Jumat, 17 April 2015

Taput Longsor Lagi, Pemprov Bantu Beras dan Minyak Goreng




Sekda Taput Edward Tampubolon SE menerima bantuan Pemprov Sumut secara
simbolis di kamar kerjanya. (rel. Hms/editor Leonardo TSSS) =

  Kabupaten Tapanuli Utara itu termasuk daerah yang sering ditimpa bencana alam. Bisa dimaklumi, dilihat dari aspek topografis Tapanuli Utara secara umum sulit dan potensial mengalami ragam bencana. Apakah itu gempa tektonik, banjir bandang, longsor. Tak heran di daerah seperti Taput perlu dibentuk Badan Penanggulangan Bencana Alam. Namun bukan berarti bencana yang menimpa daerah ini tidak lagi memerlukan kucuran bantuan kemanusiaan.
  Bencana longsor yang menimpa beberapa kecamatan di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumut, belum lama ini mendapat perhatian dari provinsi. Bupati Tapanuli Utara Jumat (17/4) menerima bantuan berupa beras , gula dan minyak goreng  dari Badan Ketahanan Pangan Propinsi Sumatera Utara yang akan diteruskan kepada korban bencana longsor di Kecamatan Pahae Jae dan Kecamatan Sipahutar. Penyerahan simbolis dari Propinsi Sumatera Utara kepada Bupati Taput diwakili Sekretaris Daerah Kabupaten Tapanuli Utara Edward Tampubolon, SE, selanjutnya digulirkan kepada camat dan dari camat kepada Kepala Desa.
  “Saya mengucapkan terimakasih atas tanggapnya Badan Ketahanan Pangan Propinsi Sumatera Utara atas bencana yang menimpa masyarakat di Kecamatan Sipahutar dan Kecamatan Pahae Jae di KAbupaten Tapanuli Utara. Bencana longsor yang menimbun lokasi persawahan masyarakat telah menyebabkan gagalnya panen bagi 327 KK masyarakat, yakni 300 KK masyarakat Kecamatan Sipahutar dan 27 KK masyarakat Kecamatan Pahae Jae,” ujar Bupati dalam sambutannya.
  Bupati menyampaikan bahwa bencana seperti ini tidak diinginkan siapa pun, tetapi kondisi alam dan geografis Kabupaten Tapanuli Utara dikenal rawan gempa dan longsor. Karenanya sangat disyukuri dimana Provinsi cepat turun tangan dalam mengapresiasi bencana yang terjadi di Kabupaten Tapanuli Utara dimana pihak Badan Ketahanan Pangan Propinsi langsung turun dalam memberikan bantuan. “Terimakasih kami ucapkan atas bantuan ini, semoga sangat bermanfaat bagi masyarakat yang saat ini menghadapi bencana dan mengakibatkan gagal panen,” ujar sekda mewakili Pemkab Taput.
  Kepala Badan Ketahanan Pangan Propinsi Sumatera Utara diwakili Kasmin Nasution menyampaikan bahwa bantuan propinsi untuk bencana longsor di Kecamatan Sipahutar dan Pahae Jae berupa beras, gula dan minyak goreng merupakan penanganan tanggap darurat untuk bencana alam longsor yang mengakibatkan gagal panen. Beras sebanyak 2 ton, gula 454 kg dan minyak goreng 454 kg ini mudah-mudahkan dapat membantu meringankan beban korban bencana,” ujar ibu Kasmin dalam sambutannya.
  Permohonan bantuan sembako untuk korban longsor kepada  Kepala Badan Ketahanan Pangan Propinsi Sumut diajukan oleh Kakan Ketahanan Pangan dan diserahkan Bupati Taput Kepada Camat Sipahutar dan Camat Pahae Jae yang akan didistribusikan kepada desa-desa yang tertimpa musibah,yakni di  Kecamatan Pahae Jae ada 2 (dua) desa, yakni Desa Pardomuan Nainggolan, Pardamean Nainggolan. Untuk Kecamatan Sipahutar  ada 6 (enam) desa, yakni Siabal abal II, Siabal abal VI, Onan Runggu I, Onan Runggu III, Sipahutar I dan Sipahutar III.
  Turut hadir mendampingi Bupati Taput, Asisten II Parsaoran Hutagalung, Kaban Bencana Alam SDV. Sihombing, Kakan Ketahanan Pangan Sofyan Simanjuntak, Kabag Humas dan Keprotokolan Donna Situmeang, Camat Sipahutar Mercy Tamba, Camat Pahae Jae Tutur Simanjuntak.
  Selain itu Bupati Tapanuli Utara Nikson Nababan juga telah meninjau dan menyerahkan bantuan kepada korban banjir bandang yang terjadi di Kecamatan Purbatua.(Leonardo TS Simanjuntak)

