Selasa, 28 Oktober 2014

Pedagang Sate Hina Jokowi, Masuk Sel !












JAKARTA-EKSPRESIANA, Menghina merupakan perilaku yang berbahaya. Jangankan melakukan penghinaan atas nama agama, menghina pribadi seseorang juga bisa berakibat runyam.Tukang santet atau tukang sate, memang beda. Tapi menyangkut soal penghinaan, keduanya sama saja. Apalagi kalau orang yang dihina selevel presiden, bah memangnya gampang dan tanpa risiko? Inilah contohnya: Seorang pedagang sate di Jakarta Timur disebut-sebut telah ditangkap polisi pada Kamis (23/10) setelah dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik Presiden Joko Widodo. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar, mengatakan laporan itu dilayangkan oleh tim kuasa hukum sekaligus politisi PDI Perjuangan, Henry Yosodiningrat.

"Iya benar. Dilaporkan oleh Henry Yoso. Inisialnya MA," kata Boy saat ditemui di Bareskrim Polri, Rabu (29/10). Meski demikian, Boy mengaku belum mengetahui detil identitas ataupun profesi MA. "Tapi saya belum cek identitas dan profesinya," kata dia. Tapi dari permulaan berita, disebutkan orang berinisial MA itu seorang pedagang sate.

Dari informasi yang beredar, MA diketahui telah ditangkap karena mengunggah sebuah gambar dua orang yang sedang berhubungan badan ke media sosialnya. Hanya saja, dua orang tersebut ditampilkan dengan menggunakan wajah Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati.

Di tempat berbeda, Henry Yoso menjelaskan ihwal laporan pencemaran nama baik yang dilayangkannya. Dia mengatakan, pelaporan tersebut dilakukan setelah Sekjen PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo memberi informasi mengenai adanya penyebaran gambar-gambar tersebut.

"Saya laporkan setelah diberitahu oleh Pak Tjahjo. Ini inisiatif pribadi saya," kata Henry saat dihubungi CNN Indonesia. Dia menceritakan, dirinya melapor pada pukul 02.00 dini hari pada 27 Juli lalu. "Waktu itu pukul 02.00 saya langsung lapor ke Mabes," ujarnya. Makanya hati-hatilah menghina orang,apalagi kalau orang yang dihina itu "kelas berat".(sp)

