Minggu, 08 Februari 2015

(Fenomena) Perang Wanita Melawan Kegemukan



Wanita di Tiongkok yang  kegemukan (ist)=

  DUBAI,SARINGAR.Net-Negara Teluk menghadapi perjuangan berat melawan kegemukan serta penyakit yang berkaitan dengannya. Kondisi itu membuka peluang besar buat perusahaan Tiongkok. Mewabahnya penyakit diabetes, serangan jantung, dan stroke, ditengarai penyebab utamanya.

Ratusan perusahaan Tiongkok memamerkan produk mereka pada pameran Arab Health 2015 di Dubai, Uni Emirat Arab, dalam upaya meraih porsi besar di pasar yang sedang tumbuh berkaitan dengan pasien diabetes.

Meningkatnya kebutuhan akan perawatan dan pengobatan pasien diabetes di wilayah tersebut, memberi motivasi bagi Perusahaan BioHermes dari Wuxi, Provinsi Jiangsu di Tiongkok, untuk hadir di eksibisi itu untuk pertama kali.

Pameran tersebut adalah kongres medis terbesar di UAE dan di wilayah itu. Tahun ini, eksibisi tersebut menandai edisinya yang ke-40.

"Diabetes menyebar di Timur Tengah akibat pola makan yang tidak sehat, dan apa yang disebut gaya hidup modern ditambah dengan konsumsi harian makanan cepat saji serta kurangnya olah raga fisik," kata Emma Gao, Manager Pemasaran BioHermes di luar negeri.

Menurut Federasi Diabtes Internasional (IDF), di Timur Tengah kegemukan seringkali menjadi pemicu penyakit tersebut.

Jenny Chang, Manager Pemasaran di Jerry Medical dari Kota Taiyuan di Provinsi Shanxi mengatakan, ia melihat pasar yang sedang tumbuh dan jangka-panjang di wilayah Teluk buat perusahaan kesehatan Tiongkok.

IDF memperkirakan, warga yang berkutat melawan diabetes akan bertambah dari 34,6 juta jadi 67,9 juta di Timur Tengah dan Afrika Utara sampai 2035.

Pameran kesehatan selama empat hari tersebut, yang menarik 4.000 perusahaan, dan sebanyak 120.000 profesional dari seluruh dunia, berakhir pada Kamis (29/1). [Xinhua-OANA/Ant/LTS]

