Kamis, 21 Januari 2016

Handtractor Dari CSR Bank Mandiri Untuk Kelompok Tani Taput




Bupati Taput Nikson Nababan saat penyerahan handtractor =


BATAKINDONEWS.COM - Bupati Tapanuli Utara Drs. Nikson Nababan didampingi Sekretaris Daerah Kabupaten Tapanuli Utara Edward Tampubolon, SE serahkan secara langsung handtraktor dari CSR (Coorporation Social Responsibility) Bank Mandiri wilayah Pematang Siantar  kepada Kelompok Tani pada 3 (tiga) kecamatan yang telah diserahkan secara simbolis pada waktu lalu. Penyerahan dilaksanakan di Halaman Kantor Bupati Kabupaten Tapanuli Utara dihadiri langsung oleh Bambang Supriadi Area Manager Pematang Siantar dan Rimandro Sinaga selaku Bussines Head Area Siantar, Kamis (21/01).
“Saya mengharapkan para petani memanfaatkan handtraktor ini dengan sebaik-baiknya. Saya melihat segala sektor dan lini turut serta mendukung terwujudnya visi Kabupaten Tapanuli Utara sebagai lumbung pangan,” ujar Nikson. Menurut dia, banyak bantuan dari CSR yang diperoleh berupa alsintan (alat mesin pertanian) yang sangat membantu masyarakat petani dalam mengolah lahan pertaniannya. Petani di Kabupaten Tapanuli Utara saat ini harus bangkit dan berbenah, bekerja keras merubah lahan tidur menjadi lahan produktif. Manfaatkan segala fasilitas yang ada, mulai dari bantuan langsung masyarakat (BLM) agribisnis, bibit pertanian, pupuk bersubsidi, handtraktor dan bahkan alat besar. Kiranya semua ini dimanfaatkan dengan baik agar petani Tapanuli Utara dapat maju dan berkembang dan para petani makin mandiri,” ujarnya.
Bupati menyampaikan bahwa bantuan ini harus benar-benar dirasakan anggota kelompok tani, dimulai dari mereka yang paling membutuhkan. Semua masyarakat harus merasakan keberadaan alat berat dan alsintan lainnya. Di samping itu, Petugas Penyuluh Lapangan  (PPL) kita juga sudah dibekali dengan berbagai pengetahuan baik deteksi dini penyakit tanaman yang diserang virus atau hama, bagaimana membuat rumah plastik untuk tanaman dan juga pemahaman akan bibit tanaman yang baik. “Masyarakat juga dapat memanfaatkan bantuan pupuk bersubsidi bayar pasca panen, penggunaan alat berat pertanian dengan gratis bagi masyarakat kurang mampu, semuanya untuk memajukan sektor pertanian kita dan kita wujudkan ‘Tapanuli Utara sebagai lumbung pangan,” ujar Bupati mengakhiri.
Hadir mendampingi Bupati di antaranya Staf Ahli Rahmat Situmeang,  Rosdinana Manurung, Humala Hutauruk,  Martogi Sitorus, Kabag Perekonomian Fajar M. Gultom, Kabag Humas dan Keprotokolan Donna Situmeang. (Leonardo TSS/rel)