Kamis, 16 April 2015

12 Kelompok Tani Taput Dihadiahi Handtractor dari TPL


  
Gembiranya petani saat panen raya. Bupati Nikson Nababan terobsesi menjadikan
Tapanuli Utara lumbung pangan.= (dok. SARINGAR.Net) =

   Para petani yang tergabung dalam kelompok, bolehlah bergembira. Bupati Tapanuli Utara Drs Nikson Nababan menyerahkan bantuan berupa handtractor (jetor) sebanyak 12 unit kepada 12 kelompok tani di Kabupaten Tapanuli Utara, di Aula HKBP Pagaran,Rabu (15/4).  Bantuan ini berasal dari dana Community Development (CD) dari PT.Toba Pulp Lestari  perusahaan yang mengelola pulp kertas di Porsea, Kabupaten Toba Samosir. Itu jangan dianggap bahwa PT TPL yang selama ini menuai kecaman masyarakat, mengambil hati dengan pemberian bantuan tersebut. Hal itu sudah menjadi komitmen dengan kabupaten yang ada di kawasan itu, dalam bentuk CD.
   “Saya sangat mengharapkan pengawasan ketat akan penggunaan bantuan handtractor ini. Bagi ketua kelompok tani yang menerima saat ini agar mengutamakan anggota yang paling membutuhkan. Dimanfaatkan dengan baik dan dipelihara sesudah dipakai sehingga mesin handtractor ini bisa awet. Apabila ada yang menyalagunakan bantuan ini agar segera ditindak tegas,” ujar Bupati saat acara penyerahan.
  Bupati mengatakan bahwa bantuan tractor ini sangat membantu dalam mewujudkan visi menjadikan Tapanuli Utara menjadi lumbung pangan. “Mari kita manfaatkan kesempatan ini dengan baik, kita harus buat pihak yang memberi bantuan merasa bahwa bantuannya sangat bermanfaat bagi kita, sehingga kedepan bantuan dana CD ini akan semakin besar, kalau bisa mesin tractor yang lebih besar yang bisa membuka lahan yang baru. Jadi manfaatkan lahan-lahan ini untuk lebih produktif,” ujar Nikson menekankan.
  Bupati juga menambahkan bahwa petani yang ada di Tapanuli Utara  sekarang ini juga tidak perlu khawatir karena di samping adanya pupuk bersubsidi, Pemkab Taput juga telah memerintahkan Perusahaan Daerah (Perusda) untuk menampung semua hasil pertanian yang harga dipasaran sangat jatuh. “Perusda akan membeli hasil pertanian kita diatas modal yang  petani sehingga petani tidak merugi,” paparnya.
  Mewakili Tim Independen, Ir. Hasudungan Butarbutar menyampaikan bahwa bantuan dari dana CD PT. TPL ini diharapkan tepat sasaran, bermanfaat bagi masyarakat dan benar-benar digunakan sesuai kebutuhan. “Handtractor ini harus dipelihara usai dipakai, jangan hanya digunakan menggarap lahan tetapi tidak ada pemeliharaan mesin, karena  akan cepat rusak. Jadi manfaatkan dengan baik, dan pelihara juga dengan baik. Dengan demikian, kerjasama ini akan berjalan dengan baik kedepan. Dana CD yang diperuntukkan ke Kabupaten Tapanuli Utara mulai tahun 2012 masih ada di pihak PT. TPL dan ini akan diserahkan secara keseluruhan nantinya. Jadi kita manfaatkan dengan baik, kita pupuk kebersamaan dan tim yang baik sehingga apa yang kita harapkan bersama bisa tercapai,” ujar Butarbutar dalam sambutannya.
  PT. TPL diwakili Juanda Panjaitan, SE dan Leo Hutabarat menyampaikan bahwa perusahaan sangat terbuka bagi mereka yang ingin tahu kegiatan di TPL. Di perusahaan ini banyak hal untuk dipelajari. Sangat terbuka kesempatan bagi anak didik dari Tapanuli Utara yang ingin tahu tentang pengetahuan industri.Karenanya, PT. TPL sangat terbuka bagi siapa saja, juga pihak Pemkab Tapanuli Utara yang ingin study tour ke perusahaan itu. “Kami terbuka dan dana CD yang menjadi hak setiap Kabupaten sekeliling akan kami serahkan,” ujar Butarbutar.
  Kelompok tani penerima bantuan handtractor masing-masing dari Kecamatan Pagaran, Kecamatan Parmonangan, Kecamatan Sipahutar dan Kecamatan Siatas Barita sebanyak 12 Kelompok tani yakni kelompok tani Sepakat, Kelompok tani Bersaudara, Kelompok Tani Perubahan, Kelompok Tani Lamringgas, Kelompok Tani Limanjaya, Kelompok Tani Pasada, Kelompok Tani Sehat Mual Batu, Kelompok Tani Sehati dan Kelompok Tani Gabe Jaya.
 Turut mendampingi Bupati Taput Kadis Pertanian Taput, Kadis Peternakan, Kakan Ketahanan Pangan, Kabag Program, Kabag  Humas dan Keprotokolan Donna Situmeang, Camat Pagaran, Camat Siatas Barita, Camat Sipahutar, Camat Parmonangan.