Ketua IDI Sumut: Dokter Jangan Berharap Kaya Dari Profesinya

Bupati Taput Nikson Nababan menerima cenderamata dari Ketua IDI Sumut
dr Suhelmi SP.B saat pelantikan IDI Taput (Foto: dok.SARINGAR/sumber
Humas Keprotokolan)=
 Tarutung, SARINGAR.Net- Bupati Kabupaten Tapanuli Utara Drs Nikson Nababan komit mendukung upaya peningkatan kesehatan dengan keberadaan IDI (Ikatan Dokter Indonesia) sebagai wadah para abdi kemanusiaan di daerah yang dipimpinnya. Terutama menyangkut pengembalian citra RSU Tarutung yang dulunya termasuk rumah sakit terpercaya di Sumatera Utara. Hal itu ditegaskan Nikson Nababan pada acara  pelantikan Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Tapanuli Utara masa Bhakti 2014-2017. Pengurus terpilih dilantik langsung oleh Ketua IDI Wilayah Sumatera Utara dr. Suhelmi SP.B, di Hotel Sentosa Kecamatan Muara, Selasa (3/2). Demikian berita rilis disampaikan Humas dan Keprotokolan Pemkab Tapanuli Utara kepada blogger SARINGAR.Net, Leonardo TS Simanjuntak.
“Pelayanan adalah kunci kesuksesan sebuah rumah sakit, bukan seberapa mahal obat yang dipakai. Untuk itu, saya sangat berharap, keberadaan IDI ini mampu meningkatkan mutu pelayanan dokter kepada masyarakat. Untuk ketua terpilih, agar membuat program-program untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Kabupaten Tapanuli Utara, yakni Rumah Sakit Tarutung dan seluruh puskesmas yang pada tahun 2015 memberikan pelayanan 24 jam kepada masyarakat,” ujar Nikson dalam sambutannya.
Selanjutnya Bupati menyampaikan agar para dokter mengabdikan ilmunya kepada masyarakat. Saya sangat mendukung peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Apapun akan saya tempuh asal masyarakat mendapatkan pelayanan prima dalam bidang kesehatan. Di rumah sakit nantinya dokter spesialis minimal ada 2 (dua) orang setiap bidangnya. “Semampu saya akan saya datangkan dokter spesialis untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat Tapanuli Utara. Saya akan mengembalikan citra rumah sakit Tarutung yang dulunya masih dipercaya masyarakat Tapanuli Utara. Rumah sakit Tarutung harus menjadi rumah sakit terdepan dalam pelayanan,” ujar Bupati menekankan.
“Saya sangat mengharapkan totalitas para dokter memberikan ilmu dan pengabdiannya di wilayah Tapanuli Utara. Saya tidak akan mampu tanpa kalian memajukan pelayanan kesehatan bagi Tapanuli Utara. Berikan yang terbaik bagi masyarakat, berikan senyuman dan kesembuhan bagi yang sakit. Mari kita bahu-membahu dan masyarakat harus merasakan keberadaan IDI di Tapanuli Utara. Saya ucapkan selamat buat pengurus yang baru dilantik dan selamat bertugas,” ujar Nikson yang getol dengan visi perubahan yang diusungnya saat kampanye tahun lalu sebelum berhasil terpilih.
Ketua IDI Sumatera Utara dr Suhelmi SP.B dalam sambutannya menyampaikan bahwa pengabdian dan kesabaran merupakan kunci kesuksesan dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Jangan mengharapkan untuk kaya dari profesi dokter, tapi berikan pengabdianmu kepada masyarakat. Tapanuli Utara harus mampu merasakan keberasaan IDI di Tapanuli Utara. Terimakasih kepada Bupati Tapanuli Utara yang memberikan perhatian besar kepada IDI dan dokter yang bertugas di Taput dengan memberikan insentif yang tinggi, jadi berkarya dan mengabdilah,” ujar dr. Suhelmi, SP.B mengakhiri.
Ketua terpilih dr. Halasan Butarbutar menggantikan dr. Bobby Simanjuntak menyampaikan keberadaannya sebagai Ketua terpilih akan meneruskan program-program yang telah dirintis pengurus IDI sebelumnya dan akan memberikan pengabdian yang terbaik di Tapanuli Utara karena Bupati Taput juga sangat komit dengan perbaikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat,” ujar dr. Halasan mengakhiri.
Adapun Ketua IDI lama dr. Bobby Simanjuntak selaku Kadis Kesehatan Taput terpilih menjadi Dewan Pertimbangan IDI Cabang Tapanuli Utara periode 2014-1017.
Banyak harapan mencuat dengan kepengurusan IDI Tapanuli Utara yang baru. Terutama menyangkut kondisi RSU Swadana Tarutung yang terkesan belum berhasil maksimal menjalankan misinya melayani publik. Pergantian direktur RSU Tarutung yang silih berganti dalam tempo tak lama, mencerminkan adanya kondisi tidak kondusif terkait managemen rumah sakit yang didirikan di masa penjajahan Belanda itu.(leo.s/hms

Sabtu, 07 Februari 2015

Di Gunung Ini Remaja Uji Nyali Kibarkan Bendera




Di gunung yang runcing ini anak remaja sering uji nyali hiking. Foto:
SARINGAR.Net Leonardo TS=
 SARINGAR.Net =