Rabu, 20 Januari 2016

Gubernur Ahok Minta Kapolda Sikat LSM Abal-Abal




  BATAKINDONEWS.COM -  Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dianggap sebagai salah satu penghambat terserapnya anggaran DKI Jakarta. Terutama LSM yang hobi memeras dan mengancam pejabat DKI Jakarta dalam melakukan tugasnya. Demikian berita seperti dilansir Metronews.Com.
 Bukan Ahok namanya kalau tidak bersuara lantang soal seperti ini. Gubernur Basuki `Ahok` Tjahaja Purnama meminta polisi ikut memutus rantai praktek-praktek yang dianggap menganggu kinerja pejabatnya. Basuki meminta pejabat DKI yang mengalami hal itu langsung berinisiatif merekam aksi pemerasan tersebut.
 "Tidak ada alasan upeti. Semua HP canggih bisa rekam. LSM macam-macam kita sikat. Polda siap membantu. Oknum wartawan surat kabar yang meras-meras juga harus ditindak," kata Ahok dalam pertemuan dengan semua penegak hukum dan SKPD di Ruang Pola, Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (27/8/2015).
 Ahok meminta kepada Kapolda Metro Jaya Irjen Tito Karnavian menindak LSM abal-abal yang kerjanya mencari kesalahan dan memeras. Bila laporan LSM tidak terbukti, Ahok minta Polda tindak LSM tersebut.
 "Kesimpulan ada dua. Jangan takut diperas oleh LSM. LSM yang suka ngancam bawa saja ke polisi ke jaksa. Kalau dia memeras dan kalian (SKPD) ada rekaman. Selama bapak-ibu tidak merasa main, silakan laporkan," kata Ahok geram.
 Mendengar permintaan itu, Kapolda Tito langsung merespons. "Sekali-kali LSM kita jadikan tersangka. Yang penting laporannya benar," kata Tito. (MI/FZN)
Saat ini hampir di berbagai daerah bermunculan puluhan bahkan ratusan oknum mengaku dari LSM. Apakah LSM tulen atau gadungan, tak jelas. Di Medan juga LSM menurut berita di media cetak, jumlah LSM terus meningkat. Banyak pejabat hingga kepala sekolah ketar-ketir didatangi LSM. Di Kabupaten Tapanuli Utara dan Tobasa juga disebut sepak terjang LSM terus menggebu, hingga ke sekolah-sekolah di pedesaan. Apakah mereka terdaftar di Kesbangsos setempat kurang jelas. Sementara Kepala Kesbangsos Taput Ramli Surbakti pernah menegaskan, LSM yang tidak terdaftar di Kesbang adalah LSM illegal, atau idetik dengan istilah Ahok "LSM abal-abal.". (BIN)

27 Pejabat Pakpak Bharat pilih Mundur, Tak Cocok Dengan Plt Bupati


 
Gubernur Ahok dan jajaran pejabat DKI (ilustrasi oleh BIN.Com)


  Tampaknya dinamika reformasi juga tak lepas dari zona birokrasi. Soal ketidakcocokan di lingkungan birokrasi, terutama antara kepala daerah dengan paketnya (wakil) sudah sering terdengar, meski tak banyak yang mengemuka. Agak jarang terdengar, kalau pejabat bawahan mengambil sikap tegas memilih mundur karena ketidakcocokan dengan plt bupati, seperti terjadi di Kabupaten Pakpak Bharat yang dilansir Harian Online KabarIndonesia berikut ini:

Tidak Cocok dengan Bupati 27 Pejabat Mundur

Oleh : Jenda Bangun | 20-Jan-2016, 00:07:11 WIB


Oleh : Jenda Bangun | 20-Jan-2016, 00:10:15 WIB

KabarIndonesia - Medan,Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara, Hasban Ritonga meminta Pj Bupati Pakpak Bharat, Bonar Sirait menunjuk pelaksana tugas pengganti 27 pejabat eselon yang mengundurkan diri.Kabarnya,pengunduran diri itu dampak ketidakcocokan dengan oknum Plt Bupati di Pakpak Bharat.

“Surat pengunduran diri ke-27 pejabat Pakpak sudah di BKD Provinsi. Saya sudah minta Pj Bupati Pakpak segera menetapkan pelaksana tugas menggantikan ke-27 pejabat yang mundur,” katanya, kemarin (19/1/red batakindonews.com)

Berdasarkan data yang diperoleh pejabat yang mengundurkan diri itu yakni:

