Rabu, 25 Februari 2015

FOTO NEWS: Jembatan Goyang Hanyut,Jembatan Senggol Gantinya...

Jembatan goyang Dusun Lumbanrihit yang baru pengganti yang hanyut. (LTSS)=

Jembatan atau titi penyeberangan seperti dalam gambar ini merupakan jembatan spesifik yang masih eksis di berbagai tempat. Di kawasan Rura Silindung, Kabupaten Tapanuli Utara, jembatan berciri khas seperti ini dinamakan "jembatan goyang" atau "jembatan senggol'. Istilah jembatan senggol pertama kali muncul pada masa PRRI tahun 1958. Ketika itu pasukan Batalyon 330 Siliwangi yang turun ke Sumatera untuk memadamkan api pemberontakan PRRI, membuat sebuah jembatan plus penyeberangan di Aek Sigeaon, tepatnya di pertengahan antara dua jembatan permanen buatan Belanda di Tarutung.
 Jembatan buatan Siliwangi terbuat dari kayu dengan lebar hanya lebih sedikit dari satu meter. Tiang penopang di dalam sungai juga hanya beberapa tiang bulat, sepintas hanya sebuah jembatan darurat. Ketika orang melintas dari jembatan menuju tanggul di sebelah timur (kompleks HKI), jembatan pasti bergoyang, sehingga banyak orang melintasinya dengan perasaan "deg-deg an". Kemudian muncullah sebutan "jembatan senggol" untuk jembatan kecil itu. Mungkin karena saat beberapa orang melintasinya, saling senggol karena sempit dan goyangan. Cukup lama jembatan senggol bertahan, sampai kira-kira tiga tahun sebelum kemudian hanyut diterjang banjir Aek Sigeaon.
 Di seputaran Rura Silindung, hingga kini masih ada beberapa titi gantung atau jembatan senggol yang dimanfaatkan masyarakat desa menyeberangi sungai. Seperti halnya di Desa Hutabarat Topi Aek atau Rampa. Sejak dulu sebuah jembatan goyang tetap berperan untuk warga yang menyeberangi Aek Situmandi. Tapi konstruksinya sudah lebih permanen dengan tiang besi dan kabel besar. Meski tetap bergoyang saat dilalui, tapi terasa lebih aman. Selain itu jembatan gantung juga ada di Hutagalung Harean, begitu juga di Desa Lumbanrihit Sipoholon.  Jembatan Lumbanrihit selama puluhan tahun berperan menjadi prasarana penyeberangan umum dari Jalan Lintas Sumatera menuju dusun Lumbanrihit. Dusun itu adalah kampung Johnny Simanjuntak alm yang pernah jadi anggota DPR-RI dua periode zaman Orba.
 Pada Desember 2012, hujan deras di kawasan Humbang dan Silindung berkepanjangan, membuat air sungai Sigeaon meluap. Bahkan ada banjir bandang dari arah Sipoholon membawa potongan-potongan kayu besar. Air deras dengan dahsyat menghajar jembatan goyang yang ditopang tiang besi itu, menghanyutkannya pada malam hari tanpa menyisakan apapun kecuali tanggul semen di kedua sisi barat dan timur. Sejak itu beberapa bulan warga yang ingin masuk dan keluar via jembatan goyang itu harus menempuh jalan memutar dari Simanare Sipoholon atau masuk dari kota (Naheong). Anak sekolahan SD dari Desa Parbaju terpaksa tiap hari harus diangkut berkeliling dari kota atas bantuan pemerintah setempat.
 Beberapa waktu kemudian, pemerintah mengucurkan dana untuk mengganti jembatan goyang hanyut itu. Warga sempat berharap pemerintah akan membuat jembatan permanen, apalagi Lumbanrihit itu kampungnya Fernando Simanjuntak, Ketua DPRD Taput ketika itu. Tapi ternyata jembatan penggantinya masih tetap dengan format jembatan bergoyang, malah lebih goyang dari jembatan yang hanyut entah kemana. Hal itu membuat seorang ibu berkomentar setengah guyon saat menyeberanginya." Bah jembatan goyang nunga maup,jembatan senggol panggantina,ate..."

Selasa, 24 Februari 2015

Suku Polahi di Gorontalo, Sang Ibu Boleh Kawin Dengan Anak Kandung...

Wahai ibu-ibu, kebayang nggak anda kawin dengan anakmu yang laki-laki ? Mungkin anda merasa risih dan tidak akan enak berumah tangga dengan anaknya sendiri. Akan tetapi itu tidak akan terjadi untuk Suku Polahi di pedalaman Gorontalo. Mereka sampai saat ini - seperti dikutip dari web regional.kompas.com - justru kawin dengan sesama saudara sekandung. Kalau di India yang terjadi adalah Wanita Menikah Dengan 5 Pria Bersaudara. Eh kalau ini lebih dahsyat lagi.
Untuk masyarakat umum seperti kita-kita ini, menikah / kawin dengan saudara kandung adalah merupakan sebuah pantangan, dan bahkan tidak bisa ditoleransi. Tetapi, hal itu tidak berlaku bagi suku Polahi di pedalaman Gorontalo. Hingga saat ini mereka justru hanya kawin dengan sesama saudara mereka.

Apa kata mereka ?

"Tidak ada pilihan lain. Kalau di kampung banyak orang, di sini hanya kami. Jadi kawin saja dengan saudara," kata Mama Tanio, salah satu perempuan Suku Polahi yang ditemui di Hutan Humohulo, Pegunungan Boliyohuto, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo, minggu lalu.
Eksistensi Suku Polahi

Suku Polahi adalah merupakan suku yang masih hidup di pedalaman hutan Gorontalo. Mereka memiliki beberapa kebiasaan yang primitif. Tidak mengenal agama dan pendidikan, serta cenderung tidak mau hidup bersosialisasi dengan warga lainnya.

Meskipun beberapa keluarga Polahi sudah mulai membangun tempat tinggal tetap akan tetapi kebiasaan nomaden mereka masih ada. "Suku Polahi akan berpindah tempat, jika salah satu dari keluarga mereka meninggal".
Perkawinan Sedarah Kandung

Mereka memiliki kebiasaan yang primitif. Salah satu kebiasaan yang hingga saat ini masih terus dipertahankan oleh suku Polahi adalah kawin dengan keluarga sendiri yang masih satu darah. Ini merupakan Hal biasa bagi mereka ketika seorang ayah mengawini anak perempuannya sendiri, begitu juga seorang anak laki-laki kawin dengan ibunya.

