Selasa, 09 Desember 2014

Ahok Jadi Gubernur Adalah Cita-cita Gus Dur













Menpora Imam Nahrawi (viva)=
 EKSPRESIANA - Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta ternyata sudah menjadi cita-cita tokoh yang pernah menjadi orang nomor satu di negeri ini, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ahok malah sudah diprediksi almarhum Gus Dur menjadi gubernur ibu kota.
 Di tengah masih maraknya sikap penolakan dari sejumlah pihak terkait pengangkatan Basuki Tjahaja Purnama sebagai Gubernur DKI Jakarta, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi,justru memberi dukungan.

Imam menyampaikan itu saat berkunjung ke Balai Kota, tempat Ahok menjalankan tugasnya sebagai orang nomor satu di ibu kota. Kedatangan Imam untuk membahas pelaksanaan Asian Games ke-18 di Jakarta pada tahun 2018 itu juga dimanfaatkan untuk  mengucapkan selamat atas dilantiknya mantan Bupati Belitung Timur itu sebagai Gubernur.

"Saya baru saja dari Istana Negara memang sengaja menyambangi Balai Kota untuk secara khusus mengucapkan selamat kepada Pak Ahok. Saya belum mengucapkan selamat kecuali ketika acara pelantikan (Ahok) di Istana kemarin," ujar Imam, di Balai Kota, Senin, 8 Desember 2014.

Mantan Sekjend DPP PKB itu mengungkapkan, delarator PKB mendiang KH Abdurrahman Wahid pernah menyampaikan keinginannya agar suatu saat Ahok bisa menjadi Gubernur DKI Jakarta.

"Tentu harus saya sampaikan (kepada Ahok) karena Alhamdulillah cita-cita Gus Dur sudah kesampaian. Sekarang Pak Ahok sudah menjadi Gubernur," kata Imam. (vivanews)

Minggu, 07 Desember 2014

Gilanya Teknologi, Mobil Tak Perlu Sopir Lagi





Mobil tanpa sopir. Bah!

   Luar biasa! Barangkali itulah decak kagum mendengar terobosan gila teknologi yang dipromosikan negara maju sperti Inggeris. Mobil tak perlu lagi tenaga sopir jika ini sudah dioperasikan. Inggris pada Rabu (3/12) mengumumkan empat kota besar di negeri itu sebagai tempat ujicoba mobil tanpa pengemudi dalam beberapa tahun ke depan.

Innovate UK, badan non-departemen yang ditaja oleh Departemen untuk Bisnis, Inovasi & Ketrampilan, menyatakan pada Rabu bahwa Greenwich, Milton Keynes, Coventry dan Bristol akan menjadi empat kota besar untuk menguji mobil inovatif tanpa pengemudi.

Kanselir Exchequer Inggris George Osborne juga mengumumkan dana 10 juta pound (15,7 juta dolar AS) buat program tersebut dalam pernyataan musim gugur pada Rabu.

Innovate UK menyatakan uji coba akan berlangsung antara 18 dan 36 bulan dari Januari 2015, demikian laporan Xinhua, Kamis pagi. Program itu bisa membantu mencapai tingkat pemahaman besar mengenai jenis kendaraan tersebut di lingkungan dunia nyata, serta membuat orang melihat bagaimana mereka bisa cocok dengan kehidupan sehari-hari.

Program tersebut bertujuan menempatkan Inggris di kelompok global bagi penelitian, pengembangan dan penyatuan kendaraan tanpa pengemudi serta teknologi terkait.

"Mobil yang bergerak tanpa pengemudi akan menjadi perubahan paling penting dalam perjalanan darat. Sejak diperkenalkannya mesin pembakaran internal dan Innovate UK, kami ingin membantu Inggris memimpin dunia dalam mewujudkan itu," kata Nick Jones, ahli teknologi utama di Innovate UK.

"Ada sangat banyak teknologi baru yang menggairahkan yang dapat bersatu untuk membuat mobil tanpa pengemudi jadi kenyataan. Tapi penting bahwa percobaan dilaksanakan secara aman, masyarakat memiliki kepercayaan pada teknologi itu dan kita belajar semua yang bisa kita lakukan melalui uji coba sehingga masalah hukum, peraturan dan perlindungan tak menjadi penghalang pada masa depan," ia menambahkan. [Ant/Xinhua-OANA/sp)

Presiden Jokowi Tegaskan: Pilkada Langsung Harga Mati!