1. Parlaungan (Kadis PU),
2. Tikki Angkat (Kadis Bapemas)
3. Muktar AW (Kadis Kehutanan),
4. Losmar Berutu (Kepala KP2TPM),
5. Sartomo Padang (Kadis BPBD),
6. Jalil Angkat (Sekretaris DPRD),
7. Sahat Banurea (Kepala BKD dan Diklat),
8. Budianta Pinem (Kadis Inspektorat),
9. Orba Suntuk Manik (Kadishub)
10. Dame Tumangger (Kakan Perpustakaan),
11. Morasi Berutu (Camat Sitelutali Urang Julu),
12. Ishak Simon (Camat Salak)
13. Jibun Padang (Camat Siempat Rube),
14. Sabar Berutu (Camat Sitelutali Urang Jehe),
15. Petrus Saragih (Kadisduk Capil),
16. Juhari Angkat (Kadisperindagkop),
17. Manurung Naiborhu (Kadis Sosial),
18. Jalan Berutu (Kadis Pendidikan)
19. Benar Sembiring (DPKD)
20. Sunardi (BP4K)
21. Ida Banurea (RSUD)
22. Saur Manik (Camat PGGS)
23. Hanafi Padang (Camat Sibaginda)
24. Arles Padang (Camat Kerajaan)
25. Mester Padang (Plt Assisten I Pemerintahan).
26. Benar Baik Sembiring
27. Budianta Pinem (Inspektur Kabupaten Pakpak Bharat).(j)