Kondisi ini diakui oleh satu keluarga Polahi yang ditemui di hutan Humohulo. Kepala sukunya, Baba Manio, meninggal dunia sebulan lalu. Baba Manio beristri dua, Mama Tanio dan Hasimah. Dari hasil perkawinan dengan Mama Tanio, lahir Babuta dan Laiya.

Babuta yang sekarang mewarisi kepemimpinan Baba Manio memperistri adiknya sendiri, hasil perkawinan Baba Manio dengan Hasimah. Hasimah sendiri merupakan saudara dari Baba Manio. Kelak anak-anak Babuta dan Laiya akan saling kawin juga.

"Kalau mau kawin, Baba Manio membawa mereka ke sungai. Disiram dengan air sungai lalu dibacakan mantra. Sudah, cuma itu syaratnya," ujar Mama Tanio dengan polosnya.

Ketertinggalan mereka di hutan dan tidak adanya pengetahuan bagi mereka terhadap etika sosial dan agama membuat suku Polahi tidak mengerti bahwa inses dilarang. Menurut mereka, kawin dengan sesama saudara kandung adalah salah satu cara untuk mempertahankan keturunan Polahi. 

"Yang mengherankan, tidak ada dari turunan mereka yang cacat sebagaimana akibat dari perkawinan satu darah pada umumnya," ujar Ebbi Vebri Adrian, seorang juru foto travel yang ikut menyambangi suku Polahi.

Faktanya, belum terdapat penelitian yang bisa mengungkapkan akibat dari perkawinan satu darah yang terjadi selama ini di Suku Polahi. Tetapi, dibandingkan dengan suku-suku pedalaman lainnya di Indonesia, mungkin hanya Polahi yang mempunyai kebiasaan primitif tersebut. Sebuah ironi atau keprihatinan yang masih saja terjadi di belahan bumi Indonesia ini.

Semoga informasi di atas tentang Suku Unik Di Polahi,tentang seorang ibu bisa Kawin dengan anak laki-lakinya atau seorang ayah kawin dengan anak perempuannya hanya sebagai penambah pengetahuan kita. Tapi bukan untuk ditiru lho, karena kita adalah manusia yang beragama. Seperti dikutip dari Viva.(LTSS)

KILAS : Farel Pasaribu, Dari Medan Gerilya Jadi Gubernur Kalbar


Lintong Farel Pasaribu bersama isteri br Siahaan.(Foto:Leonardo TSS)=
 Lintong Farel Pasaribu
(Dari Bupati di Taput, Menjadi Gubernur di Kalimantan)
*Pemimpin Legendaris di Tengah
Belantara Hutan