Presiden Jokowi saat menerima kunjungan Boss Facebook di Jakarta=
EKSPRESIANA. Presiden Joko Widodo mengatakan pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Atas alasan itu pula, Jokowi berjanji akan melakukan komunikasi intensif demi menggolkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota.

"Sebagai Presiden RI saya akan menjalin komunikasi politik yang lebih intensif dengan Parlemen untuk saling menyetujui kesepakatan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2014," tegas Jokowi dalam fanpage Facebooknya, Kamis (4/12).

Jokowi beralasan, pilkada merupakan buah paling manis dalam pelaksanaan demokrasi di Tanah Air. Jika itu dibredel, maka rakyat tak bisa ikut serta dalam memilih pemimpinnya.

"Pada prinsipnya Pilkada langsung tidak bisa ditawar-tawar lagi, ini adalah buah paling manis dalam demokrasi kita, kalau Pilkada Langsung dibredel kemudian digantikan Pilkada Tidak Langsung, rakyat seakan-akan diikat untuk menonton panggung politik, dimana rakyat diasingkan dari hak-hak nya berdemokrasi," tulis Jokowi.

Menurutnya, hanya dengan pilkada langsung pula, rakyat dapat mengetahui lebih dalam sosok yang akan dipilihnya.

"Dengan pilkada langsung, pelan-pelan akan kita dapatkan pemimpin yang secara organik tumbuh di dalam masyarakat dan paham atas situasi-situasi yang berkembang di tengah masyarakat." (mdk)

(SKETSA) Banting Tulang Mandi Keringat Membuat Arang di Hutan Sunyi



Gigihnya pembuat arang mandi keringat di hutan sunyi =

  Arang, siapa yang tak tahu apa itu arang. Peribahasa lama pun ada menyebut benda yang satu ini: arang habis besi binasa. Tapi, bagaimana proses pembuatannya hingga jadi siap dibakar, tak semua orang tahu. Prosesnya tampaknya sederhana, tapi butuh energi dan kerja keras. Selain itu harus “siap bermandi keringat’, seperti dituturkan dua orang pembuat arang saat ditemui jurnalis EKSPRESIANA, di satu tempat di kawasan Desa Sisordak perbatasan Kecamatan Parmonangan-Sipoholon, Sumatera Utara, lebih kurang 250 kilometer dari Medan.

  Secara umum, ada dua jenis arang yang biasa dikenal orang. Ada arang keranjang atau biasa juga disebut arang toko. Jenis arang ini biasa di jual di toko kelontongan. Harga memang lebih mahal, karena lebih berkualitas, lebih tahan lama, selain kandungan asap lebih sedikit. Jenis yang kedua adalah arang goni. Sesuai namanya, arang yang ini dijual per goni, walaupun bisa juga dibeli per kaleng. Jenis arang goni lebih murah, karena terbuat dari kayu sembarang. Jenis arang goni juga tidak sekeras arang keranjang, lebih lembek, dan lebih mudah habis. Jenis arang ini lebih banyak mengeluarkan asap saat pembakaran.

Yang saya tuturkan sekilas di sini, ya arang goni itu. Biasanya arang yang ini lebih banyak digunakan para pedagang makanan ringan, yang butuh pembakaran atau main panggang. Seperti pedagang sate, pedagang jagung bakar, pemanas bakso, dan lain-lain. Sedangkan arang keranjang karena dianggap lebih bermutu dan lebih aman dari kepulan asap, biasa dipakai di resto-resto atau rumah makan yang agak berkelas di kota. Tapi apapun jenisnya, tetaplah itu namanya arang. Dari dulu hingga kini masih tetap berperan untuk banyak kebutuhan manusia, meski tentu saja penggunaannya sudah berkurang pada era kemajuan sekarang ini.

Ada dua orang pembuat arang yang masih konsisten, bahkan saya sebut militan, namanya Hokkop Purba dan Albiner Pangaribuan di Desa itu. Saat saya jalan-jalan ke Parmonangan, saya ketemu mereka di sebuah areal perladangan sepi. Saat matahari terik membakar, dan angin seakan berhenti berembus. Saat suasana begitu lengang, dan para pekebun sepertinya istirahat dari kesibukan banting tulang di sawah dan ladang.