Senin, 13 April 2015

Kepercayaan Magis Seputar Akik

Albi seorang perajin batu di Gang sepi kawasan Perumnas Mandala Medan. Di tempat
sepi pun pecandu batu cincin tetap ramai. (Leonardo TSS)=
Setiap negara punya batu akik/giok spesifik. Gambar di atas ini adalah sebagian dari batu
akik Korea Selatan, foto dikirim seorang viewer SARINGAR.Net.=
Ini jenis batu akik berkualitas standar internasional. =
Batu akik atau giok yang umum diolah menjadi batu hias cincin atau mainan kalung, bukan hal baru di Indonesia, bahkan di dunia. Sejak zaman purbakala pun manusia sudah gemar mengolah batu yang ada di gunung, sungai, atau di kedalaman bumi ini untuk dijadikan barang perhiasan. Pada zaman keemasan Ratu Cleopatra di Mesir atau kekaisaran Romawi Kuno pun, batu cincin dan mainan kalung terbuat dari batu-batu alam sudah menjadi trending hobby. Itu bisa juga dilihat dalam film-film kolosal sejarah.
 Jika sekarang ini masyarakat Indonesia tiba-tiba keranjingan batu cincin, bolehlah itu disebut sebagai fenomena luar biasa. Tak hanya di kota besar Jakarta, Medan, Padang, Pekanbaru, Surabaya, bahkan di kota-kota kecil seperti Tarutung, Siantar, Sibolga, pun keranjingan batu cincin itu seakan ikut mewabah. Apakah benar anggapan selama ini, bahwa batu akik atau giok, tak sekadar barang perhiasan tapi juga terkait khasiat magis yang terkandung dalam batu tertentu?
 Tergantung keyakinan seseorang, ujar Pak Zulkifli, seorang pengamat akik di Aceh, saat bertemu dengan SARINGAR.Net di Jalan Garuda, Medan, belum lama ini. Namun Zulkifli (76) sendiri meyakini kandungan magis atau tuah memang ada dalam batu akik atauun giok. Tapi tak semua batu itu punya khasiat. Ada juga batu yang hampa atau nihil tak mengandung arti apa-apa. Tapi bahwa sebuah batu cincin harganya bisa tembus ke angka miliaran rupiah, bukan hal yang aneh. Karena apa. Tentu karena didasari keyakinan bahwa batu yang harganya mahal itu memiliki nilai plus yang tak bisa dinilai dengan uang. Di Langkat, ramai diberitakan ada batu cincin bergambar ular naga ditawarkan harganya Rp 18 miliar. Bah! Ai batu aha i oppung, komentar orang di kampung saya. (Bah, batu apaan itu kok mahalnya minta ampun).
 "Dulu saya pernah punya batu yang namanya tapak jalak dengan gambar tanda tambah atau plus, atau terkadang juga seperti tanda X muncul di permukaannya. Setelah saya pakai, setiap urusan saya sebagai pedagang kain waktu itu sampai ke Sumatera Barat, selalu laris manis, dan saya jauh dari marabahaya. Tapi setelah seorang sahabat lama memohon agar saya berikan batu tapak jalak itu padanya, saya pun tak tega menolak permintaannya. Anehnya, setelah cincin itu saya berikan padanya, usaha dagangan saya jadi merosot. Lama-lama saya menyadari kemerosotan itu terkait dengan cincin yang saya berikan pada dia. Saya dengar kabarnya, usaha tokonya di Pekanbaru berkembang pesat. Tapi saya tak tega meminta kembali cincin itu, karena saya anggap tidak baik meminta kembali yang sudah diberikan pada sahabat." Demikian cerita Pak Zulkifli. Dia juga mengisahkan beberapa temannya yang pernah memakai batu bernama Junjung Derajat atau Bacan Maluku, banyak yang mendapat rejeki dan sehat jasmani rohani. Tak semua batu cincin berkhasiat, menurut Zulkifli, itu melihat apa dan bagaimana batunya. Tukang olah batu berpengalaman seperti yang ada di depan Kantor Pos Medan, umumnya tahu betul nama dan kandungan magis yang terdapat dalam sebuah batu cincin.
 Zulkifli pun membuat saya tercengang, karena di luar kepala bisa mengingat dan menyebut banyak jenis batu bermutu dan berstandar internasional, seperti yang ada pada gambar di atas. " Batu berkualitas itu kalau cocok dengan pribadi seseorang pasti akan merasakan getaran tersendiri disadari atau tidak saat memakainya," ujar Zulkifli sambil menyebut nama batu Topaz dan Virus adalah batu bermutu tinggi yang banyak dicari orang selain batu akik dan giok dari Korea.
  Seorang perajin batu yang biasa dipanggil Albi (Al) membuka usaha pengolahannya di tempat agak sepi di kawasan Jalan Seriti Mandala. Ternyara meski tempat itu sepi, toh banyak yang datang menyerbu minta dibuatkan batu cincin." Saya membuka usaha di tempat orang tua saya ini, agar lebih tetang mengerjakan order, eh tau-tau rame juga orang datang kemari," kata Albi tertawa. Albi juga cukup menguasai banyak nama dan khasiat batu meski belum sepintar Zulkifli.
 "Ya tergantung keyakinan Bang, memang banyak batu yang membawa tuah tersendiri bagi pemakainya," kata  Albi sambil menggosok-gosok sebuah batu yang baru selesai dibentuk.Dalam sehari dia bisa mengolah sebanyak 10 batu, tergantung sulit tidaknya batu yang diolah. (Leonardo TSS)