 Dusun kecil Sampe Nauli di kawasan Desa Haunatas II Kecamatan Laguboti (sekarang Kabupaten Toba Samosir) itu tampak sepi. Jarang terlihat ada warga. Di dusun ini, hanya ada lima rumah yang sudah uzur dimakan usia. Salah satunya sebuah rumah berbentuk rumah adat yang bagian dindingnya sudah direnovasi menjadi beton, dan di sebelahnya terdapat sebuah rumah tua model lama yang tampaknya cukup lama tak berpenghuni lagi. Dusun itu sekilas seolah sudah tak berpenghuni. Suasananya terasa lengang namun ada nuansa kenyamanan di sekitar. Warga dusun tampaknya sibuk dengan kegiatan sehari-hari.
   Namun dusun kecil Sampe Nauli yang terletak tak jauh dari jalan Desa Haunatas II itu, memiliki nilai historis tersendiri dikaitkan sejarah kepemimpinan pemerintahan di Tano Batak Tapanuli Utara. Sebab, di dusun inilah lahir seorang anak yang kemudian menjadi salah satu pemimpin pemerintahan legendaris di Kabupaten Tapanuli Utara. Dia adalah Lintong Farel Pasaribu (alm), yang tidak hanya pernah menjadi Bupati Gerilya di daerah ini, tapi juga sempat menjadi seorang Residen dan Gubernur di Kalimantan Barat. Suatu reputasi yang tergolong langka dan luar biasa pada masa itu. Rumah berarsitektur rumah tradisionil Batak yang terdapat di dusun itu merupakan tempat dimana Farel dilahirkan. Dan rumah kosong di sebelahnya adalah rumah yang pernah dihuni keluarga Farel, kini rumah itu menjadi saksi bisu bahwa di sana seorang tokoh pemimpin besar Tano Batak pernah hadir menguntai berjuta kenangan melekat.
  Tokoh bernama lengkap Lintong Farel Pasaribu, adalah sosok pemimpin sekaligus pejuang legendaris. Itu tercermin dari true story perjalanan hidup, karier kepamongan, dan sepak terjang kejuangannya, khususnya kurun waktu perjuangan kemerdekaan. Sambil berjuang melawan penjajah Belanda dan Jepang, almarhum mengemban amanah sebagai seorang Bupati. Hutan belantara masa itu menjadi basis menjalankan roda pemerintahan, sekaligus melancarkan counter attack kepada penjajah.
  Farel Pasaribu memang tipikal pemimpin yang berjuang total untuk bangsa dan negaranya. Bukan semata untuk kepentingan pribadi. Itu disimpulkan Nurkiah Pasaribu (isteri alm Ir WH Lumbantobing), salah seorang putri Farel Pasaribu, ketika bercerita kepada penulis (Leonardo TSSimanjuntak) di rumahnya yang asri di Jalan Sei Halaban No 1, Medan, Jumat (18-01-2008),tujuh tahun silam.
  “Almarhum ayah memang sosok yang mengedepankan kepentingan perjuangan kebangsaan, daripada sekadar berjuang untuk kepentingan segelintir orang, apalagi kepentingan pribadinya”, tutur Nurkiah Pasaribu di tengah kesibukannya mencari dokumen-dokumen otentik seputar biografi ayahnya Farel Pasaribu, saat dikunjungi penulis biografi ini. Ibu berpostur kurus ini terkesan begitu open dan ramah membeber informasi kontekstual terkait ayahandanya Farel. Apa yang diketahui dan masih diingatnya diungkapkan apa adanya. "Datanya tentu masih banyak, tapi apa yang saya berikan mungkin sudah lumayan melengkapi kebutuhan untuk penulisan sekilas biografi bapak almarhum," ujarnya.
   Lintong Farel Pasaribu Gelar Baginda Sodungdangon atau Ompu Si Rani Doli, lahir tanggal 11 Pebruari 1908 di Dusun Sampe Nauli, Haunatas, Laguboti, sebagai anak tertua dari Raja Salomo Pasaribu/ Theodora br Tambunan. Almarhum Farel mempunyai 5 saudara laki-laki dan 8 saudara perempuan. Ayahnya,Raja Salomo Pasaribu dulunya seorang Asisten Demang. Farel Pasaribu menikah tahun 1930 dengan Sabenna br Siahaan, putri dari Raja Johannes Siahaan, Kepala Nagari Hinalang, Balige. Perkawinan itu membuahkan 4 (empat) putra dan 7 (tujuh) putri. Putri tertua, Minar Pasaribu meninggal pada usia 11 bulan. Jumlah cucu dari 9 putra-putri yang sudah berkeluarga, 19 orang.
   Farel Pasaribu pertama kali mendapat pendidikan HIS di Sigompulon Tarutung, tamat 1922, disusul pendidikan OSVIA di Bukit Tinggi, tamat tahun 1927. Setelah lulus OSVIA dengan nilai terbaik, almarhum Farel bekerja pada kantor Demang di Sibolga dengan pangkat GAIB. Pada 1928 dipindahkan ke Laguboti menjadi staf Kantor meninggal pada usia 11 bulan. Jumlah cucu dari 9 putra-putri yang sudah berkeluarga, 19 orang.
  Farel Pasaribu pertama kali mendapat pendidikan HIS di Sigompulon Tarutung, tamat 1922, disusul pendidikan OSVIA di Bukit Tinggi, tamat tahun 1927. Setelah lulus OSVIA dengan nilai terbaik, almarhum Farel bekerja pada kantor Demang di Sibolga dengan pangkat GAIB. Pada 1928 dipindahkan ke Laguboti menjadi staf Kantor Asisten Demang, sebelum diangkat sebagai Asisten Demang Tituler. Selanjutnya tahun 1934 Farel menjadi Waarnemend Asisten Demang, dan setahun kemudian dipindahkan ke Balige, seterusnya ke Tarutung. Tiga tahun berikutnya, almarhum menjadi Onderdistrictshoofd v.Onan Runggu di Palipi.
 Kegiatan pekerjaan Farel sebelum mau pun sesudah kemerdekaan RI memang penuh lika-liku perjuangan. Pada bulan Mei 1945, beliau menjadi Guntyo (Demang) atau Districtshoofd Van Silindung di Tarutung. Setelah proklamasi kemerdekaan, turut membentuk Barisan Keamanan Rakyat (BKR), dan pengurus Komite Nasional Indonesia (KNI) Wilayah Silindung. Dari situ dipindahkan menjadi Demang di Samosir tahun 1946. Dua tahun kemudian (1948) Farel terjun dalam kancah perang gerilya, yang kala itu menjadi Bupati Toba Samosir mau pun sebagai penasehat pada Pejabat Gubernur Militer Tapanuli Tengah/Sumatera Timur Bagian tengah yang bermarkas di pegunungan wilayah Pangaribuan dengan pangkat Kapten Tituler. Pada penyerahan kedaulatan ikut membantu Gedelegeerde Gubernur Militer dalam urusan pemerintahan sipil di Kabupaten Silindung. Setelah penyerahan kedaulatan tahun 1949, bahkan Farel Pasaribu menurut catatan biografinya sempat menjadi Ketua Pengadilan Negeri di Toba Samosir, kemudian Ketua Pengadilan Negeri Tapanuli Utara di Tarutung.
Bupati Tapanuli Utara Farel Pasaribu menyambut kunjungan Presiden Soekarno di Kantor Bupati Tarutung pada tahun
1950 (1955?). -Repro keluarga
Pada 1950 almarhum terpilih menjadi Bupati Tapanuli Utara  berkedudukan di Tarutung, dan pada 1952 ditetapkan menjadi Bupati Kelas I. Pada masa kepemimpinannya tercatat satu momen bersejarah saat Presiden Soekarno mengunjungi Tanah Batak,dan disambut Bupati Farel Pasaribu di Kantor Bupati Tapanuli Utara di Tarutung (lihat foto di atas). Dari Tapanuli Utara almarhum dipercayakan menjadi Bupati Simalungun tahun 1954 merangkap Walikota Pematang Siantar. Dua tahun berikutnya (1956) dipindahkan menjadi Bupati diperbantukan pada Keresidenan Sumatera Timur, sebelum menjadi pejabat Residen Sumatera Timur di Medan tahun 1957, disusul menjadi Residen Tapanuli ke Sibolga tahun 1958. Pemerintah pusat sungguh meyakini kemampuan Farel dalam memimpin pemerintahan di masa-masa krisis. Kehidupan seorang bupati pada masa itu masih begitu sederhana, apa adanya, sangat jauh dibanding kehidupan bupati jaman sekarang yang berlimpah hidup mewah dan banyak yang terlibat kasus penyelewengan.
  Perjalanan karier kepamongannya menjangkau pula ke luar Sumatera Utara. Pada tahun 1959, almarhum dipindahkan ke Pontianak Kalimantan Barat sebagai Residen diperbantukan pada Gubernur Kalimantan Barat. Dan empat tahun berikutnya (1963), Farel Pasaribu menjadi pejabat Gubernur Kalimantan Barat. Barulah pada tahun 1966, almarhum menjalani pensiun, tapi karena tenaganya masih sangat diperlukan, beliau masih bekerja hingga tahun 1969, sebelum kemudian kembali ke Medan. Pada tahun 1981, Farel Pasaribu diangkat menjadi anggota Dewan Pembina Yayasan Tenaga Pembangunan “Arjuna” sesuai Akte Notaris SM Sinaga di P.Siantar No.87 tanggal 15 Agustus 1981.
  Setelah pensiun, almarhum tidak lantas istirahat dari segala kegiatan. Beliau masih menyempatkan waktu menulis tentang pengalaman perjuangan dan karier kepamongannya, khususnya pada periode 1945-1949. Dari catatan kenang-kenangan yang ditulisnnya, banyak pesan berharga yang bisa dipetik terutama bagi generasi muda.Dalam catatannya tertanggal 12 Mei 1978, almarhum yang menuliskan namanya sebagai Bupati Gerilya, secara lugas menuangkan berbagai pengalamannya yang sangat berharga seputar masa-masa perjuangan bersama rekan-rekan seperjuangannya menjelang mau pun pasca Agresi II.
 Menurut Farel Pasaribu,peristiwa menyerahnya tentara Kerajaan Jepang pada Sekutu bulan Agustus 1945 tidak segera diketahui di Tapanuli, karena Jepang tidak mengumumkannya. Baru pada September pemerintah dan rakyat Tapanuli mengetahuinya. Rakyat ketika itu diselimuti perasaan ragu, mengingat sebelumnya Jepang sudah mengecoh dengan janji-janji kosong. Dr Ferdinand Lumbantobing, menurut Farel Pasaribu, merupakan tokoh terpenting ketika itu. Beliau adalah anggota Tjiu Sangi In, semacam dewan penasehat pusat untuk Sumatera. Selain juga dikenal sebagai ketua dewan Perwakilan Daerah untuk Tapanuli yang dibentuk Jepang, selain sebagai dokter yang banyak membantu rakyat. Pada masa itu, Dr Ferdinand memelopori pembentukan BKR di Tarutung bersama Dr Luhut Lumbantobing, Mr Rufinus, Mr MH Silitonga, Abdul Hakim, termasuk Farel Pasaribu sendiri. Badan ini menjadi cikal bakal pergerakan merebut pemerintahan dan persenjataan dari Jepang, yang belakangan menjadi KNI.
 Setelah demonstrasi yang dilancarkan kaum pemuda di Tarutung, barulah Jepang menanggalkan kekuasaannya dalam pemerintahan. Tanggal 3 Oktober 1945, Dr Ferdinand resmi diangkat menjadi Residen Tapanuli berkantor di Tarutung. Farel Pasaribu waktu itu menjadi Wedana di Silindung. Perayaan Hari Kemerdekaan yang pertama dilaksanakan di Tarutung tanggal 17 Oktober 1945. Tanah lapang Tarutung penuh sesak oleh penduduk yang dating dari berbagai pelosok Kabupaten Tapanuli Utara. Pada 7 Januari 1946, rapat pemerintahan yang pertama diadakan di tarutung, dihadiri seluruh pegawai untuk mengokohkan roda pemerintahan, disusul rapat lengkap KNI tanggal 16 Januari 1946 di Sipoholon. Dalam rapat yang berlangsung hingga 20 Januari itu, dibahas hal-hal strategis untuk pemantapan jalannya pemerintahan di Tapanuli Utara. Salah satu butir terpenting adalah pemberian wewenang penuh kepada KNI untuk membentuk 2 badan yang sangat penting yakni Badan Legislatif dan Badan Eksekutif. Pada tanggal 25 januari 1946 Badan Legislatif sudah terbentuk, dan memulai persidangan tanggal 28 januari 1946 yang menetapkan ragam peraturan yang bersangkutan dengan penyelenggaraan pemerintahan.
  Masih menurut catatan alm Farel Pasaribu, sesuai Keputusan Gubernur Sumatera, ibukota Keresidenan Tapanuli resmi dipindahkan dari Tarutung ke Sibolga tanggal 15 Mei 1946.
  Untuk menyesuaikan pemerintahan pada siasat perjuangan, pada Perang kemerdekaan I (21 Juli 1947), Tapanuli Utara dibagi menjadi 4 (empat) Kabupaten, yakni: Kabupaten Silindung, Kabupaten Humbang, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Dairi. Pada saat itu diangkat 2 orang patih diperbantukan pada Toba Samosir dan Dairi. Dengan surat ketetapan Residen Tapanuli tanggal 17 September 1947 No.1647, Farel Pasaribu diangkat menjadi Patih Samosir berkedudukan di Pangururan.
  Secara jelas, almarhum Farel Pasaribu dalam buku catatannya berjudul “Pengalaman Sebagai Pamongpraja Selama Perjuangan Kemerdekaan 1945- 1949”, menggambarkan pengalaman kurun waktu Agresi I sampai Agresi II yang diwarnai duka cerita rakyat Tapanuli Utara