Minggu, 26 Oktober 2014

Nahum Situmorang, Sang Maestro Yang Kesepian Hingga Akhir Hayat













Nahum Situmorang, Sang Maestro =
Suatu malam di awal Oktober baru lalu,di sebuah warung tuak di pinggir jalan raya Tarutung-Siborongborong, sejumlah parmitu (sebutan populer untuk orang Batak yang sering mangkal di kedai tuak sambil menyanyi), sedang asyik mendendangkan lagu-lagu Batak ciptaan komponis beken, Nahum Situmorang. Uniknya, semua lagu yang dinyanyikan lima pria Batak itu adalah ciptaan Nahum Situmorang, komponis Batak legendaris yang namanya abadi dalam histori lagu Batak nostalgia yang tak lekang disiram air hujan tak lapuk dimakan waktu.
Seorang pemain gitar begitu piawai mengiringi empat pria lainnya membawakan lagu Lissoy yang terkenal. Mereka tampak bernyanyi penuh perasaan, seolah tak acuh suasana sekitar. Sambil sesekali meneguk tuaknya, silih berganti lagu karya Nahum dilantunkan.
“ Kenapa semua lagunya Guru Nahum?”, tanya penulis ketika para parmitu itu jedah sejenak.
Salah seorang menjawab, hanya kebetulan semacam acara mengenang komponis besar Nahum Situmorang,mendorong mereka kumpul di kedai itu. “Almarhum guru Nahum Situmorang adalah komponis Batak terbesar yang pernah dilahirkan,meski pun masih ada beberapa komponis Batak lainnya yang hampir setara dengan Nahum,” jelas pria bermarga Purba sambil mengajak penulis mencicipi sedikit tuak bagot (jenis tuak dari pohon enau) yang tersaji dalam sebuah kendi di atas meja. Ternyata ke empat pria itu bukan warga setempat. Mereka hanya kebetulan singgah dalam perjalanan dari Siantar menuju Sibolga. Saat itu hujan gerimis, dan mereka memutuskan singgah sebentar. “Kami lihat ada gitar, yah langsung saja dimainkan”, ujarnya tertawa lepas.
Purba mengatakan, Nahum Situmorang adalah “pendekar seni musik”(maestro) Batak yang telah menciptakan ratusan lagu yang tetap popular hingga kini. Bahkan banyak lagu ciptaan Nahum belum sempat dirilis, sampai ia meninggal pada 1969. Kepiawaian Nahum mencipta lagu, setara dengan komponis Batak lainnya seperti Ismail Hutajulu, Guru Sidik Sitompul (S.Dis), Tilhang Gultom. Sejumlah lagu ciptaan Nahum yang terkenal, di antaranya Lissoy,Tabo Dekke Niura,Boha PandungdungBulung,Sombuma roham
,Dijou au mulak tu Rura Silindung, O Luat Pahae,Pulo Samosir do, Ketabo tu Sidimpuan i, Marragam-ragam, Dekke Jahir, Marsahit Lungun , Bunga na Bontar, dan banyak lainnya yang terlalu banyak disebut satu persatu. Semua lagu Nahum sudah dirilis dalam format album kaset, kepingan vcd/dvd, dengan penyanyi berbeda. Mulai dari Trio Lasidos, hingga vokal grup yang berunculan dari waktu ke waktu.
Dari beberapa referensi, bukan rahasia lagi kalau Nahum Situmorang sampai akhir hayatnya memilih hidup sendiri (melajang),konon karena patah hati. Tak jelas ceritanya siapa gadis yang dulu begitu dicintainya, sehingga sampai usia 60 lebih, ia tidak kawin. Tapi menurut cerita, si gadis yang membuatnya patah hati adalah seorang gadis rupawan, dan masih cicit seorang tokoh pahlawan nasional. Gadis jelita yang kemudian kawin dengan seorang dokter itu, pernah diwawancarai wartawan di Tuktuk,Samosir, menyangkut kedekatannya dengan Nahum di masa muda. Namun dia menepis anggapan bahwa ia pernah dekat dengan Nahum dalam arti spesial.”Mungkin saja dia (Nahum) memendam cinta pada saya, namun tak pernah diungkapkan,” tutur wanita yang rambutnya sudah ubanan ketika itu. Dia menyebut semasa muda dulu di Tarutung, sering beramai-ramai marguru ende (latihan koor) ke gereja. Nahum sering ikut menghidupkan suasana dengan main gitar dan menyanyikan lagu-lagu ciptaannya.
Nahum Situmorang yang nama samarannya “Humstrong”, lahir di Sipirok, Tapanuli Selatan, pada 13 Februari 1908. Semasa hidupnya ia sempat mengecap pendidikan di Kwekschool Gunung Sahari, Jakarta.Tapi kemudian Belanda menutup sekolah itu karena dianggap berbahaya. Dari sana Nahum melanjut ke Lembang Bandung pada 1927, tamat 1928. Tapi ia tidak diterima mengajar di sekolah negeri karena dianggap sebagai pejuang yang memusuhi Belanda. Nahum kembali ke Sibolga dan mengajar di Particuliere HIS van Batakse Studifonds. Sejak itulah panggilannya sehari-hari disebut “Guru Nahum”. Dari Sibolga, Nahum lama menetap di Tarutung. Dia menciptakan banyak lagu semasa di Tarutung. Salah seorang adiknya mengajar di SMP Nommensen Sigompulon. SMP itu belakangan tutup.
Sejak remaja bakatnya menyanyi dan mencipta lagu sudah kelihatan. Tapi bakat itu makin menonjol setelah Nahum pindah ke Medan 1950. Keindahan alam Tapanuli terutama Danau Toba dan Lembah Silindung mengundang banyak inspirasinya mencipta lagu. Di antaranya lagu Rura Silindung,Pulo Samosir,Sitogol-Sitogol,Tao Toba, Marina (pernah menghiasi film Marina pada 1960 an). Selain itu Nahum juga mencipta lagu Lontung Sisiamarina,yang melukiskan sejarah sembilan marga turunan Raja Lontung, termasuk marga Situmorang.
Menurut Purba, semasa hidupnya Guru Nahum sering menghabiskan waktunya bergaul dengan rekannya sesama penyanyi di lapo-lapo tuak di Tarutung, Siborongborong, Sibolga, Medan . Di sana ia bertemu parmitu,abang beca, bahkan pemain judi. Dari pergaulannya dengan ragam manusia Nahum makin produktif mencipta lagu. Guru Nahum sering memainkan gitar buatan Sipoholon, yang menurutnya tak kalah dari gitar buatan luar negeri.
Pernah suatu malam pada Oktober 1959, Nahum melintas di jalan Ambon, Medan . Tiba-tiba ia tertegun mendengar tangisan bayi dari sebuah rumah. Nahum tertarik mendekat untuk memantau situasi di rumah itu. Rupanya si bayi sedang rewel tak mau tidur walau ibunya berusaha meninabobonya dalam ayunan. Sang ibu menggerutu, karena suaminya belum pulang larut malam. Dari situlah Nahum mendapat ilham menciptakan lagunya berjudul Modom ma damang ucok. Salah satu lagu sentimental yang disukai perempuan Batak. Lagu itu pernah dinyanyikan Nia Daniaty dalam album lagu Batak produksi Akurama Record. Syair lagu itu melukiskan kesetiaan dan perjuangan seorang perempuan Batak mengasuh anaknya, sementara saang suami asyik di kedai tuak atau main judi.
Diduga, karena Nahum begitu sibuknya mencipta lagu, sehingga ia sering begadang. Faktor kurang tidur, membuat kesehatannya cepat menurun di hari tuanya. Nahum mulai sakit-sakitan, namun dalam keadaan sakit pun ia tetap mencipta lagu. Ketika akhirnya Nahum meninggal dunia di Medan pada 20 Oktober 1969, suasana terasa memilukan. Karena sampai akhir hidupnya tak ada isteri atau anak-anak yang melepas kepergiannya. Ia telah memilih hidup sendiri dengan jiwa seninya. Nahum Situmorang dimakamkan di pekuburan Jalan Gajah Mada,Medan. Makamnya menjadi salah satu obyek wisata bagi para pengagumnya, menyimak kembali aspek kesejarahan komponis besar itu. Banyak generasi muda sekarang tak tahu lagi persis siapa dan bagaimana guru Nahum melintasi kehidupannya di masa silam, tapi mereka mau meluangkan waktunya ikut membuka lembaran sejarah, seraya mengumandangkan ragam lagu ciptaan Nahum yang memang memiliki karakteristik tersendiri, tentang alam Tanah Batak, tentang panorama indah Danau Toba, tentang Lembah Silindung yang dicintainya, tentang kehidupan masa silam yang tak terbandingkan lagi dengan nuansa kekinian.
Pada masa mudanya, Nahum lama bergaul di Tarutung. Ia menyukai alam dan masyarakatnya yang solider. Marga- marga Situmorang merasa bangga, karena dalam salah satu lagu ciptaannya, Nahum menguntai syair molo masihol ho tu Silindung, endehon ma ende ni Situmorang ( Kalau rindu ke Silindung nyanyikanlah lagunya Situmorang). “ Terus terang saya bangga, karena Silindung itu bukan kampung halamannya marga Situmorang tapi nyanyian untuk Silindung justru lagu Situmorang”, kata Martua Situmorang, seorang pensiunan guru STM Pansurnapitu . Lagu Rura Silindung memang salah satu lagu rakyat berirama sentimental,yang sering dinyanyikan dalam berbagai event penting. Tak heran kalau alm KK Mangatas Panggabean mengatakan lagu tersebut sudah seperti “lagu kebangsaan” bagi warga Silindung.
Sebagai kenangan dan penghargaan atas jasa Nahum Situmorang dalam pengembangan lagu rakyat khas Batak, Pemda Tapanuli Utara telah menabalkan namanya menjadi nama sebuah jalan di kawasan Sigompulon Tarutung, ibu kota Kabupaten Tapanuli Utara. Prasasti abadi untuk sang maestro.
Seorang komponis boleh saja sudah tiada, tapi lagu ciptaannya akan abadi sepanjang masa. Tapi menjadi pertanyaan sekarang, akankah masih ada lahir komponis dengan talenta, visi, dan misi Guru Nahum di tengah semarak kemunculan para pengarang lagu dan penyanyi asal Tapanuli? Sejarah juga yang akan mencatat. (Leonardo TS / diperkaya berbagai sumber/lihat juga Kompasiana.Com)