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com

Kekasihku Preman Pinggiran


BINDU 1  -( NOVEL : LEONARDO TSS) *

JENNI Rohani sudah enam kali menatap kalender di dinding papan itu. Mula-mula ia tak tahu mengapa ia selalu menatap kalender begitu serius. Matanya yang bening selalu terpaku pada angka 28, tepat hari Rabu. Sekarang Senin, berarti dua hari lagi Rabu. Jenni terpana berulang menatap.
Jenni berdiri mengambil balpoin dari rak buku di sudut ruang tamu. Angka 28 itu digoresnya dengan garis bulat seperti telor lonjong. Ditatapnya coretan bulat pada angka itu sambil perlahan berjalan mundur kembali ke kursi rotan. Kedua matanya yang bagus seperti giok biru itu berkaca-kaca. Jenni sedang mengenang sesuatu yang membuatnya miris.
“Andai mama masih ada, aku akan pesta ulang tahun,” kata hatinya.
Jenni memastikan hitungan kalender menetapkan 28 Agustus tahun 2008 itu isyarat usianya sudah 22 tahun. Dulu, dua tahun lalu, ia masih berulang tahun ke 20. Ibunya rela mengusahakan dari mana saja uang demi menyenangkan hatinya. Tiga tahun berturut sejak usia sweet seven ten, ibunya selalu memesan kue tart dari toko roti di simpang empat kota. Tart itu berhias manisan kue merangkai huruf Jenni sweet seven ten. Lalu barisan lilin merah sebanyak 17 biji. Jenni pun mengundang teman sebayanya, bersukaria, bernyanyi diiringi gitar oleh teman laki-laki, Juda. Ramai, penuh tawa. Lalu nyanyi bareng “potong kuenya, potong kuenya, potong kuenya sekarang juga...”
Jenni menghela nafas.Kini sadar dirinya sudah semakin dewasa. Semua orang selalu bilang dirinya cantik dan seksi. Postur tubuhnya bertumbuh perlahan membentuk bodi yang sintal, kencang. Terkadang Jenni malu sendiri ketika keluar rumah, semua mata lelaki menatapnya seakan menelanjangi dan menelannya bulat-bulat. Dasar lelaki...
Bila Jenni bercermin di kamarnya, ia  mengamati diri seksama. Benarkah aku seksi? Dipandanginya payudaranya yang menonjol padat. Ditatapnya bagian-bagian wajahnya mulai dahi, alis, mata, hidung, bibir, dagu, lalu rambut ikal yang tergerai lepas sebatas payudara panjangnya. Apanya yang seksi? Dia sendiri yang menganalisa. Kata temannya Bornok dan Ida, bukan hanya dadanya yang menonjol kencang itu yang bikin mata lelaki bergairah. Tapi juga hidung, mata, dan bibir. Apa sih artinya sensual...katanya pada Bornok. Dan Bornok ketawa terpingkal mendengar pertanyaannya. “Kamu memang gadis kampung yang lugu,” jewer Bornok dan Ida.
“ Dan aku tambahkan lagi, bokongmu itu sampai bentuk kakimu. Aku kadang jadi ngiri sama kamu,” tukas Ida, entah canda atau serius.
Kata teman-temannya, usia 22 buat seorang gadis merupakan momentum peralihan signifikan ketika gairah kewanitaan hadir lebih intens.
“Itu kata dokter Herbert Crowel lho, kubaca di majalah wanita. Hasil riset dengan ratusan responden,” ujar Bornok.
Jenni hanya senyum mesem tapi bagaimana pun ia merasa tersanjung juga. Jenni teringat saat kelas terakhir SMA, ia terpilih menjadi juara favorit berbusana feminin yang diadakan dalam rangka perayaan HUT Kemerdekaan. Tak jadi juara umum memang, tapi di jalur nominasi favorit, Jenni sudah terbukti memiliki nilai plus. Banyak teman yang kagum, tapi banyak pula yang cemburu. Sifat manusiawi yang normal. Pada hal Jenni orangnya pemurah, rendah hati, polos, apa adanya. Paling tak suka ada orang tak menyukainya.
Itu kilas balik tiga tahun lalu.
Dan sekarang 2008. Angka 22 pada dirinya kini melekat erat. Rasanya masih seperti biasa, tak ada perubahan berarti. Kalau ada yang berubah, adalah ketika Jenni menyadari tak ada lagi kue tart, tak ada lagi gelak tawa ramai-ramai dengan teman, tak ada lagi nyanyi dan disko.