Minggu, 12 April 2015

Gubernur Sumut Lepas Rombongan Geobike Kaldera Toba


Gubernur Sumut saat memukul tagading memberangkatkan peserta geobike
Kaldera Danau Toba di Muara. (rel.Hms/dok Leonardo TSS) =

    Gubernur Sumatera Utara Gatot Pudjonugroho, ST bersama  Bupati Tapanuli Utara Drs Nikson Nababan diwakili Asisten Ekonomi Pembangunan Parsaoran Hutagalung,  berangkatkan rombongan geobike Provinsi Sumatera dari dermaga Danau Toba Kecamatan Muara. Gubernur bersama dengan para Bupati di kawasan Danau Toba memukul “ tagading” (perangkat musik tradisional Batak) sebagai tanda Geobike Kaldera Toba diresmikan dan diberangkatkan, Sabtu (11/4).
  “Saya mengharapkan para peserta mengabadikan kawasan Danau Toba yang dilalui dan diupload ke media sosial sehingga semakin banyak masyarakat luas mengetahui keindahan alam Danau Toba yang kita miliki  dan akan menjadi event tahunan. Selama ini, hari jadi Propinsi Sumatera Utara hanya dirayakan secara seremonial seperti rapat paripurna, tetapi saat ini kegiatan geobike ini merupakan kegiatan dalam rangka memeriahkan hari jadi Propinsi Sumatera Utara sekaligus mendukung upaya promosi Danau Toba,” ujar Gubernur Sumut ketika menyampaikan sambutannya.
  “Saya yakin, kegiatan geobike ini sangat banyak manfaatnya. Di samping memasyarakatkan olahraga bersepeda, juga sebagai ajang mempromosikan keindahan alam di sekitar danau toba yang dimiliki Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Samosir, Kabupaten Tobasa dan Kabupaten Dairi. Dengan dimunculkannya kegiatan geobike ini, kami berharap kegiatan ini menjadi event tahunan dan pada tahun mendatang diharapkan pelaksanaannya akan semakin baik,” ujar Bupati Taput dalam sambutannya.
  Bupati menyampaikan bahwa upaya promosi juga harus didukung dengan fasilitas dan sarana yang memadai seperti jalan yang mulus menuju kawasan Danau Toba. “ Untuk itu, kami sangat berharap dukungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Propinsi dalam memperbaiki jalan-jalan propinsi di Tapanuli Utara, terutama jalan Silangit menuju Muara sehingga keinginan dan antusias mesyarakat luas berkunjung kekawasan Kaldera Toba semakin kuat,” ujar Bupati berharap.
   Turut mendampingi Bupati di antaranya Kapolres Tapanuli Utara serta beberapa pimpinan SKPD, Kadis Pariwisata, Kadis PUK, Kadis Pemuda Olahraga Benny Simanjuntak, Kaban KB dan PKS, Kabag Program, Kabag Umum, Kabag Humas Donna Situmeang dan Camat Muara.
 Suasana sepanjang jalan yang dilalui rombongan cukup ramai, ketika ratusan warga mengelu-elukan sepanjang jalan. Hal ini menyemangati para peserta, sehingga kegiatan tampak semarak. Para peserta geobike melintasi jalanan berliku dan naik turun penuh semangat seraya menikmati panorama Danau Toba di kawasan Muara. (Leonardo TSS/Sumber Humas Pemkab Taput)