Rabu, 22 Oktober 2014

Pria Belanda Ini Mahir Marhobas a la Batak,Lho...


          








Mr Barry tak canggung lagi melaksanakan tugasnya sebagai
boru harus ikut marhobas membagikan jambar dalam pesta
adat Batak spt terlihat pada foto. (khas) =
Asam di gunung ikan di laut, bertemu dalam kuali. Begitu kata peri bahasa lama yang selalu terjadi menyangkut jodoh manusia.
            Agaknya itu juga yang terjadi pada diri Mr Barry, pria Belanda yang belakangan menjadi istri Boru Tobing dari Tarutung, Sumatera Utara. Meski awalnya sering gagap saat harus ikut menghadiri acara adat Batak, lama kelamaan orang Belanda ini bisa menyesuaikan diri dalam komunitas orang Batak.
            “Sebagai boru atau hela (menantu) dari orang Batak, saya harus bisa menempatkan diri selaku boru, meski pun saya orang Belanda,” ujar pria bertubuh tambun ini saat ditanya bagaimana perasaannya sebagai menantu orang Batak.”Sangat senang, sangat senang, saya suka marhobas seperti ini,” ujarnya seraya menunjuk kain sarung yang melilit pinggangnya, saat berlangsung sebuah pesta adat keluarga mertuanya marga Tobing.
            Hari itu, Barry tampak sibuk dan sigap menjalankan peranannya sebagai “boru” dalam pesta adat perkawinan “lae” (iparnya) di Wisma Evi Roida,Pardangguran, Tarutung.  Seperti lazimnya, saat “marhata” (pembicaraan adat) harus ada pihak “boru” yang bertugas hilir-mudik menyampaikan “jambar” (pembagian mahar) kepada pihak hula-hula dalam bentuk uang berupa “panandaion” (pengenalan) dan “tuhe” (jambar untuk marompu-ompu).
            Barry si pria Belanda yang sudah diangkat menjadi marga Simangunsong itu tampak melilitkan kain sarung di pinggang, dan bersama seorang pria berstatus “boru” lainnya, pria Belanda ini pun harus sigap ke sana-kemari mengantar “jambar” sesuai yang disebutkan juru bicara “hula-hula”. Semua yang hadir pun tertawa menyaksikan gerak-gerik si Belanda yang tampak lucu,karena itu suatu hal yang jarang dilihat. Namun si Belanda bersikap biasa saja. Kalau ada yang menegor, ia membalas dengan senyuman ramah."Horas,horas ma Amang," katanya berulang kali.
            “Hela” (menantu) dari marga Tobing yang berasal dari Banua Aji,Adian Koting ini, memang lebih fasih berbahasa Indonesia dari pada bahasa Batak. Dia bisa mengerti dan mengucapkan beberapa patah bahasa Batak.” Nanti saya akan belajar lagi, sampai bisa bahasa Batak”, katanya polos. Dia mengaku tinggal di Jakarta bersama istrinya boru Tobing tercinta.
             Sementara Boru Simanjuntak sang ibu mertua Barry mengatakan kepada EKSPRESIANA di pajak Tarutung,  bahwa menantunya orang Belanda itu secara bertahap makin memahami adat istiadat orang Batak. Kedua pasangan berbeda ras itu kini sudah dikaruniai seorang anak perempuan."Hela kami itu sudah bermarga Simangunsong," ungkap Tobing bangga punya menantu bule. (leonardo ts)