Perubahan itu terjadi sejak ibunya meninggal dua tahun lalu akibat serangan kanker ganas. Jenni pun merasa kehilangan dunia, merasa dirinya ikut lenyap dari muka bumi. Ayahnya cuma seorang sopir truk lintas Medan – Pekanbaru. Ketika ibu Jenni harus berobat ke Medan, kondisi keuangan tak memungkinkan. Semua sudah terjual. Juga tanah sepetak satu-satunya di kampung. Akhirnya ibunya dibawa berobat ke orang pintar di kampung. Malah makin parah. Sampai akhirnya perempuan itu mengembuskan nafas penghabisan dalam pelukan Jenni. Cita-cita Jenni untuk kuliah kandas sudah. Hanya sempat mengikuti kursus komputer beberapa bulan di Siantar.
Jenni menatap kalender itu lagi untuk ke sekian kalinya. Tahun depan usianya 23. Jarum waktu akan terus berputar.
Belum setahun setelah ibunya meninggal, Jenni harus menahan nafas ketika ayahnya memutuskan kawin lagi dengan seorang janda. Awalnya ibu tirinya itu bersikap baik. Tapi pada bulan ketiga, sikapnya berubah drastis jadi sinis. Jenni dan adik laki-lakinya Guntur memilih hengkang ke rumah pamannya. Tak rela jadi bulan-bulanan kerewelan perempuan beranak tiga itu.
Tetapi hidup sering berliku, penuh tanjakan dan jurang menganga. Pamannya memang baik. Beda dengan isterinya yang doyan uring-uringan. Meski Jenni dan Guntur sudah begitu baik membantu semua urusan keluarga itu, toh seperti tak berguna. Jenni merasakan tekanan isteri paman makin menghunjam ke ulu hati. Jenni sering menangis. Hal itu diketahui pariban (kakak) mamanya di Jambi. Jenni diminta datang ke Jambi. Tapi pamannya melarang. Alasan tenaganya masih dibutuhkan menjagai anak bawaan perempuan yang dikawininya itu. Jenni merasa tak lebih sebagai baby sitter di rumah itu. Setiap saat ingin menangis sambil menyebut ibunya. Adiknya Guntur yang akhirnya pergi ke Jambi. Guntur pun disekolahkan pariban ibunya di Jambi.
Rasa nyaman hanya bisa direguk Jenni bila kebetulan rumah itu sedang sepi. Pamannya sedang keluar kota, isterinya ke pesta adat, dan dua anaknya yang masih kelas 6 SD sedang di sekolah. Anak sulungnya sudah sekolah SMA di Perdagangan di rumah famili dekat isteri paman.
Jenni menatap kalender itu lagi. Hatinya serasa diiris sembilu. Suasana terasa aman di kawasan itu. Warga pada sibuk di sawah ladang. Hanya suara kicau burung di pepohonan sesekali mengusik kesunyian. Jenni menikmati hembusan angin pagi yang membelai rambut panjangnya. Kini Jenni merasa sudah kehilangan segalanya. Bahkan juga kehilangan kasih sayang ayahnya. Satu-satunya orang yang seharusnya jadi benteng hidupnya. Berbulan-bulan tak ada kabar dari ayahnya. Dia seakan terhipnotis kehadiran isteri barunya. Pamannya pemabuk berat, yang ketika pulang tengah malam selalu berujung gaduh.
Jenni lama-lama memikirkan satu hal. Memikirkan bakal bagaimana akhirnya sikapnya dengan kerumitan ini. Akankah aku bertahan di rumah yang seperti neraka ini. Ada saran dari ibu-ibu tetangga di situ, sebaiknya Jenni jangan bertahan di rumah pamannya. Lalu mau ke mana? Ya, pergilah merantau, cari kerjaan. Zaman sekarang anak gadis sudah berpikiran maju. Tamat SMA banyak yang pergi ke Jakarta, Batam, Bandung, dan banyak kota besar lainnya.
Jenni bingung mendengar saran itu. Beranikah aku? Tapi mau ke mana. Atau ke Jambi menyusul adiknya Guntur. Ah tidak. Aku tak boleh lagi membebani pariban mama. Mereka sudah begitu baik menyekolahkan Guntur.
Jenni merasa tercekik dilematika. Air matanya menetes. (NEXT/LEONARDO TSS)