Kamis, 02 April 2015

Olo Panggabean, Tokoh Legendaris Berhati Budiman Dari Gedung Putih


Tokoh budiman ini telah tiada (HOKI)


PENGANTAR: Mengenang tokoh legendaris Olo Panggabean yang meninggal tahun 2009 silam, sebuah tulisan dari Mayjen Simanungkalit ditayangkan di laman blog ini. Dihitung dari waktu meninggalnya Sang Tokoh, enam tahun sudah masyarakat Sumut khususnya Medan, kehilangan almarhum yang banyak menorehkan kesan dan kenangan aneka ragam dalam hati. Tulisan tersebut dimuat utuh dalam tayangan nostalgia ini.  ( red)


- Tiba-tiba saja ruas Jalan Skip Petisah Medan, ditutup untuk umum pada Kamis siang 30 April 2009. Sejumlah aparat Polantas sibuk mengalihkan arus lalulintas ke jalur lain, sebab jalan yang biasanya cukup lengang disiang hari itu sudah berubah menjadi sangat macet.

Warga seketika terkejut, pengendara pun saling heran dan bertanya. Ada apa gerangan? “Katua telah meninggal,” kata seorang petugas sambil berlalu melanjutkan tugasnya mengatur lalu lintas yang makin padat di kawasan itu.

Jalan Sekip Petisah Medan, selama ini memang sudah dikenal sebagai kawasan “istimewa” di kota Medan. Siapa saja yang lewat di ruas jalan ini, biasanya akan merasa nyaman. Di kawasan itu sangat jarang terjadi perampokan, pelemparan apalagi keributan. Maklum di sana adalah rumah kediaman sang Katua, panggilan akrab Olo Panggabean yang pendiri dan Ketua Ikatan Pemuda Karya (IPK).

Sang pemilik rumah yakni Olo Panggabean dimitoskan sebagai Big Bos preman, mafia kelas kakap dan sejumlah sebutan lainnya yang membuat orang “Gemetar” jika menyebut namanya. Dia tokoh disegani dan memiliki banyak anggota yang setiap saat siap menjaga kewibawaan ketua.

Rumah kediaman sang Katua itu bagi warga Medan dikenal sebagai Gedung Putih, karena rumah bertingkat itu memang dilapisi kramik dan cat berwarna putih. Gedung tersebut diyakini menjadi pusat pengendali, yang akan menentukan aman tidaknya kota Medan.

Walau dikenal sebagai pusat kendali bisnis judi dan preman di Medan, namun faktanya tidak pernah digrebek. Malah ketika judi Toto gelap (Togel) sedang marak di Sumut, gedung putih tidak pernah disentuh. Malah oknum-oknum aparat sering nampak hilir mudik, untuk keperluan yang mudah ditebak.

Memang gedung putih pernah diberondong kepolisian dari Brigade Mobil (Brimob), tepatnya pada Selasa pagi 28 Desember 1999 saat Kapoldasu dijabat Brigjen Pol Drs Sutiyono. Namun itu bukan karena kasus judi.

“Pemberondongan 'Gedung Putih' bukan perintah komando melainkan solidaritas secara korps,” kata Sutiyono waktu itu menjawab wartawan. Saat itu memang  ada sedikit kesalahpahaman antara anggota OKP dengan seorang  anggota Brimob berpangkat sersan. Maka ketika Olo Panggabean dikabarkan meninggal dunia pada Kamis siang, banyak orang terkejut. Bahkan informasi ini simpang siur antara benar atau tidak. Kepastian itu baru diketahui publik, setelah aparat kepolisian menutup ruas Jalan Skip tempat kediaman sang katua. Dengan ada kepastian kabar meninggalnya sang katua, maka arus lalulintas ke arah kawasan itu tidak terbendung. Warga kota Medan, seolah tumpah kesana ingin menyaksikan lebih dekat dan ingin mengetahui kabar duka itu.

