Minggu, 11 Januari 2015

Bupati Nikson Nababan Bantu Mahasiswa, Syaratnya Bebas Narkoba



Bupati Nikson Nababan menyampaikan selamat kepada para penerima
bantuan.(Foto:Hms/Nicojoyo.S)

   Kabar baik bagi mahasiswa yang bebas narkoba. Ini salah satu terobosan terkait visi perubahan yang diusung Bupati Tapanuli Utara Drs Nikson Nababan. Dia komit menggelorakan dinamika pendidikan di daerah yang dipimpinnya. Dalam sebuah acara baru-baru ini, Nikson menyerahkan beasiswa bagi mahasiswa di PTN yang berprestasi tetapi kurang mampu secara ekonomi. Juga menyerahkan mobiler dan TV Edukasi dari dana CSR untuk 65 orang, dengan rincianRp 8 juta per orang. Pengadaan mobiler bersumber dari dana CSR PT. Bank Sumut. Dana CSR (Coorporate Social Responsibility) ini berjumlah Rp 858 juta. Diproritaskan bagi mahasiswa berprestasi dengan ekonomi kurang mampu dengan catatan mahasiswa dimaksud tidak terlibat (bebas) narkoba. Mobiler sebanyak 10 ruang untuk SD, 10 ruang untuk tingkat SMP dan TV Edukasi bagi SMA Negeri 3 Tarutung dalam peningkatan mutu sebagai Sekolah unggulan. Acara penyerahan ini dilaksanakan di Tanah lapang SMA Negeri 1 Tarutung, Jumat (09/1).
“Saya ingin penyerahan seperti ini bersentuhan langsung dengan masyarakat dan Pemkab langsung datang kepada masyarakat sehingga kami memilih penyerahan ini ditanah lapang SMA Negeri 1 Sipahutar. Terimakasih kepada PT Bank Sumut memberikan perhatian kepada dunia pendidikan masyarakat Tapanuli Utara. Saya sangat berharap pendidikan akan semakin baik dengan bentuk-bentuk perhatian yang seperti ini. Apalagi di tahun 2015 pendidikan dari tingkat SD s/d SMA sudah gratis.” tandas Bupati pemenang pilkada 2014 lalu dalam sambutannya.
“Di samping itu, untuk menunjang peningkatan kualitas pendidikan, sektor-sektor lain juga harus mendukung. Saya akan mengeluarkan Perda agar bukanya lapo-lapo tuak dibatasi sehingga pendidikan gratis tidak berdampak negatif kepada maraknya orangtua (bapak-bapak) ke lapo tuak karena dana yang tadinya untuk pendidikan digunakan tu lapo tuak,” ujar Bupati menambahkan.
Selanjutnya Bupati menyampaikan bahwa visinya akan mengembalikan kualitas pendidikan orang Batak yang dulunya sudah sangat tinggi, tetapi belakanhgan ini sudah sangat merosot. Dimana para jenderal, para guru yang berkualitas yang dulunya banyak dimiliki Tapanuli Utara, tapi sekarang sangat minim. Untuk itu, saya sangat berharap ini bisa dibangkitkan kembali semasa saya memimpin Kabupaten Tapanuli Utara. “Karakter dan mentalitas harus diperbaharui, revolusi mental akan kita laksanakan yang diwujudkan dalam visi sebagai lumbung SDM”.
“Saya mengharapkan bantuan para tokoh masyarakat. Tahun ini sudah saya canangkan menjadi tahun gotong royong. ‘Bersama kita bisa’. Kita harus bersama-sama, saya tidak mungkin bisa melakukan ini sendiri, tetapi kita harus bersama-sama, bahu-membahu. Sehingga tercapai pendidikan yang berkualitas. Saya juga sangat mengharapkan para siswa, guru dan masyarakat menjaga kebersihan dan kenyamanan sekolah. Dengan demikian, siswa betah belajar di sekolah, nyaman belajar, sehingga anak didik kita  semakin cerdas. Apa yang kita harapkan di dunia pendidikan dapat kita capai. Saya juga menghimbau agar para camat turun kelapangan. Banyak berbincang dengan masyarakat apa yang ada dan dibutuhkan masyarakat, apa keluhan masyarakat sehingga bisa kita akomodir dan kita benahi”,harap bupati ini.
Pimpinan Cabang Bank Sumut Cabang Tarutung, Tingki Nainggolan dalam penyerahan CRS PT. Bank Sumut merupakan pembagian laba Bank Sumut Tahun 2013 dan 2014 bagi dunia pendidikan berupa beasiswa serta bagi 65 orang meubiliar dan TV edukasi. “Kami mengharapkan PT Bank Sumut  semakin berkembang sehingga dana CSR ini semakin meningkat dan dapat dinikmati masyarakat Tapanuli Utara,” ujar Tingki dalam sambutannya. Turut hadir mendampingi Bupati yakni Sekdakab Taput Edward Tampubolon, SE, Asisten II Parsaoran Hutagalung, Spd dan Kadis Pendidikan Drs Jamel Panjaitan, Kadis Perhubungan Rudi Sitorus, Camat Sipahutar Mercy Tamba, dan lain-lain. Masyarakat berkomentar, tampaknya Nikson Nababan komit degan janjinya saat kampanye dalam membawa perubahan di daerah yang oleh banyak orang dinilai masih lamban perkembangannya itu. (Leonardo TS/Lihat juga berita terkait di Kompas.Com/Kompasiana)