Sabtu, 18 Oktober 2014

SMS Dari Orang Mati...








Ilustrasi (BBC)-
London,EKSPRESIANA= Ini boleh jadi cerita misteri, yang boleh dipercaya, boleh tidak, atau sekadar mengernyitkan alis. Seorang perempuan Inggris mengaku sangat terkejut ketika mendapat pesan pendek atau SMS dari nomor neneknya yang sudah meninggal dunia.
Di masa hidupnya, nenek yang bernama Lesley Emerson itu gemar mengirim pesan pendek kepada para anggota keluarganya di South Shields, kota pesisir di dekat Newcastle.
Oleh karena itu, ketika Emerson (59), meninggal dunia pada 2011, keluarganya memutuskan untuk menguburkan telepon genggam bersama jasadnya.
"Beberapa di antara anggota keluarga terus mengirim SMS ke nomor tersebut," tulis BBC.
Pekan lalu, cucu Lesley Emerson, Sheri, mendapat jawaban pesan pendek yang berbunyi, "Saya mengawasimu dan semuanya akan lebih baik. Terus maju".
Keluarga Emerson kemudian menelepon nomor tersebut dan dijawab oleh seorang laki-laki. Ia menuturkan sudah menggunakan nomor itu selama beberapa pekan.
Padahal, kata keluarga Emerson, perusahaan telepon O2 telah memberikan jaminan bahwa nomor tersebut tidak akan diterbitkan lagi.
Perusahaan layanan telepon kini sudah meminta maaf atas kejadian itu. BBC mencoba menelepon ke nomor itu tetapi pemilik nomor baru tidak menjawab panggilan. [BBC/sp)

Jumat, 17 Oktober 2014

Prabowo Menghormat Jokowi! Politik Negarawan Yang Santun











Prabowo menghormat Jokowi. Cermin politik kenegarawanan yang santun
(detik)
JAKARTA-EKSPRESIANA= Inilah politik kenegarawanan yang santun dan perlu dicontoh di masa depan. Dua tokoh yang berkompetisi pada pilpres 2014, yang memicu multi opini dan trik politik, dan melejitkan suhu politik ke level terpanas, akhirnya bertemu dalam suasana kenegarawanan yang mungkin mengejutkan banyak pihak.
  Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) mengaku kaget saat Ketua Umum Partai Gerindra memberikan salam hormat saat bertemu di kediaman orangtua Prabowo, di Jakarta, Jumat (17/10).

“Saya kaget beliau memberi salam seperti itu. Namun, intiny, yang saya rasakan, media nasional, media lokal, bahkan media asing menyampaikan situasi politik genting, panas, dan membara. Saya buktikan Pak ARB, ketemu Pak Prabowo. Sebelumnya, Ketua DPR, Ketua MPR. Gak ada masalah apa-apa,” katanya, saat menghadiri peluncuran buku "Revolusi Mental untuk Transformasi Bangsa,” di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (17/10).

Mengapa baru bertemu Prabowo? Jokowi mengatakan, dirinya bertemu pimpinan partai Golkar Aburizal Bakrie karena alasan sepele. “Partai Golkar kan lebih besar dari Gerindra,” ucapnya.