Warga dari berbagai lapisan termasuk para petinggi Pemorvsu nampak datang ke rumah duka, ingin menyaksikan ketua untuk terakhir kalinya. Apalagi dalam beberapa tahun terakhir, kabar tentang keberadaan Olo Panggabean jarang terdengar. Dia jarang nampak di ruang publik.


Tokoh Banyak Wajah

Olo Panggabean adalah tokoh legendaris yang berwajah banyak dan kadangkala sangat kontroversial. Disatu disisi orang mengenalnya sebagai tokoh yang disebut-sebut berada dibalik bisnis judi yang pernah marak di Sumut. Dia identik dengan dunia yang keras.Sedangkan disisi lain, Olo Panggabean identik dengan tokoh dermawan yang banyak membantu orang miskin.

Olo Panggabean sering dikultuskan pihak tertentu sebagai sosok preman kelas kakap, sehingga membuatnya sangat disegani. Dalam beberapa hal, dia juga tidak gampang dijumpai sembarang orang. Pengawalnya berlapis dan anggotanya siap setiap saat berkorban untuk menjaga nama baik sang katua.

Karena pengkultusan ini, pernah muncul anggapan bahwa menjadi anggota Olo Panggabean kita dapat melakukan apa saja dan memperoleh apa saja. Dengan menyebut namanya saja, orang sudah bisa makan gratis di rumah makan.

Konon dari sinilah muncul istilah preman di Medan, yakni prey atau free makan alias gratis. Saya beruntung menjadi seorang wartawan, sehingga dalam waktu-waktu tertentu dapat bebas berjabat tangan dengan sang ketua. Sebab dalam suatu acara jika dia hadir, biasanya dia sangat respek terhadap wartawan. Dia mau menegor dengan kata yang halus dan lembut.

“Apa kabar dianda,” begitu dia sering menyapa wartawan sambil mengulurkan tangan bersalaman. Namun diluar acara resmi, memang sulit bertemu beliau. Pengawalnya yang berlapis, seringkali menjadi penghalang bagi ketua untuk bertegur sapa dengan warga.

Tapi jika sudah bersalaman dengan beliau, kesan brigas sebagai ciri umum seorang preman sama sekali tidak terpancar diraut wajahnya. Malah pengamalnya yang lebih seram, ketimbang wajah ketua sendiri yang lembut dan sejuk.

Begitu pun harus diakui, famor Olo Panggabean diranah publik sangat tinggi. Dia seolah memiliki magnet, famornya boleh jadi sejajar dengan petinggi di daerah ini.

Tapi siapa Olo sesungguhnya? Dimana dia menghabiskan masa kecilnya? Sekolahnya dimana sehingga dijuluki sebagai Bos Preman? Saya pun tidak tahu persis. Soal kehidupan pribadinya memang sangat misterius.

Tidak banyak yang tahu latarbelakang kehidupannya dimasa kecil. Juga perjalanan karirnya di dunia keras, hingga mengantarkannya sebagai tokoh legendaris disegani dan sangat dekat dengan petinggi negeri ini.

Saya sudah berupaya mencari keterangan soal sejarah hidup tokoh ini. Termasuk melacak literatur biografinya, namun tidak berhasil. Orang-orang terdekatnya juga, entah kenapa tidak pernah bicara soal biografi tokoh ini. Publik hanya mengetahui secuil dari kisah hidupnya dimasa lalu.

Olo Panggabean lahir di Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara 24 Mei 1941. Nama lengkapnya adalah Sahara Oloan Panggabean, tapi lebih suka di panggil OLO, yang dalam bahasa Tapanuli artinya YA atau OK.

Saya hanya tahu dia sebagai Ketua Ikatan Pemuda Karya (IPK), sebuah organisasi pemuda di Sumatera Utara yang dia didirikan pada tahun 1964. Soal julukan raja judi, bos preman, mafia kelas kakap yang sering melekat dengan namanya, saya sendiri tidak tahu secara rinci.

Namun terlepas dari apa kata orang terhadap Olo Panggabean, sejumlah langkah positif dalam perjalanan hidupnya pantas dicatat dengan tinta emas. Terutama sikap kedermawanannya dan kepeduliannya kepada rakyat tidak berkemampuan.