Selasa, 19 Januari 2016

Ibu Ini Berteriak Ratusan Kali Setiap Hari

Mama Indri berteriak "tahuuu" sambil menyorong kereta sorongnya pada siang terik.
DEmi hidup harus membawa anak di dalam gerobak sorong (beko)
Mama Indri aktif setiap hari melayani pelanggan tahunya. Perempuan yang ulet!
Mama Naomi br Hutabarat   bersama anak kecilnya melayani pelanggan
BATAKINDONEWS.COM - Beragam cara manusia untuk memperjuangkan hidup tetap survive. Banyak isteri tidak harus bergantung pada suami mencari nafkah. Sebaliknya ada juga isteri yang terlalu bergantung pada suami, hanya menjadi ibu rumah tanggga menjagai anak. Soal biaya hidup, serahkan pada suami. Di sisi lain, ada juga isteri yang sungkan karena perasaan harga diri atau malu.
Foto yang direkam BATAKINDONEWS di atas, adalah tipe isteri kategori pertama. Tak harus diucapkan, tapi mereka sadar betul kalau hidup ini adalah perjuangan atau pergumulan.Struggle for life. Kalau memang bisa, dan rasa malu atau gengsi itu harus disingkirkan, ya kenapa tidak. 
Tidak banyak isteri yang mau memilih cara mencari duit seperti yang dikerjakannya sekarang. Dua ibu muda warga Tarutung ini kebetulan masih keluarga dekat dari suami marga Datubara yang abang beradik. Sehari-harinya mulai pagi jelang siang hingga jelang sore, harus berjalan kaki menjajakan tahu mulai dari kawasan kota Tarutung hingga ke pelosok dusun. Mereka juga seperti menyadari, dagangannya kurang laku kalau bungkam. Maka ibu-ibu muda ini pun harus rajin berteriak "tahuuuu, tahuuuu..." sambil menyorong gerobak bekonya. Terkadang suara mereka terdengar parau, seolah pita suara mengalami penurunan karena terlalu banyak diforsir. Bagi warga dusun di Desa Parbaju Julu misalnya, teriakan kedua ibu ini akan terdengar lengkingannya dari jarak 100 hingga 200 meter, saking kuatnya mereka meneriakkan "tahuuuu. tahuuuuu..." Kalau dikalikan dalam sebulan, tak terhitung lagi berapa ribu atau berapa puluh ribu kali mereka harus berteriak untuk melariskan tahu dagangannya.
Lalu bagaimana dengan anak-anak yang masih kecil. Nah, ini juga beban yang harus diatasi dengan lapang dada. Tak ada yang menjagai di rumah karena suami juga kerja, apa salahnya setiap berangkat dari rumah sekalian saja anak itu ikut dimasukkan ke dalam gerobak (lihat foto). Kedua inu muda ini, sebut saja namanya Mama Indri boru Simanjuntak dan Mama Naomi boru Hutabarat, tampak setiap harinya menguras keringat mendorong gerobak dan anaknya keliling jalan raya hingga pelosok dusun. 
Berapa banyak tahu yang setiap hari dijajakan? Kata Mama Naomi yang berkulit hitam manis, terkadang 200 potong tahu diusahakan terjual habis. Tahu itu mereka langgani dari pabrik pembuatnya. Untungnya pun tipis. Tapi daripada hanya duduk di rumah, lumayanlah untungnya menambah pendapatan suami.
Setiap mama Naomi melintas, setiap teriakannya membahana menembus kesunyian dusun, para ibu yang sedang berada di sawah ladang atau di dalam rumah, segera tahu siapa yang datang. Umumnya kaum ibu di desa suka beli tahu, karena dianggap lauk praktis yang murah bergizi. Saat ibu muda penjual tahu ini muncul, ibu-ibu yang sedang di sawah pun keluar dari lumpur untuk membelinya. Banyak warga dusun sudah jadi pelanggan Mama Indri dan Mama Naomi.
Tahuuuuuu....tahuuuuu.......! Kalau satu hari salah satu dari wanita ini tak muncul dan berteriak, tentu akan menimbulkan pertanyaan: Kenapa ya dia tak datang..... (Teks dan foto: Leonardo TSS)

Kamis, 14 Januari 2016

Novel Terbaru Leonardo TS Simanjuntak

Novel Terbaru Leonardo TS, Setelah Novel Tak Kubiarkan Cintaku Berakhir di Tuktuk Berakhir di Kompas. Com (Kompasiana ) Januari 2016...

Segera Hanya di Web ini...! Batakindonews.Com...

Judulnya? 

Kekasihku Preman Pinggiran 



 

Selasa, 05 Januari 2016

Pilkades di Tanah Batak, Isu Calon Beristeri Dua Hingga Politik Dinasti



Gaya kampanye calon kepala desa di Tarutung, jalan kaki door to door. Gaya kampanye
yang elegan, tapi sayang banyak warga lebih memilih calon yang bagi-bagi uang dari
pada kepentingan perubahan.