Dia mengatakan, pertemuan dengan Prabowo merupakan silaturahmi dirinya. “Saya merangkul semua. Pak Prabowo menyambut dengan baik. Beliau malah mengundang saya ke Hambalang,” katanya. (sp)

(STORY) Janji Kekasih Misterius




Janji Kekasih Misterius
(LEONARDO TS)==
 


 Di pinggir sungai kota T, mereka berpapasan lagi. Kalau gadis itu tersenyum kecil, maka pemuda itu tersenyum lebar. Kalau gadis itu menahan tawa sambil membekap mulut dengan sebelah tangannya, maka pemuda itu juga tertawa sambil batuk ditahan. Awalnya beberapa kali berpapasan itu tanpa bunyi, tanpa sapa. Lalu, belakangan pemuda bernama Sitor itu yang menegur pertama kali. Itu pun sudah mati-matian.
  “Mau kemana?”
“Mau ke sana.”
Atau bila pertanyaan Sitor “ dari mana”, gadis itu menjawab singkat “ dari sana”. Dan selalu ada bumbu tawa renyah, tawa rincing yang menarik, tawa bugar yang menyehatkan ruang dengar Sitor. Tawa yang berlabuh indah ke ulu hati.
  Itulah yang terjadi hari-hari yang lalu. Dari Januari ke Pebruari. Monoton awalnya, tapi bersayap. Seperti ada sinyal-sinyal ketertarikan satu sama lain.
  Kini, awal Maret. Masih di kota T yang dibelah sungai yang airnya kekuningan dan mulai dangkal. Mereka seperti ditakdirkan dewa-dewi, berpapasan lagi di pinggiran sungai itu. Tapi bukan lagi seperti hari-hari lalu, kalau bertemu saling senyum, saling tertawa, atau saling sapa. Kali ini mereka sudah duduk bersama di sebuah lapak penjual mi sop bertenda plastik biru. Di atas ketertarikan, ada rasa suka. Dari rasa suka tak terlalu rumit lagi menuju rasa sayang, dan dari rasa sayang mengarah rasa cinta. Begitu.
  Saling tanya “dari mana” atau “mau kemana”, sudah silam. Kini intimitas itu makin nyata, ibarat enceng gondok merapat ke perahu layar di Danau Toba. Dialog yang terjadi sudah maju ke tahapan lebih modern, lebih gaul, lebih transparan.
 “Siapa namamu?”
“ Sitor...”
“Dan namamu?”
“ Mince...Mince Katiempo”
Lalu terdengar nada heran yang pemuda.” Lho, seperti nama Manado. Apa kamu orang Manado?”
Datar saja suara Mince menyahuti:” Kalau orang Manado, kenapa?Kok heran?”
“Nggak, ya hanya heran kok di sini ada gadis Manado, dan manis lagi...”, Sitor melepas tawa dengan intonasi suara beratnya.