Kamis, 08 Januari 2015

(Love Story Keren) -Kekasih lumpuh dibawa jalan-jalan dengan kursi roda




Kesetiaan luar biasa pria cina membawa pacar yang lumpuh jalan-jalan
menggunakan kursi roda. =
  EKSPRESIANA - Banyak kisah cinta super tercatat dalam untaian love story di dunia. Kisah Juliet and Romeo misalnya, Rama dan Shinta di Ramayana, Ardin dan Tiomina di daerah Batak, dan masih banyak lagi yang di tiap suku bangsa selalu ada kisah cinta yang mengharukan. Dan di zaman serba canggih sekarang ini, apa yang dilakukan seorang pria Cina terhadap pacarnya sungguh menakjubkan kita.
  Ding Yizhou, pria asal Guangxi, China membawa pacarnya yang tahun lalu lumpuh untuk melakukan perjalanan dengan menggunakan kursi roda. Kekasihnya ini sudah tidak dapat berjalan lantaran penyakit saraf, namu pernah menceritakan mimpi untuk keliling China.
 Demi memenuhi keinginan orang yang disayanginya, Ding membuat peta perjalanan untuk tur cinta mereka. Selain merancang kursi roda khusus, pacar setia ini mengajak pula serta anjingnya yang setia.
Setelah dua hari coba berjalan dan berkemah di sekitar kota mereka, pasangan penuh cinta ini memulai perjalanan melintasi negara pada Sabtu (3/1) seperti yang dilansir dari CCTV China.
Mereka melakukan perjalanan tersebut dengan mengikuti rute yang telah mereka buat hingga Ibu Kota Beijing. Rute tersebut berbentuk seperti hati bila dilihat dari peta.
Selama perjalanan, pasangan kekasih ini diliput media karena kisahnya mengharukan. "Saya sangat menikmati perjalanan ini. Kami bahagia sekali dapat melakukan dan mewujudkan mimpi ini bersama-sama," kata Ding. (mdk/dari CCTV China)

Mahalnya Perceraian: Rp 12,3 Triliun pun Ditolak Sang Isteri



Perempuan ini tolak uang cerai Rp 12,3 triliun (Daily Mail)=

  EKSPRESIANA - Uang memang penting, tapi bukan segalanya. Itu yang tercermin dari statemen pribadi seorang wanita terkait dengan kasus perceraian dengan suaminya, sebagaimana dikutip blog ini dari media online, Rabu (7/1). Adalah Sue Ann Arnall, mantan istri bos minyak Oklahoma, Amerika Serikat, bernama Harold Hamm, kemarin menolak imbalan cerai berupa cek senilai Rp 12,3 triliun dari mantan suaminya. Kejadian ini adalah perceraian terbesar kedua di Negeri Paman Sam. Bah, hepeng dope i manang ramba-ramba (Bah, uang kah itu atau rumput), komen seorang rekan yang mengakses berita itu lewat tablet di Siantar.