“Horas, lae,” kata saya seraya memarkir sepeda motor di jalan tanah. Sapaan akrab di daerah ini. Kedua pria itu sedang istirahat setelah makan perbekalan yang dibawa dari rumah. Tak jauh dari jalan tanah itu kelihatan asap mengepul tebal dari kayu-kayu yang dibakar di sekitar area perladangan yang tak diusahai. Kami berkenalan, dan namanya orang tapanuli, tentu saling menyebut marga. “Purba,” kata pria berkulit hitam yang lebih muda.”Pangaribuan”, sebut pria yang lebih tua.

Meski berbeda usia, satu hal terlihat sama. Ketangguhan dua sosok yang saban hari bergelut diterpa angin pegunungan dan cahaya terik matahari yang saat kemarau tak kenal ampun membakar apa saja di muka bumi. Bertubuh kurus dan mata cekung, seperti umumnya penduduk desa kurang gizi. Itu kesimpulan saya. Sorot mata yang kuyu dan kulit yang legam, menandakan pekerja keras yang pantang menyerah.

Mereka bercerita tentang kehidupan ini, apa adanya.”Kami sedang membuat arang,” ujar Pangaribuan sambil mengisap rokoknya dengan santai, menyandar pada sebatang kayu ekaliptus yang banyak tumbuh di sana-sini. Hokop Purba baru menikah, masih beranak satu umur dua tahun. Sedang Pangaribuan punya anak lima, yang sulung baru menduduki bangku SMP. Selain membuat arang, keduanya juga berkebun kopi, jagung, dan sesekali tanam cabe. “Hidup di desa ini sulit, mana sempat santai, kecuali saat begini istirahat sejenak, sebentar lagi juga sudah harus dipanggang matahari,” kata Purba yang berperawakan kecil.

Bagaimana cara membuat arang? Keduanya bergantian cerita secara terbuka dan familiar. Untuk membuat arang goni, mereka harus mencari kayu sembarang, di seputaran hutan di areal itu yang masih cukup luas. Kayu atau dahan yang seukuran broti tiang hingga yang ukuran tiga kali ukuran tebu, dipotong-potong dan dikumpulkan dekat tanah yang sudah dilubangi. Ukuran lubang dibuat sekitar 3x 4 meter, dengan kedalaman satu setengah hingga dua setengah meter, dibentuk dengan petak segi empat. Selanjutnya potongan-potongan kayu itu dimasukkan ke dalam lubang dibuat bertingkat, tak terlalu rapat, setelah di bawahnya dilapisi ranting-ranting dan dedaunan kering yang mudah terbakar. Setelah itu dilapisi lagi dengan dedaunan dan ranting kering dari atas. Kalau itu sudah siap, tinggal membakar. Kalau tak ada minyak tanah, sering juga dibantu dengan penggalan-penggalan kayu tusam diselipkan di sekitar potongan kayu yang akan dibakar. Saat mencari kayu sebagai bahan sudah
 setengah mati, apalagi kalau lokasinya agak jauh. Mereka harus berjibaku mengangkut ke lokasi pembakaran. Saat matahari sedang terik, mereka setiap hari harus bermandikan keringat. Sehelai handuk kecil tak lekang dikalungkan di leher, untuk mengusap cucuran keringat yang tiada henti.

Setelah potongan kayu dibakar, bukan berarti tugas selesai. Mereka harus rajin mengecek apa apinya terus nyala di dalam lubang. Hati galau akan terjadi, manakala hujan turun. Itu akan mengganggu proses pembakaran kayu. Apa lagi kalau hujannya deras, bisa membuat lubang banjir jadi sumur buatan. Makanya, saat pembakaran selalu diwanti-wanti apa cuaca sedang bersahabat atau tidak. Sukses pembuatan arang hanya terjadi ketika musim kemarau panjang.

Masih menurut Purba dan Pangaribuan, proses pembakaran itu biasanya menunggu tiga hingga empat hari. Pada hari yang ditentukan, mereka meninjau lokasi pembakaran, membuka tanah dan dedaunan penutup di atas lubang. Tampaklah kayu sudah pada gosong, tinggal membentuknya menjadi potongan sesuai ukuran dengan cara dipukuli dengan kayu atau apa saja. Setelah semuanya selesai, tinggal memilah-milah potongan-potongan yang sudah jadi arang, dimasukkan ke dalam goni. Potongan-potongan arang terkecil berserakan pada lantai bawah lubang, itupun dipilih kembali digabung dengan arang berukuran standar. Lalu pada bagian mulut goni ditutupi dengan dedaunan bernama daun arsam, sebelum dijahit dengan tali plastik.