Dalam proses perjuangan yang memakan banyak korban jiwa itu, ibu Sabenna br Siahaan alm, isteri alm Farel Pasaribu selaku Ketua Perwari ketika itu ikut berperan dalam Komando Dapur Umum, yang mengurusi logistik untuk para pejuang. Dia seorang ibu yang memiliki jiwa heroik dan patriotik.
          Nurkiah br Pasaribu, anak ke 8 alm Farel Pasaribu, dalam keterangan tambahan seputar riwayat ayahandanya, menggambarkan jiwa patriotisme yang dimiliki almarhum ayahnya merupakan suatu simbol keteladanan tak ternilai bagi segenap anggota keluarga. Farel juga digambarkan sebagai tokoh yang peduli pembangunan pendidikan, kesehatan, dan pertanian. Almarhum membangun sekolah dasar (SD) di Haunatas Laguboti, yang hingga sekarang masih eksis. Juga membangun sekolah di Soposurung Balige dan Siantar, Almarhum berani membuka pasar malam dengan tujuan keuntungan yang diperoleh dari sana untuk membangun sekolah. Pembangunan GOR (Gedung Olah Raga) di Siantar juga termasuk inisiatif almarhum.Selain almarhum juga mengupayakan pengembangan infrastruktur jalan dan pertanian. Almarhum rela menyumbangkan gajinya untuk kepentingan masyarakat banyak.