Arnall meminta uang pengganti cerai senilai Rp 12,7 triliun pada bulan lalu di pengadilan Oklahoma. Namun permohonannya ditolak hakim karena berbagai macam kesalahan yang diperbuatnya selama jadi istri Hamm, seperti dilansir koran the Daily Mail, Rabu (7/1). Arnal menuduh pengadilan tidak adil karena dia meyakini mantan suaminya itu punya harta senilai Rp 228 triliun.

Pengacara Hamm, Michael Burrage, mengatakan kliennya tadinya siap membayar tunai kepada Arnall berdasarkan kesepakatan cerai pada November lalu.

Hamm mendirikan perusahaan Continental Resorces pada 1967 dan Arnall ketika itu adalah seorang pejabat eksekutif di perusahaan.

Mereka kemudian menikah selama 26 tahun tapi tak pernah menandatangani perjanjian pranikah.

Hamm sejauh ini sudah membayar mantan istrinya senilai Rp 254 miliar selama proses perceraian.

Menurut keputusan pengadilan, Arnall mengambil alih kepemilikan Peternakan Oak Ridge di Carmel, Negara Bagian California. Properti itu merek beli pada 2011 senilai Rp 187 miliar. Sedangkan Hamm akan mengambil rumah senilai Rp 9,5 miliar di Branson, Negara Bagian Missouri, dan sebuah properti di Major County, Oklahoma.

Arnall menilai kekayaan rumah tangganya dinilai lebih rendah oleh pengadilan.

Sebelumnya kasus perceraian milyuner terbesar di Amerika dipegang oleh Jocelyn Wildenstein yang dilaporkan menerima uang pengganti cerai senilai Rp 31 triliun dari mantan suaminya, Alec, pada 1999. (mdk/dari Daily Mail)

Rabu, 07 Januari 2015

Amazing! Kupu-kupu Bersayap Kepala Burung Elang

Kupu-kupu unik dengan sayap kepala burung elang, difoto pada
Rabu malam (7/1-15) oleh EKSPRESIANA =


Seekor cecak mendekati sang kupu-kupu, tapi ragu karena mungkin
terlalu besar untuk dimangsa (EKPRESIANA)=

 Kupu-kupu adalah salah satu jenis makhluk penghias jagat raya dengan ragam keindahan dan keunikan. Entah kenapa pula, perempuan nakal selalu dijuluki dengan nama mahluk yang satu ini,"Si kupu-kupu malam". Pada hal binatang yang satu ini dengan ribuan jenisnya termasuk makhluk dengan berjuta keindahan dan kelembutan, jauh dari kejahatan, bahkan kupu-kupu merupakan jenis binatang yang lugu,polos, dan tidak mencelakai mahkluk hidup lainnya.
 Foto kupu-kupu di atas,dijepret pada Rabu malam (7/1) saat si pemotret sedang duduk-duduk di teras rumahnya. Sang kupu-kupu dengan warna indah itu, terbang mengelilingi lampu teras rumah, kemudian hinggap di dinding berwarna kuning bermotif. Ketika pemotret memperhatikan, ada keunikan tersendiri melekat pada makhluk ini. Pada kedua sayapnya terlihat ada bentuk kepala seekor burung, mirip burung elang (lihat foto), lengkap dengan mata yang seakan hidup menatap sekelilingnya. Sungguh menakjubkan, karena sudah banyak kupu-kupu dilihat si pemotret, kupu-kupu yang satu ini punya keunikan tersendiri. Kedua sayap mirip burung elang itu terkesan memperhatikan si pemotret dengan kedua mata yang tampak hidup seperti layaknya mata burung elang.
 Pada saat pemotretan kedua, seekor cecak muncul dari atap rumah mendekati sang kupu-kupu. Tapi sang cecak terus menjaga jarak, seakan ragu untuk mencoba memangsa si kupu-kupu bersayap elang. Mungkin karena kupu-kupu itu terlalu besar untuk dilahap, ataukah takut melihat pada sayapnya ada mata yang tajam mengamati, sehingga sang cecak lama kelamaan mundur teratur. Setelah sekitar satu jam, kupu-kupu tersebut terbang berputar-putar sekitar teras rumah, sebelum menghilang ditelan kegelapan malam. Memang banyak ciptaan Sang Maha Kuasa yang menakjubkan. (Penulis teks:Leonardo TS/pemotret: Marturena.S)

