebaktian, dilanjutkan dengan acara adat Batak, diawali acara penyampaian ulos oleh SV Simanjuntak dan nyonya Boru Hutagalung (Op Bohal) atas nama Parsadaan Simanjuntak Sitolu Sada Ina (Pomparan Raja Mardaup, Sitombuk Hutabulu) yang juga disertai sejumlah pengetua marga Simanjuntak Sitolu Sada Ina se Tapanuli Utara, serta utusan dari Sipahutar dan Pahae. Kemudian dilanjutkan dengan acara hula-hula marga Sitorus, Panjaitan, Pardede, Sirait, dan hula-hula matani ari Sihotang. Keseluruhan acara berlangsung meriah dengan penyampaian ulos dari hula-hula, disertai kata sambutan bermakna melalui umpasa-umpasa yang menyiratkan doa dan harapan terhadap keberhasilan pimpinan DPRD yang baru. Sementara mantan Ketua DPRD Taput dua priode FL Fernando Simanjuntak sebelum menyampaikan sambutan, terlebih dahulu mendendangkan lagu Batak populer Partondion yang disambut meriah hadirin.
Resepsi ditutup usai keluarga Ir Ottoniyer Simanjuntak dan nyonya boru Sitorus (Camat Siatas Barita) mangampu, dan ditutup dengan doa simpul dari hula-hula marga Sitorus. (Leonardo TSS)
Jumat, 14 November 2014
Kata Ruhut: FPI Berkali-kali Anarkis,Bubarkan Saja!
![]() |
| Sang Ruhut Sitompul = |
"FPI itu tidak hanya anarkis satu atau dua kali. Tapi sudah berkali-kali. Kalau saya bilang bubarkan saja," ujar Ruhut saat dihubungi Tempo, Jumat, 14 November 2014.
Menurut Ruhut, FPI sudah tidak mencerminkan organisasi kemasyarakatan yang berperilaku baik. Mereka selalu buat anarkis. "Anarkis tapi hanya jago kandang. Terus beraninya ramai-ramai."
Meski demikian, Ruhut mengaku tidak pernah ada hujatan atau pengalaman buruk dengan FPI. Namun, kata Ruhut, dia menilik perilaku buruk FPI selama ini patut untuk dibubarkan sesuai dengan mekanisme yang ada.
Ihwal penolakan FPI terhadap Ahok yang akan menjadi gubernur. Ruhut menganggap tidak ada alasan kuat FPI untuk menolak-nolak. "Wong secara konstitusi Ahok berhak jadi gubernur. Enggak ada yang masalah," ujarnya.
Bahkan Ruhut menyindir sikap para anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta yang mendukung FPI menolak Ahok sebagai anggota yang tidak mengerti mekanisme. "Itu mereka enggak mengerti mekanisme. Mereka enggak berani lawan Ahok makanya lewat FPI," ujar Ruhut. Kalau Ruhut sudah ngomong, memang pedasnya melebihi cabe rawit, akan banyak yang kebakaran kumis dan terganggu tudurnya. Ruhut,Ruhut,Ruhuuut...Itulah Ruhut, kata jutaan pengagum dia kali.(sbr:tmp.co)
Senin, 03 November 2014
Wah,Ibu Ini Melahirkan Tokek, Benar Atau Tidak?
EKSPRESIANA- Peristiwa ini tak masuk akal, tapi kalau ini fakta, mau bilang apa. Ataukah hanya sekadar akal-akalan untuk bikin sensasi? Entahlah. EKSPRESIANA menurunkan berita ini untuk bahan bahasan secara logika pikir.
Josephine Lydia Hellen Wadu, bidan yang diberitakan membantu Debi Nubatonis melahirkan seekor tokek pada 30 Mei lalu, menantang Kepala Dinas (Kadis) Kabupaten Kupang untuk turun ke lokasi. Hal itu demi membuktikan kebenaran ibu yang melahirkan tokek itu di rumahnya di Kampung Oemolo, Desa Oenuntono, Kecamatan Oemofa, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.