Di Kecamatan Nassau Kabupaten Tobasa yang berbatasan dengan Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara, ada beberapa gunung yang punya keunikan tersendiri. Salah satunya yang namanya Dolok (gunung) Batu Manumpak, yang terletak di Desa Batu Manumpak, sekitar 20 kilometer dari Kota Parsoburan, ibu kota Kecamatan Habinsaran. Infra struktur jalan menuju kawasan itu masih buruk, tapi pemerintah setempat sudah mulai membenahi.
Sebenarnya gunung ini terlihat kecil, bentuknya agak runcing, tingginya diperkirakan hanya sekitar 150 meter, berada di seputaran hutan yang ditumbuhi pepohonan dan rumput ilalang lebat (lihat foto). Pada malam hari, sepintas gunung itu terlihat angker, terutama pada saat bulan purnama. Banyak penduduk sering dicekam rasa was-was, pada hal menurut sejumlah warga gunung itu biaasa-biasa saja. Belum pernah ada kejadian yang membuat gunung ini dianggap “berpenghuni”. Kalau misteri memang kata leluhur di situ memang ada, tapi apa misteri itu kami juga tak tahu, kata seorang warga bernama Tampubolon ketika kompasinaer singgah di sana menunggu hujan reda.
Menurut cerita seorang nenek di Desa Batu Manumpak, pernah tiga orang anak remaja hilang di sekitar gunung itu. Warga pun panic mencari dua hari dua malam. Ada yang menganggap anak-anak itu dilarikan siluman penunggu gunung. Dalam bahasa setempat disebut “homang”. Dukun pintar pun ditanyai, tapi dukun bilang anak-anak itu tidak benar dibawa siluman, melainkan sedang bermain-main di salah satu kota di kawasan itu. Dua hari kemudian ketiga anak muda itu pulang dalam keadaan segar bugar. Rupanya mereka dari kota Balige tanpa pemberitahuan pada orang tua.
Gunung Batu Manumpak, kecil-kecil ternyata punya keunikan atau keistimewaan tersendiri khususnya bagi kaum muda. Gunung yang tampak kurus ini sering dijadikan para remaja sebagai ajang uji nyali menjajal keberanian dan ketrampilan hiking (mendaki gunung). Tak hanya remaja dari desa itu yang sering berani-beranian naik ke gunung, juga remaja dari desa lain sekitar Habinsaran. Hal seperti itu kerap dilakukan pada hari minggu. Tak semua remaja berhasil sampai ke puncak, karena gunung batu cadas itu terlihat mudah ternyata susah didaki setelah dicoba. Rerumputan liar di sekitarnya termasuk penghalang membuat banyak remaja tak mau ikut-ikutan mendaki.
Untuk apa gunung itu didaki? tanya SARINGAR.NET. Seorang ibu tua menimpali,” ya namanya anak muda, anggar jago supaya dibilang hebat.” Tapi si Tampubolon membantah bahwa remaja naik ke gunung karena anggar jago.” Mereka itu sebenarnya berolah raga meniru-niru yang ada di tv, sekali gus merasakan kebanggaan telah pernah sampai di puncak,” katanya seraya menunjuk ke arah gunung.
Sebagai tanda pernah atau telah mampu “menaklukkan” gunung, anak-anak muda itu membawa pertanda berupa bendera yang diikatkan pada sebilah kayu, berukuran dua sampai empat meter. Ketika ada yang sampai ke atas, bendera itu pun ditancapkan di tempat yang mudah terlihat dari bawah. Bendera dalam jangka waktu cukup lama tampak berkibar ditiup angin.
“Minggu lalu masih ada tiga bendera di atas itu, tapi mungkin sudah roboh ditiup angin atau diterpa hujan deras, bendera itu tak kelihatan lagi,” kata Tampubolon.
Kesimpulan jurnalis dengan cerita itu, ternyata setidaknya nilai-nilai heroisme itu realitasnya juga ada di desa pedalaman yang jauh dari kota. Nilai-nilai heroik itu bisa terpicu dari nonton film, dvd, atau apa saja. Atau mungkin, karena memang di desa dengan alam orisinilnya, spirit untuk memperjuangkan sesuatu begitu tinggi. Dalam arti, mereka masih unggul dalam beberapa hal dari kita yang bermukim dengan ragam gaya hidup modern di perkotaan. Mungkin ada yang berpikir, orang menaklukkan Mount Everest, kita menaklukkan Batu Manumpak. Sama saja. Namanya sama-sama gunung koq! (Simak artikel/berita khas aktual di Blog SARINGAR.Net -leonardotsjoentak.blogspot.com)

Kamis, 05 Februari 2015

Balas Dendam Pada Buaya Yang Memangsa Isterinya



Teror buaya di Uganda (bbc)=

 Kampala,SARINGAR.Net - Suatu hari pada bulan Oktober 2014, Demeteriya Nabire masuk ke pinggiran Danau Kyoga di Uganda untuk mengumpulkan air. Saat itu ia asyik mengobrol bersama sesama perempuan dari desanya. Sama sekali tak menyadari bahaya mengancam, karena memang di sekitar danau itu diketahui sering ada buaya berkeliaran.
Tiba-tiba muncul buaya. Demetreriya terkejut tapi tak sempat bisa bereaksi. Hewan buas itu menyeretnya pergi. Setelah itu Demeteriya tak lagi diketahui keberadaannya. Penduduk setempat gempar.

Sang suami, Mubarak Batambuze sedih bukan main. Ia tak hanya kehilangan istri, tapi juga calon anaknya. Demeteriya sedang mengandung kala itu.

Mubarak merasa tak berdaya. Hingga bulan lalu, saat ia mendengar buaya yang membunuh istrinya kembali memunculkan diri.

"Seseorang memanggilku dan berkata, 'Mubarak, aku punya berita buat kamu. Buaya yang memangsa istrimu ada di sini. Kami sedang mencarinya'," kata pria 50 tahun itu seperti dimuat BBC, Rabu (4/2/2015).

Nelayan tersebut kemudian menuju danau. Ditemani sejumlah rekannya. "Buaya itu sangat besar, seperti monster. Kami mencoba melawannya menggunakan batu dan tongkat. Tak berhasil."

Lalu, Mubarak kembali ke desanya, ia mendatangi seorang pandai besi.