Majalah Online Batakindonews.Com - Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di Tanah Batak, khususnya Kabupaten Tapanuli Utara, sudah berlangsung, Rabu (4/11). Ada 197 desa awalnya yang dijadualkan melaksanakan pilkades,tapi belakangan ada yang batal karena bermasalah. Minat menjadi kepala pemerintahan desa tampaknya menguat, dengan munculnya calon-calon muda. Apalagi proses pencalonan juga katanya tak dipungut pemerintah biaya. Tapi calon incumbent juga masih banyak yang nongol. Sepertinya belum tega memberi kesempatan pada orang lain menggantikan kedudukannya. Adanya kebijakan pemerintah “menggratiskan” proses pendaftaran calon kades, cukup signifikan memicu semangat banyak warga untuk ikut berkompetisi. Selain, santernya iming-iming pemerintah mendrop banyak dana untuk mempercepat kemajuan desa.
Beberapa warga berkomentar,”Enak juga mau jadi kades sekarang. Pemerintah akan melipatgandakan kontribusi dana ke desa. Apa lagi mencalonkan jadi kades tak seperti biasanya, sudah gratis.”
Menggiurkan. Itulah yang terkesan dari gemuruh pencalonan kades di Taput sejak awal. Ada desa yang calonnya sampai 7 (tujuh) orang, seperti di Kecamatan Sipoholon, ada yang lima, empat, dan hanya tiga calon. Dan sesuai ketentuan yang dibuat Pemkab setempat, lebih dari lima calon harus dilakukan testing. Maksimal calon hanya lima orang.
Ramainya calon yang mendaftar bukan hanya menyangkut semangat banyak warga untuk uji tanding di desanya. Ragam persoalan juga mencuat ke permukaan, menandai dinamika pilkades di wilayah ini. Dari isu soal ketidakjelasan domisili calon, hingga tudingan tentang calon yang beristeri dua. Selain juga munculnya komentar miring tentang politik mempertahankan dinasti seperti di Desa Hutabarat Parbaju. Dari kakek ke anak cucu, berambisi mempertahankan “singgasana”. Apa lagi di Tanah Batak, menjadi kepala desa itu dulunya dianggap “harajaon” (kerajaan bertanda kutip), atau hasangapon (martabat). Sekali menjadi kepala kampung maka selamanya akan menyandang predikat “kappung”. Tetapi soal mengawetkan status kepala dengan politik dinasti, akhirnya tak menjadi hambatan karena tak ada peraturan atau undang-undang yang membatasi hak keturunan mencalonkan diri.
Bagaimana gambaran umum pasca pilkades 4 Nopember lalu itu. Ragam persoalan yang muncul ke permukaan, seperti dikatakan staf ahli Bupati Taput Humala Hutauruk yang membidangi pemerintahan. Dari tudingan tentang konspirasi kades incumbent menyangkut pembentukan panitia pemilihan kepala desa, soal surat panggilan yang diatur menurut selera oknum tertentu, soal adanya penggelembungan suara seperti di Desa Pansurnapitu, sampai permainan klasik tentang money politics. Itu semua mengemuka setelah pilkades usai. Dan sesuai hak demokrasi (yang sekarang makin disadari rakyat), laporan atau pengaduan mengenai kejanggalan-kejanggalan itu diajukan ke tingkat kecamatan hingga kabupaten. Yang berbau politik uang tentu digiring ke kepolisian.
Masyarakat yang tidak puas menyangkut kecurangan dalam pemilihan, tentunya berharap laporan/pengaduan mereka direspon dengan wajar. Jangan kiranya ada pula money politic dalam penyelesaian. Pemerintah harus menegakkan keadilan dalam penyelesaian tanpa dipengaruhi faktor-faktor khusus sekali pun. Dengan demikian pemerintah memberi pelajaran berdemokrasi yang lebih baik di masa mendatang.