“Kalau tidak percaya, Pak Kadis (Kadis Kesehatan Kupang) silakan turun langsung ke lapangan untuk lihat hasil pemeriksaan dan buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta ke rumahnya ibu Debi Nubatonis, sehingga bisa tahu semua situasi yang terjadi, apakah benar atau tidak,” kata bidan Helen Wadu--sapaan akrab Josephine Lydia Hellen Wadu-- kepada Kompas.com, Kamis (5/6/2014) malam.
Menurut Hellen, sejauh ini dari Dinas Kesehatan setempat belum turun ke lokasi untuk melakukan klarifikasi dengan dirinya dan sang ibu yang melahirkan tokek itu.
“Dari dinas belum datang karena itu dari pihak dinas saya persilakan untk cek langsung ke Kampung Oemolo, agar tidak ada yang ditutup-tutupi, dan juga dengan wartawan juga biar langsung dipublikasikan,” tandas Hellen.
Hellen bahkan sudah menyiapkan foto dan video rekaman proses kelahiran ibu tersebut bila dibutuhkan pihak manapun untuk klarifikasi.
Diberitakan, sebelumnya Kepala Dinas Kesehatan (Kadis) Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Messe Ataupah mengaku tidak percaya dengan kabar tentang ibu yang melahirkan seekor tokek di Kampung Oemolo, Desa Oenuntono, Kecamatan Oemofa, Kabupaten Kupang, Jumat (30/5/2014).
Menurut Messe, fenomena itu aneh dan tidak akan mungkin terjadi secara medis sehingga saat ini dirinya masih berusaha untuk melakukan klarifikasi dengan pasien maupun bidan yang menanganinya.
“Memang saya belum bertemu untuk klarifikasi langsung dengan bidan tersebut, tetapi tampaknya ada yang tidak normal atau sedikit keanehan karena secara medis itu tidak mungkin terjadi,” kata Messe, Sabtu (31/5/2014) malam.
Bahkan Messe menuding kandungan pada pasien itu tidak terisi apapun alias kosong. Dia pun sudah melakukan koordinasi dengan Ikatan Bidan Indonesia untuk mengecek langsung ke lokasi.
“Pada prinsipnya ada yang salah di sini. Entah sengaja atau tidak, saya harus cek ini. Yang jelas, kandungannya pasti kosong, dan untuk kejadian kehamilan seperti ini biasanya dinamakan Pseudocyesis atau hamil palsu. Kalau dibilang tokek yang keluar, ini saya kira ada permainan tertentu. Sebab, secara medis itu tidak mungkin karena beda genus, antara manusia dan reptil sangat jauh,” tambahnya.(Kps.co/LS)
Selingkuh: Waspadalah Menjaga Isteri (Suami) Anda...
![]() |
| Foto:Ill.flickr = |
Hancur dan luluh sudah harapan, I Made Ku (39) seorang guru kontrak di salah satu SMA Swasta kabupaten Bangli, Bali. Dirinya memergoki istrinya sedang berada di dalam kamar sebuah penginapan di Sanur Denpasar Timur.
"Tekad saya sudah bulat, sudah tidak lagi ada kesabaran di hati saya. Saya akan ceraikan dia, Biarlah saya urus kedua anak saya sendiri. Istri saya sudah gila, bukannya minta maaf tetapi justru berkelit, padahal sudah jelas-jelas di kamar sebuah penginapan," Ucap Made Ku, di Mapolsek Denpasar Timur, Senin (3/11).
Sambil menitikkan air mata, Made Ku menuturkan bahwa pernikahannya bersama Istrinya Ni Wayan Ar (34) sudah berjalan 10 tahun dan dikaruniai dua anak. Keduanya kenal sejak baru duduk di bangku SD. Istrinya adalah seorang Rekam Medik di RSUD Bangli yang baru saja diangkat jadi PNS. Sedangkan laki-laki yang dipergoki satu kamar dengan istrinya adalah I Gusti Nyoman La (41), salah satu Kabid di BLH Bangli.