Selasa, 06 Januari 2015

GKR Hemas: Banyak Kepala Daerah Jadi ATM Penegak Hukum !

Gusti Kanjeng Ratu Hemas =













[JAKARTA-EKSPRESIANA)- Info ini tidak main-main, karena setidaknya mengindikasikan situasi terpendam yang tak dilihat mata tapi dilihat hati terkait birokrasi di negeri ini. Adalah Wakil Ketua DPD RI, Gusti Kanjeng Ratu Hemas menyatakan dirinya mendapat banyak keluhan dari kepala-kepala daerah yang takut melaksanakan proyek pembangunan di daerah karena sering diganggu aparat penegak hukum setempat.
“Pemerintah harus segera mengatasi masalah kelemahan penegakan hukum di daerah yang mengakibatkan program pembangunan terhambat. Banyak gubernur, walikota, dan bupati saat ini takut melaksanakan proyek pembangunan karena dibayangi oleh modus asal tuduh dan asal periksa oleh aparat penegak hukum. Akibatnya, daripada mendatangkan masalah, banyak yang memilih menunda pekerjaan,” kata Ratu Hemas di ruang kerjanya di Jakarta, Selasa (6/1). Statemen tokoh wanita ini sungguh ironis dan memprihatinkan, jika hal itu benar-benar kenyataan.
Menurut Hemas, para kepala daerah ini mengaku sangat mendukung upaya pemberantasan korupsi, namun dalam praktik di daerah hal itu sering dilaksanakan secara berlebihan.
“Cukup dengan satu surat kaleng terhadap satu proyek, seorang kepala daerah sudah bisa menjadi terperiksa dan disidik secara intensif. Hal ini bukan saja sangat mengganggu pekerjaan, tapi ditenggarai merupakan cara oknum aparat hukum memeras kepala daerah,” katanya.
Bagi para kepala daerah, modus ini bukan hal baru. Namun, saat ini, dirasa telah makin meresahkan.
Bila tidak segera diatasi, Hemas mengatakan, maka kepala daerah rawan dijadikan ATM dan pembangunan dapat terbengkalai.
Untuk itu, pemerintah perlu segera mengambil langkah memberdayakan badan atau lembaga tertentu yang dapat melakukan pengawasan terhadap prilaku penegak hukum di daerah. Baik tingkat propinsi, kabupaten, maupun kota.
Hemas mencontohkan, untuk kejaksaan ada Komisi Kejaksaan yang mempunyai tugas melakukan pengawasan, pemantauan, dan penilaian terhadap kinerja jaksa dan pegawai kejaksaan dalam melaksanakan tugas kedinasannya maupun di luar tugas.
Sedangkan di kepolisian ada Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) yang melaksanakan pemantauan dan penilaian terhadap kinerja dan integritas anggota dan pejabat Polri. Kedua lembagai ini dapat ditingkatkan pemberdayaannya.
Bila dianggap masih kurang berdaya, sebagaimana kesan umum masyarakat saat ini terhadap kedua lembaga tersebut, maka pemerintah dapat mendorong Ombusdman Republik Indonesia (ORI) meningkatkan fokus pengawasan pada prilaku aparat hukum di seluruh daerah.
Sesuai UU Nomor 73 Tahun 2008, ORI merupakan lembaga pengawas eksternal yang independen dengan kewenangan pengawasan pelayanan publik. Lembaga ini dibentuk dengan tujuan mencapai cita-cita tata pemerintahan yang baik (good governance).
Karena itu, ORI memungkinkan diberdayagunakan mengawasi kerja aparat hukum di daerah, terutama dalam hal yang mengindikasikan adanya modus atau motif memeras kepala daerah atau tujuan menyimpang lainnya.
ORI selama ini terkesan hanya dimanfaatkan masyarakat untuk melaporkan kinerja aparat dalam hal pelayanan publik. Namun, laporan tahunan ORI menunjukkan adanya pengaduan dari instansi juga. Dalam hal ini, para kepala daerah dapat memanfaatkan keberadaan ORI.
Hal ini dapat terus ditingkatkan dengan dukungan kuat Pemerintah pusat. Apalagi, ORI juga dapat melakukan investigasi atas prakarsa sendiri. Informasinya bisa melalui media atau pemberi informasi dari dalam (whistle blower). Rekomendasinya pun, sesuai Pasal 38 ayat 1 UU No.37/2008, bersifat mengikat secara moral dan hukum.
Menurut Hemas, mengingat mendesaknya keperluan mengatasi kelemahan penegakan hukum ini, pemerintah juga dapat menggunakan atau membentuk badan tersendiri.
Tujuan utamanya ialah agar penciptaan pemerintah yang bersih melalui pemberantasan korupsi tidak disalahgunakan sebagai alat korupsi pihak tertentu. [sumber:sp)