Berapa harga satu goni?” tanya kompasianer yang hobi  jalan-jalan ke pedesaan. “Dulu satu goni itu kami jual ke toke penampung Rp 70 ribu, sekarang sudah naik jadi Rp 100 ribu per goni,” terang Pangaribuan seraya menyeruput kopi dingin dari cangkir besar berwarna biru. Tapi kalau mereka jual ke pedagang yang akan menjual lagi, biasanya dikasi lebih murah, hanya Rp 70 ribu per goni. Lalu pedagang penjual akan menjualnya ke pembeli bisa Rp 90 ribu hingga Rp 100 ribu. Ada juga pengguna yang langsung datang membeli atau memesan ke pembuat arang agar harganya bisa lebih murah.

Kata Purba, di daerah ini arang masih berperan penting bagi banyak orang. Khususnya bagi ibu yang sedang melahirkan. Sesuai kebiasaan leluhur, biasanya ibu melahirkan di kampong-kampung masih menggunakan arang untuk memanaskan punggung dan pinggang ibu melahirkan, sekaligus melawan hawa dingin. Hinggang kini masih ada penduduk desa yang menerapkan cara itu, meski zaman sudah super modern. Arang dimasukkan ke dalam sebuah kaleng, dan dua sisi kaleng diberi lubang angin. Lewat lubang angin itu panas yang ditransfer dari bara arang dalam kaleng akan menghangati punggung ibu melahirkan.

Memang, itulah kehidupan manusia. Banyak cara yang dilakukan untuk menjalani dan mempertahankan hidup. Sementara banyak orang kota tak lagi ingat arang, toh masih banyak yang menggantungkan usahanya dengan bahan arang. Lihatlah itu tukang jual sate, dimana pun mereka menjajakan satenya, harus siapkan arang sebagai bahan bakar utama. Wanginya daging kambing atau daging sapi saat dibakar dengan arang setelah ditetesi minyak khusus pewangi, wah…membuat perut ini tiba-tiba lapaaar…(Leonardo Smjoentak/ kompasiana.com)

Rabu, 03 Desember 2014

Dengar Musik Saat Berkendara, Dekat Dengan Maut! Ini Contohnya...















Maut tak kenal ampun (ill:google) =
EKSPRESIANA= Banyak  pengendara mobil dan sepeda motor pandang enteng saat di jalan raya menggunakan ponsel. Apa sedang sms-an, menelpon, atau pakai headset dengar musik. Pada hal polisi selalu mengingatkan, hal seperti itu berbahaya, dekat dengan maut. Tapi tetap saja masih banyak kelihatan di jalan raya pengendara asyik pakai ponsel. Contohnya dipetik berikut ini:
 Seorang pengendara sepeda motor tewas terlindas truk kontainer saat melintas di Jalan Plumpang Semper No 4, Kecamatan Koja, Jakarta Utara dari arah simpang lima semper menuju Plumpang Jalan Yos Sudarso, Rabu (2/12) pukul 06.15 WIB. Pengendara tersebut diduga mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan tinggi sembari menggunakan headset untuk mendengarkan musik dari handphonenya.Dia kehilangan keseimbangan saat hendak menghindari pengguna sepeda ontel, yang hendak memutar arah sehingga jatuh ke kolong kontainer.

Dulmanan (59), saksi mata mengatakan, sepeda motor itu memang lari kencang. Pengendara menyalip kontainer ke kanan karena jalur kiri sedang padat motor, sedangkan jalur kanan sedang sepi. "Gak tahunya di kanan ada pengendara sepeda ontel yang akan memutar arah. Karena kaget dan tidak siap, pengendara motor tersebut jatuh ke kolong kontainer yang sedang berjalan pelan dan terlindas ban tengah kontainer,” ujar Dulmanan, Selasa (2/12) pagi.Menurut Dulmanan, pengendara sepeda motor tersebut tampak terburu-buru, seperti sedang mengejar sesuatu. Ia tampak mengenakan seragam security (keamanan).