"Mereka sama-sama PNS. Sejauh ini istri saya selalu berkilah kalau mereka teman biasa. Saya sudah lama curiga, tapi selalu sabar," Ucap Made Ku.
Sebenarnya perselingkuhan istrinya ini sudah tercium sejak enam bulan lalu. Dia selalu menaruh curiga ketika I Gusti Nyoman La berkunjung ke rumah, namun selalu disambut dengan mesra oleh istrinya. Bahkan berulang kali dirinya memergoki istrinya bertukar pesan yang isinya kata-kata jorok. Namun, ketika ditanyakan selalu saja istrinya punya alasan dan menyebut hanya bercanda tetap berteman.
"Saya saja yang memang bodoh. Padahal isi di SMS itu sudah menjurus pada hubungan intim. Soal kelamin, soal goyangan, semuanya ada di SMS. Tetapi saya tetap terima saja dan mengalah, daripada ribut," katanya.
Hingga sampai puncaknya, Minggu sore (2/11) dirinya yang sejak semalam 'nguping' pembicaraan istrinya di HP. Didengar untuk janjian ketemuan di Taman Bali Gianyar di hari minggu.
Dari pendengaran ini, Made Ku berusaha menguntit istrinya dari belakang. Benar saja, sampai di Taman Bali, satu motor ditanggalkan selanjutnya keduanya berboncengan menuju arah Denpasar.
"Saya sempat nyaris kehilangan jejak, karena saya ambil jarak sekitar 50 meter," akunya.
Begitu tiba di salah satu penginapan di Sanur, dan dilihat sudah masuk kamar. Made Ku menyebutkan sempat berusaha mencari Pecalang Adat di lingkungan seputar penginapan. Namun karena tidak mendapatkan Pecalang, akhirnya melaporkan dan minta bantuan anggota polisi di Polsek Denpasar Timur yang jaraknya sekitar 6 km dari lokasi penginapan.
Dari informasi di kepolisian, saat akan digerebek sudah terdengar suara air di kamar mandi. "Memang kita temukan mereka di kamar dalam keadaan berbusana lengkap. Tapi alibinya adam hawa yang bukan pasangan sah di kamar ngapain. Bercak sperma juga ada," Ucap salah seorang anggota polisi.
Akhirnya, I Gusti La sudah mengakui kalau ke penginapan selalu dua kali 'main'.(Mdk)
Ibu Ini Lulus Mengurus Nenek Pikun
| Nenek bertubuh kerdil berusia 95 ini dimandikan tiap hari .(Foto: Ekspresiana) |
Di
antara beban terberat yang kita pikul dalam hidup ini, mungkin salah
satunya adalah mengurus orang tua yang sudah pikun kronis, seperti yang
dilakukan ibu Mijah dalam catatan pendek ini. Mengurus orang tua memang
kewajiban setiap orang, apalagi saat orang tua sudah memasuki uzur usia.
Tapi, terkadang banyak orang yang mengeluh, bahkan menganggap suatu
siksaan ketika mengurus orang tua yang usianya sudah sangat larut,
sakit-sakitan lagi, dan yang lebih parah pikun berat. Maka tak heran,
banyak keluarga yang membawa orang tuanya ke panti jompo. Dalih selalu
klasik, “bukan untuk menghindarkan tanggung jawab, semata-mata untuk
keselamatan dan ketenangannya menjalani sisa hidup”.