Jesus Kawin Dengan Gadis Batak, Takjub "Dihujani" Ratusan Ulos




Julian Jesus dan Martina Situmorang saat menerima ulos holong
berjumlah ratusan. Jesus pun takjub.(Foto:Leonardo TS) =

    Perkawinan asimilasi atau campuran antar ras itu hal yang biasa. Kalangan selebritis pun memilih bule jadi pasangan hidup, konon sudah menjadi suatu tren pilihan terkait pamor dan kebanggaan tersendiri. Tak usah heran lagi, kalau tayangan infotainment di televisi acap memberitakan berita faktual atau gosip-gosipan hubungan seorang artis dengan pria/wanita bule.
   Di luar kanal selebritis, perkawinan asimilatif juga bukan sesuatu yang aneh. Di kalangan masyarakat Tapanuli (Batak) misalnya, bukan lagi berita yang something new, mana kala ada gadis atau perjaka yang menikah dengan orang bule. Di pulau wisata Samosir, sudah ada beberapa gadis pribumi diketahui saling jatuh cinta dengan turis bule, berlanjut ke perkawinan. Sudah ada misalnya gadis Samosir yang diboyong pria berkebangsaan Perancis dan Jerman, menetap di Eropa, setelah melalui perkawinan adat. Sebaliknya, sudah ada pria bule yang kini menetap di Samosir setelah memperisterikan gadis setempat.
  Beberapa waktu lalu, di laman kompasiana ini saya pernah tayangkan gadis marga Tobing dari Tarutung bersuamikan pria Belanda. Dan pria Belanda itu sudah terbiasa mengikuti tata cara adat Batak Toba, bahkan ikut menjadi “parhobas” (melayani pada acara adat) yang digelar. Ta, ataupi jika orang Sumatera Utara, khususnya Batak Toba sudah sering kedengaran kawin dengan pria bangsa Jerman, Perancis, Belanda atau Amerika, maka masih merupakan sesuatu yang langka dan dianggap surprise ketika pria asing yang mengawini gadis Batak itu  ternyata dari Amerika Latin, tepatnya Amerika Selatan.
  Itulah yang  sudah digelar di Wisma Evi Roida Jalan Dr TD Pardede, Tarutung, pada Senin 29 Desember 2014 lalu. Si gadis bernama Martina Marito Situmorang,MA, putri dari Martua Situmorang tokoh pendidikan Tapanuli Utara yang kini selalu diganjal kariernya, dilamar oleh seorang pria berkebangsaan Kolombia bernama Julian Jesus Ramirez Espitia. Belakangan nama itu bertambah panjang menjadi Julian Jesus Ramirez Espitia Tamado Lumban Gaol,MA. Pasalnya, Julian Jesus terlebih dahulu ditabalkan menjadi marga Lumban Gaol secara adat, sebelum melangsungkan pernikahan secara kristiani di Gereja Katholik Santa Maria Tarutung. Peribahasa lama yang biasa terdengar “asam di gunung ikan di laut, bertemu juga dalam belanga”, pantas dialamatkan pada pasangan beda suku bangsa ini. Martina Marito Situmorang bertemu Jesus saat mengambil program S2 di Belanda. Rupanya pada perkenalan pertama di negeri bunga tulip itu, ada benih cinta bersemi di hati masing-masing.
 Perkenalan berlanjut serius saat  Jesus mengungkapkan isi hatinya menjadikan Martina pendamping hidupnya. Gayung bersambut dari Martina, tapi dia memberi penjelasan cukup detil kepada Jesus, tentang daerah asalnya Batak di Sumatera Indonesia, tentang kultur, spesifik adat Batak Toba, dan apa makna marga dan adat bagi orang Batak. Julian Jesus bisa memahaminya, dan bukan menjadi penghalang baginya, bahkan saat ia ditabalkan menjadi marga Lumban Gaol.
  Sesuai adat istiadat Batak, pasangan pengantin akan “dihujani” pepatah petitih khas Batak dalam penyampaian kata pemberkatan adat, disusul penyematan ulos secara bertubi-tubi dari berbagai pihak . Maka ratusan ulos Batak yang menjadi simbol pelengkap adat dari pihak hula-hula, pariban, ale-ale, segera hinggap di bahu Jesus dan Martina Situmorang, dengan iringan musik keyboard membahana di dalam gedung berkapasitas 1.000 orang. Tampak wajah Jesus yang masih muda belia itu begitu ceria dan terkesan merasa takjub menyaksikan dan merasakan prosesi adat yang baru pertama kali dialaminya dalam hidup. Setiap ulos disematkan ke bahunya, pria Kolombia itu tersenyum-senyum, antara perasaan geli, senang, takjub, campur aduk. Dia juga mengangguk dengan senyum Kolombianya ketika Blogger EKSPRESIANA Leonardo TS Simanjuntak  minta ijin memotretnya secara khusus di tengah acara yang masih berlangsung.
  Sebagai sahabat lama dari ayah pengantin perempuan, Martua Situmorang, wajar saya sampaikan selamat bermenantukan orang Kolombia, semoga menjadi pasangan hidup yang memberi berkat sukacita bagi mereka sekeluarga.(Leonardo TS)