DETIK-DETIK TERAKHIR HIDUPNYA
 Tapi namanya manusia, yang ditakdirkan harus menerima keterbatasannya. Meski almarhum dikenal orang yang selalu energik dan sangat telaten memelihara kesehatannya, akhirnya penyakit mulai muncul di usia tuanya. Almarhum jatuh sakit sejak Juli 1981, dan dirawat di RS St Elizabeth Medan. Karena sakitnya belum membaik, beliau dibawa berobat ke Singapura sampai menjalani  operasi. Pada tanggal 25 Nopember 1981, almarhum minta kepada anak-anaknya supaya dibawa mengikuti kebaktian di Gereja GKPI Medan Kota pada Minggu 29 Nopember. Tapi kesehatannya sudah tak memungkinkan, sehingga keinginannya tak bisa dipenuhi, melainkan hanya melakukan acara perjamuan kudus di rumahnya, kemudian dibawa lagi ke RS Elizabeth, dirawat selama 18 hari. Pada 7 Desember 1981 almarhum dibawa kembali ke rumah, dan pada tanggal 12 Januari 1982, tokoh pejuang dan mantan Bupati Tapanuli Utara ini menghembuskan nafas terakhir dengan tenang. Almarhum dikebumikan tanggal 15 Januari 1982 dengan upacara militer. Dan atas mufakat keluarga, kerangka almarhum dipindahkan ke tambak di desa kelahirannya Haunatas Laguboti, disatukan dengan isterinya Sabenna br Siahaan.
 Almarhum Farel Pasaribu meninggal dunia dengan berjuta kenangan, bagi Tano Batak, bahkan buat daerah Kalimantan Barat dimana beliau pernah menjadi Gubernur. Untuk menghargai jasa-jasanya, nama Farel Pasaribu ditabalkan menjadi nama jalan di beberapa kota seperti di Pematang Siantar, Balige,Parapat, bahkan di kota Pontianak.                               
 “ Almarhum bapak disayangi banyak orang termasuk pejabat-pejabat atasan. Selama dalam perawatan, almarhum Gubernur EWP Tambunan selalu menyempatkan waktu menjenguk ke rumah sakit maupun ke rumah”, tutur Nurkiah Pasaribu mengenang. Menurutnya, almarhum bukan hanya pahlawan bagi keluarga, tapi juga bagi bangsa dan Negara. Motto perjuangannya adalah “ Memperjuangkan kemerdekaan bagi bangsa dan Negara”. Almarhum juga pemeluk agama Kristen yang senantiasa mensyukuri karunia yang diberikanNya. Kepada seluruh keturunannya, almarhum berpesan supaya rajin beribadah ke gereja, tekun dalam doa, dan ceria menyanyikan lagu puji-pujian kepada Tuhan Maha Pencipta.
 Barangkali cukup beralasan, jika ada yang menyebut Farel Pasaribu, seorang tokoh pejuang legendaris, setara dengan banyak pejuang lainnya pada zamannya, seperti Dr Ferdinand Lumbantobing, Raja Saul Lumbantobing, Mr Silitonga, Tagor Lumbantobing, SM Simanjuntak, HF Situmorang,Madja Purba, F.Siagian, B.Manurung, dan lain-lain, yang pernah terlibat dalam pemerintahan di masa-masa gerilya.
  Farel Pasaribu telah menerima banyak penghargaan, antara lain dari: Menteri Muda Pendidikan Pengadjaran dan Kebudayaan atas jasanya menyelenggarakan pendidikan dasar/pendidikan kader mulai tahun 1952 sampai 1956 di berbagai kecamatan Tapanuli Utara. Penghargaan dari Ephorus HKBP atas jasanya turut merintis pendirian Universitas HKBP Nommensen, pemberian Satya lencana yang diusulkan oleh pemerintah Provinsi Kalimantan Barat disertai rekomendasi dari Dr Ferdinand Lumbantobing (semasa hidupnya). Almarhum Farel Pasaribu juga mendapat pengakuan/pengesahan sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan RI Keputusan Menteri Urusan Veteran dan Demobilisasi No. 30/KPTS/MUV/1963 Nomor Pokok 260892. Tapi pengakuan veteran itu menurut Nurkiah  tidak pernah diurus almarhum. Itu membuktikan kalau Farel Pasaribu tidak ambisius terhadap penghargaan sebagai imbalan pengabdian dan pengorbanannya sebagai pejabat pemerintahan. (Tulisan original Leonardo TS Simanjuntak/Dilarang mengutip tanpa menyebut sumber).



Putra-putri alm Farel Pasaribu sesuai teks tulis tangan yang diterima BATAKINDONEWS.Com via email=


 BIODATA

 Nama lengkap : Lintong Farel Pasaribu Op.si Rani Doli

Lahir                :      11 Februari 1908 di Haunatas Laguboti
Nama Orangtua   :   Raja Salomo Pasaribu/Teodora Tambunan
Isteri                   :    Sabenna br Siahaan
Pekerjaan            :   Tahun 1947 Patih Samosir
                        * Tahun 1948 Bupati Toba Samosir
                        * 1949 Ketua PN Toba Samosir/Tap.Utara
                        * 1950 Bupati Tapanuli Utara
                        * 1954 Bupati Simalungun/Walkot Siantar
                        * 1957 Pj Residen Sumatera Timur
                        * 1959 Residen di Pontianak
                    * 1963 Pj Gubernur Kalimantan Barat

Anak-anak         : 1. Hamonangan Pasaribu SH/ Emma Rosinah, Pengusaha Jakarta
                           2.Pontas Pasaribu SH/M.br Lumbantobing (pens Kajati Bali) 
                           3.Effendy Pasaribu SH/ S.br Siahaan  pensiunan Staf Pemda DKI Jakarta
                           4.Darwin Pasaribu SH/ Lolly Br Hutagaol SE,pens PT Pelabuhan Indonesia IV 
                           5. Rusmia Pasaribu/ Dr Erwin L Tobing pens Dosen Fak. Kedokteran USU
                     6.Rotua Pasaribu/ PM Hutagalung SH (+) pens Staff Employee Pengadaan AVROS Sumut
                      7.Sondang Pasaribu/ Ir JT Situmorang pensiunan Direktur Teknik PT KAI Bandung                                                                             
                      8.  Nurkiah Pasaribu/ Ir WH L.Tobing (+) pens Dir Pengembangan PTP Nusantara III / Dewan Komisaris PT Perkebunan Provinsi Sumut                                         
                      9.  Nelly Pasaribu/  Ir Edgar P Sihombing - Jakarta   
                    10.   Ratna Pasaribu /Ir BH Tampubolon (+) pens Kep.Bagian Jasa Konstruksi Pem Provinsi Jambi

( Dari ke 10 putra/putrinya almarhum Farel Pasaribu hingga kini memiliki 24 orang cucu ) 
Catatan: Sedikit koreksi tentang nama, jabatan, dan keturunan alm Farel Pasaribu disampaikan Nurkiah Pasaribu salah seorang putri almarhum yang tinggal di Medan. Komunikasi perbaikan disampaikan kepada BATAKINDONEWS.COM Rabu 30 Maret 2016 melalui email.  (Red) Interviewer/penulis: Leonardo Ts Simanjuntak Mdk                    