  “Kalau ada pemuda Batak di Manado sana, apa itu aneh?” Mince menyeruput air putih dari gelas. Sitor juga meneguk kopi manisnya. Terasa kurang gula, tapi tak perlu dikomentari.
  “ Ya, lupakan saja deh soal Manado dan Batak. Kita anggap saja sama-sama orang Indonesia, selesailah sudah. Oke?”
  “Saya bukan orang Manado,kok. Hanya nama saya mirip seperti Katoppo, nama marga Manado. Itu maksudmu kan?” kata Mince kemudian.
  “Baiklah, kita orang Indonesia saja, tuntas sudah,” balas Sitor lembut berirama.
  Mince mengangguk. Tertawa lepas lagi. Suaranya memang tak semerdu Yuni Sara, tapi cukup feminin di telinga Sitor. Percakapan itu berlangsung terus, dalam suasana ceria. Tampaknya sama-sama sudah suka. Atau cinta? Hanya mereka yang pastikan itu. Yang pasti, mereka makin sering bertemu. Dan paling kerap di tepi sungai kota T itu.
  Senja itu, adalah senja yang ke sembilan  mereka bertemu. Juga makan mi sop yang hangat sambil minum juice jeruk. Yang bayar tak selalu Sitor. Untuk yang ketiga kali, Mince yang traktir.
  Dan malam pun merayap perlahan, seiring tenggelamnya nuansa merah jingga di ufuk barat. Bulan sedang menuju padam. Tak seterang seminggu sebelumnya ketika bulan masih menggantung di angkasa raya. Hanya cahaya lampu rumah dekat sungai itu yang menerangi suasana temaram. Sitor mengenakan jeket pilot kumal menutupi kaos oblong bertuliskan Hotel California itu. Mince tampak seksi dengan jelana keeper putih dikombinasi kaos biru liris-liris. Tampak lekuk-liku tubuh montoknya mengundang mata berkolaborasi dengan bokong yang penuh dan melambai-lambai ke kanan kiri ketika berjalan. Sitor tak bosannya memuji kebahenolan Mince walau dalam hati. Maka wajar bayangan erotis itu makin sering menggumpal di depan mata.
  Pada malam tak berbulan ini, mereka cerita ngalor-ngidul ke segala arah, ragam topik. Sitor ingat ini adalah pertemuan ke empat pada malam hari di tanggul sungai itu. Cukup aman dan romantis, terlindung dua batang pohon yang rimbun. Pada pertemuan ketiga, Sitor sudah mencoba mencium bibir Mince, tapi gagal. Bukan bibir yang kena cium melainkan pipi. Pada hal Sitor bercita-cita harus melumat bibir bagus itu sekali. Tapi Mince selalu menolak, dengan dalih sederhana,” sabar bang, ada waktunya”. Sitor penasaran tapi ia merasa tak etis jika terus memaksa. Sudah ke sekian kali Mince berhasil mengelak sehingga ciumannya hanya singgah di pipi.
  Dan malam ini, Sitor masih mencoba. Tapi ketika ia mencoba memalingkan wajah gadis itu ke arahnya, Mince melintangkan jari telunjuknya di bibir, syarat melarang. “Kubilang, sabar...”. Ah, Sitor tak hanya penasaran, tapi sedih.
  Sitor menatap sungai yang mengarus deras dalam kelam. Sitor merasa hatinya juga kelam. Kenapa Mince tak juga mau dicium, hanya sekali saja. Itu kan pertanda atau manifestasi cinta saja. Bukan manifestasi nafsu birahi. Mince membelai rambutnya dari belakang, lalu berbisik,” Penting kalikah abang mau cium aku?”
  Sitor tak segera menjawab. Ia merasa hatinya dilembuti jemari si gadis yang menjelajah rambut semi gondrongnya di bagian belakang. Terasa lembut dan mesra.
  “ Mince sayang, malam ini cinta makin mengepul, tapi tak ada ciuman.”
 Justru Mince tak menanggapi perkataan itu. Ia menunjuk ke depan, berkata,” Air mancur itu indah, lihat bang airnya menari-nari mengikuti irama lagu dari rumah sebelah. Apa abang senang dengan air mancur?” Kelembutan suara Mince membuyarkan kesal di hati Sitor. Dan untuk menutupi perasaan kesalnya, Sitor pun menganggukkan kepala.” Ya, aku senang air mancur.”
  “Senang musiknya juga/” tanya Mince.
 “Ya, tentu. Aku senang musiknya.” Sahut Sitor sekenanya saja, sementara pikirannya masih menerawang entah kemana.
  “Dan bagaimana dengan bunga bougenvil yang di tengahnya”, kata Mince lagi, dan jemarinya masih membelai rambut Sitor. Perasaan Sitor pun seperti melambung ke angkasa oleh belaian yang disukainya itu.
  Lalu, Sitor berkata,” Ya, aku senang dengan bougenvil itu. Indah warnanya...” Pada hal saat itu malam, Sitor tak melihat apa-apa kecuali temperasan air mengalir ke hilir.
  “Abang benar-benar suka bugenvil itu?” kata Mince tertawa.
  Sitor melihat ke arah yang ditunjuk Mince. Busyettt... mana ada bunga mawar di sungai yang kelam itu. Juga, mana ada air mancur di sana. Sitor merasa terbodoh, mengucak-ucak rambutnya. Mana mungkin bunga bougenvil ada di sungai yang mengalir deras. Mengapa aku jadi sebodoh itu, pekiknya dalam hati. Sitor pun ikutan tertawa jadinya. Keduanya tertawa berderai.
  “Abang ngelamun ya,” kata Mince ketika Sitor terdiam beberapa saat, menatap ke sungai yang seperti mendendangkan irama tak beraturan seperti irama kesal di hatinya.
  “Ya...aku tampak melamun ya” ,kata Sitor memalingkan wajahnya ke muka Mince. Dalam remang cahaya lampu jalan, ia melihat bibir manis Mince lagi. Dan makin ingin lagi menguum bibir itu dengan gemas hatinya. Tapi Sitor sudah tahan diri.
  “Tentang apa bang,” suara Mince lirih.
  “Banyak”, kata Sitor.
  “Banyak sekali?” Sitor mengangguk. “Ya aku sedang memikirkan keganjilan-keganjilan dalam kehidupan manusia. Mengapa manusia harus hidup bila ada kematian. Mengapa manusia harus menangis bila ada senyuman. Mengapa manusia berbuat jahat bila ada kebaikan. Mengapa manusia berperang bila ada perdamaian. Dan...mengapa manusia harus bercinta bila tak boleh berciuman. Itulah yang kulamunkan, Mince sayang...”