Walau kata orang dia preman, raja judi atau mafia kelas kakap, namun dia adalah juga dermawan sejati. Betapa tidak, disaat banyak keluarga kesulitan membiayai perobatan di rumah sakit atas penyakit diderita, Olo Panggabean sering tampil menjadi penyelamat.

Dia menjadi dewa penolong yang mampu merubah kerut wajah menjadi senyum kebahagiaan. Dia hadir pada saat yang tepat, memberi air saat orang haus dan memberi makan saat orang sedang lapar. Dan itu dilakukan tanpa basa-basi dan tak tanggung-tanggung.

Saya pernah baca di media massa, ada keluarga yang anaknya disandra Rumah Sakit karena tak mampu membayar biaya persalinan. Malah tiba-tiba pihak rumah sakit memperlakukan keluarga itu sangat istimewa, karena Olo Panggabean melunasi dan menjamin semua biaya diperlukan.

Ada juga keluarga miskin yang digusur paksa oknum petugas Satpol PP, menangis pilu karena kreta sorong tempatnya berjualan dihancurkan hingga kehilangan mata pencaharian. Malah tiba-tiba memiliki kios permanen atas biaya dari Olo Panggabean.

Kisah sedih bayi kembar siam Angi-Anjeli anak dari pasangan Subari dan Neng Harmaini yang kesulitan membiayai dana operasi pemisahan di Singapura, tahun 2004 adalah satu contoh kedermawanan Olo paling mendebarkan.

Ibu sang bayi, Neng Harmaini, melahirkan mereka di RS Vita Insani, Pematang Siantar, Rabu, 11 Pebruari 2004 pukul 08.00 WIB, melalui operasi caesar. Kembar siam ini lahir dengan organ jantung, hati dan paru-paru yang saling berdiri sendiri. Bayi kembar siam ini harus diselamatkan dengan operasi cesar, tapi orangtuanya tidak mampu.

Ditengah pejabat Pemprovsu dan Pemko Siantar masih saling lempar wacana untuk membantu biaya operasi, malah Olo Panggabean bertindak cepat menanggung semua biaya yang diperlukan.

Bahkan saat bayi bernasib sial itu tiba di Bandara Polonia Medan dengan pesawat Garuda Indonesia No. GIA 839 pada Senin 18 Juli 2004 sekitar pukul 11.30, Olo Panggabean menyempatkan diri menyambut dan menggendongnya.

Saat itu Angi dan Anjeli terseyum manis, mereka mudah akrab dengan orang yang berjasa untuk mengoperasi mereka. Banyak orang tereyuh dan orng tua Angi dan Anjeli, nyaris rubuh pingsan karena terharu. Maklum, setelah membiayai semua perobatan di rumah sakit, Olo masih bersedia menyambutnya di Bandara.

Padahal, beberapa hari sebelumnya dikabarkan dia sedang berada di Yerusalem. Kisah kedermawanan Katua sudah banyak dirasakan masyarakat kurang mampu di Sumatera Utara.

Tidak sekedar membiayai perobatan orang sakit, tapi juga dalam bentuk lain berupa biaya pendidikan, modal kerja untuk menghidupi keluarga.

Namun setiap yang bernyawa memang harus mengalami kematian, begitu juga Olo Panggabean yang seharusnya akan merayakan ulang tahunnya ke 68 pada 24 Mei 2009 nanti.

Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Banyak yang cinta dan sayang kepada beliau, namun Tuhan ternyata lebih mencintainya. Selamat Jalan Katua.(HOKI/Mayjen Simanungkalit)