Penyakit Bagi si Miskin Identik Dengan Malapetaka




Sereida Tambunan (ist)=

 JAKARTA BATAKINDONEWS.Com - NeKalau ditanya orang-orang normal, mereka pasti tidak mau sakit. Demikian juga keluarga mereka, maunya sehat-sehat terus tak pernah sakit.
"Namun, harapan seperti itu tentu hampir mustahil bagi setiap manusia. Bisa disebut hanya segelintir orang saja manusia yang hidup di dunia ini, yang tak pernah sakit. Selebihnya, pernah mengalami sakit, baik ringan, sedang, bahkan sakit berat atau sakit kritis," kata anggota DPRD DKI Jakarta, Sereida Tambunan kepada SP di Jakarta, Selasa (24/2).
Jika penyakit datang, tentu si penderita dan keluarganya akan berusaha mengobati penyakit itu. Bagi yang punya uang, tentu tak ada masalah. Namun, bagi orang tak berpunya, bisa disebut penyakit adalah malapetaka.
"Tak sedikit warga tak berpunya harus berakhir hidupnya karena penanganan kesehatan yang sangat minim. Mereka ditolak dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Kalaupun ada yang menampung, mereka sering kali tak ditangani dengan segera, meskipun mereka pemegang kartu program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), atau pemegang kartu kesehatan yang diselenggarakan pemerintah daerah," katanya.
Menurut Ketua Departemen Kesehatan DPP PDI Perjuangan itu, hingga era Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) sudah dimulai, penolakan-penolakan pasien kerak kali terjadi. Padahal, dalam program BPJS, masyarakat miskin berhak memperoleh subsidi premi dari pemerintah sebesar Rp 19.225 per bulan per orang. Dengan menjadi peserta JKN, masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan dari tingkat puskesmas sampai rumah sakit.
"Menurut slogannya, ’Cukup dengan menunjukkan kartu BPJS Kesehatan, akan mendapat layanan kesehatan.’ Namun, fakta di lapangan sangat jauh berbeda," katanya.
Dikatakan, sebagai relawan bidang kesehatan, Sereida sering mendengar dan menyaksikan pasien yang ditelantarkan pihak rumah sakit lantaran tidak punya biaya berobat. Karena ruang kelas III bagi masyarakat tidak mampu masih sedikit jumlah kamarnya. Tidak jarang mereka hanya ditempatkan di ruang UGD. Kondisi ini hampir terjadi di seluruh Rumah Sakit Umum (RSU) pemerintah.
Realita di atas merupakan bukti belum adanya keberpihakan bagi masyarakat kecil dalam hal pelayanan kesehatan. Sudah sangat jelas, sesuai Undang-undang Kesehatan dan Rumah Sakit dinyatakan bahwa, rumah sakit yang menolak pasien bisa dipidanakan. Demikian juga bagi rumah sakit yang meminta uang muka (DP) sebelum melakukan upaya penanganan.
Tapi sampai saat ini belum ada sosialisasi persoalan-persoalan tersebut dengan baik. Alhasil, masyarakat selalu menjadi orang paling menderita.
"Itu terjadi karena masyarakat masih miskin akan informasi," katanya.Tidak jarang bila berobat ke rumah sakit mereka selalu ditawarkan apakah masuk pasien umum atau Kartu Jakarta Sehat (KJS) atau Jaminan Persalinan (Jampersal). Kalau memilih KJS atau Jampersal, sering kali pasien dipimpong.
Khusus program Jampersal harusnya setiap anggota masyarakat yang melahirkan bisa mendapatkan Jampersal setelah mendapatkan rujukan dari Puskesmas. Tapi karena ketidaktahuan masyarakat terkadang membuat anaknya harus ditahan di rumah sakit sementara orangtuanya sudah pulang.
"Dalam kondisi saat ini, ’otak’ pengelola rumah sakit harus diubah. Jangan pandang pasien sebagai objek komersialisasi. Tetapi setiap rumah sakit, wajib menyediakan fasilitas kesehatan bagi semua pasien, tanpa melihat kemapuan ekonomi mereka," katanya. [sp)

Fenomena Akik: Apa Istimewanya Batu Bacan Maluku Utara?




Salah satu jenis batu bacan =

 Sejumlah jenis batu akik seperti safir, amethyst, ruby hingga kalimaya memang sudah cukup populer sejak lama. Sedangkan yang tengah naik daun adalah batu akik sungai dareh dan bacan.
Batu akik Sungai Dareh populer berkat SBY dan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama. Harganya bervariasi dari mulai ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah, tergantung jenisnya.
Keunikan dan kelebihan atau keistimewaan batu sungai dareh terletak pada corak an warna batu yang sangat menawan. Batu ini juga memiliki kekerasan standar batu mulia kualitas internasional dengan keras 7 skala mohs atau sama dengan batu giok yang telah dikenal manusia ribuan tahun lalu.
Sedangkan batu bacan dokok dikenal memiliki keindahan. Batu bacan merupakan jenis batu mulia/akik asal Indonesia dan banyak ditemukan di daerah Halmahera Selatan Maluku Utara tepatnya di pulau bacan. Jenis batu bacan paling populer dan banyak dicari jenis batu bacan doko dan batu bacan palamea.
Batu bacan rata-rata berwarna hijau. Di situs jual beli dapat ditemu bacan dengan harga bervariasi dari ratusan ribu hingga puluhan juta. Salah satu bacan termahal bahkan berada di kisaran harga Rp150 Jutaan.
Batu bacan doko dan palamea termasuk 2 jenis batuan Halmahera yang saat ini tengah naik daun dan sering menjadi perbincangan antara pengobi batu permata.
Blogger akiks.com dan batu-bacans.com menyebut, keunikan batu bacan doko atau palamea adalah kemampuannya mengkristal secara alami meskipun sudah diangkat dari perut bumi. Bahkan setelah diolah menjadi perhiasan batu ini masih dapat hidup.
Hal inilah yang membuat bacan disebut-sebut sebagai batu hidup atau batu bernyawa.
3 Jenis
Batu bacan sebenarnya terbagi menjadi tiga jenis yakni Bacan Obi, Bacan Doko dan Bacan Palamea. Ketiga jenis batu tersebut ditemukan dari wilayah yang sama yaitu Maluku Utara.
Meki berasal dari wilayah yang sama, ketiganya memiliki karakteristik berbeda satu sama lain. Untuk membedakan tiga jenis batu itu cukup mudah dan bisa dilakukan dengan kasat mata. Terutama ketiganya memiliki warna yang berbeda.
Batu doko ditemukan di Desa Doko Pulau Kasiruta, Kecamatan Bacan Barat Halmahera Maluku Utara.
Bacan Doko memiliki warna hijau bening dan hijau tua agak gelap. Sebagian pedagang banyak menyebutnya dengan hijau cincau.
Jika disorot lampu muncul hijau cerah dari batu. Inilah yang paling disukai dan digemari banyak kolektor. Bacan doko cincau biasanya lebih cepat mengalami perubahan warna dibandingkan jenis palamea dan berkisar antara 3 hingga 4 bulan warna sudah mulai berubah hijau dari warna sebelumnya yang agak gelap. Semakin cerah warna yang dimiliki maka harganya pun akan semakin mahal.
Sedangkan, bacan palamea ditemukan di Desa Palamea Kecamatan Bacan Barat Halmahera. Ciri khususnya adalah berwarna hijau kebiruan.
Proses kristalisasi menjadi bening dipercaya lebih lambat dibandingkan dengan jenis doko. Namun, kedua jenis batu tersebut sama-sama mejadi buruan banyak kolektor dan pencinta permata.