Sabtu, 03 Januari 2015

Masak Alame (Dodol) Tradisi Tahun Baru Yang Sudah Raib

     Tradisi memasak alame (dodol Batak) saat merayakan tahun baru, sudah mulai pudar atau mungkin sudah
   raib, sejalan dengan kemajuan zaman, dengan semakin majunya perkembangan kue-kue instan yang  bisa   dibeli dengan mudah di toko-toko. Pada saat Kabupaten Tapanuli Utara masih dipimpin Bupati Torang Lumbantobing, sehingga dirasa perlu menyelenggarakan lomba memasak alame seperti terlihat pada gambar di atas. Lomba memasak dodol dilaksanakan Dinas Pariwisata dalam rangka peringatan Hari Jadi (HUT) Kabupaten Tapanuli Utara.
      Bernostalgia tentang suasana tahun baruan, memang banyak pernak-pernik suasana tahun baru masa silam yang perlahan tapi pasti, sudah menghilang, sejalan dengan pergeseran nilai yang menghadirkan pernak-pernik baru berbau modern.
      Tak hanya kebiasaan memasak alame itu yang sudah langka ditemukan sekarang. Juga tradisi mainan meriam bambu pada malam-malam memeriahkan tahun baru sudah ikut raib. Sebagai gantinya kini sudah mewabah mainan petasan atau mercon dengan ragam model dan variasi percik pijar apinya mewarnai angkasa raya. Anak-anak di dusun paling sepi pun tak nampak main meriam bambu lagi, yang dulu sangat menghebohkan malam-malam tahun baru. Kini di dusun paling terpencil pun sudah disemarakkan kembang api dari yang harganya termurah sampai yang harganya "wah". Tapi itulah pergeseran yang secara alami telah terjadi di mana-mana termasuk di Tanah Batak. Saat diselidiki kenapa tak ada lagi meriam bambu, warga bilang dengan nada datar," Yah mana laku lagi main meriam bambu, sudah harga minyak tanah pun mahal, cari bambu juga sulit. Lagi pula main meriam bambu itu sangat berisiko bagi anak-anak, bisa celaka kena sembur api saat meniup-niup lobang bambu dan menyulutkan api, seperti pernah kejadian dulu di satu desa."
      Lalu, masak alame? Ini salah satu ciri khas yang membuat perayaan natal atau tahun baru di kampung-kampung zaman dulu, luar biasa meriahnya. Masih segar dalam ingatan generasi tua sekarang, ketika dulu muda-mudi begitu semangat dan cerianya bergotongroyong memasak alame dengan ragam citarasa yang diciptakan. Terkadang alame dimasak di dalam belanga besar, memakan waktu berjam-jam. Para juru aduk juga gonta-ganti, tiga sampai empat orang satu sesi. Untuk melupakan rasa capek dan keringatan karena panas api kayu bakar, terkadang anak-anak muda itu main gitar sambil menyanyi, menunggu gilirannya mengaduk. "Sekarang tradisi rame-rame masak alame tinggal kenangan, kalau pun masih ada mungkin sudah sulit ditemukan kecuali kalau masih ada di desa terpencil seperti Torhonas misalnya atau Hajoran di Parmonangan," kata Parluhutan Hutauruk saat menjabat Kadis Pariwisata Tapanuli Utara.