Bagi
siapa yang dengan tekun dan tabah mengurus orang tua yang betapapun tua
dan pikunnya, selalu mendapat penghiburan dari orang lain: kamu akan
mendapat pahala dan berkat dari Maha Pencipta. Lalu orang yang mendapat
wejangan itu akan menjawab,”aaaaminnn…”
Tapi ada
kala kita mendengar kabar tak enak, entah itu lewat media cetak,
televisi, atau media online, tentang perilaku anak yang kejam terhadap
orang tua yang tak berdaya. Kejadian di Sumatera Utara beberapa waktu
lalu seperti dilansir surat kabar, ada orang tua pikun yang terlantar di
jalan raya, ditolong polisi lalu lintas dengan membawanya ke sebuah
panti jompo. Itu diumumkan dengan iklan di surat kabar, agar dijemput
keluarga. Tapi hingga beberapa hari tak ada pihak yang mengetahui hal
itu ataukah keluarganya tak ada lagi, kurang jelas. Nenek tua itu
meninggal dunia dua minggu kemudian.
Lain
halnya pengalaman ibu Mijah. Dia saat ini berjuang mempertahankan
komimen kemanusiaanya mengurus seorang nenek tua berusia 95 tahun, tak
lama lagi genap se-abad. Nenek tua bernama Tiamsah itu pun bukan ibu
kandung atau mertua kandung ibu Mijah. Nenek itu adalah kakak dari ibu
mertuanya (alm).
Cerita
ibu Mijah pada kompasianer, nenek Tiamsah dulu tinggal satu rumah dengan
mertuanya. Nenek itu janda tanpa anak. Sejak suaminya Pasaribu
meninggal, ia pun menjalani kehidupannya menumpang di rumah adiknya di
Desa Parbaju, Sumatera Utara. Mereka tinggal bertiga di sebuah rumah di
lingkungan desa yang sepi. Tapi pada 2008, adik dan suaminya meninggal
dunia. Tinggallah nenek Tiamsah ini sendiri, sementara usia uzur makin
menyergap. Lalu, ibu Mijah sang menantu adiknya yang telah meninggal
dunia, menampung si nenek setelah bermusyawarah dengan Pak Reynol, suami
Mijah. Sejak itulah nenek Tiamsah tinggal di rumah ibu Mijah.
Pada
awalnya, nenek itu masih normal pada usia 88 tahun. Sehari-hari nenek
berpostur ceking itu pergi jajan ke kedai yang ada di desa, yang memang
sudah kebiasaannya. Keluarga ibu Mijah mengurus nenek Tiamsah dengan
telaten, layaknya mengurus ibu atau mertua kandung. Diberi makan, minum,
sarapan siang, disiapkan pemandian, pakaiannya dicuci, dan lain-lain.
Namun pada dua tahun terakhir, sejak tahun 2012, gejala kepikunan itu
makin terasa, bahkan belakangan makin berat. Terkadang saat nenek
Tiamsah yang dijuluki nenek Parkamar, keluar rumah untuk jajan ke
warung, sering tidak ingat lagi pulang. Pernah kejadian, ia salah jalan
di jalan raya, berjalan kaki di bawah terik matahari, lebih 15 kilo
meter arah Medan. Untung ada orang yang mengenalnya lewat, lalu membawa
nenek itu pulang ke rumah ibu Mijah.
“Memang
terasa berat mengurus orang tua ini, apa lagi belakangan sering
sakit-sakitan, pendengaran makin berkurang, pikiran sudah linglung,
tidur tak menentu, sering mengigau tak karuan seperti mengenang masa
silamnya,” tutur ibu Mijah saat memandikan nenek pikun itu di pekarangan
rumahnya baru-baru ini. Waktu pun terus berlalu, kondisi nenek Tiamsah
pun makin berat. Kalau biasanya masih bisa berjalan meski
tertatih-tatih, dua bulan terakhir harus dipapah duduk di kursi untuk
berjemur di pagi hari. Sekali dua hari ia dimandikan ibu Mijah bersama
suaminya (suami ibu Mijah adalah anak dari adik nenek Tiamsah).
Terkadang bau menyengat mengepung rumah ini, kalau ia sudah kotoran dan
kencing di kasur tempat tidurnya. Baunya bukan main bau, beda dari bau
kotoran biasa. Untuk mengimbangi bau itu, ibu Mijah sesekali mengolesi
lantai rumah dengan karbol. Sering nenek Tiamsah dikira sudah meninggal,
pada pagi hari dilihat ibu Mijah tak bergerak di tempat tidur. Ternyata
belum. Benar kata ungkapan lama, sebelum ajal pantang mati.