"Aku berkata padanya, aku sedang melawan hewan buas yang membunuh istri dan calon anakku. Aku mantap untuk balas dendam. Pada pandai besi itu aku meminta dibuatkan tombak yang bisa mematikan buaya itu," kata dia. Si pandai besi meminta bayaran nilainya sekitar Rp 63.000. Itu uang yang besar bagi Mubarak. Namun, ia bertekad menghabisi makhluk yang merampas miliknya yang paling berharga. "Bayangkan, buaya itu memangsa istriku. Tak bersisa. Tak ada sisa pakaian, bagian tubuh yang tertinggal. Aku tak tahu apa yang kulakukan -- istri dan anakku yang belum lahir. Duniaku serasa runtuh. Aku kehilangan segalanya."  Bersenjatakan tombak barunya itu, yang didesain khusus dengan mata kail besar di satu sisi, Mubarak siap perang.

Saat ia kembali ke danau, buaya itu masih ada di sana. Sejumlah warga menghalanginya mendekati makhluk buas itu.

"Jangan serang dia. Buaya itu sangat besar, bisa-bisa kamu akan dimangsa. Tombak tak akan sepadan untuk melawannya," kata rekan-rekannya

Namun, Mubarak kukuh. Ia tetap melawan. "Pada upaya pertama aku gagal membunuhnya," jawab dia. "Aku tak takut mati demi membunuhnya. Tetap berjuang menggunakan tombak ini dan memastikan buaya itu binasa." Petugas margasatwa Uganda, Oswald Tumanya mengatakan, buaya yang jadi lawan Mubarak memiliki panjang lebih dari 4 meter. Bobotnya mencapai 600 kilogram.



Meski didera ketakutan, Mubarak menggunakan tombaknya yang dikombinasikan dengan tambang.

Butuh waktu 1,5 jam bagi pria itu dan para rekannya untuk bergelut sengit dengan buaya, sampai akhirnya hewan buas itu mati. Dalam kondisi kelelahan, mereka pulang ke desa dengan menyeret bangkai musuhnya. Orang-orang yang melihat binatang pemangsa itu kaget bukan main. Itu bukan buaya biasa, besar!

Mubarak dan teman-temannya dianggap pahlawan. Bangkai buaya itu lantas dibawa ke Makarere University di Kampala. Dokter hewan, Wilfred Emneku lantas memeriksanya. Sang dokter mengatakan ia menemukan tulang tibia atau tulang kering dalam perut buaya. Namun belum dipastikan apakah itu belulang manusia.

Seorang ahli buaya di Charles Darwin University Australia, Adam Britton mengaku bakalan kaget jika ternyata benar tulang di dalam perut hewan itu berasal dari tubuh Demeteriya Nabire. Setelah 12 minggu...dalam kondisi normal, akan sangat mustahil sisa makanan akan bertahan di tubuhnya," kata dia.

Meski dianggap berjasa, Mubarak tetap berduka. Apalagi, ia tak akan pernah bisa memakamkan istri dan anaknya yang belum lahir. Tak akan bisa mengunjungi makam mereka. "Saya merasa tertekan," kata dia. "Namun, penduduk desa terus mengatakan, 'Terima kasih karena membunuh buaya itu. Karena danau itulah tempat kami mengambil air, bukan tak mungkin akan ada korban lainnya'."

Kata-kata itu sedikit menghibur Mubarak. "Jadi aku dianggap pahlawan lokal. Orang-orang terus berterima kasih pada saya," kata pria tabah itu. (sbr:lip.6.co)

Selasa, 03 Februari 2015

Pertama di Indonesia: Kenaikan Gaji PNS Jakarta Fantastis!



Gubernur "kontroversial" Ahok saat pelantikan pejabat
DKI Jakarta.(ist)=

  Mungkin gebrakan ini pertama di Indonesia, seperti komentar para pengamat kebijakan. Penaikan gaji PNS di DKI Jakarta tahun ini sangat fantastis. Gubernur Basuki Tjahaja Purnama membuat kebijakan penaikan gaji beserta tunjangan mulai Rp 5 juta hingga puluhan juta rupiah. Tujuannya adalah meningkatkan profesionalitas kerja, memperbaiki pelayanan kepada masyarakat, serta memangkas korupsi.

Perkiraan Gubernur Basuki, pada 2015 ini gaji PNS Jakarta beserta tunjangan kinerja daerah (TKD) mencapai Rp 12 juta per bulan untuk pegawai terendah. Pada 2016, Pemprov DKI Jakarta berencana menaikkannya menjadi Rp 25 juta.

Kebijakan semacam ini patut ditiru daerah-daerah lain. Bukan soal program remunerasi pegawai yang bertujuan untuk memberantas korupsi. Program remunerasi sudah bergulir di pemerintahan sejak gerakan reformasi birokrasi 2004. Yang bisa menjadi panutan dari upaya Pemprov DKI Jakarta adalah dalam hal mencari sumber dana penaikan penghasilan pegawai. Hal ini penting mengingat tidak semua pemerintah daerah bisa memanfaatkan APBD secara kreatif.