Sedangkan, bacan obi yang paling mudah dibedakan.Batu bacan obi ditemukan di pulau Obi Maluku Utara Nah apakah Anda salah satu penggemar batu cincin? Coba lacak salah satu jenis batu bacan di atas, tapi hati2 harus original. (bis.com/LS)



Minggu, 22 Februari 2015

Kerjasama Kodim dan Pemkab Taput Membangun Pertanian

Bupati Nikson Nababan berbincang dengan Ketua DPRD, Dandim 0210, Kapolres seputar upaya pengembangan
pertanian di Tapanuli Utara.(Dok.SARINGAR.Net/sumber Hms)=


Bupati Taput Nikson Nababan memberi pandangan tentang upaya memperlancar irigasi terkait upaya pengembangan
pertanian, dalam kunjungannya ke Desa Sigurunggurung,Pahae.=

  Tarutung,SARINGAR.Net- Bupati Tapanuli Utara Drs Nikson Nababan menandatangani nota kesepakatan kerjasama antara Pemkab Tapanuli Utara dengan Kodim 0210/TU di bidang pembangunan pertanian/ketahanan pangan. Program ini untuk menngkatkan produksi dan daya saing dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Penandatanganan kerjasama ini dirangkaikan dengan acara peletakan batu pertama pembangunan irigasi dalam rangka pencanangan gerakan perbaikan jaringan irigasi pertanian di Kabupaten Tapanuli Utara. Pencanangan dilakukan di Dusun Banjar Pea Desa Sigurunggurung Kecamatan Pahae Jae (17/2).
     “Saya sangat mengapresiasi kesepakatan ini, dimana Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara akan bergandengan tangan dengan pihak Kodim dalam memberhasilkan visi Tapanuli Utara sebagai lumbung pangan serta kedaulatan pangan yang merupakan program prioritas bidang pertanian. Kita akan bersama-sama dalam pembukaan jalan, pemanfaatan lahan-lahan tidur, perbaikan jaringan irigasi, pengawasan penyaluran pupuk bersubsidi, pemberantasan gizi buruk dan pengawasan pasar dan banyak lagi kegiatan yang akan kita lakukan bersama. Dalam hal ini, babinsa Kodim akan memegang peranan penting sebagai pelaku-pelaku perintis dalam pertanian,” ujar Bupati dalam paparannya, sebagaimana diinformasikan staf Humas Taput Herdianto Situmorang via emal ke SARINGAR.Net.  Bupati Nikson yang mengusung visi perubahan itu menyampaikan agar masyarakat Tapanuli Utara menyambut baik kesepakatan ini. Jangan sampai disia-siakan, karena ini demi kepentingan masyarakat luas. “Manfaatkan kesempatan yang baik ini, dengan kita bergandengan tangan, apa yang akan kita lakukan akan terasa lebih ringan. Kita akan meningkatkan produksi tanaman padi dengan membuka lahan percontohan seluas 1 hektar bagi tiap desa di Kabupaten Tapanuli Utara. Untuk mengawali semua ini, infrastruktur menjadi prioritas dalam pembangunan, seperti irigasi, jalan-jalan usaha tani dan juga pembangunan jalan hotmix,” ujar Nikson menambahkan.
   “Program pendidikan gratis dari tingkat SD sampai tingkat SMA diharapkan mampu memberikan semangat bagi para orangtua untuk lebih semangat  dalam bekerja agar nantinya dapat membiayai kuliah anak. Pendidikan gratis jangan dijadikan ajang bersantai-santai dan menikmati dilapo tuak, tetapi semakin bergiat bekerja dan menabung untuk masa depan anak. Untuk itulah pemerintah membuat himbauan tutupnya lapo tuak dipercepat menjadi jam 8 malam agar orangtua tidak menghamburkan uang yang tadinya untuk uang sekolah anak. Di samping itu, saya sangat mengharapkan sistem didikan orangtua jaman dulu dihidupkan kembali dimana orangtua selalu mendampingi anak belajar dan mengerjakan PR. Jadi orangtua memiliki waktu yang lebih banyak di rumah mengawasi anak belajar, bukan di lapo tuak, “ ujar Nikson menegaskan.
   Lebih lanjut Bupati menyampaikan, dirinya tidak akan menyerah membangun Tapanuli Utara, walaupun ada pihak-pihak yang menilai dengan sudut opini yang cenderung negatif. “Saya akan tetap berupaya dan akan terus  melobi dana pembangunan dari pusat ke Kabupaten Tapanuli Utara  demi kesejahteraan masyarakat Taput. Kini Pemkab sudah bergandengan tangan dengan Kodim dalam membangun sector pertanian, masyarakat harus semakin giat bekerja,motto kita adalah  bersama kita bisa,” ujar Bupati mengakhiri.
                Dalam kunjungan kerja tersebut, Bupati Taput didampingi Dandim 0210/TU, Kapolres Tapanuli Utara, Kajari Tarutung, Ketua DPRD Taput Ir Ottoniyer Simanjuntak, Kadis Pertanian Marco Panggabean dan beberapa pimpinan SKPD lainnya. (rel/LS)