      Kebiasaan indah lainnya yang juga hilang, yalah tradisi tukar menu kuliner buatan rumah tangga saat malam pergantian tahun (31 Desember). Saya (penulis) masih ingat dulu masa kecil di tahun 60 an, begitu sirene mengaum tepat pukul 12 tengah malam, dan usai acara doa keluarga, ibu menyuruh kami anak-anaknya mengantar kue buatan ibu seperti kambang layang (kembang loyang), kacang tojin, kue semprit bahkan lampet bulung, ke rumah tetangga-tetangga seputaran kompleks rumah tinggal kami. Dan biasanya sebagai gantinya, tetangga akan mengirimkan pula melalui kami kue buatan mereka. Bisa kue yang jenisnya sama dengan yang kami berikan, bisa juga ada kue yang berbeda. Dan uniknya lagi, kalau kami antar kue buatan ibu lalu si tetangga tak bikin kue, maka sebagai gantinya diberikan beras, ada yang satu liter ada yang dua tiga takar atau muk.
   Pendek kata, suasana tahun baru zaman dulu sungguh indah dan menyemangati siapa saja. Tak ada petasan atau kembang api, kalaupun ada bunyi ledakan sayup-sayup dari jauh itu adalah dentuman meriam bambu yang dipasang anak-anak di desa tertentu. Tergantung besarnya meriam bambunya, begituah juga kerasnya bunyi dentuman. Terkadang mengejutkan sampai ke kota.
  Dulu, karena minimnya pakaian atau sepatu yang keren, selain karena ekonomi masyarakat masih susah di zamannya orde lama, pakai baju atau sepatu baru itu sangatlah membanggakan anak-anak bahkan orang dewasa. Tapi sekarang? Pakaian baru, sepatu baru, tali pinggang baru, seakan bukan hal yang harus dibanggakan lagi. Karena apa. Selain masyarakat umumnya ekonominya makin membaik, juga segala macam jenis dan kualitas pakaian sudah gampang didapatkan. Kehadiran pakaian bekas (burjer) menjadi salah satu faktor, punya pakaian paling keren dengan harga terjangkau mudah didapatkan siapa saja bahkan oleh orang desa. Dulu seorang remaja saat memakai baju baru, pergi jalan-jalan suka larak lirik baju sendiri saking bangga perasaannya. Kalau sekarang? Wah, saking banyaknya pakaian setiap saat gonta-ganti, sampai sering lupa ada yang tak pernah dipakai...ha-ha-ha-ha....perubahan zaman memang luar biasa..(Leonardo TS Joentak)