Gubernur Basuki dan jajarannya cukup cerdas mengotak-atik APBD DKI Jakarta. Penaikan gaji pegawai itu tidak diambil dari pemotongan anggaran pembangunan infrastruktur.

Mencoret anggaran honorarium dan uang pengawasan teknis senilai Rp 2,3 triliun adalah kejelian Basuki. Anggaran honorarium dan pengawasan teknis selama ini ditengarai menjadi incaran banyak pagawai.

Mereka begitu tergiur mendapatkannya karena memang diatur dalam peraturan daerah. Saking tergiur, tak sedikit oknum pegawai, bahkan pejabat, yang mendapatkannya dengan cara tak halal.

Proyek disusun, diusulkan kemudian dikerjakan bukan karena tujuan untuk kepentingan pembangunan, melainkan untuk mengeruk keuntungan pribadi dan kroni. Tak mengherankan muncul permainan proyek di dalam APBD dan marak praktik pungutan liar maupun komisi.

Dengan pencoretan anggaran honorarium dan pengawasan teknis itu, kini seorang lurah bisa membawa pulang penghasilan Rp 33,7 juta. Gaji dan tunjangan seorang camat bisa mencapai Rp 44 juta, sedangkan seorang Kepala Dinas Provinsi maupun Walikota bisa sampai angka Rp 78 juta.

Langkah Basuki mengalokasikan anggaran honorarium dan uang pengawasan teknis untuk menambah penghasilan pegawai berprestasi sejatinya merupakan upaya membuat lebih transparan ’reward and punishment’ pegawai di lingkup Pemprov Jakarta. Ia tidak sedang menghamburkan uang rakyat dalam APBD untuk sekelompok orang di dalam birokrasi pemerintahannya. Sebaliknya, APBD digunakan seefektif mungkin, bukan hanya untuk kesejahteraan rakyat, melainkan juga untuk memperbaiki mental birokrat.

Apa yang dilakukan Basuki bukan barang baru di lingkup birokrasi. Kita ingat pada 2007 pemerintah menaikkan tunjangan bagi pegawai di Kementerian Keuangan. Penaikan gaji yang cukup tinggi disebut oleh banyak kalangan tidak berbanding lurus dengan perilaku bersih para pegawai. Apalagi ketika beberapa pegawai pajak di kementerian itu ditangkap Kejaksaan maupun KPK karena kasus korupsi. Padahal, penaikan penghasilan dilakukan bertujuan mewujudkan birokrasi yang bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme, serta berkurangnya perilaku koruptif di kalangan PNS.

Pemprov DKI Jakarta akan mengalami hal serupa. Namun kita optimistis Jakarta bakal berhasil menggapai mimpi menciptakan birokrasi yang bersih dan melayani rakyat bila sistem penilaian dan pengawasan berjalan ideal. Adalah tugas Basuki dan jajarannya menciptakan sistem dan mengawalnya.

Penilaian kerja berdasarkan kapasitas masing-masing bagian harus dilakukan secara kaku dan cenderung kasar (’zakelijk’). Mereka yang melanggar atau tidak bisa mengerjakan seluruh tugasnya dengan baik mendapatkan sanksi. Sebaliknya, yang berprestasi akan mendapatkan penghargaan. Hal ini dilakukan dengan tanpa pandang bulu karena dibakukan dalam peraturan yang tegas dan transparan.

Apa yang ditunjukkan Basuki sejak ia menjadi Wakil Gubernur mendapingi Joko Widodo sampai ia duduk di kursi orang nomor satu Jakarta, cukup meyakinkan warga Jakarta bahwa janji Basuki akan mendepak mereka yang tak becus bekerja bukanlah omong kosong belaka. Beberapa pegawai sudah dicopot, mulai dari kepala sekolah, lurah, hingga kepala dinas. Ada juga yang mendapatkan promosi karena prestasi.

Kita menunggu konsistensi Basuki. Dalam rangkaian pemberian ’reward and punishment’ ini, kita pun menjadi mahfum ketika muncul wacana bahwa pegawai yang terlambat bakal didenda hingga Rp 500.000. Denda yang rasanya sangat besar harus dimengerti dalam konteks salah satu bagian penegakan disiplin pegawai.

Besaran denda tak perlu diperdebatkan, mengingat keterlambatan datang ke tempat kerja selama ini dianggap sebagai hal lumrah, bukan sebuah kesalahan. Diperlukan hentakan keras untuk mengubah ’mindset’ seperti ini. Bila hentakan itu adalah uang denda, maka besaran Rp 500.000 rasanya cukup terasa.