Sabtu, 21 Februari 2015

Bisnis Batu Cincin di Medan, Warga Bagai Terhipnotis

Suasana bursa batu permata di Carrefour Medan Fair Plaza, Kamis (19/2) difoto
SARINGAR.Net dari lantai atas. Peminat tiap menit silih berganti berkerumun.
(SARINGAR.Net/Leonardo TSS)=
Pemuda bernama Gibson ini memakai empat cincin aneka jenis di tangannya. Menurut
dia, batu cincin tak semua bermutu dan cocok dengan si pemakai, harus ada feeling
apakah batu tertentu cocok atau tidak.
Indah dan gemerlapnya aneka batu cincin yang digelar di pusat perbelanjaan seakan
menghipnotis banyak orang melihat dan membeli (Foto:Leonardo TSS) =

Gemerlapnya lampu ribuan wat di Carrefour Medan Fair Plaza Jalan Gatot Subroto, tampak semakin semarak oleh kilau ribuan batu permata yang digelar dan dijual di lantai 2 pusat perbelanjaan itu. Sejak beberapa minggu terakhir, inilah fenomena sosial yang menghiasi Kota Medan. Tak hanya di pusat perbelanjaan, di kaki-kaki lima pun, pedagang batu cincin bermunculan di sana-sini.
Sekilas pandang, segera bisa dipastikan bahwa sebagian besar warga Medan keranjingan batu alam dengan aneka daya tarik yang membuat orang seakan terhipnotis, minimal untuk cuci mata melihat-lihat. Tapi tak kurang banyaknya warga kota ini yang merogoh kocek untuk membeli. Bahkan banyak yang membeli tak satu buah, tapi ada yang borong tiga sampai lima cincin dibawa pulang ke rumah. Apakah sekedar untuk koleksi? "Tidak bang, saya memang penggemar berat batu cincin,"ujar seorang pria paruh baya ketika disapa SARINGAR.Net, Kamis (19/2) di lantai 2 Carrefour. Dia mengaku telah mengeluarkan uang jutaan untuk membeli batu aneka jenis dan harga. Dia menyukai permata Bacan dari Maluku Utara.
Demam batu cincin sebagaimana dilansir media cetak dan media online, memang sudah menasional. Tak hanya di Medan, demam batu cincin juga melanda berbagai kota besar dan kecil, seperti Jakarta, Surabaya, Semarang,Pekanbaru, Palembang, Makasar dan lain-lain. Tak hanya di mall atau plaza, di kaki lima juga tampak bermunculan pedagang batu alam seperti terlihat di Jalan Garuda Mandala, Medan. Penggemar  juga selalu banyak tiap hari. Dan dalam keramaian penggemar itu, tak jarang kedengaran semacam forum diskusi membahas aneka batu yang digelar, di antara para peminat dan pedagang batu. Sang pedagang juga umumnya sangat pintar menguraikan ciri khas dan keistimewaan setiap batu yang dijajakannya.
 Harga bebatuan yang terpantau seperti di Carrefour, Medan Mall, atau Grand Paladium, memang bervariasi. Tergantung jenis batunya. Yang paling menonjol misalnya batu Tapak Jalak, Pasir Mas, Kecubung, Topaz, Junjung Derajat, Akik Kayu, dan banyak lainnya. Ada yang per biji Rp 250.000, ada yang Rp 300.000, dan banyak lainnya sampai Rp 800.000. Selain menjual batu jadi, pedagang juga menyediakan hanya pengikat terbuat dari titanum yang katanya tak luntur. Juga tersedia bahan pengkilap batu seharga Rp 75.000 plus serbuk mutiara Rp 75.000.
 Seorang diantara pengunjung dari Jakarta, Jesse H Pardamean mengatakan sudah lama menjadi penyuka batu cincin. Tapi belum pernah situasinya sehebat sekarang."Ini memang sangat fenomenal. Saya rasa bisnis batu cincin akan tetap bertahan menjadi komoditi yang disenangi masyarakat luas," ujarnya saat ditanya SARINGAR di Grand Paladium. Di pusat perbelanjaan Paladium ini  sejak lama memang merupakan sentra penjualan batu bermutu tinggi. Di sini batu yang dijual memang sangat variatif dan fantastik. Cincin ukuran sangat besar banyak dipajang di setiap pedagang batu.
 Tak hanya pria, kaum hawa juga banyak yang terpikat untuk membeli. Bahkan anak muda dan anak di bawah umur tampak ikut berkerumun menyaksikan "demonstrasi" bebatuan dengan ragam keunikan dan keindahannya. Yang yakin percaya bahwa itu murni batu alam sama banyaknya dengan mereka yang ragu, dan menganggap sebagian besar batu yang dipajang di situ adalah batu sintetis. Di tempat batu digelar juga tampak diperlihatkan batu-batu asli dengan ukuran besar. Barangkali sebagai pembuktian bahwa batu-batu jadi yang dijual itu berasal dari batu tersebut.
 Seorang anak muda bernama Gibson, tampak begitu asyiknya mencermati batu-batu yang dijual di Carrefour. "Saya memang penggemar batu cincin alami, tapi saya lihat dulu seksama apakah batunya benar-benar tulen dari batu alam atau sintetis," ujarnya seraya menunjukkan empat cincin ukuran besar yang melingkar di jarinya. Waktu di Jakarta ia punya berbagai jenis batu bermutu tinggi.  Gibson cukup menguasai aneka jenis batu dan namanya. "Saya tak mau sembarang beli batu, karena tak semua batu cocok dipakai orang, menurut yang saya pelajari secara alami," imbuhnya.
 Memang sejak lama kecenderungan orang Indonesia terhadap batu cincin sudah ada. Tapi bahwa saat ini kecenderungan itu sudah meningkat menjadi keranjingan, itu sudah bisa disebut fenomena luar biasa. Dan itu soal hobi seseorang yang bermuara pada rasa senang dan nikmat yang sulit dideskripsikan. Masalahnya tak sesederhana memakai cincin berbatu. Lebih dari itu mungkin ada kaitan rasa seni tersendiri. (LEONARDO TSS)