Berbulan-bulan nenek Tiamsah hidup segan mati tak mau. Tapi keluarga ibu
Mijah tak menyerah untuk terus mengurus seperti biasa, pada hal nenek
itu bukan orang tua kandung. Satu ketika pernah dibawa ke Panti Jompo
Siborongborong, 26 kilometer dari desa itu. Tapi tak sampai dua minggu,
pihak panti minta nenek itu dibawa pulang.Pasalnya, nenek itu selalu
bikin ulah yang menggemparkan seisi panti. Nenek Tiamsah rupanya
beberapa kali kotoran langsung ke baskom atau piring temannya sesama
jompo. “Maaf, kami tak mampu menampung orang tua yang kelakuannya susah
dikontrol,” kata pengurus panti saat ibu Mijah datang dua hari kemudian.
Akhirnya nenek itu pun dibawa pulang ke Tarutung.
Banyak
pendapat diterima ibu Mijah, siapa tahu nenek itu dulunya ada memegang
“ilmu” tersendiri, sehingga susah untuk meninggalkan dunia ini. Kata
orang, dulu ada nenek usia 100 di satu desa, barulah meninggal dengan
tenang, setelah dicambuk dengan daun kelor. Alternatif lain, salah satu
atap seng rumah dibuka, atau dilibas dengkulnya dengan daun bamboo.
Tujuan bukan untuk membunuh seseorang yang tersiksa hidupnya di masa
tua. Melainkan untuk membersihkannya dari ilmu yang pernah ditanamkan
dalam dirinya (kalau benar ada). Meski agak bertentangan dengan
keyakinan agama Kristen yang dianutnya, pernah juga ibu Mijah menanyakan
hal itu pada orang “pintar”. Jawaban orang pintar itu, nenek Tiamsah
memang ada memegang semacam ilmu karuhun, tapi orang pintar itu tak
sanggup mengatasi, karena ilmu yang ada di badan nenek itu lebih tinggi.
Ibu
Mijah harus berjiwa besar, melapangkan dada, bersabar, hingga akhirnya
ada keputusan dari Sang Maha Pencipta. Saban hari, ibu ini kelihatan
memapah nenek pikun itu ke teras rumah untuk disinari cahaya matahari.
Di situ juga nenek itu diberi minum teh manis kesukaannya, makan kue
atau roti. Di situ juga lah nenek itu buang air kecil atau buang
kotoran, yang membuat ibu Mijah dan suaminya harus repot menyiram dan
mengepel lantai teras. “Pengalaman seperti ini membuat saya seperti
sudah lulus ujian mengurus orang tua pikun, sangat melelahkan tapi apa
mau dikata, sudah nasib dia harus ada bersama kami,” ujar ibu Mijah
sambil menyirami rambut nenek itu suatu pagi. Ibu ini terpaksa
menggunakan masker menutupi hidung mulut menangkal bau jika nenek itu
sedang menabur kotorannya. Tugasnya mengurus nenek ini melebihi
kesabaran dan ketelatenan pengurus panti jompo mana pun di dunia ini.