Kita mendukung Pemprov DKI yang mengunakan sistem laporan kinerja harian yang menentukan TKD dalam komponen penghasilan pegawai. Semakin rajin PNS maka semakin besar TKD dinamisnya.

PNS juga dinilai dari kehadirannya pada penilaian TKD statis. Termasuk di dalamnya adalah keterlambatan datang ke kantor, lebih cepat pulang, alfa, izin, dan sakit. Waktu setahun ini sekurangnya akan membuktikan apakah program Basuki ini akan berjalan efektif atau tidak.

Kita berharap, pemberian penghargaan layak berupa kenaikan penghasilan akan melahirkan pegawai-pegawai berkualitas karena lahir dari kompetisi di dalam birokrasi yang berdasar profesionalitas. Jaminan rasa keadilan pegawai terpenuhi karena yang berprestasi mendapatkan penghargaan dan yang tercela mendapakan sanksi.

Pada akhirnya penghargaan yang tersistem baik semacam ini akan mengubah sikap dan perilaku birokrat yang sebenarnya adalah pelayan masyarakat. *** ( opini sp/ls)

(SKETSA) Membuat Arang, Mandi Keringat




Di siang terik mandi keringat membuat arang (SARINGAR.
Net/LS)=

 SARINGAR.Net-  Arang, siapa yang tak tahu apa itu arang. Peribahasa lama pun ada menyebut benda yang satu ini: arang habis besi binasa. Tapi, bagaimana proses pembuatannya hingga jadi siap dibakar, tak semua orang tahu. Prosesnya tampaknya sederhana, tapi butuh energi dan kerja keras. Selain itu harus “siap bermandi keringat’, seperti dituturkan dua orang pembuat arang saat ditemui jurnalis online Leonardo Simanjuntak, di satu tempat di kawasan Desa Sisordak perbatasan Kecamatan Parmonangan-Sipoholon, Sumatera Utara, lebih kurang 250 kilometer dari Medan.
Secara umum, ada dua jenis arang yang biasa dikenal orang. Ada arang keranjang atau biasa juga disebut arang toko. Jenis arang ini biasa di jual di toko kelontongan. Harga memang lebih mahal, karena lebih berkualitas, lebih tahan lama, selain kandungan asap lebih sedikit. Jenis yang kedua adalah arang goni. Sesuai namanya, arang yang ini dijual per goni, walaupun bisa juga dibeli per kaleng. Jenis arang goni lebih murah, karena terbuat dari kayu sembarang. Jenis arang goni juga tidak sekeras arang keranjang, lebih lembek, dan lebih mudah habis. Jenis arang ini lebih banyak mengeluarkan asap saat pembakaran.
Yang saya tuturkan sekilas di sini, ya arang goni itu. Biasanya arang yang ini lebih banyak digunakan para pedagang makanan ringan, yang butuh pembakaran atau main panggang. Seperti pedagang sate, pedagang jagung bakar, pemanas bakso, dan lain-lain. Sedangkan arang keranjang karena dianggap lebih bermutu dan lebih aman dari kepulan asap, biasa dipakai di resto-resto atau rumah makan yang agak berkelas di kota. Tapi apapun jenisnya, tetaplah itu namanya arang. Dari dulu hingga kini masih tetap berperan untuk banyak kebutuhan manusia, meski tentu saja penggunaannya sudah berkurang pada era kemajuan sekarang ini.
Ada dua orang pembuat arang yang masih konsisten, bahkan saya sebut militan, namanya Hokkop Purba dan Purba di Desa itu. Saat saya jalan-jalan ke Parmonangan, saya ketemu mereka di sebuah areal perladangan sepi. Saat matahari terik membakar, dan angin seakan berhenti berembus. Saat suasana begitu lengang, dan para pekebun sepertinya istirahat dari kesibukan banting tulang di sawah dan ladang.
“Horas, lae,” kata saya seraya memarkir sepeda motor di jalan tanah. Sapaan akrab di daerah ini. Kedua pria itu sedang istirahat setelah makan perbekalan yang dibawa dari rumah. Tak jauh dari jalan tanah itu kelihatan asap mengepul tebal dari kayu-kayu yang dibakar di sekitar area perladangan yang tak diusahai. Kami berkenalan, dan namanya orang tapanuli, tentu saling menyebut marga. “Purba,” kata pria berkulit hitam yang lebih muda.”Purba juga”, sebut pria yang lebih tua.
Meski berbeda usia, satu hal terlihat sama. Ketangguhan dua sosok yang saban hari bergelut diterpa angin pegunungan dan cahaya terik matahari yang saat kemarau tak kenal ampun membakar apa saja di muka bumi. Bertubuh kurus dan mata cekung, seperti umumnya penduduk desa kurang gizi. Itu kesimpulan saya. Sorot mata yang kuyu dan kulit yang legam, menandakan pekerja keras yang pantang menyerah.
Mereka bercerita tentang kehidupan ini, apa adanya.”Kami sedang membuat arang,” ujar Pangaribuan sambil mengisap rokoknya dengan santai, menyandar pada sebatang kayu ekaliptus yang banyak tumbuh di sana-sini. Hokop Purba baru menikah, masih beranak satu umur dua tahun. Sedang rekannya punya beberapa anak masih kecil. Selain membuat arang, keduanya juga berkebun kopi, jagung, dan sesekali tanam cabe. “Hidup di desa ini sulit, mana sempat santai, kecuali saat begini istirahat sejenak, sebentar lagi juga sudah harus dipanggang matahari,” kata Hokop Purba yang berperawakan kecil.