  Mince tertawa berderai sampai menutup mulut dengan telapak tangannya.” Ah, itu bukanlah suatu lamunan, bang, melainkan ketidakpercayaan atau pesimisme. Abang terlalu dibuai apatisme atau pesimisme yang membuat abang jadi muram semuram cahaya yang menimpa air sungai itu.”
  Sitor tak berkata apa-apa. Tampaknya Mince sedang menggurui dengan filsafat yang sederhana. Soal ketidakpercayaan atau ketidakberdayaan? Tentang apatisme? Tentang pesimisme total? Sitor bukan tak percaya filsafat-filsafat karena ayahnya seorang tokoh adat yang kaya dengan pengetahuan filsafat hidup seperti yang diajarkan Jean Paul Sartre atau Bertrand Russel. Tapi Sitor lebih percaya jika sudah pernah mencium bibir Mince dan melumatnya dengan segenap kasih sayang.
  Sitor menghela nafas pelan, lalu mengempaskan nafas juga pelan.” Baiklah aku percaya semua itu Mince sekarang.”
  “Kenapa bang? Karena aku tanya tentang ketidakpercayaanmu pada janjiku ciuman?”
  Sitor teringat sesuatu kata filsafat yang dibacanya.” Kan menurut Voldwig perempuan adalah gudang kepercayaan. Omongannya lebih bisa dipercaya daripada kaum lelaki.”
  “Oouu, begituuu,” Mince mendehem sekali.
  “Ya, dan aku percaya pendapat Voldwigg itu, dan lebih percaya lagi kalau aku telah mencium bibirmu yang lembut indah ini,” Lalu tangan Sitor merengkuh bahu Mince, menariknya pelan agar condong ke tubuhnya, kemudian melilitkan kedua tangannya memeluk gadis itu. Mince menunduk, dan ketika Sitor mengangkat wajahnya agar menengadah dan hendak mendaratkan bibirnya, Mince mengelak dengan sigap.
  “Tunggu dulu, abang belum selesai bercerita,” kata Mince sedikit terengah.
 Sitor kesal bukan main. Namun diredamnya dengan sekuat hati.” Cerita apa? Ceritaku sudah tamat,” nada Sitor sedikit berubah, ada nuansa ketus yang dikendalikan.
  “  Belum bang,” kata Mince tetap lembut.”Abang misalnya belum beri pendapat tentang musik.”
  “Musik?”
 “Ya, musik. Apa pendapat abang tentang...misalnya...”
  “Aku tak tahu soal musik.”
   “Kalau begitu tentang puisi”.
   “Aku juga mana tahu puisi, aku bukan penyair.”
   “Kalau begitu tentang yang lain un boleh,bang”.
   Sitor mendongkol sudah. Ingin sekal ia menjewer mulut cerewet yang pelit dicium itu.
   “Perenpuan cerewet kamu Mince,” gumamnya kesal di hati.
   Lalu, Sitor berkata dengan suara mendatar.” Kamu aneh Mince.”
   “Aneh? Kenapa aneh bang.”
   “Ya, bagiku kamu aneh Min. Kamu bilang sayang dan cinta padaku, tapi memberi ciuman aja setengah mampus aku membujuk tak juga kesampaian. Apa itu tak aneh...”
   Mince tersenyum. Senyumnya dalam remang cahaya itu manis sekali, bahkan sensual dalam pandangan Sitor.
   Tiba-tiba.” Baiklah bang kalau begitu, aku penuhi keinginanmu...”
   Hati Sitor pun bergolak riang. “Horeeee, akhirnya mau juga,” hatinya berseru girang. Ingin melonjak  saking senang hatinya. Tapi ia menahan diri. Dipegangnya tangan Mince yang lembut seperti tangan bayi. “Begitulah Min, akhirnya kau mengerti...”
  Mince tak bergerak ketika jemarinya dielus-elus Sitor.
 “Pejamkan matamu Mince, aku akan berikan ciuman terindah yang tak kan kau lupakan dalam hidupmu,” bisik Sitor lembut.”
  Mince mendorong pelan tubuh Sitor yang memeluknya.” Sabar dulu bang, maksudku, belum sekarang, tapi besoklah aku memenuhi permintaan abang sayang,”
  Sitor hampir terhenyak, kecewa lagi.”Bah, kenapa ciuman aja pakai besok segala, Min.”
  “Besok dengan sekarang kan sama bang, yang penting kan ciuman itu akhirnya abang dapatkan.” kata Mince. “Sekarang abang peluklah aku, aku merasa kedinginan, kalau pelukan boleh bang, ciuman besok aja yang terindah kuberikan...” Walau masih kesal, Sitor pun memeluk Mince, sebelum mereka berpisah.
   MALAM esok itu pun tiba. Hati Sitor berkibar-kibar seperti merah putih yang berkibar pada perayaan kemerdekaan. Bulan masih belum muncul. Bintang juga entah kemana, sebiji pun tak kelihatan di langit kelam. Setengah jam sudah Sitor menunggu di tempat biasa. Mince belum juga nongol. Sitor gelisah resah. Hampir tiap menit melihat jam tangannya. Sudah satu jam melewati waktu yang disepakati. “Halangan apa lagi dia.” bisik Sitor berbaur bimbang.
  Waktu berjalan terus, detik demi detik. Sitor berdiri, duduk, berdiri, duduk, berdiri, menatap ke semua arah mengharap kemunculan Mince.
  Lalu, dari sudut jalan sana, sosok seorang perempuan muncul melangkah gontai mengarah ke tempat Sitor di balik pohon bunga itu. Sitor bersorak mengira itu adalah Mince. Ternyata ia kecele. Perempuan itu sama sekali bukan Mince.
  Tanpa banyak basa-basi, perempuan berpostur gemuk itu langsung bertanya pada Sitor.” Anda Sitor Si...? Sitor mengangguk penuh harap keajaiban. “Ya saya Sitor, ada apa ya to.”
  Dengan ringkas dan tegas, perempuan gemuk itu mengatakan bahwa Mince tak akan datang menemuinya malam ini, bahkan seterusnya. Sitor merasa dirinya terpental kecebur ke dalam sungai.
  “Kenapa?” Pertanyaan itu ingin diungkapkan seribu kali.
  Lalu perempuan itu berkata pelan,” Mince bukanlah gadis normal seperti anda kira. Mince itu seorang lesbian, itulah sebabnya dia tak mau dicium seorang lelaki. Dia telah menceritakan tentang anda pada saya. Dan supaya anda tahu saja, beberapa waktu belakangan ini dia memang kesepian karena kutinggalkan. Sekarang aku sudah kembali, dia tak kesepian lagi. Maka atas nama kami berdua, kami mohon maaf atas janjinya pada anda. Pulanglah dengan damai, karena ia tak akan datang lagi ke tempat ini.
  Sitor merasa dunia ini jadi gua gelap. Tatap matanya kosong menyaksikan perempuan itu menghilang di tikungan jalan yang diterangi cahaya mercury. (Medan,Okt-SARINGAR.Net/Leonardo TS)