“Sepertinya sedang buru-buru ke tempat bekerja, tadi pas diliat handphone-nya sama Pak Polisi ternyata hp nya sedang memutar musik,” tandas Dulmanan.
Supir truk kontainer dengan nomor polisi B-9066-UEL yang melindas pengendara sepeda motor, Pendi (31), mengaku tidak menyadari bahwa ia sudah melindas seseorang. “Saya baru diberitahu kernet saya bahwa ada warga yang menyuruh stop, baru saya tahu kalau ada pengendara motor yang tewas,” aku Pendi.
Pendi, yang sudah bekerja selama 10 tahun di PT Roda Mustika Jaya mengaku baru pertama kali ini terlibat kecelakaan dengan pengendara sepeda motor. “Memang di wilayah Jakarta Utara ini pengendara sepeda motornya suka seenaknya saja kalau mau mendahului kontainer, tidak pakai perhitungan dan risiko bagi dirinya,” lanjut Pendi.

Anggota Satlantas Jakarta Utara, Brigadir Widi Santoso mengatakan, korban pengendara sepeda motor bernama Wahyu Sulistio (18), warga Jalan Kebantenan V, RT004/RW007, Kelurahan Semper Timur, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. “Tempat kejadian kecelakaan yakni di Jalan Plumpang Semper persis di depan distributor Aqua (PT Balina Agung Perkasa,” ujar Widi.
Widi mengungkapkan, Wahyu menggunakan sepeda motor Yamaha Force berwarna merah keluaran tahun 2014 dengan nomor polisi B-3420-UGS dan mengenakan helm bawaan pabrikan yang semi terbuka (half face). “Pengendara motor berkendara dengan kecepatan tinggi dan menggunakan headset, ia terlindas karena kehilangan kesimbangan saat hendak menghindari pengendara sepeda ontel,” ujar Widi mengkonfirmasi keterangan saksi mata.
Dari kejadian kecelakan tersebut, menurut Widi, supir truk kontainer, Pendi, diamankan ke kantor Satlantas Jakarta Utara bersama sepeda motor korban dan saksi mata. “Akan kita proses lebih lanjut apakah supir terbukti bersalah atau ini murni karena keteledoran pengendara motor,” lanjut Widi.
Widi mengimbau kepada masyarakat pengguna sepeda motor agar lebih berhati-hati dalam berkendara dan tidak terburu-buru dalam berkendara. “Usahakan berangkat lebih pagi apabila memang harus sampai di tempat kerja tepat waktu, dan gunakan helm berstandar SNI serta tidak mendengarkan apa pun dari headset yang dapat menganggu konstentrasi berkendara, ingat keluarga menunggu di rumah,” ucap Widi.
Menurut hasil pemantauan SP di lapangan, arus lalu lintas dari arah simpang lima Semper maupun Plumpang Yos Sudarso sempat mengalami kepadatan sepanjang 2 kilometer karena kecelakaan tersebut memakan dua dari empat lajur jalan. Warga sekitar dan pengendara motor tampak berkerumun untuk melihat korban kecelakaan. Proses evakuasi korban membutuhan waktu 30 menit karena menunggu mobil jenazah dari Yayasan Al Fudhola di Kampung Beting, Semper. Seusai evakuasi arus lalu lintas di jalan Plumpang Semper kembali lancar. [sp)

Selasa, 02 Desember 2014

Cantiknya Gadis Penjaja Getuk Ini, Guncang Dunia Maya












Kecantikan penjaja getuk mengguncang dunia maya =
EKPRESIANA - Nah,ini dia. Untuk jadi terkenal, tak harus dari rumah gedongan atau anak orang elite. Seseorang yang asalnya dari bawah, hanya penjual kue, kalau memang cantik mempesona, apa salahnya tiba-tiba terkenal, bahkan diandai-andai jadi bintang film. Ninih, gadis cantik penjual getuk (gotuk/Tapanuli) asal Indramayu sedang ramai diperbincangkan di dunia maya. Gadis berusia 18 tahun ini mendadak banyak diperbincangkan usai fotonya saat berjualan getuk di jembatan penyeberangan Kuningan, Jakarta, beredar di media sosial. Kecantikannya, rupanya bagi banyak orang, rupanya dianggap tak pantas kalau tiap hari menjajakan getuk di jalanan. Sayang seribu sayang, bisik pria pengagumnya, atau jangan-jangan ngiler melihat Ninih.

Gadis yang baru enam bulan tinggal di Jakarta ini tidak menyangka ia akan menjadi terkenal. Padahal niatnya dari Indramayu ke Ibukota adalah untuk mengubah nasib dengan membantu saudaranya berjualan getuk.