Bagaimana cara membuat arang? Keduanya bergantian cerita secara terbuka dan familiar. Untuk membuat arang goni, mereka harus mencari kayu sembarang, di seputaran hutan di areal itu yang masih cukup luas. Kayu atau dahan yang seukuran broti tiang hingga yang ukuran tiga kali ukuran tebu, dipotong-potong dan dikumpulkan dekat tanah yang sudah dilubangi. Ukuran lubang dibuat sekitar 3x 4 meter, dengan kedalaman satu setengah hingga dua setengah meter, dibentuk dengan petak segi empat. Selanjutnya potongan-potongan kayu itu dimasukkan ke dalam lubang dibuat bertingkat, tak terlalu rapat, setelah di bawahnya dilapisi ranting-ranting dan dedaunan kering yang mudah terbakar. Setelah itu dilapisi lagi dengan dedaunan dan ranting kering dari atas. Kalau itu sudah siap, tinggal membakar. Kalau tak ada minyak tanah, sering juga dibantu dengan penggalan-penggalan kayu tusam diselipkan di sekitar potongan kayu yang akan dibakar. Saat mencari kayu sebagai bahan sudah setengah mati, apalagi kalau lokasinya agak jauh. Mereka harus berjibaku mengangkut ke lokasi pembakaran. Saat matahari sedang terik, mereka setiap hari harus bermandikan keringat. Sehelai handuk kecil tak lekang dikalungkan di leher, untuk mengusap cucuran keringat yang tiada henti.
Setelah potongan kayu dibakar, bukan berarti tugas selesai. Mereka harus rajin mengecek apa apinya terus nyala di dalam lubang. Hati galau akan terjadi, manakala hujan turun. Itu akan mengganggu proses pembakaran kayu. Apa lagi kalau hujannya deras, bisa membuat lubang banjir jadi sumur buatan. Makanya, saat pembakaran selalu diwanti-wanti apa cuaca sedang bersahabat atau tidak. Sukses pembuatan arang hanya terjadi ketika musim kemarau panjang.
Masih menurut Purba dan Pangaribuan, proses pembakaran itu biasanya menunggu tiga hingga empat hari. Pada hari yang ditentukan, mereka meninjau lokasi pembakaran, membuka tanah dan dedaunan penutup di atas lubang. Tampaklah kayu sudah pada gosong, tinggal membentuknya menjadi potongan sesuai ukuran dengan cara dipukuli dengan kayu atau apa saja. Setelah semuanya selesai, tinggal memilah-milah potongan-potongan yang sudah jadi arang, dimasukkan ke dalam goni. Potongan-potongan arang terkecil berserakan pada lantai bawah lubang, itupun dipilih kembali digabung dengan arang berukuran standar. Lalu pada bagian mulut goni ditutupi dengan dedaunan bernama daun arsam, sebelum dijahit dengan tali plastik.
Berapa harga satu goni?” tanya kompasianer yang hobi  jalan-jalan ke pedesaan. “Dulu satu goni itu kami jual ke toke penampung Rp 70 ribu, sekarang sudah naik jadi Rp 100 ribu per goni,” terang Pangaribuan seraya menyeruput kopi dingin dari cangkir besar berwarna biru. Tapi kalau mereka jual ke pedagang yang akan menjual lagi, biasanya dikasi lebih murah, hanya Rp 70 ribu per goni. Lalu pedagang penjual akan menjualnya ke pembeli bisa Rp 90 ribu hingga Rp 100 ribu. Ada juga pengguna yang langsung datang membeli atau memesan ke pembuat arang agar harganya bisa lebih murah.
Kata Purba, di daerah ini arang masih berperan penting bagi banyak orang. Khususnya bagi ibu yang sedang melahirkan. Sesuai kebiasaan leluhur, biasanya ibu melahirkan di kampong-kampung masih menggunakan arang untuk memanaskan punggung dan pinggang ibu melahirkan, sekaligus melawan hawa dingin. Hinggang kini masih ada penduduk desa yang menerapkan cara itu, meski zaman sudah super modern. Arang dimasukkan ke dalam sebuah kaleng, dan dua sisi kaleng diberi lubang angin. Lewat lubang angin itu panas yang ditransfer dari bara arang dalam kaleng akan menghangati punggung ibu melahirkan.
Memang, itulah kehidupan manusia. Banyak cara yang dilakukan untuk menjalani dan mempertahankan hidup. Sementara banyak orang kota tak lagi ingat arang, toh masih banyak yang menggantungkan usahanya dengan bahan arang. Lihatlah itu tukang jual sate, dimana pun mereka menjajakan satenya, harus siapkan arang sebagai bahan bakar utama. Wanginya daging kambing atau daging sapi saat dibakar dengan arang setelah ditetesi minyak khusus pewangi, wah…membuat perut ini tiba-tiba lapaaar…!
 Sayang sekali bila ajal sudah tiba. Beberapa bulan setelah liputan ini ditayangkan, Hokkop Purba sang pembuat arang itu, terkabar sudah meninggal dunia. Maka berkuranglah salah satu pekerja ulet yang masih mau bermandi keringat membuat arang. (Juga tayang di Kompas.Com)