Rabu, 01 April 2015

Dominasi Jeruk Manis Mulai Bergeser ke Tapanuli

Ibu Beru Ginting asyik menyortir buah jeruk yang diborongnya di Pagarbatu,
Kecamatan Sipoholon =
Ini namanya sejarah terkadang berpusing. Siapa sangka, daerah Kabupaten Tapanuli Utara sekarang ini menjadi sentra jeruk manis di Provinsi Sumatera Utara. Sebab selama ini, yang populer sebagai sentra tanaman bervitamin C ini adalah Tanah Karo. Mungkin lebih setengah abad lamanya Tanah Karo telah mendominasi perkebunan khususnya komoditi jeruk berkualitas. Selama puluhan tahun pula Tapanuli Utara tak pernah kedengaran sukses dengan buah yang laris sepanjang zaman ini. Dulu, memang kawasan Pagarbatu di Kecamatan Sipoholon terkenal sebagai penghasil "unte" (jeruk), tapi jeruk yang asamnya membuat wajah berkeriput saat mencicipinya. Saat musim liburan sekolah SD dan SMP, guru kelas sering memprogram rencana tamasya ke Pagarbatu. Kalau dari Tarutung murid digiring berjalan kaki. Dan dari desa penghasil "unte" itu, setiap murid pun membawa oleh-oleh jeruk ke rumah masing-masing. Meski pun rasanya nyaris sama dengan asam, tapi anak-anak senang saja menghadiahinya pada keluarga.
 Dan waktu terus berjalan. Diperkirakan sejak tahun 2000, mulai ada satu dua orang warga Pagarbatu dan Sisordak Kecamatan Parmonangan, Tapanuli Utara, mencoba-coba menerapkan pertanaman jeruk madu seperti yang di Tanah Karo. Awalnya pesimis, jeruk tak cocok dengan kontur tanah seperti di Karo. Ternyata percobaan itu berhasil. Bibit jeruk yang dibeli dari Karo, tumbuh sangat baik di Tapanuli Utara. Dalam tempo sepuluh tahun minat bertani jeruk mulai menjalar di antara sesama warga. Tak hanya di kawasan Sipoholon dan Parmonangan, warga di seputaran Tarutung pun seperti kawasan Huta Namora, Lobu Hole, Siarangarang, mulai bergerak bertanam jeruk madu. Hasilnya ternyata bagus. Hal itu memupus anggapan selama ini bahwa jeruk hanya tumbuh bagus di Tanah Karo.
 Faktanya sekarang, diperkirakan sudah ribuan hektar lahan non produktif di Tapanuli Utara, disunglap menjadi kebun jeruk. Hampir setiap tahun petani jeruk bertambah. Tak hanya petani biasa di desa, bahkan pejabat, mantan bupati, sekda, pendeta, pensiunan PNS, kini sudah banyak yang terjun membuka perkebunan jeruk selain kopi sebagai pendamping. Lahan non produktif pun makin dilirik peminat untuk dibeli atau dikontrak. Produksi jeruk Pagarbatu dan Sisordak pun makin terkenal di pasaran, bukan lagi produksi Tanah Karo. Bahkan jeruk produksi Taput sudah go national.
 Nah, perkembangan terbaru seputar jeruk ini, tak diduga ternyata toke-toke penampung jeruk dari Tanah Karo pun sejak dua tahun terakhir sudah masuk ke Taput. Toke-toke jeruk dari Karo itu membeli jeruk dengan sistem borongan langsung dari pohonnya. Artinya mereka nego dengan pemilik kebun saat jeruknya siap petik, dengan menafsir berapa semua buah yang siap panen itu dibeli keseluruhan. Seperti halnya jeruk milik Hutabarat di pinggir jalan Pagarbatu baru-baru ini, diborong toke jeruk dari Karo ibu Beru Ginting seharga Rp 65 juta untuk sekitar 500 batang jeruk yang siap petik. Begitu juga jeruk marga Purba dan Simanjuntak di Sisordak, diborong sesuai banyak buah dan bagusnya kualitas. Demikian halnya dari desa lain toke-toke Tanah Karo sudah berdatangan membeli jeruk asal Taput.
 Saat ibu boru Ginting bersuamikan Tarigan itu ditanya SARINGAR.Net, kenapa orang Karo sekarang memborong jeruk dari Tapanuli Utara, ia jawab sejujurnya bahwa tanaman jeruk di Karo umumnya sudah uzur,maklum sudah lama memproduksi. Banyak yang sedang proses peremajaan. Sementara jeruk di Taput sedang mekar-mekarnya. Selain itu ada juga faktor bencana letusan Gunung Sinabung, banyak tanaman jeruk yang rusak akibat lahar muntahan Sinabung.
 Hal itu juga diakui Jacob Tarigan, seorang yang dianggap "pakar" jeruk yang belakangan ikut berkebun jeruk di seputaran Huta Namora, bahkan sudah didaulat para pejabat semacam konsultan perjerukan di daerah itu." Memang jeruk Taput tidak kalah dari jeruk di kampung kami Tanah Karo. Sentra jeruk sekarang sudah mulai bergeser ke Tapanuli Utara sini. Itu fakta yang tak boleh dipungkiri," kata Jacob saat berbincang dengan SARINGAR.Net di Tarutung baru-baru ini. (Leonardo TSS)
Seorang petani jeruk sedang memetik jeruk di ladangnya di Desa Sisordak Kecamatan
Parmonangan. Jeruk miliknya juga pernah diborong toke dari Karo. (Leonardo TSS)