"Saya nggak nyangka bakal begini, padahal niat dari kampung ya cuma buat jualan getuk bantu-bantu bibi, itu pun bibi yang buatnya saya nggak bisa bikin getuk, nggak ada niat kerja juga, pokoknya jualan, soalnya sekolah juga kan cuma sampai SD," kata Ninih ditemui usai mengisi program di salah satu stasiun televisi swasta, Selasa, 2 Desember 2014.
Kepada awak media, gadis cantik ini mengaku sempat dikejar petugas trantib saat berjulan, untungnya ia belum pernah tertangkap. "Ya jualan kadang senang kadang sedih, sempet juga kan dikejar trantib tapi untungnya nggak ketangkep," katanya.
Soal paras cantiknya yang banyak diperbicangkan orang, Ninih merasa ia tak cantik. Tetapi setelah fotonya beredar, ia mengaku getuk dagangannya makin laris dan semakin banyak orang yang menyapa sambil membeli getuknya.

Ninih mulai kebanjiran undangan untuk mengisi acara-acara di stasiun televisi swasta. Dia pun tidak akan menolak bila suatu saat ada tawaran untuk bermain sinetron karena dia mengaku bisa sedikit berakting.
(VIVA)

Senin, 01 Desember 2014

SBY dan Jokowi Berbagi Filosofi Kepemimpinan














EKSPRESIANA-. Presiden Joko Widodo tiba-tiba memposting tulisan soal kepemimpinan tirani di status akun Facebook-nya. Jokowi menjelaskan perbedaan antara pemimpin tirani dan pemimpin yang dipercaya rakyat. Entah kepada siapa status itu ditujukan, namun tulisan ini tidak berselang lama dari tulisan SBY yang menyindir soal pemimpin yang gemar pencitraan.

Dalam status yang diunggah di akun Jokowi sekitar satu jam lalu, ketika diakses merdeka.com sekitar pukul 21.00 WIB, Jumat (28/11), Jokowi memulai tulisannya dengan menjelaskan basis kepemimpinan dalam demokrasi adalah kepercayaan.
"Basis kepemimpinan dalam demokrasi adalah kepercayaan, dan kepercayaan itu dibangun di antaranya oleh rekam jejak, ketulusan hati dan kesungguhan dalam bekerja."
 Jokowi melanjutkan, "Beda antara kepemimpinan yang dipercaya dengan kepemimpinan tirani, kepemimpinan yang dipercaya diperoleh melalui kesadaran rakyat atas tujuan tujuan negara, sementara kepemimpinan tirani adalah membungkam kesadaran rakyat bisa itu dengan bayonet atau pencitraan tanpa kerja."
 Dan Jokowi menutupnya dengan kalimat "Dan dalam kepemimpinan saya hal paling penting adalah membangun kepercayaan rakyat dengan kesadaran penuh bahwa ada tujuan-tujuan besar negara ini menuju kemakmuran Indonesia Raya."

Sebelumnya, SBY siang tadi melalui kultwit di akun @SBYudhoyono membuat tulisan soal kepemimpinan tirani. Sesungguhnya hidup ini universitas yang abadi. Mari kita saling belajar, saling berbagi dan saling menasihati. *SBY*

Dalam dunia politik, kekuasaan menjadi yang utama. Raihlah kekuasaan itu dengan cara yang benar & gunakan pula secara benar. Kekuasaan juga menggoda. Karenanya, gunakanlah secara tepat & bijak. Jangan sewenang-wenang & jangan melampaui kewenangannya.

Nenek moyang kita mengingatkan, hendaknya kekuasaan tidak digunakan bak: "Besar hendak melanda, panjang hendak melindih". Tidakkah Allah SWT memberikan kekuasaan kepada yang dikehendaki, dan mencabut kekuasaan itu dari siapa yang dikehendaki.

Kebenaran mutlak adalah milik Tuhan. Karenanya, janganlah selalu membenarkan yang kuat, tetapi perkuatlah kebenaran. Petik pelajaran di dunia. Pemimpin yang selalu dibenarkan apapun perkataan & tindakannya, tak disadari bisa menjadi diktator atau tiran.
Setiap pemimpin pastilah ingin berbuat yg terbaik. Tidak ingin jadi diktator atau tiran & kemudian harus jatuh, seperti yg kerap terjadi.  Karenanya, dengan tetap menghormati pemimpin, rakyat bisa menyampaikan kritik & sarannya. Pemimpin mesti sabar mendengarkan.
  Kritik itu laksana obat. Jika dosis & cara meminumnya tepat, badan menjadi sehat. Mengkritik pemimpin haruslah beretika & patut. (mdk.com/LS