Senin, 02 Februari 2015

Kepala Satpol Ditangkap Polisi Diikat Pakai Tali, Dinilai Tidak Etis




Kasatpol Palangkaraya,Sule, saat ditangkap polisi (ist/jpn)

  PALANGKA RAYA,Ekspresiana – Menarik juga peristiwa ini diekspresianakan. Kepala Satpol ditangkap polisi dan diikat dengan tali seperti menggelandang kerbau. Kasus ini pun memicu protes dan kecaman. Ketua Komisi C DPRD Palangkaraya, H Rusliansyah mengecam tindakan berlebih dan terkesan arogan yang diperlihatkan anggota Ditreskrimsus Polda Kalteng saat menangkap Kepala Satuan Polisi Pamong Praja, Suel pada Rabu (28/1) lalu.
Menurut Rusli, seharusnya polisi juga tetap mengedepankan etika saat melakukan penangkapan dan tidak bersikap arogan.
“Polisi itu jangan juga terlalu arogan. Harusnya tetap ada etika meskipun menangkap orang. Apalagi sepanjang orang itu dianggap tidak terlalu membahayakan, tidak usah seperti itu, diborgol, diikat pakai tali seperti memasung hadangan (kerbau, Red) saja. Itukan tidak etis dan manusiawi,” kata Rusliansyah dilansir Kalteng Pos (Grup JPNN.com), Minggu (1/2).
Padahal, menurut Rusli, jika melihat situasi dan kondisi saat penangkapan terjadi, Suel yang ketika itu berada di Ruang Bid Propam Mapolda Kalteng juga tidak mungkin untuk melakukan perlawanan atau melarikan diri.
“Kalau melihat saat itukan dia ibaratnya berada ‘disarang’. Jadi tidak mungkin juga melakukan perlawanan atau bisa lari secepat kilat atau melawan. Meskipun waktu itu dia membawa anak buahnya berapa orang. Tidak mungkin bisa berbuat apa-apa juga,” lanjut Ketua DPD Partai Golkar Kota Palangka Raya itu.
Terlebih lagi, imbuh dia, saat datang ke Mapolda, Suel juga menggunakan atribut lengkap seorang aparatur negara (pakaian lengkap Kasatpol PP).
“Ya setidak-tidaknya dia saat itu datang baik-baik. Apalagi dengan pakaian dinas. Dan biar bagaimanapun posisinya masih sebagai salah satu pejabat di daerah, tidak semestinya diperlakukan seperti menangkap maling ayam saja,” tutur dia. Rusliansyah menegaskan, dirinya tidak mempermasalahkan proses hukum yang disidik polisi tersebut.
“Soal proses hukumnya ya silakan dilakukan sesuai asas paraduga tak bersalah. Cuma yang rasa-rasanya tidak pas adalah cara mereka (polisi) saat menangkap itu,” ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, drama penangkapan Suel yang menggunakan seragam Kasatpol PP bahkan usai melaporkan penyidik Tipikor Polda Kalteng ke Bid Propam, setelah dia ditetapkan sebagai tersangka korupsi pengadaan 1.100 unit seragam linmas saat Pilwalkot Palangkaraya tahun 2013 pertengahan pekan tadi menarik perhatian banyak kalangan. Suel sendiri memang telah dilakukan pemanggilan oleh penyidik, namun tidak pernah menghadirinya, sehingga dilakukan penangkapan paksa. Ada juga rupanya alasan penangkapan paksa ini. Cuma caranya saja yang dipersoalkan.(jpnn/ls)