Ibu Mijah mengatakan, apa yang dihadapinya saat ini tidak berlatar
keinginan mendapat imbalan dari Tuhan yang menyaksikan segala gerak
kehidupan di dunia ini. Semata-mata karena ini sudah dianggap takdir,
dan harus dijalani dengan tabah, meski terkadang godaan marah atau kesal bisa hadir. Ketika akhirnya nenek Parkamar meninggal dunia dengan tenang tanggal 21 Juni 2014 lalu, banyak yang prihatin dan merasa kehilangan. Banyak yang datang melayat, mendoakan semoga arwahnya diterima Tuhan di sisiNya. (lihat juga Kompasiana/Kompas.Com)
10 Tahun Lagi Manusia Akan Menghuni Planet Mars
![]() |
| Persiapan memindahkan manusia ke Mars makin serius seperti dalam foto (lip-6)= |
EKSPRESIANA-Tinggal di Mars bukan lagi sekedar impian. Suatu hari koloni manusia akan dikirimkan ke Planet Merah. Hawaii Space Exploration Analog and Simulation atau Hi-Seas sedang menggarap sebuah proyek yang disponsori Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA). Untuk menyediakan rumah layak bagi orang Bumi yang akan tinggal di sana. Diperkirakan sekitar 10 tahun lagi (2015) ini akan terealisasi. Sudah siapkah manusia pindah tempat ke planet asing itu?
Lalu,s
eperti apa rumah di Mars?
Meski masih berupa konsep, rumah berbentuk kubah akan dilengkapi panel surya sebagai pengumpul energi. Langit-langit yang tinggi akan membuat para penghuni merasa nyaman di dalamnya. Dan tak ketinggalan printer 3 dimensi untuk membuat segala peralatan.
"Beberapa orang mungkin menganggapnya mengada-ada, namun skrenario seperti itu mungkin akan terjadi tak lama lagi di masa depan, ketika misi pertama ke Mars diberangkatkan -- dan NASA sedang mempersiapkan keberangkatan itu dengan melakukan studi baru di Hawaii," demikian pernyataan Hi-Seas seperti dikutip dari Daily Mail, Sabtu (25/10/2014).
Dua dari 3 misi yang direncanakan sudah diselesaikan. Dan yang ketiga, yang akan berlangsung selama 8 bulan, baru saja dimulai.
Misi ketiga melibatkan 6 kru yang tinggal di sebuah kubah raksasa di wilayah terpencil di Hawaii, Mauna Loa.
Di sana, kru tinggal di kubah selebar 11 meter, dengan luas sekitar 93 meter persegi. Demikian menurut jurnalis sains Kate Greene, yang ikut dalam proyek itu, kepada Wired.
"Kuncinya adalah membuat semua orang tetap waras di sini. Merasa tetap dikelilingi udara," kata dia.
Semua kru harus menjalani misi di dalam kubah itu. Mereka hanya boleh keluar menggunakan pakaian luar angkasa khusus -- seperti yang akan dipakai para astronot Mars.
Untuk mencegah para kru mengalami claustrophobic atau sesak di dalam tempat tinggal mereka, kubah itu sengaja dibuat dengan langit-langit tinggi dan bertingkat dua. Mereka juga diminta untuk berolahraga teratur agar tetap sehat.
Dalam proyek tersebut, juga diterapkan penundaan komunikasi 24 menit pada para kru -- seperti yang akan terjadi dalam misi Mars di masa depan.
Di dalam kubah itu ada 6 kamar, berbentuk mirip potongan pie, dengan matras, kursi, dan bangku. Untuk memastikan mereka memiliki akses perlengkapan yang cukup, disediakan printer 3D.
Suplai energi mengandalkan tenaga surya, sementara listrik dari sel bahan bakar hidrogen disiapkan sebagai cadangan.
Sebelumnya, NASA memberikan dana US$ 1,2 juta pada program Hi-Seas untuk melanjutkan studinya mempelakari faktor-faktor manusia yang bisa mempengaruhi awal masa depan di Mars.
Melalui studi ini, para peneliti akan mempelajari apa yang dihadapi manusia dalam misi sekali jalan ke Mars. Tak ada kesempatan untuk pulang.
Riset tersebut akan sangat berharga dalam misi nyata ke Planet Merah, yang diperkirakan akan berlangsung di tahun dalam dua dekade mendatang.
Proyek Mars One bertujuan mengirim empat Marstronot (sebutan untuk astronot ke Mars) setiap dua tahun sekali, dimulai pada 2025, hingga terbentuk koloni beranggotakan 40 orang. (lip-6)
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)


.jpg)