Kamis, 16 Oktober 2014

DPR Diibaratkan Lembaga Pemasyarakatan (LP)












LUCIUS KARUS (SP) ==
EKSPRESIANA= Baru 15 hari dilantik, wajah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI langsung tercoreng.
Lembaga negara itu tiba-tiba berubah menjadi “lembaga pemasyarakatan atau keranjang sampah” ketika Kontras melansir 242 nama anggota DPR RI periode 2014-2019 yang terlibat berbagai kasus.
Peneliti senior Formappi, Lusius Karus di Jakarta, Rabu (15/10), mengatakan, catatan 242 nama anggota DPR bermasalah itu seolah-olah menjadikan DPR sebagai "keranjang sampah" manusia bermasalah.
“DPR sebagai lembaga perwakilan akan sulit berkinerja maksimal dengan jumlah orang bermasalah sebanyak itu. DPR akan menjadi lembaga yang sibuk dengan urusan personal para anggota,” katanya.
Lebih parah lagi, DPR dengan kekuasaan super yang mereka miliki, berpotensial menyalahgunakan wewenang demi membereskan kasus pribadi.
“Saya melihat kecenderungan penyalahgunaan kekuasaan menjadi sangat tinggi ketika 242 anggota bermasalah. Mereka akan memanfaatkan fungsi-fungsi dewan untuk meloloskan diri dari jeratan masalah,” katanya.
Lusius lebih jauh mengatakan, DPR kemudian menjadi seperti "lembaga pemasyarakatan" dimana orang-orang bermasalah disatukan dalam satu tempat.
Dengan potret buram seperti itu, lima tahun ke depan, DPR tak akan banyak memberikan optimisme kepada rakyat. Fungsi representasi mereka hampir pasti cacat ketika wakil rakyat itu bermasalah.
“Saya mengusulkan agar 242 nama yang dirilis Kontras disebarkan ke dapil masing-masing.Dengan itu diharapkan agar konstituen sendiri mendesak pencabutan mandat wakil yang mereka pilih saat pemilu,” katanya.
Hanya hukuman dari konstituen, kata dia, yang bisa memberikan efek jera pada anggota DPR yang bermasalah.
“Walaupun mekanismenya tak diatur tegas oleh UU, tapi penolakan dari konstituen akan mendorong langkah nyata dari parpol untuk melakukan pemecatan,” katanya.
Sebelumnya, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mencatat ada 242 anggota DPR periode 2014-2019 yang memiliki catatan buruk. Mereka diduga terlibat dalam sejumlah kasus, dari kasus pelanggaran HAM sampai kasus korupsi.


"Jenis-jenis catatan buruk anggota DPR ini, antara lain, pernah menjadi tersangka korupsi, mereka juga diduga terlibat kasus korupsi, aktif membela terdakwa kasus korupsi, pernah melakukan pelanggaran hak asasi manusia, pernah terlibat kasus tindak pidana, pernah terlibat kasus pelanggaran pemilu, juga pernah merima sanksi etik oleh BK DPR, hingga memililki catatan absen yang buruk sejak menjabat sebagai angoota DPR pada periode sebelumnya," kata Deputi KontraS Farah Fathurrahmi di kantor Kontras, Menteng, Jakarta, pada Selasa (14/10).


Farah mengungkapkan bahwa berdasarkan catatan Kontras, anggota DPR-RI yang memiliki catatan buruk berasal dari FPDI-P (57 orang), Fraksi Partai Golkar (44 orang), Fraksi Partai Demokrat (37 orang), Fraksi Partai Gerindra (24 orang), FPPP (20 orang), FPKS (18 orang), FPAN (16 orang), FPKB (11 orang), dan Fraksi Partai NasDem (9 orang). [Sp)