Salah satu contoh soal yang ramai diberitakan media cetak sebelum berlangsungnya pilkades di Tapanuli Utara, adalah soal calon beristeri dua. Sudah ditandaskan oleh Ketua DPRD Taput Ottoniyer Simanjuntak maupun Kepala Bapemdes Taput Binhot Aritonang, bahwa calon kades beristeri dua itu tak dibolehkan.” Kalau ada calon ketahuan beristeri dua, itu harus dibatalkan,” tegas Ottoniyer Simanjuntak seperti dilansir media. Tapi nyatanya, oknum calon yang disebut beristeri dua itu masih lolos juga ikut pemilihan. Hal seperti ini bisa membuat masyarakat apatis, dan di kemudian hari pesimis bila masalah-masalah seputar pilkades dilaporkan.
Lalu bagaimana soal ambisi mempertahankan kades dinasti dan pengaruh “hepeng” ( uang) dalam konteks berdemokrasi yang sehat. Istilah serangan fajar sudah lama dikenal rakyat Indonesia dalam setiap event pemilihan, khususnya pemilihan kepala daerah, pemilihan legislatif, dan pilkades. Tampaknya kata-kata guyon tentang “he-bat peng-aruhnya” (kepanjangan HEPENG), sudah menjadi fenomena terburuk di tengah masyarakat. Sulit dibuktikan, tapi bisa diyakini. Masyarakat sepertinya tidak mau tahu soal memilih pemimpin yang dianggap pantas atau tak pantas untuk membawa perubahan di desanya. Ada desa yang selama puluhan tahun dikepaladesai secara turun temurun, tapi apa pun perubahan dianggap tidak ada. Nah masyarakat bilang, sudah waktunya ada perubahan. Tapi giliran tiba pemilihan kades, ternyata sebagian besar warga tidak memiliki prinsip perubahan itu. Malah masih cenderung mempertahankan kepemimpinan dinastial. Ada isu berembus, ada permainan uang, dan ada warga yang mengakui menerimanya untuk memilih salah satu kandidat. Selain itu ada indikasi kesengajaan panitia yang tidak menyebarkan surat panggilan kepada warga yang dicurigai pro kades lain. Teori konspirasi dimainkan oknum yang sudah berpengalaman bermanuver dalam event serupa.
Di sisi lain, pilkades di Tanah Batak rawan perpecahan karena faktor “partubu” (kedekatan marga dari segi silsilah). Istilah “sitorop partubu” (mayoritas marga tertentu di satu desa) tampaknya masih kuat. Makanya kelompok “siotik partubu” (kelompok marga minoritas) dianggap tak pantas memegang tongkat kepemimpinan desa. Apa lagi kalau calon yang tampil dari kalangan boru (pihak perempuan menurut konteks Dalihan Natolu). Jika kelompok minoritas atau boru memenangkan suatu pemilihan, sangat rentan mengganggu pilar kesatuan persatuan di desa bersangkutan. Jangan-jangan berpengaruh pada proses adat di lingkungan bersangkutan. Hal ini sudah serin mengemuka dikritisi para tetua Batak bahkan dilansir di media.
Solusi dari kompleksitas permasalahan ini apa. Pemerintah harus melakukan pencerahan secara intensif kerjasama dengan tetua desa, tokoh adat, maupun agama, merumuskan upaya-upaya meminimalisir hal-hal negatif tersebut ke depan jangan terus membudaya atau makin tajam di masa mendatang. Pembelajaran demokrasi memang butuh proses terutama di tengah masyarakat desa. Soal tidak puas dalam proses berdemokrasi itu merupakan bagian dari demokrasi itu sendiri, tapi yang terpenting pilar kesatuan persatuan di desa tidak sampai goyah. Netralitas pemerintah dengan tetap mengedepankan keadilan, mutlak diterapkan untuk lebih mendewasakan pemahaman rakyat tentang hukum dan demokrasi.
Dinamika pilkades juga terlihat dari munculnya demo-demo. Protes mengkiritisi adanya kesewenang-wenangan oknum tertentu, atau adanya backing-backingan oknum berpengaruh, selain tudingan money politics seperti di Desa Parbaju Julu Tarutung. Tapi, toh pemerintah kabupaten tampaknya tak mau menuai risiko preseden di lain waktu. Banyak pengaduan atau komplain itu dianggap sepi. Maka pelantikan pun berlanjut. Tempat pelantikan juga diarahkan ke pegunungan, ke lokasi Salib Kasih di Siatas Barita. Tampaknya agar lebih aman dan kondusif. Nah, mau bilang apa lagi, kalau sudah dilantik. Suka tak suka kepada yang terlantik, ya terima sajalah dengan dada longgar...